THE 1000TH CRANE

Main Cast:

(2PM) Nichkhun Buck Horvejkul/ Khun

(Author) Cho Eunjae

Support Cast:

(Lovely Evil Maknae @815soo) Jung Hyeosoo

(Figure Skater) Kim Yuna

(TVXQ) Jung Yunho

Recommended song: 2PM – Back to Square One

 

 

Di salah satu kamar di asrama sekolah menengah khusus laki-laki, seorang pria mengemasi barang-barangnya. Memasukkan pakaian ke koper, buku-buku dan sebagainya untuk dibawa pulang. Ruangan itu tampak gelap. Wajah pria itu tampak sedih. Tapi air matanya tak setetes pun jatuh. Ia menatap nanar sebuah koran lama yang berada di tumpukan buku paling atas. Halaman muka surat kabar menampilkan wajah seorang wanita cantik bersama seorang pria, dengan headline bertuliskan: “Kim Yuna –Model Asal Korea Selatan – Menikah Musim Gugur Tahun Ini”. Bayangan suram kamar itu perlahan semakin gelap, gelap, pekat lalu menghilang.

FF TEASER

Pukul 7.00 waktu Seoul, Nichkhun terbangun dari mimpinya dengan keringat yang membanjir. Air mata mengalir di sudut matanya yang terbuka. Ia merasakan sesuatu menusuk di hatinya. Sakit sekali. Wajah Kim Yuna –gadis yang sudah dinikahi seseorang dari keluarga Kerajaan Jepang– masih sering muncul di mimpi Khun. Padahal ia yakin sudah melupakan gadis itu sejak lama, semua tentangnya bahkan wajahnya. Tapi bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan itu kerap muncul di mimpinya. Dan setiap kali muncul, hatinya terasa sakit.

***

“Dia adalah anak Presdir Teeragiat. Baru datang dari Amerika. Eonni lihat saja penampilannya. Ketampanannya setara dengan pangeran William, tubuhnya bagus seperti model internasional yang biasa eonni lihat di fashion channel, kulitnya putih bersih seperti susu, wajahnya seperti bayi, kekayaannya siap dibandingkan dengan aset David Beckham. Dan dia belum menikah!

Tapi eonni harus catat ini: Dia-Punya-Masalah-Kejiwaan!”

Bisikan dari adik sepupunya yang juga bekerja di HVK Pharmaceutical –Jung Hyeosoo– terdengar horror ditelinga Eunjae. Ia duduk satu meja dengan Nichkhun, Manager Han – Bagian Produksi, Manager Yoo – Bagian Perencanaan, Manager Shin – Bagian Pemasaran. Ia mewakili bagian Quality Control karena Manager Park sedang cuti. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasa. Khun duduk tiga meter persis di depannya dan ia bisa melihat apa yang digambarkan Hyeosoo. Semua ada dalam diri Khun. Tapi Khun sama sekali tak memandangnya, se-de-tik-pun. Bahkan ketika ia membicarakan tentang kualitas obat-obatan HVK Pharmaceutical, Khun malah asik memandangi tabletnya. Sayangnya rasa malu Eunjae lebih besar dari pada marahnya pada Khun. Ia suka pada Nichkhun. Mungkin. Tapi itu normal, normal sekali. Gadis mana yang bisa memalingkan pandangan dari Pangeran Horvejkul. Tapi hingga minutes of meeting pertama yang bertema –Department Introducing– itu selesai setelah 2 jam berlalu, Khun sama sekali tak memandang Eunjae.

***

Satu bulan berlalu sejak kedatangan Khun, suasana di HVK Pharmaceutical masih tegang. Sejak Khun menyatakan perombakan besar-besaran pada struktur organisasi. Dimana semua bagian akan diketuai oleh laki-laki. Hal ini membuat karyawan wanita gerah, terutama Eunjae sebagai Wakil Manager Quality Control. Para wanita bisa saja memberontak atau mengadakan ancaman mogok kerja, tapi konsekuensinya adalah PHK. HVK Pharmaceutical berubah hampir 180 derajat. Lalu bagaimana masa depan perusahan menjadi pertanyaan semua pihak. Eunjae harus mengambil tindakan jika tidak ingin hidupnya terancam.

Eunjae dari Bagian Quality Control berkewajiban membuat checklist harian tentang obat-obatan yang diproduksi dan melaporkannya pada Khun setiap hari kecuali Hari Minggu.  Satu bulan berlalu dan selama itu pula Eunjae harus menahan malu setiap kali bicara pada Khun. Khun tak pernah menatapnya saat bicara. Tabletnya lebih menarik daripada Eunjae. Eunjae hanya tidak mengerti dengan sikap Khun yang menurutnya tidak wajar.

***

Hari Minggu pagi, keberuntungan berpihak pada Eunjae. Ia bertemu dengan Khun di area parkir Istana Gyeongbuk.

“Oi Nichkhun-ssi!”

Nichkhun mempercepat langkahnya tanpa menoleh. Terlihat panik mencari sedan hitamnya di antara ratusan mobil yang terparkir.

“Hey pengecut!”

Nichkhun tak peduli. Begitu menemukan mobilnya, ia bergegas masuk. Tapi Eunjae sudah menghalanginya. Nichkhun semakin panik dengan detak jantung tidak normal.Ia berusaha mengacuhkkan Eunjae. Tapi karyawannya itu berada tepat didepannya.

“Kau butuh tabletmu?”

“Kau tidak sopan, Wakil Manager Cho!” tegas Khun, tapi tetap menghindari kontak mata dengan Eunjae. Lalu berusaha masuk ke mobilnya. Tapi gagal karena Eunjae menghalangi.

“Aku bukan bawahanmu di Hari Minggu. Jadi berhentilah bersikap angkuh.” kata Eunjae santai.

Khun mengatur nafasnya yang mulai sesak. Detak jantungnya semakin cepat. Ia pucat dan berkeringat.

“Hey, aku sedang bicara padamu! Jadi lihat lawan bicaramu. Apa begini kehidupan di luar negeri mengajarimu?

“Dengar ya, aku sudah cukup sabar menahan malu karena setiap kali aku bicara __ melaporkan hasil pekerjaanku __ kau sibuk dengan tabletmu. Kalau kau tidak suka padaku, kau bisa memecatku!”

Tidak! Apa yang baru kukatakan padanya? Memecatku? Bagaimana kalau dia benar-benar memecatku? Tamatlah kau, Cho Eunjae!

“Kau akan kupindahkan ke bagian lain yang tidak ada interaksi langsung denganku.” Khun mengatur nafas, berusaha menjelaskan pada Eunjae.

“Wah! Wah! Lihat bagaimana seorang Direktur membawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan. Tsk!”

“Aku tidak suka bekerja dengan wanita!” keluh Khun, nyaris tak terdengar.

“KAU GAY?” seru Eunjae kaget. Rupanya dia tidak menangkap kata-kata Khun dengan sempurna. Terdengar seperti: “Aku tidak suka wanita!”

“APAAAA??” Khun melotot pada Eunjae dengan teriakannya yang sedikit bergetar.

Khun melihat sepasang mata Eunjae untuk pertama kalinya. Kontak mata pertamanya dengan seorang wanita, setelah lima tahun susah payah ia hindari. Khun merasa sesak dan pandangannya kabur. Lalu jatuh berlutut di kaki Eunjae sambil memegangi dadanya yang sesak.

“Nichkhun-ssi! Nichkhun-ssi! Aduh bagaimana ini? Nichkhun-ssi!!” Eunjae terus memanggil Khun agar ia tetap sadar.

“Ambilkan obat di dalam mobil!” Pinta Khun ketika Eunjae hendak menyentuhnya untuk melihat keadaannya.

“Obat ya?” Eunjae terlihat panik sekarang. Ia berjalan sempoyongan ke dalam mobil.

“Dimana kau letakkan?” teriaknya. “Seperti apa bentuknya?” tanyanya lagi, semakin panik. Ia mengobrak-abrik isi dashboard.

“Botol __ kapsul merah __ cepatlah Nona Cho!” suara Khun terdengar putus-putus, karena nafasnya semakin sesak.

“Cepat minum!!” Eunjae menjatuhkan 2 butir ke telapak tangan Khun. Hanya 30 detik, obat langsung bekerja. Khun terlihat lebih tenang sekarang. Meski dadanya masih sakit.

“Kau sudah lebih baik?” tanya Eunjae, menatap lekat-lekat ke wajah tampan sempurna Nichkhun.

Khun mengabaikan tatapan Eunjae, lalu mencoba berdiri. “Pulanglah!” katanya.

“Aku minta maaf. Aku janji tidak akan bilang pada siapapun kalau kau gay.” Eunjae tampak lebih menyesal sekarang.

“Aku bukan gay!” teriaknya, melotot lagi pada Eunjae. Ia melihat wajah gadis itu lagi. Kali ini lebih jelas. Khun perlahan meneduhkan pandangannya. Jantungnya berdetak lagi secara tidak normal. Tapi ia tidak merasa sesak lagi.

***

Satu minggu berikutnya Khun tidak masuk kerja. Eunjae merasa ia keterlaluan dan harus minta maaf. Eunjae pergi ke Gyeongbuk Palace lagi di hari dan jam yang sama seperti saat bertemu Khun. Kebetulan macam apa, mereka bertemu lagi di tempat dan waktu yang sama.

Khun menghindari Eunjae dan buru-buru ke mobilnya. Ia tidak ingin kejadian serupa terulang. Eunjae mengejar dan menghalangi Nichkhun masuk ke mobil.

“Aku minta maaf, Nichkhun-ssi!”

Jantung Khun berdetak tidak normal lagi. Ia harus pergi sebelum semua terlambat. Mungkin dia bisa mati di sana kalau sampai Eunjae melakukan hal di luar kemampuannya.

“Bagus kalau kau menyadari kesalahanmu.”

“Aku tidak tahu kalau kau __”

“GAY??” Khun memotong Eunjae, dan melotot lagi pada gadis itu. Khun sudah biasa mendengar orang menyebutnya gay. Tapi itu menjadi penting karena Eunjae mengira dia seorang gay.

“Bukan! Bukan! Aku tahu kau bukan gay. Tapi kau mengidap semacam __ Caligynephobia.”

Khun membelalak tak percaya Eunjae menyelidikinya.

“Obat yang kau minum itu adalah obat penenang yang mengendalikan perubahan hormon pada tubuh akibat rasa takut yang berlebihan terhadap sesuatu. Banyak sekali jenisnya, tapi punyamu hanya 1 dari sejuta orang yang mengkonsumsinya. Mereka yang mengidap Caligynephobia.” Kata Eunjae panjang lebar.

Khun mengubah ekspresinya. Terlihat lebih tenang sekarang.

“Aku hanya penasaran kenapa kau menolak bekerja dengan wanita. Tidak mau berinteraksi atau melakukan kontak mata dengan wanita.”

Khun mencoba melihat Eunjae dengan iringan detak jantung yang semakin cepat. Dan menahan pandangannya pada gadis itu. Meski ia tidak tahu berapa lama bisa bertahan.

“Tapi aku merasa aneh. Caligynephobia adalah ketakukan terhadap wanita cantik. Aku tidak pernah berkencan karena wajahku biasa saja. Lalu kenapa kau takut padaku?”

Khun membuka mulutnya, ingin membantah. Tapi urung dilakukan. Eunjae masuk ke mobil dan mengambi obat milik Khun. “Kau tidak membutuhkan ini lagi!” kata Eunjae, lalu membuangnya ke tempat sampah.

“Apa yang kau lakukan?” Khun bermaksud mengambil lagi obatnya yang sudah bercampur dengan sampah. Tapi Eunjae mencegah.

“Kau bukan mengidap Caligynephobia. Kau tidak takut pada wanita cantik. Kau takut dikhianati. Kau takut pada masa lalumu.”

“Kau mencampuriku terlalu jauh!” Khun memberi peringatan dengan matanya.

“Karena itu kau tidak butuh obat-obatan. Maaf saja aku tidak tertarik dengan kehidupan pribadimu. Aku hanya memberitahumu kalau yang kau lakukan selama ini tidak ada gunanya. Untuk apa minum obat kalau tidak sakit. Aku memberi nasihat sebagai seorang farmasis. Untuk pasien pengidap Mnemophobia –Fobia Terhadap Memori– yang perlu kau lakukan adalah melatih dirimu. Melupakan hal yang menyakitkan dan membuat kenangan baru yang menyenangkan.”

Khun memahami kata-kata Eunjae. Ia akui ketakutannya bukan pada wanita. Tapi pada wanita di masa lalunya. Itulah yang membuatnya menghindari interaksi dengan wanita. Masuk ke sekolah khusus pria dan memilih tinggal sendiri. Mengabaikan ibu dan saudara perempuannya.Membatasi diri dari media dan hidup dengan dirinya sendiri. Ia takut disakiti. Nichkhun Horvejkul hidup menyedihkan selama 5 tahun karena dikecewakan pacarnya.

***

“Sebentar lagi turun hujan. Pulanglah!”

“Aku tidak boleh menumpang?”

“Tidak!” tegas Khun, bersiap masuk ke mobilnya.

Eunjae tersenyum dan Khun mematung di samping mobilnya.

“Baiklah. Aku hanya ingin memberikan ini.” Eunjae mengeluarkan kotak kecil ukuran 10 x 10 x 10 cm.

Khun membuka kotaknya dan mendapati sebuah toples bening berisi puluhan atau bahkan ratusan origami burung bangau warna-warni memadati toples. Khun membelalak.

“Jumlahnya 999 buah. Aku mulai mengerjakannya 3 bulan lalu saat Ayahku sakit. Tapi sayang sebelum aku menyelesaikannya, Ayahku menyerah. Dan aku menyerah di angka 999.” Eunjae tersenyum menyembunyikan kesedihannya. Ia mengeluarkan selembar kertas warna merah dan menyerahkannya pada Khun.

“Nah, karena hari ini adalah hari ulang tahunmu, buatlah satu burung bangau lagi. Maka jumlahnya akan genap 1000 dan kau bisa minta apapun karena permohonanmu akan terkabul.”

“Kenapa kau berikan padaku?”

“Itu hadiah! Karena kau berulang tahun. Sudah buat saja! Dan memohonlah sesuatu.”

Khun menuruti Eunjae. Ia meletakkan toplesnya di atas mobil. Lalu membuat origami bangaunya lalu menenggelamkannya ke dalam toples. Ia memejamkan mata dan memohon sesuatu.

Happy birthday, Nichkhun-ssi.” Eunjae tersenyum manis untuk Khun.

Thank you.” Khun membalas senyum Eunjae, jauh lebih manis dan terlihat tulus.

“Apa permohonanmu?” tanya Eunjae penasaran.

“Membuat kenangan yang bahagia.”Jawab Khun dalam hati. Eunjae hanya menangkap senyuman Khun sebagai jawabannya.

Hujan turun perlahan. Rintiknya memabasahi Khun dan Eunjae yang masih menikmati momen ulang tahun Khun di pelataran parkir Istana Gyeongbuk.

Let it rain!” desah Khun, lalu maju mendekat ke wajah Eunjae. Jantungnya berdetak lagi secara tidak normal.

Thank you. This is my wish.” Katanya lalu mencium Eunjae dengan lembut di bawah hujan.

 

***HAPPY BIRTHDAY NICHKHUN***

1000789_676940265666063_1897686301_n

Advertisements

2 thoughts on “THE 1000TH CRANE

  1. Kissing in The Rain,…
    Nice ending with “Rain”,..

    “Membuat Kenangan Yang Bahagia”,..
    Semoga 1000 Origami Burung itu beneran bs membuat Kenangan baru yang bahagia tentang “Hujan”

    Ooooh,..happy Birthday deh buat Pangeran Thailand satu ituuuuuu,…

    1. XD XD tadinya bukan author yg jd main cast. Tp kapan lg imagine ttg Khun bs diekspose.. Hahaha~
      Pengen Khun lebih bahagia dari pada masa lalu.. Setelah melewati masa sulit krn accident kmrn.. Pengen Khun bahagia terus dan belajar dari kesalahan.. #eaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s