Sarang, annyeong! (Part V – END)

Main cast:

Cho Kyuhyun

Lee Yeonhee

Support Cast:

Super Junior member

 

 

“Imo*, siapa yang datang?” Seorang gadis kecil menarik ujung sweater Yeonhee. Usianya kira-kira 5 tahun. Mempunyai mata bulat besar Yeonhee dan rambut hitam lurus persis Yeonhee. Matanya yang bulat memperhatikan Yeonhee dan Kyuhyun bergantian.

Yeonhee menoleh kaget.

“Imo juga tidak tahu. Sepertinya dia salah alamat.” Katanya dengan nada dingin, kembali memandang Kyu.

Eun Joo mengerling pada Kyuhyun, matanya berbinar penuh kekaguman. Kyuhyun grogi saat gadis kecil itu memperhatikannya.

“Oh,  annyeonghaseyo. Super Junior Cho Kyuhyun Oppa. Namaku Park Eunjoo.” Eunjoo membungkuk dengan senyum mengembang di antara pipinya yang gembil.

“Eunjoo, annyeong. Oppa adalah teman tantemu. Cho Kyuhyun. Senang bertemu dengan Eunjoo.”

Kyu menekuk lututnya hingga ia bisa melihat wajah Eunjoo. Lalu memberikan senyum paling manis yang ia punya.

“Aku adalah fans Oppa!” kata Eunjoo bangga, mengungkapkan perasaannya.

“Benarkah? Terima kasih Eunjoo.” Senyum Kyu melebar, tangannya mencubit pipi Eunjoo gemas. Eunjoo mengangguk dengan wajah malu-malu.

“Oppa, ayo masuk!” Eunjoo menarik jemari Kyu, mengajaknya masuk.

Yeonhee membeku melihat pemandangan tak terduga di hadapannya. Ia tak mampu menghalangi gadis kecilnya membawa Kyu masuk. Eunjoo, anak dari kakak perempuan Yeonhee,  mengagumi Super Junior. Ia adalah Sparkyu kecil. Yeonhee tahu betapa gembiranya Eunjoo bertemu dengan Kyu. Sama seperti gembiranya ia saat sosok Kyuhyun muncul di depan rumahnya.

Kyu mendongak ke arah Yeonhee. Menunggu ijin masuk dari si empunya rumah. Yeonhee membuang muka. Ia berjalan ke pintu dan mengunci gerendelnya. Kode. Kyuhyun diijinkan masuk oleh Yeonhee.

“Siapa yang datang?” teriak Nyonya Lee dari pintu, sambil merapikan rambutnya yang berantakan ditiup angin.

“Ya ampun! Kyu __ Kyuhyun-i!  Aigoo Kyuhyun kami. Aigoo! Mimpi apa aku semalam?” Ibu Yeonhee berlari menuju Kyu, hampir terjatuh saat turun dari lantai rumah yang berlevel menuju teras. Ia langsung memegangi wajah Kyu, mengamati anak muda di depannya dengan mata berkaca-kaca. Lalu memeluknya erat.

“Eommeoni” Kyu mendekapkan wanita yang ia panggil ibu itu ke dadanya, menarik nafas lega.

“Ayo masuk! Di luar dingin, kau bisa sakit. Ayo, ayo masuk!” Nyonya Lee merangkul Kyu dan membawanya masuk, Eunjoo menggenggam jemari Kyu erat. Mengikuti langkah mereka dengan setengah berlari.

Yeonhee mematung di depan pintu. Sampai Ibunya berbalik, melambaikan tangan menyuruhnya masuk.

***

“Jadi, selama seminggu Hyung menguntit Yeonhee?” Sungmin mencondongkan tubuhnya ke Leeteuk yang duduk di seberangnya.

“Menyelidiki!” Koreksi Leeteuk.

“Temanku membantuku menyelidiki tentang Yeonhee. Aku juga baru tahu ternyata dia bertetangga dengan Kyu sebelum Kyu dan keluarganya pindah.”

“Hyung, apa mungkin Kyu telah melupakan Yeonhee? “ Tanya Sungmin murung.

“Tidak mungkin. Dia mungkin hanya bingung. Tapi dalam masalah ini memang Kyu yang salah. Dia tidak mengenali Yeonhee hanya dengan melihatnya. Padahal mereka teman sekelas. Bahkan dia tidak pernah berusaha mencari Yeonhee dalam sepuluh tahun ini.”

“Dia memang tidak pandai bergaul, tidak peka, dan sangat cuek.” Keluh Sungmin, seolah membenarkan ucapan Leeteuk.

“Wajar jika Yeonhee-ssi kecewa. Padahal mereka sudah dekat sejak masuk SD.”

“Aku ingat Kyu pernah cerita tentang cinta pertamanya padaku. Dia tidak bilang itu cinta pertamanya, sih. Dia bilang punya teman wanita. Mereka berteman dekat sejak kecil. Temannya gadis biasa dari keluarga biasa. Ayah gadis itu adalah karyawan di perusahaan milik ayah Kyu. Kakaknya, Ahra noona, juga berteman dengan kakak gadis itu. Jadi, dari ceritanya aku menyimpulkan bahwa gadis itu, teman masa kecil Kyuhyun, adalah cinta pertamanya. Karena Kyu masih mengingatnya meski sudah sepuluh tahun berlalu.”

“Mungkin yang dimaksud Kyu adalah Yeonhee-ssi.” Leeteuk menyimpulkan.

“Aku pikir juga begitu, Hyung. Syukurlah akhirnya mereka bertemu kembali.”

“Kita lihat saja apa Kyu bisa meyakinkan Yeonhee.” Leeteuk meraih cangkir tehnya, menyeruputnya dengan wajah serius.

***

“Suamiku! Lihat siapa yang datang! Cepat kemari!”

Tuan Lee, ayah Yeonhee, muncul dari dalam kamar. Tergopoh-gopoh menuju anggota keluarganya yang sedang mengerumuni Kyu. Istrinya, Nyonya Lee, anak sulungnya, cucu mungilnya, serta putri bungsunya.

“Kyuhyun-ssi?” mata Tuan Lee membelalak tak percaya.

“Aigoo! Anak muda. Kukira kau sudah lupa jalan pulang.” Katanya sebelum memeluk Kyu.

“Abeoji, apa Anda sehat?” Kyu mengamati kerut di sudut mata Tuan Lee yang Nampak saat ia tersenyum.

“Ya! Aku sehat dan bahagia. Lihat cucu kecilku. Eunjoo kami yang cantik. Tidak ada alasan untuk tidak tetap sehat, Kyu. Bagaimana denganmu? Sepertinya kau tambah sukses.”

“Begitulah. Berkat kerja keras semua.”

Nyonya Lee sibuk di dapur, menyiapkan minuman hangat dan camilan untuk tamunya. Lee Shiyeon menggendong Eunjoo sementara Yeonhee membantu ibunya menuang teh ke dalam gelas. Yeonhee menyimak pembicaraan Kyu dan ayahnya dari dapur. Sesekali menggoda Eunjoo yang mendadak manja minta digendong.

“Akhirnya dia datang juga mencarimu.” Ujar Shiyeon ketus.

“Shiyeon-ah tidak ada yang salah dengan kedatangannya, kan. Jangan bicara begitu.” Kata Nyonya Lee.

“Aku yakin dia datang dengan maksud tertentu.”

“Ah, sudah bantu adikmu bawa ini ke depan. Biar ibu yang menggendong Eunjoo.” Nyonya Lee menunjuk nampan berisi camilan, lalu mengambil Eunjoo dari gendongan putrinya.

“Kyuhyun-i ayo minum teh dulu. Kau suka sekali kan teh dengan aroma mint.”

“Ne eommeoni.” Kyu mencium aroma teh dari gelas sebelum meminumnya. Wangi mintnya masih sama, seperti yang pernah ia minum saat pertama berkunjung ke rumah Yeonhee.

“Eommeoni, boleh aku ajak Yeonhee keluar sebentar?” pinta Kyu setelah meminum tehnya hingga tak bersisa.

Tuan dan Nyonya Lee agak kaget mendengar permintaan Kyu. Sementara Shiyeon, masih dengan wajah tidak simpatinya, tak kalah kaget. Ia menahan kesalnya dengan menghela nafas panjang. Mungkin saking kesalnya, sampai ia ingin menghajar Kyu. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa melihat orang tuanya begitu bahagia menyambut Kyu. Eunjoo pun girang bukan main. Bahkan ia bisa melihat kebahagiaan dari cara Yeonhee menatap Kyu. Ia harus merelakan adiknya berhubungan lagi dengan orang yang sudah membuat Yeonhee sedih.

“Jangan sampai terluka lagi!” bisik Shiyeon saat Yeonhee beranjak mengikuti Kyu.

***

“Tidak ada yang berubah.” Gumam Kyu.

Yeonhee mendengar tanpa berkomentar. Matanya berkeliling mengitari gedung sekolah dasar, tempat ia dan Kyu pernah bersekolah.

“Yeonhee-ssi juga tidak berubah.” Kyu menghalangi pandangan Yeonhee dengan berdiri persis di hadapannya. Jantungnya berdegup lagi saat mata mereka bertemu.

“Kau juga tidak berubah, Kyuhyun-ssi.”

Kyu diam tak menjawab. Menunggu Yeonhee bicara, mengungkapkan semua yang mengendap di hatinya selama sepuluh tahun.

“Kau tetap Cho Kyuhyun yang anti sosial!” lanjut Yeonhee dengan suara bergetar.

Kyu tersentak mendengar pernyataan Yeonhee. Ia tahu Yeonhee pasti sangat kesal.

“Teruskan! Aku ingin mendengar semuanya. Apa yang kau tahan selama sepuluh tahun ini.”

“Tidak ada yang ingin kukatakan. Tidak ada yang istimewa dari cerita sepuluh tahun lalu maupun sepuluh tahun ini.”

Kyu menahan kata-katanya. Masih memandang Yeonhee.

“Kau mungkin tidak tahu bagaimana rasanya menunggu. Kau bisa melihat tapi tak bisa menyentuh. Hanya bisa menunggu kembali.”

Mianhae!

Giliran Yeonhee yang diam. Ia tidak berniat untuk tidak memaafkan Kyu. Ia hanya sedang mencoba memahami alasan Kyu.

“Aku memang bodoh hingga tak mengenalimu saat pertama bertemu di aula kampus. Aku sangat bodoh bahkan tak menyadari keberadaanmu duduk di sebelahku di kelas. Aku bersalah, Yeonhee-ssi. Aku memang manusia anti sosial. Hidup dengan diriku sendiri tanpa memperhatikan orang-orang di sekelilingku.” Kyu menghela nafas saat mata Yeonhee mulai berkaca-kaca.

“Lalu sepuluh tahun lalu?” Tanya Yeonhee, menuntut Kyuhyun.

“Aku minta maaf untuk sepuluh tahun yang lalu, sepuluh tahun ini, dan sepuluh tahun yang akan datang. Maaf melukaimu, Yeonhee-ssi.” Air mata Kyu jatuh dari sudut matanya. Yeonhee menahan diri untuk tidak menangis.

“Sepuluh tahun yang lalu saat aku pergi tanpa pamit. Mungkin kau menungguku dan berfikir aku tidak akan pernah kembali. Sepuluh tahun ini, sepuluh tahun yang kau jalani dengan rasa bencimu padaku. Tapi apa aku tidak bisa mengubah semua itu untuk kehidupan sepuluh tahun berikutnya? Apa kau akan terus membenciku?”

“Aku menunggumu, Kyuhyun-ssi.” Ungkap Yeonhee, air matanya perlahan turun.

“Maaf tidak mencarimu. Aku, Cho Kyuhyun, manusia anti sosial, menunggumu mencariku. Hanya menunggu karena begitu penakut. Takut kau membenciku.”

“Cho Kyuhyun, manusia anti sosial. Orang yang selalu ingin kubenci.”

“Aku senang melihatmu lagi. Melihatmu tersenyum di depanku dengan nyata.” Sambungnya dalam hati, kemudian tersenyum.

“Yeonhee-ssi, kenangan yang istimewa sepuluh tahun lalu. Apa kau mau hanya menjadi kenanganku sampai hari ini?”

Yeonhee menyeka air matanya. Wajahnya sedikit kesal.

“Bukan aku yang minta untuk kau kenang.”

“Kalau begitu, apa kau mau menjadi kenanganku sepuluh tahun berikutnya, dua puluh tahun berikutnya, dan puluhan tahun berikutnya?”

“Uh?”

“Kontrak mati? Menjadi kenangan Cho Kyuhyun seumur hidup.” Kyu mengeluarkan benda berkilau dari saku mantelnya. Benda itu mengerlap ditimpa matahari musim dingin.

“Manusia anti sosial?” Yeonhee meledek Kyu agar tak terlihat gugup.

“Menunggu manusia anti sosial ini mencapai kebebasannya, kau bersedia?”

“Aku sudah menunggu sepuluh tahun, kau masih menyuruhku menunggu lagi?” canda Yeonhee.

Kyu tertawa lepas. Senyumnya tak hilang dari wajahnya.

“Kalau tidak mau kuberikan pada Eunjoo saja,” Kyu pura-pura memasukkan lagi cincinnya, memancing reaksi Yeonhee.

Yeonhee tersenyum sebagai tanda setuju. Kyu meraih tangan Yeonhee lalu menyematkan cincin ke jari manisnya.

“Bagaimana? Manusia anti sosial ini romantis juga, kan?” canda Kyu, mengundang tawa Yeonhee.

***

Kyuhyun-ah kalau sudah selesai cepat pulang! Kami akan rayakan bersama. Kekeke~

Kyu tersenyum membaca pesan dari Leeteuk. Lalu membalas sms hyungnya singkat.

Gomawo, Hyung  ^^

“Masuklah! Di luar dingin.” Kyu mengalungkan syalnya ke leher Yeonhee.

“Aku akan sering-sering kemari. Berhati-hatilah!” canda Kyu, lalu mendaratkan ciuman di kening Yeonhee. Ia masuk ke dalam taxi setelah berpamitan pada keluarga Yeonhee.

Yeonhee tersenyum geli membaca pesan yang dikirim Kyu ke ponselnya. Lalu memandangi cincin di jari manisnya dan kembali tersenyum.

Sarang, Annyeong! 🙂

Terimakasih sudah menungguku dan terus menungguku.

Manusia anti sosial – Cho Kyuhyun –

-END-

*Imo : Panggilan untuk saudara perempuan ibu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s