Beast Boy Ramyeon Shop (Part 2)

Main Cast:

(2PM) Ok Taecyeon/ Ok Daeri

(Miss A) Bae Suzy

(2PM) Jang Wooyoung

(2NE1) Dara/ Park Sandara/ Darong

Support Cast:

(FX) Jung Krystal

(CNBlue) Lee Jonghyun

 

 

Mobil Hyundai hitam jenis SUV milik Wooyoung berhenti di bibir pantai. Ia turun dari mobil dan membiarkan lampu sorot tetap menyala, hingga cahayanya jauh menabrak air laut. Wooyoung bergerak ke sisi kanan mobil, memutar di bagian depan sehingga wajahnya tertimpa sorot lampu dan Suzy bisa melihat betapa tampannya seorang Jang Wooyoung.

“Silakan Nona Bae! Kita sudah sampai.” Kata Wooyoung bergaya seperti bellboy di hotel-hotel mewah, membukakan pintu mobi untuk Suzy. Ia mengulurkan tangan sambil tersenyum.

Sejenak Suzy terpaku. Wooyoung bukan pria yang romantis, tapi hal-hal kecil yang menurut Wooyoung biasa tanpa disadari justru manis bagi Suzy. Wooyoung tidak pandai berkencan tapi ia suka menghabiskan waktu mengobrol dengan Suzy. Suzy memandang Wooyoung yang masih tersenyum dihadapannya, lalu meraih tangannya.

“Kau suka?” Tanya Wooyoung, pipi mandunya memerah.

“Kau ini!!” Suzy menatap Wooyoung lalu membuang pandangannya ke hamparan pasir pantai di depannya. Angin menghembus rambut wavy-nya yang dijepit setengah. Ia tak bisa menggambarkan perasaannya. Tapi Wooyoung bisa dengan jelas menangkap kebahagiaannya.

“Maaf untuk masa-masa sulit selama bersamaku.” Wooyoung melekatkan pandangannya pada Suzy. Ia benar-benar merasa bersalah pada gadis itu. Karena tak pernah punya waktu bertemu, apalagi bicara. Ia tahu Suzy kesepian, hanya Taecyeon yang menjadi teman curhatnya. Suzy sebenarnya mudah bergaul, ia punya banyak kenalan, tapi hanya sebatas itu. Suzy tak pernah pergi nonton, makan atau shopping dengan temannya. Ia seperti hanya mengenal Wooyoung dan Taecyeon saja seumur hidupnya.

Suzy kembali menatap Wooyoung, menggelengkan kepalanya. “Tidak!” Katanya. “Aku tidak pernah merasa sulit bersamamu.” Lanjut Suzy.

“Gomawo Suzy-ah. Bagaimana pun aku minta maaf jika membuatmu lelah.” Kata Wooyoung, hampir menangis.

Wae? Aku tidak apa-apa, kok.” Suzy menangkap lengan Wooyoung dan memandangnya.

“Um, kau harus baik-baik saja, dengan atau tanpa aku. Mengerti?” Wooyoung menggenggam erat tangan Suzy hingga bisa merasakan denyut nadinya. Suzy mengangguk, sudut matanya mulai basah.

“Musim gugur seperti ini harusnya aku tidak mengajakmu kesini ya.” Gumam Wooyoung asal.

Anhi! Nan joha. Neomu neomu neomu joha.” Seru Suzy tersenyum lebar.

Wooyoung menyondongkan tubuhnya, memegang bahu kiri Suzy, sementara tangan kanannya masih menggenggam tangan Suzy. Perlahan wajahnya mendekat ke wajah Suzy yang mendadak merah. Jantungnya berdegup kencang sekali, membuatnya seperti mau pingsan. Ia semakin dekat ke wajah di depannya, hingga bisa merasakan nafas gadis itu di antara hembusan angin laut. Suzy tak bergeming, ia mempererat genggamannya karena terlalu gugup dan menatap Wooyoung lebih dalam dengan kedua matanya yang besar. Wooyoung mencium pipi Suzy di bawah sorot lampu mobil, saat Suzy memejamkan matanya. Ada senyum yang mengembang di wajah Suzy ketika Wooyoung mengakhiri kecupannya. Pria itu balas tersenyum, masing-masing tangannya kini menggenggam kedua tangan Suzy. Ada perasaan lega di hati Wooyoung.

“Mau main kembang api?” Tanya Wooyoung, masih dengan degup jantung yang belum normal.

Suzy mengangguk girang. Ia suka sekali main kembang api. Saat masih SD dia pasti bermain kembang api setiap hari di musim panas bersama adik laki-laki dan kakak perempuannya. Mereka menyisihkan uang jajan untuk membeli sebatang kembang api dan membakarnya tepat pukul 9 malam menjelang tidur. Wooyoung kembali ke mobil, mengambil sekotak kembang api yang panjangnya hampir 30 cm dan setangkai mawar untuk Suzy.

***

Dara membuka ikatan rambutnya yang seharian digelung ke atas. Rambutnya yang dicat cokelat gelap dan bergelombang jatuh melewati pundak. Ia menyisir rambutnya dengan jari, meratakan BB cream di wajahnya, terakhir memoles lipbalm warna punch. Taecyeon mengamati seniornya itu dari salah satu meja, terkesima. Dara mempunyai kecantikan alami dengan wajah Korea-Filipina, ia tidak suka tampil mencolok, tapi bukan berarti tak suka dandan. Kadang ia heran dengan gaya berpakaian Dara yang unik. Tapi seperti itulah Dara yang ia kenal, tak berubah sedikitpun. Ia mengenal Dara sejak mulai bekerja di Ramyeon Shop. Taecyeon sangat mengagumi Dara, gadis yang cantik, pintar dan tangguh.

Okay, time to go home!” seru Dara sambil menuju Taecyeon.

Noona why so beautiful?” goda Taec sambil cengengesan.

Dara mencubit pipi Taec dan membiarkannya meringis. Taecyeon tahu balasan yang ia dapat jika menggoda seniornya. Gadis itu duduk di meja sebelah Taecyeon, menghela nafas dalam-dalam.

What’s wrong?” Taec menatap cemas ke arah Dara.

Nothing. I just __ it’s like I’m getting old, Taecyeon-ah. Hahaha~” keluh Dara, menyembunyikan kegusarannya dengan tertawa.

“Jangan bohong!” kata Taecyeon dalam Bahasa Korea. Dara mengulum senyumnya.

I’m cosidering to come back home.” Ujar Dara, suaranya pelan seperti sedang bergumam. Taecyeon terkejut sekaligus senang.

That’s right! Totally right.

It means I have to leave Korea. I have to leave this place.” Dara berkeliling dengan matanya. “And I have to leave you.” Lanjut Dara, lalu mengakhiri tatapannya pada Taecyeon.

Noona, don’t say like that. I hate it. What’s the matter if you back home? We can meet each other again. That’s what you really wanna do, right? Back home.” Taec menghampiri Dara lalu merangkul bahunya. Dara menyandarkan kepalanya pada tubuh Taec. Ia ingin menangis, sangat ingin.

Then what about you? What’s the thing that you really want to do? Still the same?” Dara mendongak memandang Taecyeon yang masih merangkulnya.

“Uhm! Still the same. And I got the chance just now.” Beri tahu Taec. Dara melepas tangan Taecyeon dari bahunya.

Really? That’s your chance! Take it!” kata Dara antusias.

Well, I’m not sure, Noona. How about this restaurant?” Taec kembali duduk di mejanya.

You wanna go, Taec?

I still thinking.

It’s good for you to try. That’s your dream.” Senyum Dara melengkung di wajahnya yang cantik.

I dream about this restaurant too.” Taecyeon memandang sekelilingnya.

Me too! Either Wooyoung-i.

“Cobalah!” kata Dara, menepuk pundak Taecyeon.

Taecyeon tertunduk membisu di mejanya. Dara berlalu menuju pintu tanpa Taecyeon sadari.

“Oh! Noona, be safe!!” teriak Taec, menyerbu ke pintu ketika menyadari Dara tak ada. Dara melambaikan tangannya tanpa menoleh. Ia melangkah santai lalu menghilang di belokan ruko menuju halte bus.

***

Lampu kamar Taecyeon masih menyala. Sebuah laptop menganga di atas meja kerjanya. Beberapa lembar kerja terbuka, Microsoft Word, Internet Explorer, Winamp dan Windows Explorer, muncul di deretan taskbar. Sayup-sayup terdengar alunan piano Yiruma dari speakernya. Taecyeon keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Ia mengenakan kimono mandi warna putih. Tangannya memegang handuk dan mengusap-usap kepalanya agar rambutnya mengering. Ia berjalan menuju meja kerjanya, membuka winamp dan mengulang instrument “Time Forgets” milik Yiruma. Taecyeon membuka lemari pakaian, yang letaknya hanya beberapa langkah dari meja kerja, lalu menarik kaos berwarna putih yang terselip dari tengah tumpukan. Ia mengenakannya sambil melangkah kembali ke depan laptop.

Bagaimana Taecyeon-ssi? Apa kau tertarik?

Taecyeon membaca sebuah email dengan aksen Busan. Email itu dari Lee Jonghyun, seorang teman yang ia kenal di Gedung Administrasi SNU 4 tahun lalu. Taecyeon mendekati Jonghyun ketika mereka sama-sama mengantri di depan loket administrasi mahasiswa baru, karena mendengar Jonghyun menelpon dengan aksen Busan. Sejak hari itu selama 1 tahun mereka akrab dan berbagi kamar bersama di asrama kampus. Taecyeon yang juga berasal dari Busan rutin pulang bersama Jonghyun ke kampung halaman setiap bulan di akhir pekan. Hingga di tahun kedua Taecyeon tidak lagi tinggal di asrama dan harus tinggal di lantai 2 restoran Wooyoung.

Kau ikut? Aku harus memikirkannya lagi, Jong.

Taecyeon mengetik balasan email untuk Jonghyun dengan cepat. Matanya terpaku pada dokumen yang terlampir dalam email. Ia merenungkan sesuatu – entah apa. Klik! Akhirnya ia pasrah saat telunjuknya mengkonfirmasi proses pengunduhan file. Beberapa detik kemudian file selesai diunduh tapi Taecyeon ragu membukanya, tak ingin tergoda lantas bergelut lagi dengan pikirannya. Ia iseng membuka Windows Explorer, membuka folder di Local Disk – Pictures – Friends. Puluhan folder bertebaran di hadapannya, masing-masing diberi judul. Taecyeon membuka sebuah folder tanpa nama. Di dalamnya terdapat beberapa foto yang diambil dengan kamera milik Wooyoung yang ia pinjam untuk memotret kegiatan “Student Visiting”.

Taecyeon mengklik sebuah foto dalam folder –tanpa nama– itu. Ia terpaku menatap layar seolah otaknya tak bekerja. Alunan piano Yiruma masih mendentingkan komposisi nada yang sama. Ia tersadar dari lamunan kosong tentang sosok di dalam foto. Ia melirik taskbar, menggerakkan kursor ke file dengan format pdf. Tertulis ASEM-DUO Fellowship Program di bagian atas halamannya, lalu mulai membaca isinya dengan enggan. Semua lengkap dan ia memenuhi kualifikasi, pikirnya. Meski sebenarnya tanpa perlu repot-repot memasukkan namanya ke dalam daftar seleksi, ia sudah lulus bahkan secara akademik. Sepertinya ia akan berubah pikiran lagi mengenai program student exchange yang ditawarkan kampusnya.

Tiba-tiba ponsel Taecyeon berdering dengan potongan lagu Don’t Stop Can’t Stop milik 2PM, ia kaget bukan main. “Wooyoung-i memanggil”, tertulis di layar ponsel. Taecyeon menjawab panggilan Wooyoung dengan santai.

“Ya Wooyoung-i. Oh? Apa? Kau dimana? Baiklah, baiklah tunggu sebentar.” Taecyeon buru-buru keluar dari kamarnya saat Wooyoung mengatakan ia ada di depan restoran. Angin menerjang masuk saat Taecyeon membuka pintu depan dan mendapati sosok Wooyoung sumringah di depannya sambil bersedekap.

“Cepat tutup, Taecyeon-ah! Huh, dingin sekali di luar.” Ujar Wooyoung sambil merapatkan jaketnya, lalu menuju kamar Taecyeon tanpa menunggu.

“Aisshh! Anak itu…” gerutu Taecyeon. “Sudah tahu dingin kenapa kau keluar??” teriaknya dari dapur.

“Ya!! Mana kutahu akan sedingin ini!” teriak Wooyoung, tak kalah kencang. “Aku lapaaaarr!!” teriaknya lagi, seperti anak kecil minta mainan.

Taecyeon mendesah melihat kelakuan Wooyoung. Tanpa protes, ia membuatkan sup untuk Wooyoung yang berteriak kelaparan. Tak ada suara dari kamar, mungkin Wooyoung tertidur, pikir Taecyeon.

“Hey! Hey! Cepat makan! Jangan mati di sini!” omel Taecyeon ketika kembali ke kamar. Ia meletakkan nampan berisi nasi dan sup kimchi di lantai.Semnetara Wooyoung asyik di depan laptop.

“Makan di sini! Aku harus memeriksa ujian mahasiswaku.” Kata Taecyeon, semakin cerewet.

“Apa yang kutemukan disini? Ya, Ok Taecyeon!!! Kau mau main-main dengaku?” Tanya Wooyoung, tiba-tiba marah tanpa sebab yang diketahui Taecyeon.

Taecyeon terkejut, entah apa yang sudah dilihat Wooyoung sampai temannya semarah itu. Wajahnya mendadak pucat membayangkan sebab kemarahan Wooyoung. Ia berharap bukan sesuatu yang dipikirkannya.

“Nah! Aku ingin dengar apa pembelaanmu untuk ini?” Wooyoung mendelik dengan matanya yang sipit, meunjuk layar laptop Taecyeon seolah akan menghancurkannya.

Taecyeon menghela nafas lega. Merasa beruntung, bukan yang ia pikirkan, yang membuat Wooyoung mendadak kesal.

“Hey! Jangan menuduhku ya! Aku hanya terima email dari temanku.” Elak Taecyeon, menarik Wooyoung dari kursi, lalu buru-buru duduk dan mematikan laptop. Wooyoung memandang jengkel pada Taecyeon di sebelahnya.

Wae?” Tanya Taecyeon, pura-pura tak bersalah. “Makan sana! Kalau tiba-tiba kau tidak mau makan karena supnya dingin dan menyuruhku membuatnya lagi untukmu, aku akan menendangmu melalui jendela.” Canda Taecyeon, ia menggeram hingga rahangnya terlihat. Lalu mendorong Wooyoung pelan hingga jatuh terduduk di dekat makan tengah malamnya.

“Untuk apa kau repot-repot ikut yang begituan?” ledek Wooyoung, tanpa pikir panjang. Ia sudah terlanjur kesal.

“Kau kan bisa langsung masuk tanpa seleksi.” Lanjutnya. Mulutnya mengerucut meniup supnya, lalu menyeruputnya hingga menimbulkan bunyi.

“Ouh __ Jang Wooyoung! Cara makanmu tidak berkelas!” balas Taecyeon, melihat Wooyoung dengan pandangan merendahkan.

Wooyoung mengalungkan lengannya ke leher Taecyeon. “Kuhabiskan dulu supmu baru kuhabisi kau!” Kata Wooyoung, lalu keduanya terbahak. Wooyoung kembali ke santapannya dan terlihat sangat menikmati.

“Jadi, kau serius akan ikut seleksi?” Tanya Wooyoung.

“Entahlah! Aku hanya terlalu memikirkanmu.” Ujar Taecyeon.

“Jangan suka padaku!” teriak Wooyoung, menyilangkan lengan di dadanya, dengan tangan masih memegangi sendok.

Taecyeon mencoba tertawa dan hasilnya sangat kaku.

“Menurutku kita harus cari pegawai baru.” Saran Taecyeon.

Wooyoung mengangguk-angguk, sepertinya setuju dengan saran temannya. “Kalau kau berniat melanjutkan kuliah di luar negeri, aku tidak akan menahanmu.” Kata Wooyoung pasrah.

“Tapi kau tidak boleh pergi sebelum aku menemukan Ramyeon Boy sepertimu.” Lanjutnya.

***

Siang berikutnya, Taecyeon pulang dari kampus tanpa Suzy. Seperti biasa, ia langsung menuju kamar meletakkan barang-barangnya, lalu bergegas ke dapur. Taecyeon menyapa Dara yang sibuk dengan notesnya, menulis daftar-daftar bahan makanan yang harus dibeli untuk pesanan 1000 porsi Konglomerat Jung. Ia mengintip sebentar daftar belanjaan Dara.

“Wooyoung tidak kemari, Noona?” Taecyeon mengikat appronnya sambil berdiri di belakang Dara.

“Oh, kau sudah datang. Kau sudah izin tidak masuk, kan besok?” Tanya Dara, menyadari keberadaan Taecyeon. Tapi tampaknya tak mendengar pertanyaan Taecyeon barusan.

“Uhm!”

“Nanti kau cek lagi!” Dara menempelkan notesnya ke dada Taecyeon tanpa menunggu reaksinya, lalu keluar menuju ruang penyimpanan bahan masakan.

“Kalau sudah urusan begini pasti dia serius sekali.” Cheondung mencibir, berbisik di sebelah Taecyeon. Taecyeon menoleh dan tersenyum setuju denga rekan kerjanya.

Cheondung buru-buru meneruskan cincangan daun bawangnya saat melihat Dara kembali ke dapur. Dara mengecek laci-laci di kitchen cabinet, memastikan kelengkapan dan kondisi alat-alat masak. Ia tampak serius sekali, hingga Taecyeon tak berani mengusik.

Kreeekk!

“Selamat datang!” Minji yang sedang merapikan meja dekat pintu masuk, menoleh ketika seorang customer wanita masuk. Memberikan sambutan seperti biasa.

Seorang customer wanita yang usianya kira-kira 4 tahun lebih muda dari Minji, menoleh tanpa senyum. Ia cantik dan tubuhnya proporsional, lebih tepat jika dikatakan model. Rambutnya hitam lurus jatuh ke punggung. Wajahnya dipoles dengan bermacam produk kecantikan, tapi tak berlebihan, hingga membuatnya semakin cantik. Ia berjalan begitu saja melewati deretan meja makan, matanya tertuju pada sebuah pojokan restoran.

Cheondung yang pertama kali melihat kedatangan gadis itu mencolek lengan Taecyeon dengan sarung pisaunya. Matanya melotot mengikuti gerakan si gadis, membuatnya terpana. Tak hanya Cheondung, tapi juga hampir seisi restoran. 92 persen terpukau memandang si gadis, sisanya termasuk Dara, Taecyeon dan 4 orang ibu-ibu paruh baya yang sepertinya sedang bergosip di meja nomor 5. Taecyeon menoleh pada Cheondung, lantas berpaling mengikuti kode dari Cheondung.

Taecyeon mencari gadis yang dimaksud Cheondung. Gadis cantik dengan dandanan super model, mengenakan pakaian, tas, sepatu dan beberapa aksesoris yang nilainya bisa ditebak dengan mudah oleh Taecyeon dengan sebutan “Fantastis”. Kesimpulannya, gadis itu bukan dari kalangan biasa. Taecyeon menghela nafas panjang, geleng kepala melihat tingkah Cheondung.

“Biasa saja!” kata Taecyeon. Cheondung yang masih menempel di bahu Taecyeon mendesis tak setuju.

Dara mengamati si customer dari ujung kaki hingga ujung kepala dan sependapat dengan Taecyeon.

“Tunggu! Sepertinya aku mengenalnya.” Gumam Taecyeon, membuat Cheondung bersemangat. Dara menoleh pada Taecyeon dan mulai penasaran.

***

NEXT ON:

“Oh, kau! Kau bekerja disini?”

“Kau Ok Taecyeon, kan? Mahasiswa Departemen Biologi dan Kimia __ Professor Ok?”

“Krystal Jung!” Krystal mengulurkan tangannya karena melihat Taecyeon kebingungan.

“Aaaargh!!” Taecyeon berjalan meninggalkan aula, memukul dinding dengan marah seperti akan merobohkannya. Wajah Wooyoung muncul dalam benaknya.

Suzy harus membuat video dokumenter tentang charity event yang diadakan oleh mahasiswa seni. Ia kebagian jatah mahasiswa Seni Lukis dan bertemu Krystal Jung yang ternyata sengaja mempersulitnya dan membuatnya sebal.

Wooyoung masih teringat kejadian di kamar Taecyeon. Ia benci karena tak bisa marah pada Taecyeon dan itu sangat mengganggunya. Kepalanya seperti mau pecah saat Dara mengajukan surat pengunduran diri.

Advertisements

4 thoughts on “Beast Boy Ramyeon Shop (Part 2)

  1. yaaa…suzy kecewa,saya sebagai kembaran suzi kecewa ini….kenapa itu cuma sekedar di pipi sih wooyoung ah!!!
    ngebayangin scene taec pake kimono+ngusap ngusap rambutnya yang basah >.<
    yahhh wooyoung ah tace gak bakalan suka sama kamu,sama noona aja yah …

    pendek banget si authorr *bekep author pake eskrim*
    boleh nebak buah manggis gak author??
    poto yg di buka taec itu si suzy nyah??
    trus sebenernya si wooyoung ngeliat poto suzy yg terpampang di screen lepi nya taec kan???*kalo baca dari yg next on sih itu*

    1. yailehh kembaran suzy?? yg kembar pipinya doang ning.. :p

      untung itu kubikin pake kimono, gmna kalo cm pake celana doang kan.. Taec banget.. >o<

      udah panjang itu, ini ff tanpa akhir kaya pdkm nya iu..

      ihhh, tau gitu ga kukasih "next on" lah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s