Beast Boy Ramyeon Shop (Part 3)

Main Cast:

(2PM) Ok Taecyeon

(Miss A) Bae Suzy

(2PM) Jang Wooyoung

(2NE1) Dara/ Park Sandara

Support Cast:

(FX) Jung Krystal

(CNBlue) Lee Jonghyun

 

Taecyeon mengamati sekali lagi perempuan muda yang baru saja melintas. Perempuan itu berjalan menuju pojok khusus, satu-satunya meja kosong yang posisinya paling dekat. Ia mencoba memutar ingatannya. Sementara Cheondung dengan gemas memeluk lengan Taecyeon sambil mendesaknya untuk mengingat-ingat.

“Sepertinya aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat.” Gumam Taecyeon, pura-pura berpikir keras, menyadari Cheondung semakin bergairah.

“Ah, hyung cobalah lebih keras lagi!” Cheondung terus mendesak.

“Ya, ya! Cheondung-ah kembali ke pekerjaanmu sana!” Dara menarik ikatan appron Cheondung hingga lengan Taecyeon terlepas dari pelukannya. Cheondung menatap Dara dengan sebal, tapi tetap saja menurut meski masih penasaran pada pelanggan cantik yang ia lihat barusan. Dara mendelik, memaksa Cheondung kembali pada cucian dagingnya.

“Bagianmu!” kata Dara pada Taecyeon. Taecyeon melongo ke arah Dara.

“Sepertinya ini pertama kali baginya.” Dara menunjuk pelanggannya yang kini duduk di pojok khusus. Taecyeon mengikuti pandangan Dara dan diam-diam menyepakati hipotesis seniornya itu.

“Selamat siang!” sapa Taecyeon, tersenyum di depan pelanggan cantiknya.

“Oh, kau! Kau bekerja disini?” Tanya si pelanggan yang rupanya mengenali Taecyeon. Sepasang mata ber-eyeliner-nya menatap Taecyeon dengan perasaan kaget-aneh-bingung-kagum-entahlah.

Taecyeon mengernyitkan dahi dan tanpa sengaja berpikir tentang ketenarannya, hingga membuat telinganya memerah.

“Kau Ok Taecyeon, kan? Mahasiswa Departemen Biologi dan Kimia __ Professor Ok?”

Taecyeon menatap pelanggannya, masih dengan wajah bengong.

“Krystal Jung!” Krystal mengulurkan tangannya karena melihat Taecyeon kebingungan.

“Ah! Jadi kau Krystal Jung. Kau populer sekali di departemen kami. Maaf aku sempat tidak mengenalimu.” Taecyeon menyambut tangan Krystal, kali ini terlihat kaget. Krystal hanya tersenyum singkat saat Taecyeon menyebut kata “populer” yang tentu saja merefleksikan dirinya.

“Aku mendengar gossip di luar sana kalau ramen di restoranmu ini adalah yang terbaik di Seoul.” gumam Krystal sambil terus memandangi Taecyeon yang masih mematung di depan meja mendengarkan celotehnya.

“Tapi kulihat semua pengunjung adalah wanita. Sepertinya dugaanku benar.” Krystal mencermati meja-meja yang dipenuhi para wanita dan melontarkan komentar sinis.

“Kurasa kau melewatkan beberapa laki-laki di sana.” Taecyeon menunjuk sebuah meja yang terdiri dari beberapa orang, sepertinya sedang makan siang bersama anggota keluarga.

Krystal menoleh Taecyeon sambil menahan malu, lalu melanjutkan, “Lalu bagaimana dengan menu disini? Kelihatannya sama seperti Ramyeon Shop kebanyakan. Kau merebus mie, mencampurnya dengan kuah kaldu berbumbu pedas, lalu diberi topping telur, sayur, atau daging. Semua orang bisa membuatnya di rumah.”

Taecyeon tak langsung mendebat Krystal, ia hanya tersenyum mendengar komentar pedas Krystal.

“Apa aku benar?” lanjut Krystal, seolah ingin menjatuhkan mental Taecyeon.

Taecyeon tersenyum mendengar celotehan Krystal. Ini bukan yang pertama ada pengunjung yang mencibir kredibilitas restorannya. Ia mencoba melenyapkan pikiran negatifnya tentang Krystal. Gadis itu memang terkesan angkuh dari gaya bicaranya yang dingin dan nada yang bisa dibilang lebih dari sekedar ketus. Selebihnya Taecyeon melihat Krystal sebagai gadis yang pintar, gadis kaya yang tidak hanya bisa menggunakan uang dan kecantikan tapi juga menggunakan otaknya. Taecyeon menangkap ketertarikan Krystal akan masakan yang ada di restoran mereka. Tapi ia cepat-cepat menepisnya, tidak mau terlalu berspekulasi tentang tujuan Krystal.

“Mungkin kau perlu mencicipinya sendiri.”  Ujar Taecyeon.

Krystal menaikkan alisnya, “Aku sedang diet.”geramnya sedikit ragu.

“Baiklah. Kalau begitu sayang sekali  aku tidak bisa memberitahumu masakan seperti apa yang membuat mereka kembali ke sini.” Taecyeon tersenyum penuh kemenangan. Krystal tersenyum masam dan tak protes saat Taecyeon berbalik menyerangnya.

“Nah, bisa kau pindah ke meja sebelah sana?” Tanya Taecyeon, bermaksud mengusir Krystal dengan cara halus. Krystal menoleh ke meja kosong yang dimaksud Taecyeon. Posisinya dekat dinding kaca dengan lantai berlevel lebih tinggi 20 cm dan menghadap ke inner court. Krystal terlihat ragu-ragu.

“Itu adalah salah satu spot terbaik yang kami punya.”

Krystal mengerling pada Taecyeon lalu mengangguk setuju. Sementara Taecyeon kembali ke dapur, Krystal melihat-lihat buku menu yang membuatnya tertarik.

***

Taecyeon kembali ke meja Krystal ditemani Cheondung dan Dambi, saudara kembar Seonbi, lalu merapatkan sebuah meja kosong di sebelah meja Krystal. Cheondung dan Dambi menata mangkuk-mangkuk  ukuran kecil yang terdiri dari 5 macam ramyeon: Seafood Ramyeon, Beef Ramyeon, Vegetable Ramyeon, European Ramyeon dan Original Ramyeon, serta kimchi, acar lobak dan tumisan tauge. Taecyeon berdiri di sebelah Krystal sambil menerangkan menu-menunya.

Krystal mengaitkan jemarinya dan menopang dagu. Matanya meng-scanning deretan ramen di meja sambil mencuri ragam aroma yang masuk ke hidungnya. Ia memainkan sumpit peraknya di udara, menimbang-nimbang ramen mana yang harus ia coba lebih dulu. Taecyeon menantisipasi gerakan tangan Krystal, lalu tersenyum ketika Krystal mendaratkan sumpitnya ke mangkuk ramen dengan topping keju.

“Ramen kalian memang enak.” Kata Krystal, setelah selesai mencicipi kelima varian ramen dan mengelap mulutnya dengan tissue. “Tapi masakan bukan sekedar rasa.” Lanjutnya, sambil menatap Taecyeon.

Taecyeon mengernyitkan dahi.

“Memang benar sesuatu tidak dinilai dari luarnya saja. Tapi,penampilan selalu menjadi penilaian pertama. Benar, kan?”

Taecyeon mengangguk setuju. Ia tersenyum mengakui kecerdasan Krystal. Tidak heran gadis itu begitu menjaga penampilan.

“Aku bukan dari jurusan seni, jadi tidak menilai dari sudut pandang itu.” Kata Taecyeon, setengah bercanda.

“Berikan aku nomor ponselmu!” Krystal berdiri, menyodorkan telapak tangannya pada Taecyeon. Taecyeon memandang Krystal, sedikit bingung, lalu menuliskan sesuatu di telapak tangan Krystal.

Krystal membaca deretan angka yang ditulis Taecyeon, lalu menyambar tasnya. “Aku akan menghubungimu jika sudah selesai.” Katanya.

Taecyeon masih kebingungan di tempatnya sementara Krystal berjalan keluar restoran selesai membayar pesanannya.

“Kenapa kau?” Dara menghampiri Taecyeon, sesaat setelah Krystal pergi.

“Oh, noona!” Tecyeon menoleh dan mendapati Dara berdiri di sampingnya. “Dia mahasiswi jurusan seni, satu universitas denganku.” Lanjutnya.

Dara menaikkan alisnya, mengamati perubahan di wajah Taecyeon dengan tatapan mengintimidasi. Taecyeon menghela nafas, akhirnya menjelaskan sedetail mungkin percakapannya dengan Krystal.

***

Taecyeon sedang berada di ruang penyimpanan bahan masakan saat ponselnya bergetar dari balik appronnya. Ia mengacuhkan panggilan pertama, kedua, dan ketiga-yang ternyata panggilan terakhir- karena sedang berkonsentrasi pada notesnya, mencocokkan catatan Dara dengan persediaan logistik dapurnya. Ia memberi tanda centang di setiap baris dan menyelipkan tanda tanya pada beberapa nama bahan yang persediaannya terbatas. Begitu selesai dengan pekerjaannya, Taecyeon duduk ke meja Pojok Khusus untuk merapikan catatan Dara. Lalu kembali ke dapur dan menyerahkan check list-nya pada Dara.

Mess up!

“Kenapa, Noona?”

“Kau bantu aku membeli kekurangannya. Wooyoung baru saja menghubungiku, Konglomerat Jung minta 200 porsi lagi. Aku akan ke  aula bersama Wooyoung untuk mengecek stan kita.” Kata Dara, suaranya terdengan panik tapi wajahnya tetap tenang.

Taecyeon mengangguk tanpa bertanya, lalu mengantongi kartu kredit yang diberikan Dara padanya. Dara meninggalkan restoran lebih duru dari Taecyeon, masih dengan rambutnya yang digelung ke atas, terlihat sangat buru-buru. Taecyeon mengecek lagi daftar belanjaannya, lalu  meminta Cheondung menggantikannya mengelola dapur sementara ia dan Dara pergi mengurus pesanan Konglomerat Jung.

Taecyeon mengeluarkan ponselnya karena tiba-tiba teringat ada beberapa panggilan ke ponselnya saat ia mengecek logistik dapur. Mungkin tadi Wooyoung yang menelpon, duganya.  Tapi ia harus kecewa karena bukan nama Wooyoung yang muncul, melainkan sebuah nomor tak dikenal. Ia memasukkan lagi ponselnya lalu bergegas menuju supermarket.

Kenapa tidak menjawab teleponku?

Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, saat Taecyeon sedang asyik bermain game dengan smart phone-nya. Taecyeon mengabaikan pesannya dan menutup aplikasi gamenya. Ia bersedekap, menyandarkan kepalanya ke jendela dan terlelap dalam perjalanan.

Taecyeon turun dari shuttle bus di halte di seberang supermarket. Ia berjalan menyusuri deretan toko sambil sesekali melirik etalase, hingga tepat di tempat penyeberangan, Taecyeon berhenti di depan etalase sebuah restoran cepat saji. Ia melongo ke dalam, lalu memutuskan untuk masuk ketika yakin seseorang yang ia kenal termenung di mejanya.

“Jadi disini kau rupanya!” kata Taecyeon, berlagak sok asik.

“Kau!” mata Suzy yang bulat besar melotot pada Taecyeon yang menyerobot Colanya.

Taecyeon tersenyum dengan sedotan masih menempel di bibirnya. Ia menyedot isi gelas Suzy hampir setengahnya.

“Ahh~” Taecyeon memandangi gelas Cola yang tinggal setengah. “Kau ini tidak punya teman, ya?” tanyanya.

Suzy menarik gelasnya dengan sebal. “Kau suka sekali menyerobot makanan orang.” Protesnya sambil manyun.

“Aku haus sekali.”

“Memangnya kau darimana?” Tanya Suzy. “Kau tidak kerja?”

“Dara noona menyuruhku belanja untuk pesta Konglomerat Jung besok.”

“Kau pergi sendiri?” Tanya Suzy lagi.

Taecyeon menyerobot lagi gelas cola Suzy dan menyedot isinya. Mengangguk, mengiyakan Suzy.

“Wooyoung tidak bersamamu?” cecar Suzy.

“Wooyoung-i? Mungkin sekarang dia sudah di aula bersama noona. Mereka sedang mengecek stan.”

Suzy mengangguk, meski kepalanya masih dipenuhi tanda tanya.

“Kau tidak bertemu dengan Wooyoung di kampus?” tanya Taecyeon. Suzy menggeleng sebagai jawaban.

“Kau darimana?” tanya Taecyeon lagi.

“Aku pergi memperbaiki kamera. Katanya 4 hari lagi baru selesai.”

“Memangnya kau buru-buru akan memakainya?”

Suzy mengangguk. “Tadi ada pembagian tugas baru. Tiga hari lagi akan ada charity event fakultas seni. Lusa aku harus mulai mendokumentasikan persiapannya. Kalau tidak ada kamera bagaimana aku bisa kerja?” jelasnya.

“Pinjam kamera Wooyoung saja.”

“Aku tidak enak.”

“Ya sudah, nanti saja kau telepon dia. Tunggu perasaanmu membaik. Sekarang kau temani aku belanja.”

Memangnya perasaanku kenapa? Omel Suzy dalam hati.

***

 “Kenapa tiba-tiba menambah pesanan begitu?” tanya Suzy.

“Aku juga tidak tahu. Wooyoung yang berhubungan langsung dengan perwakilan Tuan Jung.” Taecyeon mengambil kantong belanjaan dari tangan Suzy. “Kau langsung pulang atau bagaimana?” tanyanya menoleh pada Suzy yang berdiri di sebelahnya.

“Aku akan mampir ke rumah teman.” Jawab Suzy, lalu menyumpal telinganya dengan headset yang tersambung ke ponselnya. “Halo Woobin, kau ada di rumah, kan?” tanya Suzy, ketika teleponnya terhubung dengan temannya.

“Oh Wooyoung? Iya aku sudah selesai belanja. Kalian dimana? Baiklah kami menunggu di halte dekat supermarket.”

“Kau bersama siapa?” suara Wooyoung terdengar bergetar, ia yakin Taecyeon bersama seseorang sekarang.

“Aku bersama Suzy!” kata Taecyeon santai.

“Oh? Suzy?” ulang Wooyoung. Ia berharap ada masalah dengan pendengarannya. “Ayolah Jang Wooyoung, kenapa baru sekarang kau menyadarinya.” Wooyoung menggeram dalam hati, meremas setirnya.

“Jang Wooyoung!!” sentak Taecyeon.

“Ya? Kau di supermarket mana?” Wooyoung tergagap.

“Circle-K!”

“Tunggu saja di depan toko jam, tempat kau perbaiki jam dulu. Aku memutar di sana.”

“Oke!”

“Aku sudah dekat. Tunggu saja, ya!” Kata Wooyoung mengakhiri percakapannya dengan Taecyeon.

Wooyoung memutar SUV-nya persis di depan toko jam, ia bisa melihat Suzy dan Taecyeon berjalan ke arahnya sambil membawa kantong belanjaan.

“Ayo naik!!” serunya dari dalam mobil, ia mengerling sebentar pada Suzy yang tersenyum ke arahnya.

“Mana noona?” tanya Taecyeon.

“Dia bilang ada urusan dengan pemilik rumah sewanya.” Wooyoung melirik Taecyeon yang duduk di belakang.

“Kalian bertemu dimana?”

“Kebetulan saja bertemu di restoran di seberang supermarket.” Jawab Taecyeon, lalu buru-buru mendengarkan musik dari ipod-nya, tak mau mendengar pembicaraan di kursi depan.

“Sore sekali kau pulang.” Kali ini Wooyoung melirik Suzy yang sejak tadi diam.

“Iya. Aku pergi memperbaiki kamera.”

“Rusak lagi?”

Suzy mengangguk. “Blue screen!” katanya lesu.

“Bukannya kau ada tugas dokumentasi charity event minggu ini?”

Suzy menghela nafas lalu mengangguk lagi. Setelah itu semua diam tanpa percakapan. Wooyoung mengamati pantulan Taecyeon di cermin. Ia masih ingat jelas foto Suzy muncul di salah satu folder dalam laptop Taecyeon. Ia merasakan darahnya naik ke kepala tiap kali mengingatnya. Ia benar-benar benci situasi seperti itu. Saat ia hanya bisa menyimpan kemarahannya pada Taecyeon.

***

“Kalian pulang saja!” Taecyeon menoleh pada Wooyoung yang sedang membantunya menurunkan kantong belanjaan.

“Baiklah, setelah mengantar Suzy aku langsung kemari.” Kata Wooyoung, masih dengan suara bergetar.

Taecyeon mengangguk. Melambai pada Suzy lalu berjalan ke arah restoran, 50 meter dari tempat Wooyoung memarkir mobilnya. Di depan restoran, sebuah mobil dengan mesin masih menyala, terparkir rapi. Taecyeon tak mau menduga-duga siapa yang ada di dalamnya, ia hanya ingin mandi lalu istirahat di kasurnya yang nyaman.

“Ok Taecyeon!” seseorang berwajah dingin memanggil Taecyeon dari dalam mobil. Taecyeon menoleh dengan kantong belanjaan masih menggantung di tangannya.

“Kenapa tidak menjawab teleponku?” geram Krystal, masih dari dalam mobilnya. “Kau juga tidak membalas pesanku.”

“Itu nomormu?” Taecyeon mendekat ke jendela mobil.

Krystal membuang muka dan mendengus kesal. Tapi tangannya mengulurkan sebuah file holder ukuran A4 ke wajah Taecyeon. Taecyeon melompat kaget hingga kepalanya membentur frame kaca mobil, menyangka Krystal berniat memukulnya. Krystal berusaha keras menahan tawanya melihat reaksi Taecyeon.

“Apa ini?” tanya Taecyeon setengah meringis, mengambil file holder dari tangan Krystal.

“Itu hanya coretan biasa, kau boleh mengubahnya __ atau __ membuangnya kalau tidak suka.” Kata Krystal ketus, masih membuang muka.

Taecyeon membolak-balik lembaran kertas di tangannya. Senyumnya mengembang hingga deretan giginya terlihat.

“Terima kasih. Ini sangat membantu.”

“Aku tidak membantumu. Jadi jangan salah sangka.”

“Terima kasih karena tidak membantuku, Nona Jung!” Kata Taecyeon, tersenyum pada Krystal. Krystal menarik lagi senyumnya yang hampir saja mengembang.

“Sampai bertemu besok!” Krystal menutup kaca mobilnya lalu meninggalkan Taecyeon yang masih memandanginya dari kejauhan.

Taecyeon bergegas masuk dengan belanjaannya. Lalu menyusunnya di rak-rak ruang penyimpanan. “Sampai bertemu besok!” kata-kata Krystal masih membayang di benaknya. Ia sendiri tidak mengerti maksudnya, apa gadis itu berniat untuk datang lagi ke restoran mereka atau Krystal memang akan terus datang sampai ia bosan. Ia tak mau ambil pusing dengan rencana Krystal. Ia hanya tahu Krystal gadis yang baik juga teman – ya, sekarang mereka berteman- yang baik.

Taecyeon berbaring di atas ranjangnya dan membiarkan lampu tidurnya menyala. Ia masih membolak-balik sketsa ramen di lembaran kertas yang diberikan Krystal padanya. Lagipula ia masih menunggu Wooyoung datang, karena sahabatnya itu berjanji akan datang lagi setelah mengantar Suzy.

Wooyoung muncul di kamar Taecyeon, hanya beberapa detik setelah Taecyeon akhirnya tertidur dengan sketsa ramen Krystal dalam dekapannya. Ia mendekati tempat tidur Taecyeon lalu duduk di tepinya. Ia mendengus kesal dan membayangkan sebuah pukulan mendarat di wajah Taecyeon. Wooyoung mengangkat kakinya ke atas kasur, menendang kaki Taecyeon pelan. Tapi Taecyeon tak bergerak sedikit pun. Wooyoung makin kesal, ia mendorong Taecyeon dengan kekuatan di kakinya, hingga Taecyeon terjatuh.

“Aisshh!” gerutu Taecyeon, menggapai spreinya lalu mencoba bangkit.

Wooyoung merayap ke sisi lain tempat tidur. Lalu tertawa melihat wajah kesal Taecyeon yang tampak layu.

“Ah!! Kau! Aku lelah sekali Jang Wooyoung!” Taecyeon meringis lalu merebahkan diri lagi di kasurnya.

“Aku tidur di sini ya.” Kata Wooyoung sambil tertawa.

“Kalau kau mau berisik, tidur saja di rumahmu!”

Wooyoung memukul kepala Taecyeon dan mengembalikan kesadarannya. Taecyeon berbalik menghadap Wooyoung dengan wajah kesal, bersiap memakinya. Tapi emosinya mendadak surut saat melihat Wooyoung tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit.

“Berhenti menggangguku dan lihat ini!” Taecyeon menghela nafas lalu melempar file holder ke dada Wooyoung. Wooyoung berkedip memandang Taecyeon seolah bertanya “Apa ini?”

Wooyoung membuka lembaran sketsa ramen yang dilemparkan Taecyeon. Matanya berbinar melihat goresan tangan warna-warni ramen dengan berbagai topping.

“Dari mana kau belajar melukis?” Wooyoung menggoncang-goncang bahu Taecyeon yang memunggunginya.

“Krystal Jung yang memberikannya padaku.” Kata Taecyeon dengan suara serak, lalu berusaha masuk lagi ke mimpinya.

Wooyoung terdiam, nyaris tak percaya. Lalu setelah diamatinya lagi sketsa-sketsa di tangannya, ia menemukan nama Krystal Jung di sana. Semacam stempel atau tanda tangan keaslian sebuah karya. Wooyoung memandangi punggung Taecyeon yang lebar bergerak naik turun mengikuti nafasnya. Mood Wooyoung mendadak rusak.

“Taecyeon-ah!” suara Wooyoung  terdengar samar di telinga Taecyeon yang membelakanginya.

“Hmm!!” geram Taecyeon.

“Apa ada gadis yang kau sukai?” tanya Wooyoung, suaranya terdengar sedih seperti wajahnya saat itu.

“Hmm!” geram Taecyeon lagi, artinya ‘Ya. Ada gadis yang kusukai!’.

Wooyoung menghela nafas dalam-dalam. Menatap langit-langit kamar yang terlihat muram. Ia sama sekali tidak ingin menanyakan –Siapa Orangnya- pada Taecyeon. Lagipula ia sendiri sudah tahu. Wooyoung membuka lagi lembaran sketsa Krystal hingga menghalangi cahaya lampu jatuh ke matanya. Ia membaca nama Krystal Jung dengan jelas tertulis. Lalu perasannya semakin berkecamuk.

***

Advertisements

2 thoughts on “Beast Boy Ramyeon Shop (Part 3)

  1. Miaaan eomma br ngecek email smlm,..eh ada post-an baru kayaknya,..
    Tp br sempet baca yg ini,…

    Heeem,..tulisan eomma makin sip nih,..suka pendeskripsiannya,..
    Soal Cerita kayaknya nambah satu yeoja lg nih,..
    Penasaran Taec suka Suzy kan yak?
    Trus kalo “WY-Suzy”, harusnya mood WY ga akan rusak karna lukisan ramyeon yg dibuat Krystal utk si Taec dong?
    Daaaaaan,..ada sesuatukah dibalik kemunculan Krystal di “dunianya” Taec???
    What’s going On? So curious about What will be happen in the next part,..

    Ngomong-ngomong,..bayangan aku Teac cool bgt deh,..hehehe

    1. Hehehe mksh sdh baca we.. XD
      Iya opposite character lah si Taec disini.. Apalagi Wooyoung.. Biasanya cengengesan tukang lawak, disini malah cool..

      Iya pasti related antar karakter ada. Setiap tokoh ada kaitannya. Cuma belum sempet bikin part khusus Dara.
      Simak terus we.. Jgn sampe ketinggalan. Jonghyun sm Dara blm diceritain kan.. Hahaha~ Gayanya kaya script writer drama korea.. XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s