Pengalaman Seleksi Beasiswa Bappenas 2018

Assalamu’alaikum readers!

How’s your day?

Tadinya saya mau post perjalanan saya ke Semeru akhir tahun lalu, tapi part terbaiknya belum selesai ditulis. Sibuk? Bukan karena sibuk ngerjain tugas kantor yang lagi bejibun (cuma tahun kemarin saya bisa ongkang kaki T-T). Bukan pula sibuk persiapan TPA. Tapi karena males ga ketolongan. Lagipula saya lagi fokus mencari pendamping hidup dalam angan-angan. Ga guna banget haha.

Tulisan saya kali ini celotehan dan share tentang pengalaman tes TPA dan persiapan seleksi beasiswa. Guys, ini fresh from the oven banget. Saya kelar tes 8 jam yang lalu, dan langsung saya ceritain di sini. Ga penting banget ya haha tapi semoga ada informasi yang berguna buat kalian yang sedang preapare buat TPA Bappenas.

Saya sedang membuat mimpi besar: kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Terlalu tinggi untuk digapai orang dengan kemampuan intelektual rata-rata seperti saya. Tapi, saya coba buat pasang target tinggi supaya ketahuan dimana batas maksimal saya. (Lain kali saya coba lebih realistis haha).

Beasiswa yang saya bidik adalah dari Pusbindiklatren Bappenas. Kriteria yang diminta untuk calon awardee beasiswa S2 adalah :

– PNS dengan masa kerja min. 1 tahun

– Usia max. 37 tahun

– Bekerja di unit perencanaan atau bagian perencanaan

– IPK min. 2,75

Udah itu aja!

Kriteria yang bisa dipenuhi oleh hampir semua PNS, kan? Makanya begitu kesempatan ini muncul, langsung saya ambil.

Persiapan berkas ga begitu banyak dan ga ribet. Yang bikin lama adalah pas nulis Rencana Studi. Mau kuliah dimana dan mau ngapain setelah dapat gelar Master? Jujur saya bingung mau ngapain. Karena jawaban saya sangat klise dan umum banget. Akhirnya saya konsultasi dengan atasan langsung, yang kebetulan apply Beasiswa S3 juga dan alhamdulillah salah satu alumni Linkage Program Beasiswa Bappenas ke Belanda. Minta saran lah saya ke beliau tentang essay saya dan koreksian di beberapa bagian yang menurutnya ga ada power. Hahaha. Saya bikin ini 2 minggu dengan akhirnya mengubah program studi pilihan di h-2 pengumpulan berkas. Untuk yang lolos seleksi administrasi, akan dipanggil untuk ikut tes TPA.

Jeda pemanggilan peserta TPA lumayan lama, hampir 1 bulan. Tapi waktu ini saya manfaatkan betul buat belajar soal-soal TPA versi Bappenas. TPA Bappenas biasa dipake untuk seleksi perguruan tinggi, assessment, dan beasiswa. Harus saya akui apa yang dikatakan banyak orang tentang kesulitan TPA Bappenas adalah benar. TPA Bappenas punya tingkat kesulitan yang cukup tinggi dan soal sangat variatif. Ga heran yah pulang dari tes langsung migrain dan ga nafsu makan.

Soal TPA sendiri dibagi 3 sub tes yaitu verbal, numerik dan penalaran. Jumlah soal 250 dan harus dikerjakan dalam waktu 180 menit. Jadi kita cuma punya waktu sekitar 40 detik per soal. Ya! 40 Detik Per Soal.

Ga usah teriak kaget begitu ya readers. Karena saya juga stres banget sama waktu yang dikasih. T-T.

Sub tes verbal mirip sama soal tes CPNS, ada sinonim, antonim, padanan kata, soal dengan paragraf. Tapi sekali lagi tingkat kesulitannya lebih tinggi. Butuh ketelitian disini.

Sub tes kedua adalah numerik. Ini kalo ibarat nyebrang jembatan gantung Pantai Timang (coba search di google yah), kita ada di tengah-tengah dengan terpaan angin kencang dan hempasan ombak tinggi banget. Lebay banget gue ya. Hahaha tapi buat saya ini beneran. Tendensinya meningkat berkali lipat. Kita dituntut untuk bisa memahami soal dan menjawab dengan cepat. Kebayang ga sih matematika dikerjain dalam waktu kurang dari 1 menit per soal. Jadi readers, kalian butuh tenaga ekstra disini. Tipe soalnya deret, persamaan x,y gitu, perbandingan apalah ga ngerti namanya, kecepatan, persen untung rugi, gitu-gitu tipenya. Buat lebih jelas bisa cari di google yang versi Bappenas.

Sub tes ketiga adalah penalaran. Tipe soal psikotes gambar dan premis kalimat. Tendensinya berkurang nih di sub tes ini. Saya yakin kalau teliti dan sering latihan soal pasti bisa. Yah walaupun kalau saya tetap banyak salah nalarnya. Hahaha.

Sebagai referensi, saya belajar dari beberapa buku, dimana cuma satu buku yang saya beli. Sisanya ngintip di google books. Tipe soalnya hampir sama dan nyaris sama. Yang dibutuhkan adalah pemahaman soal dan kecepatan.

Dari 3 buku yang saya pelajari, saya lebih merekomendasikan yang kedua : Panduan Resmi Tes TPA. Karena disini diajarin cara logika untuk menyelesaikan soal sub tes numerik.

Yang pertama bagus tapi pembahasannya formulatif banget, jadi lebih makan waktu. Tapi kalau untuk latihan, soal-soalnya bagus dan yaaah susah banget buat saya haha.

Yang ketiga ga terlalu rumit juga soalnya. Jadi kalo buat referensi boleh-boleh aja sih.

Pemanggilan tes TPA diumumkan via website pusbindiklatren, email dan sms. Saya sendiri dapat kabar dari seoarang teman dari dinas perikanan yang ga ikut apply tapi tetap ngabarin dan kasih selamat serta doa restu. Semoga doanya dikabulin Allah. Amin.

Tesnya sendiri untuk domisili Sumatera Selatan dan provinsi di sekitarnya, seperti Jambi dan Babel diadakan di Ruang Doktor PPS Universitas Sriwijaya. Persiapan saya sih tetep latihan kerjain soal numerik sampai H-1 saya STOP belajar. Tipsnya dari pendahulu TPA Bappenas begitu ya saya ikut aja.

Tibalah hari dimana kalian menghadapi kenyataan betapa waktu begitu cepat berlalu saat ujian berlangsung. Peserta diminta datang 30 menit lebih awal, dengan membawa pensil 2B, penghapus, rautan pensil (which is kurang berguna juga dibawa), papan ujian, dan KTP. Soal tes masih dalam koper bersandi. Eksklusif sekali yah. Kode dan kunci koper ada di dalam amplop terpisah yang bersegel. Oke, koper dibuka, lembar jawaban (LJK) dibagikan, diisi beberapa informasi disitu. Sebelum soal dibagikan, peserta diperkenankan untuk ke toilet. Karena selama ujian berlangsung akan sangat sangat sulit untuk ke toilet. Bukan ga boleh, tapi ga bakal sempet. Mending ngerjain soal ajaaa T_T

Seperti dijelaskan sebelumnya ya, soal dibagi 3 sub tes dan tiap sub tes dikasih waktu 1 jam. Begitu waktu habis, kita lanjut sub tes berikutnya dan engga diperbolehkan membuka sub tes sebelumnya. Disini kita diajarkan untuk move on dan ga menoleh ke belakang. Eh!

Sub tes pertama sesuai prediksi. Tapi yang mengejutkan adalah soal berdasarkan paragraf. Biasanya paragraf yang saya kerjain dari buku soal sekitar 4-5 paragraf. Hari ini saya dihadapkan dengan kutipan (dia bilang ini kutipan, yang menurut saya layak disebut cerpen) sepanjang 2 halaman. I can’t say a word. Tapi guys, inget ga perlu dibaca semua. Tipsnya: baca soal lalu cari jawaban dalam kutipan dengan cara screening.

Disini saya ga kesulitan membagi waktu mengerjakan, tapi kesulitan menjawab hahaha. Kalo kalian terbiasa mengerjakan soal pasti bisa hafal kata-kata yang ditanyain disini.

Sub tes numerik yang diluar prediksi saya. Sumpah saya langsung blank dan kehilangan akal sehat (i mean, hilang konsentrasi). Kebanyakan orang yang pernah ikut TPA Bappenas akan menyarankan mengerjakan soal dari belakang. Saya kerjain lah soal dari belakang. Tapi saya sadar strategi saya salah, setelah selesai menjawab yakin 10 soal tapi sisa waktu tinggal 30 menit. Damn! Ternyata soal yang lebih mudah di bagian tengah ke depan. Soal persamaan liniernya ga sulit dan ga perlu dicorat-coret, bisa dijawab dengan cepat.

Saya percepat ritme menjawab dan begitu masuk soal deret saya panik. Selama ini kebanyakan soal yang saya pelajari selalu menanyakan deret setelahnya, tapi TPA hari ini minta saya mencari suku ke-n. Saya ga inget gimana nyari suku ke-n. Readers, kalian harus pelajari juga soal ini. Hari ini kebanyakan nanya suku ke 2000 lah, suku ke 500 lah. Untuk sub tes ini saya pasrah. Ternyata otak cuma nyampe sini aja. Sisanya saya itemin aja, siapa tau mujur. Tips: screening soal, bisa jadi yang mudah di bagian depan. Soal yang perlu mikir ekstra bisa dilewatin dulu. Kalo ga keburu dan waktu habis, bisa diitemin pake feeling karena ga ada pengurangan nilai kalo salah jawab.

Sub tes ketiga saya lebih rileks. Tapi kepala udah keburu migrain hahahaha. Jadi untuk penalaran gambar, saya ga bisa yakin 100%. Soal premisnya diluar dugaan saya juga, sih. Kebanyakan soal selalu menanyakan kesimpulan premis, tapi hari ini dia nanyain analisa kita tentang ketepatan formula premisnya. Kalian perlu ngerti mana premis mayor dan mana premis minor. Kalo saya tadi pas ngerjain sih ga ngerti. Tapi semoga penalaran saya bener untuk mayor dan minornya. Nah, untuk soal pengelompokan nih, tadi ga serumit di buku soal. Tetap kerjain dengan teliti ya guys.

Overall soal TPA Bappenas hari ini sebenarnya ga begitu sulit sih. Tapi saya pecah konsentrasi jd ngeblank pas ngerjain numerik dan ga bisa maksimal di penalaran. Semoga doa saya dan doa teman2 saya dikabulin Allah. Amin.

Doakan semoga ada cerita tes toefl itp bappenas di next post saya ya.

Thank you for reading. Hope you pass the TPA test with high score.

Advertisements

PENDAKIAN MERBABU VIA SELO Bagian II

IMG_5516
Jepretan Om Fotografer. Cakep.

Gunung adalah salah satu tempat dimana kalian bisa lihat siapa diri kalian yang sebenarnya dan siapa teman kalian yang sebenarnya. Gunung tak hanya menghadirkan kenangan baru tapi juga teman baru.Kalo lo mau tes loyalitas sahabat lo, ajak dia naik gunung! – gue –

 

06 Mei 2016
(22.00) Drop!
Kira-kira jam 10.00 malam saya dengar suara ribut-ribut di luar tenda. Grup belakang akhirnya sampai juga di camping ground. Saya keluar dari tenda buat menyambut mereka. Jujur saya kuatir banget, apalagi ini pengalaman baru buat Eka dan Ida.

Karena tenda satu lagi belum selesai didiriin, ini cewek-cewek masuk ke tenda saya buat ganti baju. Mereka basah banget udah kaya lagu Elvi Sukaesih yang mandi madu. Mulai kedinginan dan ga jelas deh mereka, persis kaya saya waktu pertama kali masuk tenda.

Ga lama kemudian, tenda satunya jadi. Persis di depan tenda saya. Mereka langsung bubar dan masuk tenda sendiri. Saya niat mau nyusulin juga sambil rumpi-rumpi cantik sebelum tidur. Tapi tiba-tiba Yesi menggigil gitu di dalem SB. Saya sama Yeni agak panik takut itu anak kena hypo. Soalnya kita trekking lumayan ujan-ujanan. Ya udah kita kasih parasetamol karena badannya panas. Kita harap sih masuk angin aja. Eh dia masih menggigil terus. Yeni langsung meluk Yesi, sementara saya selimutin lagi Yesi pake jaket saya. Saya sih nebaknya karena itu anak dari mulai naik pake jaket mulu, terus lapis jas ujan. Jadi aklimatisasinya gak dapet dan dia kedinginan begitu kita udah di level tinggi banget.

Saya liat Yesi udah tenang di dalem SB, ya udah saya tinggal main ke tenda depan. Sementara Yeni sambil tiduran masih meluk Yesi. Salut sama ibu satu ini.

(23.00) RUMPI
Di tenda depan, Adrie, Ayu, Ida, Eka udah pada enak dilihat. Udah kelihatan seger deh ketimbang baru nyampe tadi. Ga lama temennya Om Kumis dateng bagi-bagi air panas buat minum sama nasi sarden kaleng. Eh ternyata temennya Om Kumis yang juga kumisan ini, anak Sumatera juga. Kita sebut aja dia Dik Kumis. Ya udah pada ngobrol pake bahasa Palembang sambil kelakar betok ( sambil bercanda ) biar suasana rileks.

Nah terus pada cerita deh gimana terseok-seoknya perjalanan mereka. Ida kena mimisan, Adrie mau nangis, Ayu ga tau gimana, Eka juga mau nangis lah. Kalo mereka bilang sih, sampe ngesot-ngesot deh. Didorong-dorong, disemangatin sama Dik Kumis dkk. Alhamdulillah semua selamat sampe camping ground.

Udah hampir tengah malam, saya balik ke tenda. Istirahat buat persiapan summit attack besok sekitar jam 5. Perjalanan ke puncak sekitar 2 jam dari Sabana II. Eh pas dini hari ga tau jam berapa gitu, mendadak dingin banget sampe nusuk-nusuk kaki bikin ga bisa tidur. Padahal kaki udah nyelip-nyelip di bawah kakinya Yeni biar anget, masih dingin juga. Sumpah mana di tenda sebelah, Dik Kumis dkk ngobrol kenceng banget. Ga inget ketiduran jam berapa akhirnya setelah nyetel alarm jam 5 pagi.

07 Mei 2016
(03.30) Gagal Sunrise Attack
Semalem ada yang janji, Dik Kumis mau muncak jam 4 subuh. Saya denger suara Dik Kumis berisik banget, makanya saya buru-buru keluar tenda. Saya sama Rizka keluar tenda. Yesi ga kuat buat ke puncak dan Yeni mau di tenda aja nemenin Yesi. Di luar udah rame banget, malah udah ada yang trekking ke puncak. Saya masuk ke tenda depan, ngajakin Ayu sama Adrie muncak. Mereka pada ga sanggup katanya. Nah loh bingung deh trekking bareng siapa. Takut nyasar salah-salah masuk tenda cowok ganteng. *eh*

Jam segitu masih cukup gelap, jadi rada susah buat liat muka-muka orang. Saya ngider di sekitar tenda nyariin Dik Kumis. Dipanggil-panggil tapi ga ada yang nyahut. Padahal jelas-jelas saya denger suara dia berisik banget di luar tenda. Pas keluar tenda juga saya masih sempat lihat dia sibuk sama kamera dan tripodnya.

Coba lagi dipanggil tapi ga ada jawaban. Oke fix kita ditinggal bocah. Padahal janjinya muncak nungguin. Adik durhaka banget emang.

Karena ga berani trekking berdua doang sama Rizka, akhirnya kita masuk lagi ke tenda. Nungguin agak terangan dikit baru keluar.

(05.00) Sunrise Merbabu

IMG_5413
Sunrise dari Sabana 2

Jam 5 semburat oranye mulai naik perlahan. Walaupu batal muncak, tapi alhamdulillah masih bisa menyaksikan sunrise dari Sabana II. Ga kalah cantiknya, ga kalah cakepnya.

Lagi sibuk nyari spot buat nangkep sunrise, tiba-tiba saya liat Dik Kumis dengan tripodnya standby di belakang tenda kita. Nah saya bingung dong. Soalnya setahu saya ini bocah udah muncak ninggalin kita jam 4 tadi. Kok sekarang udah balik lagi ke Sabana II? Dia bilang ke saya kalo dia baru bangun juga, ga jadi muncak jam 4 karena capek dan ngantuk banget. Padahal suara yang saya denger jam 4 tadi mirip banget suara ini bocah. [ telinga mulai bermasalah ]

IMG_0080
Jepretan Dik Kumis

 

(06.00) Sabana II – Puncak Triangulasi

Udah siang banget nih jam 6, bingung mau muncak tapi ga ada yang nganterin. Ya udah pada rembugan lah Om Kumis dan Om Kribo. Soalnya harus ada yang tinggal jagain barang-barang di tenda, sama masakin temen-temen yang ga bisa muncak.

Akhirnya Om Kribo yang mandu ke puncak. Tadinya cuma saya sama Rizka yang minat muncak, tapi akhirnya Adrie juga ikutan. Fix yang naik jadi 12 orang, 7cowok dan 5 cewek. Om Kribo yang bawa logistik buat sarapan di puncak. Yang lain bawa diri aja.

IMG_5449
Trekking dari Sabana 2 ke Puncak Trianggulasi
IMG_5452
Mengintip Merapi dari celah pepohonan

Trek ke puncak keren banget. Merbabu lagi cakep-cakepnya. Sejauh mata memandang warna hijau menghampar. Ditambah view Gunung Merapi yang gagah banget di seberang sana. Perjalanan ke puncak makan waktu 2,5 jam. Gila slow banget ini mah! Soalnya ada Om Fotografer yang bikin kita jadi lama jalannya. Sebentar-sebentar disuruh pose, baru jalan dikit disuruh stop karena view bagus. Tapi emang sumpah Merbabu itu cantiiik banget.

IMG_5455copy
Punggungan Gunung Merbabu dengan mode panorama
IMG_0070
Kata Om Fotografer, kita latihan dulu foto ala Ranukumbolo
IMG_0109
Lensed by : Adrie

 

(08.30) Puncak Trianggulasi

Alhamdulillah akhirnya nyampe juga di puncak Merbabu. Puncak Trianggulasi ini salah satu dari tiga puncak Merbabu selain Puncak Kenteng Songo dan Puncak Syarif. Dari Puncak Trianggulasi pemandangan semakin luas. Melihat camping ground Sabana I dan Sabana II dari puncak dipenuhi warna-warni tenda pendaki. Di seberangnya berdiri gagah Gunung Merapi dengan asap yang menyembur dari puncaknya.

IMG_5453
Dia-Yang-Tak-Pernah-Ingkar-Janji

Penyakit saya kalo udah di puncak tuh males buat turun. Enakan di puncak, pemandangannya cakep dan bikin betah. Disitu saya lupa kalo semaleman meringkuk kedinginan ga bisa tidur.

IMG_5487
Gunung Merbabu, done!

 

Lumayan bikin cape juga trek ke Puncak Trianggulasi. Hari juga udah mulai siang dan matahari mulai terik. Jadi kita putusin untuk menikmati Puncak Trianggulasi lebih lama. Karena udah ga kuat buat treking lagi ke Kenteng Songo dan Puncak Syarif. Tenaga disisain buat trekking turun aja.

Sementara kita pada sibuk foto-foto, Om Kribo nyiapin sarapan ringan buat kita. Kelar sarapan sekitar jam 10 kita trekking turun balik ke camping ground. Karena ngejar nyampe Jogja ga kemaleman, takut ketinggalan kereta.

IMG_5511
Pasukan yang nyampe puncak

 

(±12.00) Trekking Down to Basecamp

IMG_5512
Siap-siap turun gunung

Sekitar jam 12 siang kita beres-beres buat turun. Kabut mulai menyelimuti puncak merbabu bahkan ke area camping ground. Gerimis perlahan turun. Setelah beres, kita berdoa dan melanjutkan perjalanan turun.

Hujannya sedikit ngerjain. Sebentar turun sebentar reda. Saya sih lebih milih untuk ga pake jas hujan dan jaket. Takut kedinginan akut karena keenakan pake jaket.

IMG_5473
Break dulu sekalian nge-eksis

Sekedar saran dari saya yang pemula ini. Kalo trekking usahain banget jangan pake jaket. Walaupun di basecamp kadang dinginnya udah mulai nyerang. Takutnya tubuh jadi susah menyesuaikan suhu sekitar, apalagi di puncak dinginnya kan ekstra banget. Kalo udah keenakan pake jaket anget-anget sejak di basecamp, nanti di puncak ga berasa lagi angetnya.

IMG_5480
Break itu berarti saatnya foto-foto

Perjalanan turun tentu lebih ringan dan lebih cepet. Trekking sekitar 4 jam udah sampe di pintu gerbang jalur selo.

Oke, sekian cerita saya yang amburadul ini. Semoga bisa diambil pelajaran dari sini yah.

Sampai ketemu di pendakian berikutnya… (insyaallah)

Halbae Yeoja (Grandpa’s Woman) Part 5 : Hallucination

Halbae Yeoja (Grandpa’s Woman)

Part 5 : Hallucination

Halbae Yeoja

You still look so pretty, but you look so sad for some reason

Can’t we go back to how it was before?

To the beginning?

2PM – Hallucination

Cast:
[2PM] Chansung : Hwang Chansung/ Alex Hwang
[Miss-A] Fei : Wang Fei Fei
[OC] Jung Hyeosoo
[2AM] Seulong
Background song: 2PM – Hallucination
Genre: fantasy, romance

Fei duduk di kursi malas dengan sebuah buku melayang di depannya, sementara Chansung bersandar di sofa sambil memandangi roh wanita itu. Sebuah fakta baru tentang Fei, ternyata ia sangat suka buku-buku syair dan biografi orang-orang dalam sejarah. Terlihat sangat kuno untuk selera masa kini, tapi Chansung dengan senang hati membelikannya untuk Fei dari sebuah toko online.

“Lain kali akan kuajak kau ke perpustakaan. Ada banyak buku lama disana, kau pasti suka,” Chansung mengulum senyum.

“Hmm! Gomawo, Chansung-ssi,” Fei sekilas memandang Chansung dengan senyum lebar yang manis. Kemudian membalik halaman bacaannya yang lebih menarik daripada wajah Chansung.

Dari tempatnya bersandar, Chansung kembali mengamati Fei. Peristiwa membingungkan yang terjadi di gudang semalam kembali bergelayut di pikirannya. Ia mengusap punggung tangan, masih tetap memandang Fei. Sentuhan dingin itu seolah masih tertinggal di permukaan kulitnya dan terasa begitu nyata. Namun, melihat bagaimana cara Fei memperlakukan benda-benda di sekelilingnya, bahkan tak pernah menyentuh buku ketika membalik halamannya, Chansung menjadi ragu dan bertanya-tanya apakah kejadian di gudang kemarin nyata atau hanya halusinasi semata. Continue reading

PENDAKIAN GUNUNG PRAU, PUNCAK SERIBU BUKIT (Bagian II) SUMMIT ATTACK GUNUNG PRAU

Summit Attack_

Selamat pagi semesta!!

IMG_4591
Bulan masih menggantung di langit Prau at 5.00am

Pagi yang beku dari Puncak Gunung Prau. Saya, Ayu dan Adrie bangun lebih cepat sekitar jam 4.00 lebih dikit, karena Ayu dan Adrie kebelet cari “spot” hahaha. Spot disini adalah semak-semak di balik bukit sebagai pengganti kamar kecil T-T (Spot temuan Efri dan Ayu semalam) Hahhaha

Udah hampir jam 5.00 pagi, tapi Geng Mas-mas Pemandu masih molor di tenda. Hahaha padahal semalem ada yang teriak pake toa kalo jam 4.30 harus bangun buat summit attack. Mungkin kecapean habis “ronda” sampe jam 2 pagi. Terpaksa, deh kita goyang-goyang tendanya ampe roboh dan mas-masnya kebangun karena kaget, kelabakan kaya kena razia (yang ini becanda).

 

IMG_4882
Tenda kenangan kita hahaha : 1. Cewek Palembang, 2. Mas-mas Diengbackpacker, 3. Bujang Palembang (sendiri loh), 4 & 5. Grup Padang

Akhirnya, naik berdua sama Ayu ke bukit belakang karena semburat oranye samar-samar mulai mucul di balik Gunung Kembar, Sindoro dan Sumbing. Ga lupa bawa kopelan *hahaha* titipan dari temen sekaligus emang mau nulis pesan buat difoto dan update ke media sosial biar kekinian. Sementara Adrie masih ngebangunin Kak Man yang tidur di seberang tenda kita. (Dia tidur sendirian, loh semalem hihihihi) Ga lama kemudian, Mas Ali nyusul sambil meringis kedinginan. Sumpah emang super dingin ini puncak. Lipbalm saya beku!!!

Penantian detik-detik kemunculan sang mentari ini udah kaya nunggu emak-emak lahiran. Deg-degan dan bikin seneng.

 

Golden Sunrise_

Perjalanan yang susah payah serta dingin yang menusuk telapak tangan dan kaki, juga muka lelah dengan kantung mata karena kurang tidur sejak di kereta, terbayarkan dengan keindahan yang diberikan oleh Puncak Gunung Prau. Kira-kira jam 5 lebih, Sang Surya perlahan menampakkan diri.

KLQS1376
Detik-detik Sunrise di Gunung Prau yang terekam di nyawa terakhir iphone 4s

Udah siapin amunisi buat nembak sunrise pake mode panorama, eh hape mati karena suhu minus. -_- Jadi hasil bidiknya ga banyak T-T Untung ada kamera Adrie T-T Jadi, temen-temen yang mau mendaki, please jangan ngandelin hp aja hahahaha

IMG_4632
Foto ini telah menimbulkan fitnah. Sampe dikira foto prewedding -_- Padahal ini aku sama ayu.

Dari puncak sini kita bisa lihat 7 Gunung di Jawa Tengah, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu dan pecahan Gunung Prau yaitu Gunung Pakuwojo dan Gunung Nagasari. Pemandangan yang luar biasa indah, kan?

IMG_4737
It’s okay mukanya ga keliatan. Yang penting backgroundnya. Masyaallah ya!

 

Menghabiskan Pagi di Puncak Prau_

Gunung Prau atau Prahu disebut Puncak Seribu Bukit, karena bentuk permukaannya yang berbukit-bukit. Dikenal dengan Bukit Teletubies dan Padang Bunga Daisy, Prau memang bikin pendaki betah berlama-lama. Mendaki Gunung Prau bukan sekedar menikmati dingin dalam kabut atau hangat dalam sinar matahari pagi. Banyak hal yang bisa dilakukan setelah momen sunrise berakhir.

Naik-turun di antara bukit-bukit dan melihat pemandangan dari berbagai sudut. Rebahan di atas rerumputan yang dikelilingi bunga daisy sambil memandang awan yang berarak di langit. Nyari sinyal di bukit sebelah barat (ini aktivitas favorit Kak Man wkwkkwwkk) Nunggu Efri bikin sarapan sembari bercengkrama antar pendaki. Ngebahas pendakian semalem yang bikin Adrie pengen nyerah di Pos I, dinginnya Prau tengah malem yang bikin saya nangis dalam pelukan Ayu *lebay*, ngeledekin Kak Man yang tidur sendirian di tenda semalem. Dan duduk di atas matras menghadap matahari biar kulit kecokelatan. Ah… nikmatnya! *disiram kuah popmie kari ayam*

IMG_4843
Anak SD kalo naik gunung begini kelakuannya.
IMG_4753
Duduk di setapak ya! Bunganya aman kok!
IMG_4598
View Gunung Sindoro-Sumbing yang gagah

 

IMG_4846
Alhamdulillah bunganya lagi mekar. Udah sehat lagi sejak kemarau panjang.

 

IMG_4754
Pada minta sarapan sama Efri >,< *mules*

Semua udah kebagian sarapan popmie kecuali saya yang nolak mentah-mentah waktu ditawari sarapan. OGAH!! Saya ini tipe manusia yang perutnya kaya orang abis putus, sensitive banget dikit-dikit nangis. Ga berani deh makan pagi, karena puncak Prau udah dijamuri manusia-manusia yang haus akan sunrise dan foto-foto. Ga lucu kan kalo saya makan, terus mules dan terpaksa cari spot, kemudian ada yang ngebidik ga sengaja gitu pas lagi nongkrong. Hahahaha mending kelaperan dah. Paling engga saya minum susu jahe 2 gelas, sambil menikmati aroma popmie bakso punya ayu dan nelen ludah sendiri T-T

Kelar sarapan dan ngerumpi cantik, berhubung puncak udah panas banget (padahal baru jam 7.30 pagi) akhirnya kegiatan dilanjutkan dengan berteduh di bawah tenda dan dengerin lawakan Mas Tako alias Mas Alfamart. Sebenernya ga ngelawak juga, sih. Ada juga cerita tentang terbentuknya Dieng dan Gunung Prau, tentang Festival Rambut Gimbal, dan Obyek Wisata di Kawasan Dieng Plateau. Sementara Mas-mas yang lain lanjut tidur zzzzz!!

Rencana awal sih, kita mau turun sekitar jam 8 biar ga kepanasan. Tapi akhirnya molor juga karena malah pada ngantuk dan lanjut tidur pagi. Zzzzz!

 

Persiapan Turun_

Akhirnya, Mas Tako berbuat anarkis dan membongkar paksa tenda Mas-mas Pemandu. Padahal temennya, Mas Ali sama Fendi masih ngorok kenceng. Hahahaha

Biar cepet kelar, peserta juga bantu-bantu bongkar tenda. Jadi, biarpun kita pake Agen Perjalanan tetep bantuin juga biar terasa kekompakannya. *eaaa banget*

IMG_4616
Bawa turun sampahmu!! Asik biar kaya anak gunung banget.

Udah beres semua termasuk sampah-sampah bekas makan juga. Semua anggota berkumpul lagi, kali ini Mas Tako yang kebagian cuap-cuap. Ucapan syukur, terima kasih dan permintaan maaf antara Pemandu dan Pendaki tumpah di kerumunan. Sebelum turun, semua anggota berdoa minta keselamatan Yang Maha Kuasa.

IMG_4731
Lompatan terakhir sebelum turun gunung! Girang banget padahal belum cuci muka.

 

Perjalan Turun_

Sekitar jam 9.30 perjalanan turun dimulai. Estimasi memakan waktu 2 jam pun meleset jadi 2,5 jam. Saya lemes karena ga sarapan hahahhaha. Ditambah lagi treknya lebih sulit pas turun, terbukti Ayu dua kali kepeleset. Kadang pas undakan yang agak tinggi, harus dibantu sama pemandu. Selain itu karena panas, jadi gampang banget capenya. Makanya pendakian paling baik yang ga terpapar matahari siang.

IMG_4624
Udah trek turun licin, sempit, terjal, masih sempet grufie. Hahaha

Sebagai pendaki (alamak bahasa gue) kita harus tahu dan paham kondisi tubuh kita sendiri. Cuma kita deh yang tau kapan kita perlu dan harus istirahat. Kalo mau istirahat usahakan tetap ada dalam rombongan, jangan kepisah. Paling engga ada temen yang nemenin kamu istirahat.

IMG_4618
View Dieng Plateau dan Telaga Warna di tengah perjalanan turun. Antara Pos III dan Pos II.

 

Saya akhirnya jalan paling belakang, karena ga kuat nyusul Efri, Ayu dan Adrie. Tapi ada Kak Man yang nungguin saya istirahat. Lewat Pos III, setelah istirahat keinget masih nyimpen wafer cokelat lengket-lengket (merknya TOP), ya udah langsung dikunyah aja sambil jalan, biar ada energi. Tapi, di Pos II saya minta stop lagi karena makin lemes. Berharap si Efri, Ayu dan Adrie nungguin kita berdua di Pos. Sayang semua hanya mimpi, mereka ga nungguin kita. Aseeeem!! Mau gimana lagi, ya udah sambil meratapi nasib dan berharap mereka nunggu di Pos I, ngabisin wafer dulu dan istirahat lebih lama.

Perjalanan ke Pos I pun harus jadi perjalanan yang membosankan buat Kak Man hahahaha karena saya jalan makin lambat. Untungnya, sih Efri, Ayu, sama Adrie masih nunggu di Pos I. Ayu masih riang gembira wkwkkwkkwk padahal Adrie udah pucet.

Nyampe Pos I langsung cari sandaran hati, eh sandaran punggung. Ditawarin sarapan dulu sama Efri, tapi saya masih nolak. Padahal muka udah kaya bintang iklan Shinzhui yang putih pucet. Pengen istirahat lebih lama, tapi yang lain udah ngajak lanjut jalan. Oke, dengan sisa-sisa energi saya ngekor aja sambil ngesot.

 

Dan Berakhirnya Pendakian_

Berharap nyampe basecamp bisa langsung rebahan dan makan di rumah Mas Ali. Tapi harapan itu pupus. Karena kunci rumah di bawa Mas Ali. Dan Mas Ali belum nyampe basecamp, mungkin masih di Pos II nungguin salah satu anggota yang sakit, jadi harus pelan-pelan turun. Udah pas tengah hari waktu itu.

Ya udah, nunggu dong sebagai tamu yang baik. Ga mungkin juga ngedobrak pintu atau nyongkel daun jendela buat masuk rumah Mas Ali. Sambil nunggu dan emang karena udah laper banget, makan bakso dulu di samping basecamp. Kebetulan ada tukang bakso lagi ngider. Jangan tanya enak atau engga, yang jelas perut keisi. -_-

Dan yang ditunggu-tunggu datang, Mas Ali langsung kita sambit, eh sambut, dengan arak-arakan sama petasan. Hahahaha ga ding. Begitu semua pemandu kumpul, sebagai tanda mata dan bukti buat anak cucu kalo nenek moyangnya bukan pelaut melainkan pendaki, kita minta foto bareng carrier-carrier gede.

 

IMG_4908
Repost dari IG Adrie ^^

Alhamdulillah! Dengan berakhirnya sesi foto ini, maka berakhir pula cerita Pendakian Gunung Prau 2565 mdpl. Selanjutnya saya mau cerita perjalanan panjang pas keluar dari Negeri Para Dewa. Soon!!

Selamat Milad Kawan, Selamat Jalan

fec140a6-deba-454e-9521-350cbe5dd47a.jpeg

Bismillahirrohmaanirrohiim

Selasa, 9 februari 2016 kemarin saya kehilangan seorang sahabat lagi. Almarhum teman sekelas di Kelas X SMAN 3 Palembang. Cerdas, baik dalam bergaul, santun, dan rendah hati. Sama seperti ABG kebanyakan yang punya geng, kita juga punya geng main. Isinya saya, pewe, yeni, amrina, linda, didit dan andri (alm). Mulai dari kerja kelompok, bikin pr, jajan di kantin semuanya bareng.

Pas kelas XI kita pisah kelas dan jarang banget apa-apa barengan. Tamat SMA, saya beberapa kali ketemu almarhum di terminal bus kampus. Kebetulan kita satu kampus di Unsri Indralaya. Pernah satu kali saya main ke rumah almarhum pas survei kampung ramah lingkungan. Almarhum lulus duluan dgn IPK 3,9 kalo ga salah karena ada 1 nilai B.

Kelar studi, almarhum kerja di salah satu bank dan sering pindah-pindah. Sesama perantau, kita jadi sering curhat soal pekerjaan.

Tahun lalu akhirnya almarhum resign dari bank dan pulang ke kampung halaman di palembang. Waktu ditanya, almarhum bilang karena disuruh ibunda pulang. Saya cuma bisa kasih support karena kebetulan kita punya dilema yang sama. Soal pekerjaan dan keluarga.

Sayang belum sempat bertemu lagi, almarhum sudah lebih dulu dipanggil Allah.

Kemarin, 10 februari 2016 adalah yaumul milad almarhum. Tepat sehari setelah almarhum menghadap Allah.

Rejeki, maut, jodoh, tak seorang pun tahu. Usia muda bukan jaminan hidup lama.

Semoga almarhum Andri Sumantri diampuni segala dosanya dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah. Alfatihah.

Selamat ulang tahun kawan, selamat jalan. Semoga berkumpul lagi bersama orang-orang shalih.

GUNUNG PRAU, PUNCAK SERIBU BUKIT (1)

Persiapan Trekking

Kali ini adalah kali pertama kami trekking, belum ada pengalaman dan peralatan buat camping di puncak gunung. Awalnya cuma ingin berburu sunrise di Puncak Gunung Prau alias nanjak, tanpa acara muncak atau camping di puncak. Tapi, anak-anak yang lain keberatan dengan planning nekat ini. Akhirnya, sepakat buat pake jasa pemandu dari diengbackpacker demi kenyamanan. Kami ambil paket wisata 2D+1N Fun Trip Dieng Plateau – Prau.

Sebelum nanjak, saya nanya dulu ke Mas Ali apa aja yang perlu dibawa buat muncak di Prau. Standar aja sih kaya jaket, jas hujan, sandal, senter, sama yang penting baju ganti. Karena selama trekking nanti walaupun suhu udara dingin, tapi kita tetap keringetan. Makanya sebelum tidur harus ganti baju supaya ga kedinginan.

Janjian jam 19.30 lepas Isya’ mau nanjak ke Prau, Mas Ali belum muncul juga jemput kita orang. Sambil nunggu, liat ke sebelah barat rumah Mas Ali, jalur pendakian Patak Banteng udah mulai dihiasi kelap-kelip cahaya yang diduga *asiiiik* dari headlamp para pendaki. Baru kira-kira jam 20.00 seorang pemandu, jemput kita di rumah Mas Ali, namanya Efri.

Ada dua trek yang ditawarkan Mas Ali, Jalur Patak Banteng yang ditempuh 3-4 jam dengan trek curam, bisa sampai 70-80 derajat kemiringan (katanya sih, saya ga ngukur) dan Jalur Dieng yang ditempuh 5-6 jam dengan trek landai. Karena cuaca kelihatan bersahabat banget malam itu, dengan sinar bulan yang hampir penuh menggantung di langit Prau, bismillah akhirnya kita pilih Jalur Patak Banteng.

Kumpul dulu di basecamp, nunggu rombongan dan kepala rombongan. Terus diminta lapor kondisi tim, logistik, dan perlengkapan. Rombongan kita sendiri ada 18 orang: 4 orang dari Palembang (Saya, Ayu, Adrie dan Kak Man), 8 orang dari Lampung dan 4 pemandu (Mas Ali, Efri, Fendi, Mas Tako). Sebelum mulai pendakian, berdoa dulu minta keselamatan dari Sang Empunya Hidup. Amin.

 

Trekking

Trekking via Patak Banteng dimulai sekitar jam 20.30-an (ga inget lagi persisnya jam berapa, tapi sebelum jam 21.00) dan diperkirakan perjalanan makan waktu 3 jam. Ada 3 Pos yang harus dilewati, yaitu Pos I : Sikut Dewo, Pos II : Canggal Walangan, dan Pos III : Cacingan.

Rombongan dibagi 2 grup, grup lampung dipandu Mas Tako sama Mas Ali, sementara Efri dan Fendi diminta jalan duluan bareng grup kita dari Palembang.

Basecamp – Pos I

Jalan dari Basecamp ke Pos I buat saya adalah jalur terberat. Serius! Treknya aman, sih karena masih melewati rumah penduduk gitu. Udah rapi dengan anak tangga dicor dan jalan setapak bebatuan yang tersusun rapi. Mungkin saking semangatnya naik, jadi di anak tangga ke berapa gitu udah ngos-ngosan hahaha pengen turun aja *ga ding becanda*.

Setelah melewati seratus anak tangga curam, lewat kebun sayur warga, nyebrang jembatan kecil, dan masuk jalan setapak bebatuan yang disusun mirip konblok trotoar jalan sudirman. Treknya mulai bersahabat sedikit jadi bisa nafas teratur. Ditikungan pertama itu ada warung gitu, kita istirahat dulu dong minta nafas sambil duduk di kursi bamboo.

Istirahat 5 menit kira-kira, langsung lanjut lagi sambil haha-hihi sama Ayu menikmati trek landai. Trus ga lama jalan, stop lagi ambil nafas. Habis ini ga ada haha-hihi lagi, semua fokus ngatur nafas. Saya ga inget berapa menit jalan dari basecamp ke Pos I.

Pos I – Pos II

Jalan dari Pos I ke Pos II mulai ga beraturan. Awalnya melewati kebun-kebun warga, jadi jalan setapaknya agak menyempit. Kemudian jalurnya mulai melebar lagi. Di jalur ini sebenarnya saya bisa agak nyantai, tapi justru nafasnya makin berat. Sejauh ini masih belum bisa atur nafas. Satu langkah bisa 2-3 kali ambil nafas. Malah ada yang mau nyerah ternyata :p :p

Rombongan cewek-cewek udah mulai melambat jalannya. Sementara Efri tetap mimpin pendakian, di belakangnya ganti-gantian Saya, Ayu atau Adrie yang jalan. Kak Man selalu stay di belakang grup cewek. Fendi?? Saya ga tau kemana makhluk ini pergi hahahha ga begitu merhatiin, tau-tau besok pagi udah nongol lagi.

Balik lagi ke pendakian, selama perjalan dari Pos I ke Pos II kita lumayan sering stop ambil nafas. Sambil noleh ke bawah, nunggu Grup Lampung yang belum nongol juga. Akhirnya pelan-pelan lanjutin perjalanan sampai ke Pos II.

Pos II – Pos III

Jalan dari Pos II ke Pos III lebih lega, tapi undakannya lebih banyak. Di trek ini kita juga sering minta Efri buat istirahat di beberapa titik yang ga menghalangi jalan pendaki lain. Tapi kita tetap bisa melewati trek ini dengan sukses dan ngos-ngosan. Takut kedinginan kalo terlalu lama berhenti, akhirnya kita lanjut lagi jalan sampe ke Pos III, diiringi semangat untuk Adri Si Bambam Noona dan iming-iming sedikit PHP dari Efri yang terus bilang Pos III bentar lagi.

Pos III – Puncak Prau

Alhamdulillah.. Bisa sampe di Pos III itu luar biasa rasanya. Bersyukur banget masih pada sehat walafiat. Kita istirahat lagi dan agak lama, ga lama banget sih tapi lumayan tenang nafasnya. Adrie udah rebahan aja di tanah-tanah gitu saking capenya. Ngobrol dulu sebentar sama Efri, ngobrol dari hati ke hati *tsaaah* becanda ding.

Kita udah nyampe Pos III, tapi Grup Lampung belum nongol juga. Entah siapa yang nyampein gossip ke Efri, dia bilang 3 orang dari Grup Lampung nyerah dan balik ke basecamp. Berat!

Trek dari Pos III menuju puncak dinamakan Trek Cacing apa Cacingan gitu (pendakinya ini pada cacingan karena lemes #ngelawak ). Treknya kelok-kelok kaya cacing sih emang, sempit, terjal, bebatuan, tapi dikit lagi sampe puncak. Mau gimana pun rintangannya, tetap harus nanjak terus. Semangat!!!

Singkat banget rasanya waktu tempuh Trek Cacingan ini, tahu-tahu udah di Puncak. Horeeee!! Alhamdulillah 3 jam aja kita trekking setelah istirahat mungkin sekitar 10 kali-an. Duduk dulu bentar sambil nunggu Grup Lampung yang ga kunjung tiba. Kita berempat ngobrol ringan diselingi tawa-tiwi bareng Efri dan Mas Ali (darimana coba Mas Ali muncul? Padahal dia di belakang bareng Grup Lampung. Pasti pake ilmu ngilang Naruto >,<)

Jam 11.30 *cmiiw* nyampe di puncak dan langsung cari spot bagus yang anti badai tapi deket buat ngejar sunrise besok. Akhirnya dapet lah spot agak di belakang, naik dulu terus turun lagi jauh ke belakang, melewati tenda-tenda warna-warni yang berjejer suka-suka.

Camping

Nyampe di spot andalan Mas Ali, dibantu Efri langsung bongkar muat dan mendirikan tenda. Suhu udah dingin banget, pengen buru-buru ngebo di dalem tenda. Akhirnya, tim pramuka (Ayu dan Kak Man) bantuin Mas Ali dan Efri. Sementara Saya dan Adrie pegang ujung-ujung tali aja. hahahaha.

Satu tenda kelar, dan cewek-cewek langsung masuk ke tenda. Sementara cowok-cowok (Kak Man kedinginan pasti) kelarin tenda lainnya. Total tenda ada 5: 2 tenda Grup Palembang, 2 tenda Grup Lampung, dan 1 tenda buat Mas-masnya.

Begitu udah di dalem tenda, bongkar tas dan ganti baju yang basah kena keringat. Masuk sleeping bag dan mulai beku. Sayangnya ga bisa tidur, karena di luar cowok-cowok masih repot sama tenda dan makanan. Adrie dan Saya udah rapet dalam SB (sleeping bag), sementara Ayu masih asik main di luar sama tenda T-T

Jam 1.30 dini hari, kita bertiga dibangunin buat makan malam yang terlambat *tsaaaah!* Nasinya dingin kaya dari kulkas >,< Alhamdulillah dah masih makan. Persiapan ngejar sunrise, akhirnya kita bertiga meringkuk lagi dalam SB. Dalam hati, saya tobat dan kapok muncak lagi karena ga tahan suhu di Puncak Prau yang dinginnya ampun-ampunan.

(MOHON KOREKSI KALO SALAH NAMA TEMPAT, UDAH LUPA SOALNYA)