Beast Boy Ramyeon Shop (Part 1)

Main Cast:

(2PM) Ok Taecyeon/ Ok Daeri

(Miss A) Bae Suzy

(2PM) Jang Wooyoung

(2NE1) Dara/ Park Sandara

Support Cast:

(FX) Krystal Jung

(CNBlue) Lee Jonghyun

 

“Taecyeon-ah!!” Suzy melambaikan kedua tangannya, berbisik dari luar jendela laboratorium kimia. Wajahnya terlihat polos seperti anak kecil yang mengajak temannya bermain. Ia sudah 13 menit 59 detik mondar mandir di depan lab Gedung F302.

“Ok Taecyeon!” Mulutnya komat –kamit memanggil Taecyeon yang sedang merapikan alat-alat bekas praktikum. Taecyeon, mahasiswa Departemen Teknik Kimia dan Biologi  tingkat akhir, lolos seleksi beasiswa SNU dengan mulus dan termasuk dalam 10 mahasiswa dengan nilai terbaik. Ia sibuk di laboratorium sebagai asisten dosen sejak tahun ke-2.

“Ok Daeri!” Suzy mengeraskan suaranya, hingga terdengar samar-samar di telinga Taecyeon. Ia menoleh ke jendela dan mendapati senyum Suzy. Tangan Suzy melambai dari balik jendela. Gadis itu tersenyum manis pada Taecyeon hingga deretan giginya yang rapi kelihatan. Taecyeon membalas senyum Suzy lalu memberi kode agar Suzy menunggunya di luar.

“Kau tidak ada kelas?” Tanya Taecyeon begitu keluar. sambil mencoba memasukkan beberapa buku ke ranselnya yang memang sudah padat.  Suzy menyambar jaket milik Taec dan menyampirkannya di bahu karena melihat Taec kerepotan. Ia membantu Taec membuka mulut ransel agar pria itu bisa memasukkan buku-bukunya dengan sempurna.

“Uhm!” gumamnya sambil menggelengkan kepala. “Hari ini aku tidak ada kelas.” Lanjutnya santai.

“Cha!” Taec menggendong ransel dengan sebelah bahunya. “Lalu kenapa kau ke kampus?” Taec menatap iseng ke arah Suzy.

“Tidak ada. Memangnya tidak boleh?” jawab Suzy setengah melotot.

“Boleh saja, kok. Kemana saja kau dari pagi kalau tidak ada kelas?”

“Jangan pura-pura tidak tahu begitu. ah.” Suzy mengambil langkah mendahului Taecyeon yang masih repot dengan barang bawaannya.

“Aigoo~” Taecyeon mengejar langkah Suzy dengan kakinya yang panjang, mengacak-acak rambut gadis itu lalu menyeringai.

“Kau jangan bilang pada Wooyoung ya!”

“Memangnya dia belum tahu?”

Suzy menggeleng. Taec hanya menahan tawanya. Hasilnya ia malah senyum-senyum tak jelas melihat Suzy manyun.

“Bagaimana ya kalau Wooyoung sampai melihatmu tidur di perpustakaan?” goda Taec, membayangkan wajah Suzy yang sembab memerah karena kepergok Wooyoung.

“Awas ya kalau sampai dia tahu! Mati kau!” ancam Suzy, sambil memukul bahu Taec dengan bukunya.

“Kau sudah dengar tentang seleksi student exchange?” Tanya Suzy, penasaran dengan reaksi Taec.

“Hmm! Aku mendapat email dari Lee Jonghyun. Dia teman sekelasmu, kan?” Taec menoleh pada Suzy.

“Seniorku,” jawab Suzy tanpa berpaling, tetap focus pada langkahnya. Mukanya agak muram.

“Tadi aku juga lihat selebarannya tertempel di depan perpustakaan.” Lanjut Taec.

“Lalu apa kau tertarik?” Suzy berhenti , Taec spontan mengikuti. Keduanya saling pandang. Wajah Suzy terlihat serius, sementara Taec menatapnya bingung.

“Aku pikir tidak ada salahnya mencoba.” Jawab Taec mencoba tersenyum. Suzy melotot dengan pipi menggelembung. Kelihatan agak kecewa dengan jawaban Taec.

“Bagus kalau kau berpikir begitu.” Komentar Suzy, lalu melanjutkan langkahnya lagi.

“Hey!” Taecyeon menyusul langkah Suzy lalu menarik tangannya. Bermaksud menghentikan gadis itu.

“Aku tidak akan kemana-mana, kok Big Suzy. Aku bahkan belum membaca isinya.” Taec berusaha menenangkan Suzy yang tiba-tiba ngambek. Ia mencubit pelan pipi tembam Suzy hingga meninggalkan ruam merah. Tatapan Suzy meredup, tapi ia masih diam tak menjawab Taecyeon.

“Eh, apa ini?” Taecyeon mengangkat tangan kanan Suzy. Ada benda berkilau melingkar di jari tengahnya. “Sejak kapan kau pakai cincin?” tanyanya. Taecyeon pura-pura antusias dengan cincin Suzy. Niatnya hanya mengembalikan mood temannya seperti semula.

“Baru saja,” jawab Suzy malas.

“Wooyoung melamarmu?” Tanya Taec, datar.

“Tidak. Hanya cincin biasa.”

Taec melirik cincin di jari Suzy yang berkilau ditimpa sinar matahari. Memaksanya berpikir buruk tentang Wooyoung mengenai cincin itu.

***

“Eh, kalian pulang bersama lagi?” Tanya Wooyoung, muncul dari ruang penyimpanan bahan masakan kering sekedar mengecek ketersediaan dan kualitas bahan, dengan sebuah buku kecil di tangannya. Ia tampak rapi mengenakan kemeja putih tangan panjang, dengan bagian lengan digulung sampai siku. Berbeda dengan Taecyeon yang sehari-hari mengenakan pakaian lebih casual.

Dara, pegawai Ramyeon Shop milik Keluarga Jang yang juga merupakan rekan kerja Taecyeon, kehilangan fokus memasaknya saat mendengar suara Wooyoung. Menyadari Taecyeon datang bersama Suzy lagi. Taecyeon menepuk pundak Wooyoung, sedikit kelelahan, melewatinya begitu saja tanpa sapa. Ia langsung menuju kamarnya di lantai 2 melalui tangga yang tersembunyi di balik Ramyeon Bar. Lalu muncul tak lama kemudian setelah menyimpan ransel dan menggantung jaketnya di kamar. Taecyeon memang tinggal di Ramyeon Shop atas permintaan Wooyoung selama 2 tahun ini, agar Taec tak perlu mondar-mandir kampus – rumah – restoran.

Selesai makan siang, Suzy dan Wooyoung duduk berseberangan di pojok khusus dekat dapur, semacam meja serbaguna yang biasa ia gunakan untuk sekedar mengobrol atau rapat serius dengan karyawannya. Wooyoung berkonsentrasi pada laptopnya dan sebuah buku, yang tebalnya kira-kira 7 cm, terbuka di sebelah kanan. Matanya fokus pada layar laptop, sesekali melirik buku tebalnya sambil terus mengetik. Mahasiswa tingkat akhir jurusan hukum itu  tak hanya muda, tampan, dan kaya, tapi ia juga punya otak yang encer. Wooyoung mengambil risiko mengelola restoran ayahnya sambil kuliah meski tak menguasai bisnis. Beruntung ia bertemu orang yang tepat, Dara yang lulusan bisnis dan Taecyeon yang memang berbakat memasak.

Sementara itu Suzy sibuk dengan ipadnya, memutar beberapa video yang sudah ia pindahkan dari camera recordernya, mengamati lalu mengeditnya. Ia memyempal telinganya dengan headset agar tak terusik dengan suara pengunjung yang mengobrol sambil makan ramyeon. Sesekali keningnya berkerut, menghela nafas, lalu kembali mengutak-atik videonya.

Restoran siang itu ramai pengunjung. Udara musim gugur yang mulai dingin membuat orang menjadikan ramyeon sebagai menu yang paling tepat disantap. Sebagian besar adalah wanita, mulai dari siswi sekolah menengah, pegawai kantoran sampai ibu-ibu kalangan menengah ke atas dengan dandanan ala sosialita. Kebanyakan pengunjung wanita datang hanya agar bisa melihat Taecyeon – Si Koki Populer. Meskipun sebenarnya ramyeon yang mereka tawarkan memang terkenal paling lezat di distrik itu.

“ Hee Dong-ssi, antar pesanan ke meja 17! Minji, kau antar ke meja 3! Hey Cheondung.. cepat bereskan meja dekat kasir!” Dara sibuk mengatur para pekerja di dapur. Telunjuknya bergerak kesana-kemari seperti jarum kompas. Sebagai senior di restoran tersebut, gadis blasteran Korea-Filipina itu bertugas sebagai Ketua Tim. Sikapnya yang tegas dan bijaksana membuat Dara disegani rekan kerjanya.

“Noona, kudengar kita dapat pesanan 1000 porsi untuk acara ulang tahun Konglomerat Jung, ya?” Taec menghentikan nyanyiannya disela kesibukannya membuat adonan mie. Bertanya tentang kebenaran berita yang ia dengar dari Cheondung. Maskernya kembang-kempis saat ia bicara.

Dara mengangguk. “You must be ready, Mr. Ok!” katanya dalam Bahasa Inggris beraksen Amerika, sambil menepuk pundak Taecyeon. Dara dan Taec punya kebiasaan mengobrol dengan Bahasa Inggris jika sedang berdua. Bukan apa-apa, tapi Taec yang meminta Dara menggunakan Bahasa Inggris untuk melatih kemampuan conversation-nya. Taec sibuk dengan kuliahnya dan ramennya, ia tak punya cukup waktu untuk ikut les Bahasa Inggris. Sementara kariernya sebagai asisten dosen terkadang menuntutnya berhubungan dengan mahasiswa asing, dan ia harus mengajar dengan Bahasa Inggris.

Daebak! Noona don’t worry. I will help with all of my strength.” Kata Taec yakin, menangkupkan tangan ke dadanya.

Of course. It’s a must!” Kata Dara, lalu tersenyum. “Any plan tonight?” tanyanya.

I have to check my students’ task, Noona.” Jawab Taec lesu. “Do you want me to accompany you? Then let me.

No, just take care of your business.

***

Tas Suzy sudah rapi di atas meja. Rupanya ia sudah selesai dengan tugas kuliahnya. Ia memangku dagu di atas tas sambil memandangi pria di hadapannya. Jarinya menelusuri ukiran huruf ‘S’ dan ‘W’ di atas meja berbahan kayu pohon maple, dengan pandangan masih tertuju pada Wooyoung. Wooyoung membuatnya di sudut meja sebagai kado ulang tahun Suzy tahun lalu.

“Apa aku begitu tampan, Nona Bae?” Tanya Wooyoung, masih menatap layar laptop, terlihat cool. Suzy tak mengubah posisinya bahkan tak berpaling sedikit pun. Ia tersenyum kecil dengan pipi yang mulai memerah.

“Jangan protes! Ini satu-satunya ‘hal’ yang tidak bisa kujadwalkan.”

“Oke, oke! Apa perlu kita jadwalkan dalam schedulemu? Menikmati ketampanan Jang Wooyoung?” Wooyoung berhenti mengetik, mendekatkan tubuhnya pada Suzy. Lalu memandangi gadis itu sambil tersenyum.

“Bagaimana ya? Sayang sekali jadwalku sudah penuh Tuan Jang.” Jawab Suzy sambil menjulurkan lidahnya, meledek Wooyoung.

“Rupanya Nona Bae sudah mulai sibuk ya?”

Suzy tersenyum simpul mendengar candaan Wooyoung. Sudah lama mereka berdua tak bicara sedekat itu. Sejak Suzy mulai magang di stasiun tv sebagai broadcaster, sejak Wooyoung sibuk dengan tugas akhirnya. Mereka hanya bertemu sesekali di Jahayeon, kolam buatan di tengah kampus yang dikelilingi pohon berbunga ungu saat musim semi, bila tidak sibuk. Bahkan meski Suzy beberapa kali mampir ke restoran sepulang kuliah, ia masih tak bisa menjumpai Wooyoung. Tapi hari itu mereka beruntung.

“Malam ini tidak sibuk, kan?” pandangan Wooyoung serius, namun tak mengurangi sedikit pun lengkung senyuman di wajahnya. Suzy mengatupkan bibirnya, menahan senyum.

“Oke! Diam berarti setuju ‘kau tidak sibuk’. Sebaiknya kita kemana, ya?” gumam Wooyoung. Tak ada komentar dari Suzy. Ia memutar pandangannya, pura-pura berfikir.

“Bioskop saja, ya?” saran Wooyoung. Suzy tak menjawab, rupanya saran Wooyoung tak membuatnya tertarik.

“Diam berarti setuju.” Lanjutnya, lalu memasukkan laptop dan bukunya ke dalam ransel.

Suzy masih pada posisinya, bertopang di atas tas. Enggan beranjak dari duduknya karena kecewa dengan pilihan Wooyoung. Ia berharap Wooyoung mengajaknya ke sebuah tempat dimana mereka bisa mengobrol dengan nyaman.

“Ayo berangkat!!” seru Wooyoung. “Ayo!!” ulangnya, memohon seperti anak kecil. Ia menyambar tangan Suzy yang masih asyik ‘berseluncur’ di ukiran meja. Suzy berdiri dengan malas. Wooyoung tersenyum geli melihat Suzy cemberut. Raut wajah Suzy memang sangat mudah ditebak, saat senang, sedih, kecewa, ataupun marah. Ini yang membuat Suzy seringkali digoda Taecyeon dan Wooyoung.

“Ayolah!!” ulang Wooyoung lagi, memasang tampang cute.

“Kami pergi dulu ya!” kata Wooyoung pada Dara dan Taecyeon dari luar dapur. Lalu membawa Suzy menuju mobilnya yang diparkir 2 ruko dari restoran, tanpa menunggu jawaban kedua temannya.

Dara menoleh ke pojokan dekat dapur yang sudah kosong, lalu berpaling pada Taecyeon, Taecyeon yang pandangannya masih mengikuti jejak Suzy dan Wooyoung. Dara menyikut lengan Taec, menunjuk panci besar yang tertanam di bawah kitchen set. Taecyeon berteriak kaget, meyadari air rebusan ramen yang telah mendidih membludak di pinggir bibir panci.

***

 

NEXT ON

“Kau suka?” Tanya Wooyoung, menatap Suzy dengan hangat.

“Kau ini!!” Suzy menatap Wooyoung dengan mata-mata berkaca-kaca. Lalu membuang pandangannya ke hamparan pasir pantai di depannya.

“Maaf untuk masa-masa sulit selama bersamaku.” Wooyoung melekatkan pandangannya pada Suzy.

woozy 1

 

***

Bagaimana Taecyeon-ssi? Apa kau tertarik?

Taecyeon membaca email dengan aksen Busan. Email itu dari Lee Jonghyun, seorang teman yang ia kenal di Gedung Administrasi SNU 4 tahun lalu.

Kau ikut? Aku harus memikirkannya lagi, Jong.

Taecyeon mengetik balasan email untuk Jonghyun dengan cepat. Matanya masih terpaku pada dokumen yang terlampir dalam email. Ia merenungkan sesuatu – entah apa.

Advertisements

5 thoughts on “Beast Boy Ramyeon Shop (Part 1)

  1. Curiga ada something sm suzy-taec,…trus cincinnya itu apa maksudnya???
    Beast Boy ramyeon Shop,..Taec kan itu?

    Hayoooo ditungguin part selanjutnya,..

  2. Huaaaa,bener kata pewe pasti ada sesuatu antara taec n suzy
    Tapii jgn bikin wooyoung patah hatiii yohhh,sedih akuu kalo wooyoung patah hati nantinyaaa ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s