SKY BLESSED

-WE GOT MARRIED-
[An Unvirtual Marriage]
“Eps. Mr.& Mrs. Kim”

Main cast:
[Super Junior] Yesung – Kim Jongwoon a CEO
[Author] – Cho Eunjae a CEO’s wife
Support cast:
[2PM] Junkay – Kim Minjun
Cameo:
[Shinhwa] Andy – Lee Suho

 

Langit Seoul sepekan ini selalu gelap. Hujan turun terus menerus hingga Jongwoon tak bisa mengenakan coatnya dua kali. Pagi itu ia harus merelakan rambutnya lepek karena gerimis. Karena Minjun berangkat ke restoran lebih dulu dan membawa mobilnya serta lupa mengantarkan pakaian ke laundry, Jongwoon terpaksa naik bus begitu meletakkan laundry-nya di tempat laundry langganan. Ia juga lupa bawa payung, karena payung pun dibawa oleh Minjun. Ia memandang langit di atas Pabtol – Restoran Keluarga Kim – dengan tatapan penuh makian.
“Baiklah! Hari ini kuanggap Kau tidak merestuiku.”
Jongwoon langsung menyergap Minjun yang mengintip dari ruangannya, begitu masuk ke restoran.
“Kenapa kau?” Jongwoon menatap adiknya sekilas sambil berlalu ke depan
cermin.
“Hyung, wanita disana itu. Dia aneh sekali.” Minjun bergidik di balik tirai, sambil mengamati wanita yang duduk di sudut restoran.
Jongwoon sedang asyik dengan tatanan rambutnya ketika Minjun berceloteh tentang pelanggan wanitanya. Ia tidak tertarik dengan cerita Minjun yang menurutnya biasa saja, bukan ceritanya tapi wanita yang dimaksud adiknya. Menurutnya tidak ada yang aneh. Jongwoon membuka tirai, tempat Minjun bersembunyi, lebar-lebar. Seorang wanita duduk murung di sudut restoran.
“Sejak kapan seleramu wanita dewasa?” Tanyanya setengah menggoda Minjun.
“Dia terlalu tua untukmu!”
“Eiy, hyung bukan begitu. Coba hyung pikir, dia aneh sekali kan?” Minjun mengejar Jongwoon dan duduk di atas meja kerja kakaknya.
Jongwoon mendongak pada adiknya. “Apa?”
“Apa??” Minjun mengulang pertanyaan Jongwoon dengan nada kesal.
“Jadi, daritadi hyung tidak mendengarkanku?”
“Aku dengar. Kau terus mengoceh tentang Wanita-Aneh-Di-Sudut-Restoran sejak aku datang. Kau bahkan tidak menyapaku atau minta maaf untuk laundry yang kau tinggalkan di depan pintu.” Jongwoon mengenakan kacamatanya dan menyalakan komputer.
“Ok, ok! Selamat pagi Sajangnim. Maaf atas kecerobohanku pagi ini.” Minjun melompat dari meja. Jongwoon hanya berdehem dan pura-pura membersihkan bekas bokong Minjun di mejanya.

“Hyung, wanita itu benar-benar aneh. Sungguh. Ini seperti film horror.” Minjun kembali pada ceritanya dan wajahnya terlihat lebih serius.
Jongwoon mengerjapkan mata seolah tak percaya adiknya bisa seserius itu.
“Baiklah. Sebutkan keanehan apa yang dibuat wanita itu!”
Minjun berdiri di depan Jongwoon dan mulai menjabarkan satu per satu keanehan pelanggan wanitanya itu dengan peragaan luar biasa. Jongwoon yang tadinya tidak tertarik, sekarang malah menyimak cerita adiknya dengan pandangan tertuju pada Wanita-Aneh-Di-Sudut-Restoran.

***

Jongwoon mencoba menghalau keraguannya dan mulai mendekati sudut restoran. Setelah lebih dari dua minggu berupaya tidak peduli dan ikut campur pada masalah pelanggannya, atas dukungan dari Minjun, Jongwoon berharap bisa “mengusir” pelanggan setia itu pelan-pelan. Meskipun ia sendiri mulai merasa nyaman jika sudut restoran itu diisi oleh Wanita-Aneh-Di-Sudut-Restoran.
“Selamat pagi, saya __” Jongwoon menahan kalimatnya ketika Wanita-Aneh-Di-Sudut-Restoran menodongkan gelas kopi yang telah kosong ke depan mukanya. Itulah pertama kali Jongwoon bisa melihat wajahnya yang tanpa ekspresi. Bulu kuduknya berdiri. Ia melihat sepasang mata, yang bengkak dikelilingi lingkaran mata yang hitam pekat di balik kacamata baca bulat, menatap kosong ke arahnya.
|”Matanya, Hyung! Lihat matanya. Benar-benar seperti hantu. Dingin dan kosong. Aku hampir mati berdiri pertama kali melihatnya.”|
“Baik tunggu sebentar. Ada lagi?” Tanyanya. Jongwoon mengambil gelas kosongnya dengan tangan bergetar. Wanita-Aneh-Di-Sudut-Restoran itu menggeleng, lalu menunduk lagi sebelum Jongwoon meninggalkannya.
“Matanya pasti sangat indah.” Gumamnya. Jongwoon tersenyum, menyangkal penilaian Minjun.
Ia kembali dengan segelas kopi yang baru, lalu meletakkannya di meja Wanita-Aneh-Di-Sudut-Restoran kemudian kembali ke meja kasir supaya lebih mudah mengamati dan bisa melayaninya dengan cepat jika pelanggannya itu minta kopi yang baru.
|”Sepanjang hari dia hanya minum kopi. Bagaimana bisa ada manusia yang tidak makan atau minum cairan lain yang lebih menarik selain kopi. Apa dia sejenis vampir atau apa?
Wah, wanita itu benar-benar aneh. Aku saja sudah mati bosan membuatkannya kopi terus-menerus.”
“Dia tidak akan mati hanya karena seharian minum kopi. Lagipula dia tidak minum dengan gratis, kan?”
“Tapi, ini restoran nasi, hyung, bukan warung kopi. Kalau ibu tahu bisa gawat.”
“Kalau begitu tutup mulutmu rapat-rapat!|
Jongwoon meletakkan gelas kopi ke-5 siang itu, botol air mineral dan piring berisi 3 kue beras.
“Aku tidak pesan.” Wanita-Aneh-Di-Sudut-Restoran itu menyingkirkan piring dengan punggung tangannya.
|”Dia tidak pernah bicara. Dia bicara dengan tangan dan kepala.
Melambaikan tangan seperti ini, mengangguk dan menggeleng seperti ini.
Benar-benar wanita yang aneh.” Minjun menjabarkan sambil meniru gaya pelanggannya.|
“Aku hanya tidak suka pelanggan kami tidak memesan sesuatu untuk dimakan.” Jongwoon mendorong piringnya lebih dekat ke lengan pelanggannya. Wanita itu terlihat kesal. Jongwoon menyingkir sebelum wajahnya disiraman kopi panas. Walau akhirnya kata-kata Minjun tidak seratus persen tepat, ia merasa harus waspada pada pelanggan anehnya.

***

Hujan turun semakin deras. Jongwoon memandang ke luar dan langit tampak gelap. Biasanya kalau sudah seperti itu tidak akan banyak pengunjung yang datang dan restoran akan tutup lebih cepat. Tapi hari itu langit memang tidak berkenan memberkatinya. Ia memandang resah ke sudut restoran. Wanita-Aneh-Di-Sudut-Restoran sedang menikmati kopi ke-9 nya.
“Nona, kami akan tutup!” Jongwoon berdiri di depan pelanggan anehnya.
Wanita itu melihat jam yang tergantung di dinding sebelah kirinya. Seperti memberi tahu Jongwoon kalau waktu operasional masih dua jam lagi. Lalu memutar kepalanya dan melihat ke luar jendela. Hujan turun deras. Jongwoon menangkap maksud pelanggannya. Ia tidak mungkin mengusir wanita itu karena hujan begitu deras.
“Baiklah. Baiklah.” Desahnya. Ia menyeret langkahnya kembali ke meja kasir. Sepuluh menit berikutnya wanita itu meminta segelas kopi yang baru.
Setelah gelas ke 13, wanita itu tidak minta Jongwoon mengganti kopinya. Ia berjalan ke meja kasir lalu menyodorkan kartu kredit yang dikeluarkan dari kantong coatnya. Jongwoon meraihnya dan mulai menghitung.
|”Wanita itu tidak membawa apapun kecuali kartu kredit di kantongnya. Bahkan dia tidak membawa ponsel.”
“Kau menggeledahnya?”
“Aku menanyainya. Dan dia tetap bicara dengan gerakan kepalanya.”|
Wanita itu kembali diam seperti yang diceritakan Minjun. Sesaat Jongwoon benar-benar berharap wanita itu adalah hantu yang mati penasaran karena seumur hidupnya tidak bisa minum kopi. Daripada ia yang harus mati penasaran karena mencari tahu identitas Wanita-Aneh-Di-Sudut-Restoran.
Jongwoon menyerahkan struk belanja dan kartu kredit ke pemiliknya. Wanita itu mengernyitkan dahi dan terlihat tidak senang dengan jumlah yang harus ia bayar.
“Kau makan tiga potong kue beras dan minum sebotol air mineral. Dan itu tidak gratis, Nona.”
Wanita itu menggeram menuju pintu keluar. Ia terlihat kesal. Jongwoon buru-buru menutup restorannya. Mengejar pelanggan wanitanya. Lebih tepatnya membuntuti.
|”Baru kali ini aku bertemu orang yang lebih aneh daripada hyung. Sungguh.”|
Jongwoon berhati-hati dengan langkahnya karena jalanan yang licin. Tapi ia kurang berhati-hati pada buruannya sehingga jejak wanita itu tak terlacak.
“Langit benar-benar tidak memberkatiku.”

***

Langit cerah setelah kemarin hujan turun sepanjang hari. Restoran kembali ramai. Tapi Jongwoon merasa sepi.
“Wanita itu hanya datang jika hari hujan, hyung.”
Jongwoon menggembungkan pipinya. Kecewa.
Besoknya Seoul kembali diguyur hujan dan Wanita-Aneh- Di-Sudut-Restoran benar-benar muncul.
“Hyung, wanita itu belum juga pergi?”
“Santai saja Tuan Kim, hari masih pagi.” Jongwoon mengalungkan lengannya di leher Minjun yang kelihatan panik.
“Hyung, ini sudah terlalu lama. Sampai kapan kita membiarkan wanita itu disini setiap hujan turun?”
“Kita baru saja sampai. Lagipula wanita mana yang kau maksud?”
“Hyung, aku tahu noona itu cantik. Tapi bisakah hyung mengencaninya di luar restoran kita?”
“Oh, Wanita-Aneh-Di-Sudut-Restoran itu? Dia tidak akan pergi kemana-mana. Kalau musim hujan berakhir, dia juga akan menghilang sendiri.” Jongwoon mengisi permen karet dengan nafasnya dan membuat gelembung lalu memecahkannya dengan sekali tarikan nafas.
Minjun mengernyitkan dahi. Tak setuju dengan keputusan kakaknya. Lalu otaknya mulai merencanakan cara mengusir pelanggannya yang aneh.
“Dia adalah Berkat Dari Langit. Jangan lakukan sesuatu di luar sana! Atau aku terpaksa memangkas gajimu.” Ancam Jongwoon, seperti mengetahui isi kepala Minjun. Minjun menelan ludah yang tersangkut di tenggorokannya.
“Ibu sudah mulai mencurigai kita, hyung. Aku sudah kehabisan alasan supaya ibu tidak kemari. Aku takut jantung ibu kumat kalau melihat Noona yang aneh itu di sini.”
“Itu tugasmu!” Jongwoon menepuk bahu Minjun yang melemas.
Minjun keluar dari ruang kerja kakaknya menyadari usahanya sia-sia.
“HYUUUUUNNGG!!” Teriak Minjun, menerjang pintu ruang kerja Jongwoon. Jongwoon melongo santai dari balik monitor.
“Habislah kita, Hyung. Demi Berkat Langit, Nyonya Kim datang!!” Minjun menyeret Jongwoon dari kursi, wajahnya ketakutan setengah mati.
Begitu mereka keluar, ibu mereka sudah duduk satu meja dengan Wanita-Aneh-Di-Sudut-Restoran. Terlihat sangat akrab. Sesekali terdengar tawa Nyonya Kim. Minjun tercekat dan kehabisan kata-kata. Ia menoleh Jongwoon yang tampak tenang.

***

“Besoknya, dia benar-benar datang dan mulai bekerja di Pabtol.” Jongwoon tersenyum di akhir cerita.
Lee Suho, seniornya saat SMA, terkekeh mendengar cerita Jongwoon.
“Benar-benar Berkat Langit ya.”
“Sebelum Ibu membuka restoran, kami sering berdiskusi bagaimana menjalankan restoran dengan baik. Dia sudah berhenti dari tempat kerja sebelumnya karena pacarnya yang juga bekerja disana menikahi gadis lain. Makanya dia jadi depresi seperti itu.
Dia gadis yang pintar dan cerewet seperti ibu. Mulai besok dia bekerja di restoran kita.” Jongwoon menirukan ucapan ibunya lalu tertawa.
“Berarti benar kalian dijodohkan seperti kata Minjung?” Suho menaikkan alisnya, Jungho, putranya dengan Minjung, meniru sang ayah dengan mulut belepotan pasta kacang dari isian Kue Beras. Membuat Jongwoon terbahak.
|”Ibu suka sekali dengannya. Ibu ingin dia jadi menantu ibu.”
“Eunjae noona memang cantik. Tapi dia aneh, Bu. Jadi lebih cocok dengan Jongwoon hyung.” Minjun menimpali. Ia melirik Jongwoon yang mendadak tegang.
“Hahahaha” tawa Jongwoon meledak.|
“Sampai hari ini, Eunjae terus beranggapan kalau aku menikahinya karena ibuku. Padahal sebelum ibuku bilang pun, aku sudah menyukainya dari awal bertemu.”
“Jadi begitu. Tapi apa benar dia seaneh itu waktu bertemu denganmu?”
“Tidak. Menurutku hal yang wajar. Dia minum kopi saat sedang stress, duduk seharian di restoran, matanya bengkak dan lingkaran matanya hitam, dia tidak membawa kartu identitas dan ponsel. Menurutku beberapa orang akan melakukan hal yang sama saat mereka depresi. Kau juga pernah menghilang beberapa hari saat Minjung memutuskanmu karena kau lupa hari ulang tahunnya, kan?”
“Hey, jangan bongkar aib itu di depan putranya. Hahaha.”
“Oh iya aku pergi dulu. Aku tidak mau tidur di luar karena aku telat menjemputnya.”
Jongwoon melambai pada Jungho yang menyembulkan kepalanya dari kursi depan.
“Suho oppa kemari?” Tanya Eunjae, menghampiri Jongwoon. Ia baru saja memarkirkan mobil saat mobil Suho bergerak meninggalkan restoran.
Jongwoon mengangguk dengan senyum mengembang.
“Dengan Jungho?” Eunjae melirik remah pasta kacang di bahu Jongwoon, lalu membersihkan kemeja suaminya dengan sekali sapuan tangan. Wajahnya tampak murung karena kecewa. Semurung langit Pabtol yang tampak mendung.
“Kalau kau rindu pada Jungho, nanti malam kita ke rumah Suho Hyung saja.” Usul Jongwoon, disusul senyum istrinya yang merekah.
“Jadi, bagaimana cafe barunya?” Tanya Jongwoon penasaran, sambil menggandeng istrinya ke sudut restoran.
“Aku tidak enak dengan Donghae. Apa kita tidak keterlaluan?”
Jongwoon tertawa. “Dia yang memaksaku. Aku sudah bilang tidak akan pakai jasa arsitek. Lagipula interiornya sudah lumayan. Tapi dia bilang ini kado istimewa seorang suami untuk isterinya yang sangat suka minum kopi, jadi desainnya harus spesial.”
“Tapi minggu depan adalah pesta pernikahannya. Merepotkan dia begitu. Harusnya kau tolak saja.”
Jongwoon menolak berargumen dengan isterinya yang mendadak sering sensitif sejak hamil. Ia hanya tersenyum lalu meninggalkan Eunjae sendirian di sudut restoran. Jongwoon menghampiri pelanggannya satu per satu. Lalu satu per satu pula pelanggannya mengikutinya ke meja kasir lalu meninggalkan restoran. Jongwoon mengunci pintu dan menggantung papan bertuliskan “we’re closed”.
Langit Pabtol masih mendung. Tinggal menunggu waktunya hujan turun. Restoran sudah “di-steril-kan” oleh Jongwoon. Ia kembali ke sudut restoran dengan nampan berisi dua gelas kopi dan sepiring Kue Beras warna-warni.
“Aku tidak pesan!” Kata Eunjae ketus. Keduanya terdiam sesaat lalu hujan turun dan seolah teringat sesuatu, merekahlah senyum keduanya.
“Oppa, apa kau menikahiku karena ibu?”
Jongwoon tersenyum. Menyambar tangan isterinya yang menempel di gelas kopi, dan menariknya ke genggamannya.
“Saat hujan turun dan muncul Wanita-Aneh-Di-Sudut-Restoran, aku sadar itu adalah Berkat Langit. Aku berhenti mengutuk hari paling sial itu.
Kalau bukan karena hujan, kau tak akan pernah muncul. Kalau bukan karena langit, aku tidak akan pernah mendapatkan Berkat Langit.”
“Oppa??”
“Ya?” Jawab Jongwoon, pura-pura tak mendengar Eunjae.
“Apa Oppa menikahiku karena ibu?” Eunjae mengulangi pertanyaannya.
“Tidak.” Jawab Jongwoon akhirnya. Eunjae mengangguk dan tersenyum di balik bibir gelas kopinya.
“Kau tidak mau tahu kenapa?” Jongwoon penasaran begitu Eunjae menerima jawaban mentah darinya. Biasanya isterinya akan mendebatnya sampai puas.
Eunjae menggeleng dan mengunci senyumnya rapat-rapat.

-E N D-

| … | : past conversations

-repost from my lovely tumblr http://hipogun-noona.tumblr.com/post/59107606185/sky-blessed

Advertisements

2 thoughts on “SKY BLESSED

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s