Tanpa Judul

Kenapa tulisan ini tanpa judul?

Karena tidak ada satu kata pun yang tepat untuk menjelaskan isi tulisan ini.

Rasanya pahit dan hancur ketika harus menuliskan tentang kehilangan. Lagi-lagi.

Tentang pulangnya salah seorang sahabat terbaik saya. Continue reading

Advertisements

SH*T IS A VERY BAD WORD

Belakangan ini Jogja sering banget hujan. Pun sore ini gerimis turun. Saya jadi mikir buat naik taksi online. Tapi, berhubung sekarang status sudah jadi mahasiswa, saya harus lebih bijak dalam menggunakan uang. Apalagi living allowance belum kelihatan hilalnya. Saya coba masukin lokasi pick up dan get off di aplikasi dan kalkulasi ongkosnya sekitar 15 ribu. Uang segitu lumayan banget buat makan enak di Jogja, so I decided to walk instead of order online transportation.

Saya jalan bareng dua teman saya yang kebetulan pulangnya searah. Di tengah jalan hujan deras banget, jadi kita mutusin berteduh sekalian makan di warung tenda dekat Grha Sabha Pramana. Nyampe warung, saya keluarin ponsel dari kantong celana dan ngelihat 10 missed calls terpampang di layar. Bergantian dengan aplikasi transportasi online yang masih kebuka dan parahnya statusnya “ordered”. Continue reading

THE WAIT IS OVER AND THE WAR HAS BEGUN

Semua berawal dari sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal yang masuk ke ponsel saya pada tanggal 11 Januari 2018. Well, saya adalah tipikal orang yang hanya menerima panggilan dari mereka yang nomornya sudah saya save di ponsel. Otomatis saya nggak tertarik untuk nerima telepon “asing” semacam itu. Terlebih kalo kode areanya 021 atau 022. Like I have such a sales marketing phobia. IYKWIM. Belagu banget anaknya, ya? Well, it’s me!

Di tengah deringan ponsel, saya galau. Saya searching di google buat nyari tahu wilayah mana yang punya kode area 0274. And google said it’s Jogja’s.  Dan detailnya, itu panggilan dari salah satu program studi pasca sarjana di UGM. Sayangnya sebelum saya angkat, teleponnya keburu mati, dan bikin saya sehari semalam nggak konsen. Apalagi setelah dengan pede saya berasumsi : Gue keterima di UGM. Sebuah pelajaran hidup buat saya yang belagu ini.

Continue reading

TOEFL ITP Tests (Scholarship Experience)

Assalamu’alaikum, readers!

Alhamdulillah, I have passed TPA (Academic Potential Tests) scores which the test had held two months ago. On November 11th, Bappenas called the scholarship applicants who had passed the TPA test, taking the Toefl ITP tests. There are more than 400 applicants from other cities and regions all ober Indonesia took this tests. And about 50 percents applicants had eliminated by TPA scores by the way.

Toefl ITP tests are paper-based and use academic content to evaluate skills in English for admission to a college or university. I don’t know its difference with another type of Toefl tests, so you guys can learn about the others through google search engine.

Like general Toefl tests, Toefl ITP consists of three sections. They are listening comprehension, structure and written expression, and reading comprehension. Since we had have Toefl ITP Level 1 tests, we were given 115 minutes to answer 140 questions.

Before the announcement of Toefl ITP tests, I had learned and practiced from two books of Toefl preparation. I focused in improving grammar, because this is my worst session in Toefl tests. I usually don’t have any problem with listening session. Even though I need more energy when it’s time to read the boring longer passages and answer several questions based on them.

Before the tests, a representative of Bappenas, Mr. Hari if I’m not mistaken, had pleased the participants who want to change their selected study program to resend their application to Bappenas. And there were two participants did it. Because it was our last chance to make a change. Mr. Hari also clearly told us about scholarships procedures.

Applicants who pass the Toefl ITP scores will be called to the interview by Bappenas and representatives of university on around January for Masters overseas programs and linkage programs, and around May for Masters local programs. Once again, guys I ask for your kindness to take a time praying for my luck. Aamiin.

After the tests, Mr. Hari shared about the mechanism of scholarships selection and awardees placement. Actually, we, civil servant outside Java, have the bigger chance than others from Java. Bappenas has given more space for civil servant outside Java because local governments doesn’t have enough budget for Human Resources development. Proportion of awardees from Java and outside Java is planned 20 : 80 percents. But in fact, there is not enough number of participants could fill the 80 percents of space. Bappenas still has no idea about this.

About the placement procedure of awardees, well this is the important thing you should notice before applying Bappenas scholarships, Bappenas has the unique rules. When apply the scholarship, you need to submit online registration and feel free to choose three priorities programs which you interested in. But you ought to have a good strategy so that you could get the scholarships.

There are some universities and study programs that favorited by participants. The more participants choose the program, the more effort to attempt. Bappenas will rank up the awardees-to-be by scores and by capacity or quotas of the university. So if your score isn’t that high or others’ are higher than yours, you’ll be eliminated.

[God, I wish I am one of the lucky participants. Readers, please say Aamiin. Thank you.]

By the way, this is my very first English post and I’m doing kind of English challenge as am gonna face the interview (insyaallah). Please don’t hesitate to make some corrections.

Xx

Pengalaman Seleksi Beasiswa Bappenas 2018

Assalamu’alaikum readers!

How’s your day?

Tadinya saya mau post perjalanan saya ke Semeru akhir tahun lalu, tapi part terbaiknya belum selesai ditulis. Sibuk? Bukan karena sibuk ngerjain tugas kantor yang lagi bejibun (cuma tahun kemarin saya bisa ongkang kaki T-T). Bukan pula sibuk persiapan TPA. Tapi karena males ga ketolongan. Lagipula saya lagi fokus mencari pendamping hidup dalam angan-angan. Ga guna banget haha.

Tulisan saya kali ini celotehan dan share tentang pengalaman tes TPA dan persiapan seleksi beasiswa. Guys, ini fresh from the oven banget. Saya kelar tes 8 jam yang lalu, dan langsung saya ceritain di sini. Ga penting banget ya haha tapi semoga ada informasi yang berguna buat kalian yang sedang preapare buat TPA Bappenas.

Saya sedang membuat mimpi besar: kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Terlalu tinggi untuk digapai orang dengan kemampuan intelektual rata-rata seperti saya. Tapi, saya coba buat pasang target tinggi supaya ketahuan dimana batas maksimal saya. (Lain kali saya coba lebih realistis haha).

Beasiswa yang saya bidik adalah dari Pusbindiklatren Bappenas. Kriteria yang diminta untuk calon awardee beasiswa S2 adalah :

– PNS dengan masa kerja min. 1 tahun

– Usia max. 37 tahun

– Bekerja di unit perencanaan atau bagian perencanaan

– IPK min. 2,75

Udah itu aja!

Kriteria yang bisa dipenuhi oleh hampir semua PNS, kan? Makanya begitu kesempatan ini muncul, langsung saya ambil.

Persiapan berkas ga begitu banyak dan ga ribet. Yang bikin lama adalah pas nulis Rencana Studi. Mau kuliah dimana dan mau ngapain setelah dapat gelar Master? Jujur saya bingung mau ngapain. Karena jawaban saya sangat klise dan umum banget. Akhirnya saya konsultasi dengan atasan langsung, yang kebetulan apply Beasiswa S3 juga dan alhamdulillah salah satu alumni Linkage Program Beasiswa Bappenas ke Belanda. Minta saran lah saya ke beliau tentang essay saya dan koreksian di beberapa bagian yang menurutnya ga ada power. Hahaha. Saya bikin ini 2 minggu dengan akhirnya mengubah program studi pilihan di h-2 pengumpulan berkas. Untuk yang lolos seleksi administrasi, akan dipanggil untuk ikut tes TPA.

Jeda pemanggilan peserta TPA lumayan lama, hampir 1 bulan. Tapi waktu ini saya manfaatkan betul buat belajar soal-soal TPA versi Bappenas. TPA Bappenas biasa dipake untuk seleksi perguruan tinggi, assessment, dan beasiswa. Harus saya akui apa yang dikatakan banyak orang tentang kesulitan TPA Bappenas adalah benar. TPA Bappenas punya tingkat kesulitan yang cukup tinggi dan soal sangat variatif. Ga heran yah pulang dari tes langsung migrain dan ga nafsu makan.

Soal TPA sendiri dibagi 3 sub tes yaitu verbal, numerik dan penalaran. Jumlah soal 250 dan harus dikerjakan dalam waktu 180 menit. Jadi kita cuma punya waktu sekitar 40 detik per soal. Ya! 40 Detik Per Soal.

Ga usah teriak kaget begitu ya readers. Karena saya juga stres banget sama waktu yang dikasih. T-T.

Sub tes verbal mirip sama soal tes CPNS, ada sinonim, antonim, padanan kata, soal dengan paragraf. Tapi sekali lagi tingkat kesulitannya lebih tinggi. Butuh ketelitian disini.

Sub tes kedua adalah numerik. Ini kalo ibarat nyebrang jembatan gantung Pantai Timang (coba search di google yah), kita ada di tengah-tengah dengan terpaan angin kencang dan hempasan ombak tinggi banget. Lebay banget gue ya. Hahaha tapi buat saya ini beneran. Tendensinya meningkat berkali lipat. Kita dituntut untuk bisa memahami soal dan menjawab dengan cepat. Kebayang ga sih matematika dikerjain dalam waktu kurang dari 1 menit per soal. Jadi readers, kalian butuh tenaga ekstra disini. Tipe soalnya deret, persamaan x,y gitu, perbandingan apalah ga ngerti namanya, kecepatan, persen untung rugi, gitu-gitu tipenya. Buat lebih jelas bisa cari di google yang versi Bappenas.

Sub tes ketiga adalah penalaran. Tipe soal psikotes gambar dan premis kalimat. Tendensinya berkurang nih di sub tes ini. Saya yakin kalau teliti dan sering latihan soal pasti bisa. Yah walaupun kalau saya tetap banyak salah nalarnya. Hahaha.

Sebagai referensi, saya belajar dari beberapa buku, dimana cuma satu buku yang saya beli. Sisanya ngintip di google books. Tipe soalnya hampir sama dan nyaris sama. Yang dibutuhkan adalah pemahaman soal dan kecepatan.

Dari 3 buku yang saya pelajari, saya lebih merekomendasikan yang kedua : Panduan Resmi Tes TPA. Karena disini diajarin cara logika untuk menyelesaikan soal sub tes numerik.

Yang pertama bagus tapi pembahasannya formulatif banget, jadi lebih makan waktu. Tapi kalau untuk latihan, soal-soalnya bagus dan yaaah susah banget buat saya haha.

Yang ketiga ga terlalu rumit juga soalnya. Jadi kalo buat referensi boleh-boleh aja sih.

Pemanggilan tes TPA diumumkan via website pusbindiklatren, email dan sms. Saya sendiri dapat kabar dari seoarang teman dari dinas perikanan yang ga ikut apply tapi tetap ngabarin dan kasih selamat serta doa restu. Semoga doanya dikabulin Allah. Amin.

Tesnya sendiri untuk domisili Sumatera Selatan dan provinsi di sekitarnya, seperti Jambi dan Babel diadakan di Ruang Doktor PPS Universitas Sriwijaya. Persiapan saya sih tetep latihan kerjain soal numerik sampai H-1 saya STOP belajar. Tipsnya dari pendahulu TPA Bappenas begitu ya saya ikut aja.

Tibalah hari dimana kalian menghadapi kenyataan betapa waktu begitu cepat berlalu saat ujian berlangsung. Peserta diminta datang 30 menit lebih awal, dengan membawa pensil 2B, penghapus, rautan pensil (which is kurang berguna juga dibawa), papan ujian, dan KTP. Soal tes masih dalam koper bersandi. Eksklusif sekali yah. Kode dan kunci koper ada di dalam amplop terpisah yang bersegel. Oke, koper dibuka, lembar jawaban (LJK) dibagikan, diisi beberapa informasi disitu. Sebelum soal dibagikan, peserta diperkenankan untuk ke toilet. Karena selama ujian berlangsung akan sangat sangat sulit untuk ke toilet. Bukan ga boleh, tapi ga bakal sempet. Mending ngerjain soal ajaaa T_T

Seperti dijelaskan sebelumnya ya, soal dibagi 3 sub tes dan tiap sub tes dikasih waktu 1 jam. Begitu waktu habis, kita lanjut sub tes berikutnya dan engga diperbolehkan membuka sub tes sebelumnya. Disini kita diajarkan untuk move on dan ga menoleh ke belakang. Eh!

Sub tes pertama sesuai prediksi. Tapi yang mengejutkan adalah soal berdasarkan paragraf. Biasanya paragraf yang saya kerjain dari buku soal sekitar 4-5 paragraf. Hari ini saya dihadapkan dengan kutipan (dia bilang ini kutipan, yang menurut saya layak disebut cerpen) sepanjang 2 halaman. I can’t say a word. Tapi guys, inget ga perlu dibaca semua. Tipsnya: baca soal lalu cari jawaban dalam kutipan dengan cara screening.

Disini saya ga kesulitan membagi waktu mengerjakan, tapi kesulitan menjawab hahaha. Kalo kalian terbiasa mengerjakan soal pasti bisa hafal kata-kata yang ditanyain disini.

Sub tes numerik yang diluar prediksi saya. Sumpah saya langsung blank dan kehilangan akal sehat (i mean, hilang konsentrasi). Kebanyakan orang yang pernah ikut TPA Bappenas akan menyarankan mengerjakan soal dari belakang. Saya kerjain lah soal dari belakang. Tapi saya sadar strategi saya salah, setelah selesai menjawab yakin 10 soal tapi sisa waktu tinggal 30 menit. Damn! Ternyata soal yang lebih mudah di bagian tengah ke depan. Soal persamaan liniernya ga sulit dan ga perlu dicorat-coret, bisa dijawab dengan cepat.

Saya percepat ritme menjawab dan begitu masuk soal deret saya panik. Selama ini kebanyakan soal yang saya pelajari selalu menanyakan deret setelahnya, tapi TPA hari ini minta saya mencari suku ke-n. Saya ga inget gimana nyari suku ke-n. Readers, kalian harus pelajari juga soal ini. Hari ini kebanyakan nanya suku ke 2000 lah, suku ke 500 lah. Untuk sub tes ini saya pasrah. Ternyata otak cuma nyampe sini aja. Sisanya saya itemin aja, siapa tau mujur. Tips: screening soal, bisa jadi yang mudah di bagian depan. Soal yang perlu mikir ekstra bisa dilewatin dulu. Kalo ga keburu dan waktu habis, bisa diitemin pake feeling karena ga ada pengurangan nilai kalo salah jawab.

Sub tes ketiga saya lebih rileks. Tapi kepala udah keburu migrain hahahaha. Jadi untuk penalaran gambar, saya ga bisa yakin 100%. Soal premisnya diluar dugaan saya juga, sih. Kebanyakan soal selalu menanyakan kesimpulan premis, tapi hari ini dia nanyain analisa kita tentang ketepatan formula premisnya. Kalian perlu ngerti mana premis mayor dan mana premis minor. Kalo saya tadi pas ngerjain sih ga ngerti. Tapi semoga penalaran saya bener untuk mayor dan minornya. Nah, untuk soal pengelompokan nih, tadi ga serumit di buku soal. Tetap kerjain dengan teliti ya guys.

Overall soal TPA Bappenas hari ini sebenarnya ga begitu sulit sih. Tapi saya pecah konsentrasi jd ngeblank pas ngerjain numerik dan ga bisa maksimal di penalaran. Semoga doa saya dan doa teman2 saya dikabulin Allah. Amin.

Doakan semoga ada cerita tes toefl itp bappenas di next post saya ya.

Thank you for reading. Hope you pass the TPA test with high score.

PENDAKIAN MERBABU VIA SELO Bagian II

IMG_5516
Jepretan Om Fotografer. Cakep.

Gunung adalah salah satu tempat dimana kalian bisa lihat siapa diri kalian yang sebenarnya dan siapa teman kalian yang sebenarnya. Gunung tak hanya menghadirkan kenangan baru tapi juga teman baru.Kalo lo mau tes loyalitas sahabat lo, ajak dia naik gunung! – gue –

 

06 Mei 2016
(22.00) Drop!
Kira-kira jam 10.00 malam saya dengar suara ribut-ribut di luar tenda. Grup belakang akhirnya sampai juga di camping ground. Saya keluar dari tenda buat menyambut mereka. Jujur saya kuatir banget, apalagi ini pengalaman baru buat Eka dan Ida.

Karena tenda satu lagi belum selesai didiriin, ini cewek-cewek masuk ke tenda saya buat ganti baju. Mereka basah banget udah kaya lagu Elvi Sukaesih yang mandi madu. Mulai kedinginan dan ga jelas deh mereka, persis kaya saya waktu pertama kali masuk tenda.

Ga lama kemudian, tenda satunya jadi. Persis di depan tenda saya. Mereka langsung bubar dan masuk tenda sendiri. Saya niat mau nyusulin juga sambil rumpi-rumpi cantik sebelum tidur. Tapi tiba-tiba Yesi menggigil gitu di dalem SB. Saya sama Yeni agak panik takut itu anak kena hypo. Soalnya kita trekking lumayan ujan-ujanan. Ya udah kita kasih parasetamol karena badannya panas. Kita harap sih masuk angin aja. Eh dia masih menggigil terus. Yeni langsung meluk Yesi, sementara saya selimutin lagi Yesi pake jaket saya. Saya sih nebaknya karena itu anak dari mulai naik pake jaket mulu, terus lapis jas ujan. Jadi aklimatisasinya gak dapet dan dia kedinginan begitu kita udah di level tinggi banget.

Saya liat Yesi udah tenang di dalem SB, ya udah saya tinggal main ke tenda depan. Sementara Yeni sambil tiduran masih meluk Yesi. Salut sama ibu satu ini.

(23.00) RUMPI
Di tenda depan, Adrie, Ayu, Ida, Eka udah pada enak dilihat. Udah kelihatan seger deh ketimbang baru nyampe tadi. Ga lama temennya Om Kumis dateng bagi-bagi air panas buat minum sama nasi sarden kaleng. Eh ternyata temennya Om Kumis yang juga kumisan ini, anak Sumatera juga. Kita sebut aja dia Dik Kumis. Ya udah pada ngobrol pake bahasa Palembang sambil kelakar betok ( sambil bercanda ) biar suasana rileks.

Nah terus pada cerita deh gimana terseok-seoknya perjalanan mereka. Ida kena mimisan, Adrie mau nangis, Ayu ga tau gimana, Eka juga mau nangis lah. Kalo mereka bilang sih, sampe ngesot-ngesot deh. Didorong-dorong, disemangatin sama Dik Kumis dkk. Alhamdulillah semua selamat sampe camping ground.

Udah hampir tengah malam, saya balik ke tenda. Istirahat buat persiapan summit attack besok sekitar jam 5. Perjalanan ke puncak sekitar 2 jam dari Sabana II. Eh pas dini hari ga tau jam berapa gitu, mendadak dingin banget sampe nusuk-nusuk kaki bikin ga bisa tidur. Padahal kaki udah nyelip-nyelip di bawah kakinya Yeni biar anget, masih dingin juga. Sumpah mana di tenda sebelah, Dik Kumis dkk ngobrol kenceng banget. Ga inget ketiduran jam berapa akhirnya setelah nyetel alarm jam 5 pagi.

07 Mei 2016
(03.30) Gagal Sunrise Attack
Semalem ada yang janji, Dik Kumis mau muncak jam 4 subuh. Saya denger suara Dik Kumis berisik banget, makanya saya buru-buru keluar tenda. Saya sama Rizka keluar tenda. Yesi ga kuat buat ke puncak dan Yeni mau di tenda aja nemenin Yesi. Di luar udah rame banget, malah udah ada yang trekking ke puncak. Saya masuk ke tenda depan, ngajakin Ayu sama Adrie muncak. Mereka pada ga sanggup katanya. Nah loh bingung deh trekking bareng siapa. Takut nyasar salah-salah masuk tenda cowok ganteng. *eh*

Jam segitu masih cukup gelap, jadi rada susah buat liat muka-muka orang. Saya ngider di sekitar tenda nyariin Dik Kumis. Dipanggil-panggil tapi ga ada yang nyahut. Padahal jelas-jelas saya denger suara dia berisik banget di luar tenda. Pas keluar tenda juga saya masih sempat lihat dia sibuk sama kamera dan tripodnya.

Coba lagi dipanggil tapi ga ada jawaban. Oke fix kita ditinggal bocah. Padahal janjinya muncak nungguin. Adik durhaka banget emang.

Karena ga berani trekking berdua doang sama Rizka, akhirnya kita masuk lagi ke tenda. Nungguin agak terangan dikit baru keluar.

(05.00) Sunrise Merbabu

IMG_5413
Sunrise dari Sabana 2

Jam 5 semburat oranye mulai naik perlahan. Walaupu batal muncak, tapi alhamdulillah masih bisa menyaksikan sunrise dari Sabana II. Ga kalah cantiknya, ga kalah cakepnya.

Lagi sibuk nyari spot buat nangkep sunrise, tiba-tiba saya liat Dik Kumis dengan tripodnya standby di belakang tenda kita. Nah saya bingung dong. Soalnya setahu saya ini bocah udah muncak ninggalin kita jam 4 tadi. Kok sekarang udah balik lagi ke Sabana II? Dia bilang ke saya kalo dia baru bangun juga, ga jadi muncak jam 4 karena capek dan ngantuk banget. Padahal suara yang saya denger jam 4 tadi mirip banget suara ini bocah. [ telinga mulai bermasalah ]

IMG_0080
Jepretan Dik Kumis

 

(06.00) Sabana II – Puncak Triangulasi

Udah siang banget nih jam 6, bingung mau muncak tapi ga ada yang nganterin. Ya udah pada rembugan lah Om Kumis dan Om Kribo. Soalnya harus ada yang tinggal jagain barang-barang di tenda, sama masakin temen-temen yang ga bisa muncak.

Akhirnya Om Kribo yang mandu ke puncak. Tadinya cuma saya sama Rizka yang minat muncak, tapi akhirnya Adrie juga ikutan. Fix yang naik jadi 12 orang, 7cowok dan 5 cewek. Om Kribo yang bawa logistik buat sarapan di puncak. Yang lain bawa diri aja.

IMG_5449
Trekking dari Sabana 2 ke Puncak Trianggulasi
IMG_5452
Mengintip Merapi dari celah pepohonan

Trek ke puncak keren banget. Merbabu lagi cakep-cakepnya. Sejauh mata memandang warna hijau menghampar. Ditambah view Gunung Merapi yang gagah banget di seberang sana. Perjalanan ke puncak makan waktu 2,5 jam. Gila slow banget ini mah! Soalnya ada Om Fotografer yang bikin kita jadi lama jalannya. Sebentar-sebentar disuruh pose, baru jalan dikit disuruh stop karena view bagus. Tapi emang sumpah Merbabu itu cantiiik banget.

IMG_5455copy
Punggungan Gunung Merbabu dengan mode panorama
IMG_0070
Kata Om Fotografer, kita latihan dulu foto ala Ranukumbolo
IMG_0109
Lensed by : Adrie

 

(08.30) Puncak Trianggulasi

Alhamdulillah akhirnya nyampe juga di puncak Merbabu. Puncak Trianggulasi ini salah satu dari tiga puncak Merbabu selain Puncak Kenteng Songo dan Puncak Syarif. Dari Puncak Trianggulasi pemandangan semakin luas. Melihat camping ground Sabana I dan Sabana II dari puncak dipenuhi warna-warni tenda pendaki. Di seberangnya berdiri gagah Gunung Merapi dengan asap yang menyembur dari puncaknya.

IMG_5453
Dia-Yang-Tak-Pernah-Ingkar-Janji

Penyakit saya kalo udah di puncak tuh males buat turun. Enakan di puncak, pemandangannya cakep dan bikin betah. Disitu saya lupa kalo semaleman meringkuk kedinginan ga bisa tidur.

IMG_5487
Gunung Merbabu, done!

 

Lumayan bikin cape juga trek ke Puncak Trianggulasi. Hari juga udah mulai siang dan matahari mulai terik. Jadi kita putusin untuk menikmati Puncak Trianggulasi lebih lama. Karena udah ga kuat buat treking lagi ke Kenteng Songo dan Puncak Syarif. Tenaga disisain buat trekking turun aja.

Sementara kita pada sibuk foto-foto, Om Kribo nyiapin sarapan ringan buat kita. Kelar sarapan sekitar jam 10 kita trekking turun balik ke camping ground. Karena ngejar nyampe Jogja ga kemaleman, takut ketinggalan kereta.

IMG_5511
Pasukan yang nyampe puncak

 

(±12.00) Trekking Down to Basecamp

IMG_5512
Siap-siap turun gunung

Sekitar jam 12 siang kita beres-beres buat turun. Kabut mulai menyelimuti puncak merbabu bahkan ke area camping ground. Gerimis perlahan turun. Setelah beres, kita berdoa dan melanjutkan perjalanan turun.

Hujannya sedikit ngerjain. Sebentar turun sebentar reda. Saya sih lebih milih untuk ga pake jas hujan dan jaket. Takut kedinginan akut karena keenakan pake jaket.

IMG_5473
Break dulu sekalian nge-eksis

Sekedar saran dari saya yang pemula ini. Kalo trekking usahain banget jangan pake jaket. Walaupun di basecamp kadang dinginnya udah mulai nyerang. Takutnya tubuh jadi susah menyesuaikan suhu sekitar, apalagi di puncak dinginnya kan ekstra banget. Kalo udah keenakan pake jaket anget-anget sejak di basecamp, nanti di puncak ga berasa lagi angetnya.

IMG_5480
Break itu berarti saatnya foto-foto

Perjalanan turun tentu lebih ringan dan lebih cepet. Trekking sekitar 4 jam udah sampe di pintu gerbang jalur selo.

Oke, sekian cerita saya yang amburadul ini. Semoga bisa diambil pelajaran dari sini yah.

Sampai ketemu di pendakian berikutnya… (insyaallah)