Beast Boy Ramyeon Shop (Part 5)

Main Casts:

(2PM) Ok Taecyeon

(Miss A) Bae Suzy

(2PM) Jang Wooyoung

(2NE1) Dara/ Park Sandara

Support Casts:

(FX) Jung Krystal

(CNBlue) Lee Jonghyun

Cameos:

Yenjit Horvejkul (Nichkhun’s Mother) as Camille Guinto

Kahi as Jang Sooyeon (Wooyoung’s Noona)

BoA as Song Hana

(MBLAQ) Thunder as Cheondung

 

 

“Jang.. Woo.. Young…” Taecyeon menggeram pelan di tempatnya. Dadanya terasa sesak. Ia berdiri cukup dekat dengan layar besar yang memampang wajah muram Wooyoung.

Wooyoung menarik senyum ke pipi mandunya dengan susah payah tanpa memandang kamera. Ia menatap kosong ke lautan manusia yang riuh bertepuk tangan. Sementara semua anggota keluarga berwajah cerah. Bahkan senyum Krystal menjadi sorotan kamera sepanjang acara. Sesekali Wooyoung melirik Krystal untuk mencari kemungkinan adanya respon negatif pada wajah Krystal akan perjodohan konyol orang tua mereka. Tapi gadis itu masih bisa tersenyum. Membuat Wooyoung stress.

“Apa kau baik-baik saja?” Jang Sooyeon menangkap lengan Wooyoung dan menahan tubuh adiknya yang mendadak limbung. Ia berbisik pada Wooyoung yang berdiri membelakanginya. Wooyoung mengangguk lemah sambil memalingkan muka pada Sooyeon, memberi tahu “Ia baik-baik saja”. Ia merasa sedikit nyaman ketika tangannya digenggam Sooyeon dengan erat.

Taecyeon berbalik keluar aula. Tepat ketika Wooyoung dan dua keluarga konglomerat itu turun dari panggung. Suara riuh tepuk tangan seolah menyorakinya untuk angkat kaki secepatnya. Taecyeon mengendorkan dasi hitam mengilapnya agar bisa bernapas lega. Ia bergegas menuju lorong di belakang aula menuju lavatory. Lorong itu sepi karena semua orang tengah bergembira di dalam aula. Taecyeon berhenti di ujung lorong dan meninju dinding di hadapannya. Berharap emosinya teredam disana. Wajah Wooyoung kembali melintas tapi ia malah merasa kasihan pada dirinya sendiri daripada mengasihani Wooyoung. Ia merasakan punggung tangannya yang perih mulai berdenyut.

Ia tidak sepenuhnya menumpahkan kesalahan pada Wooyoung. Ia tahu bagaimana sahabatnya itu memperjuangkan pendiriannya sebagai seorang laki-laki. Rasanya sudah cukup bagi Wooyoung berada di bawah kontrol ayahnya. Dimana ia kuliah, apa jurusan yang harus diambil, kapan ia harus lulus, apa pekerjaan yang harus dijalani setelah kuliah, dimana ia harus bergaul, semua diatur oleh ayahnya tanpa ia bantah. Bahkan niat Wooyoung mengembangkan kembali bisnis restoran keluarga pun sempat ditentang ayahnya. Kalau saja saat itu tidak ada neneknya, mungkin Ramyeon Shop tidak akan pernah dibuka kembali. Tapi kali ini apa Wooyoung juga harus menyerah di kaki ayahnya? Tidak. Taecyeon merasakan darahnya naik ke kepala. Melihat perlakuan tidak adil yang diterima Wooyoung.

Setelah mengirim pesan singkat pada Dara, Taecyeon memutuskan pulang lebih dulu sebelum acara berakhir. Ia juga sempat mengirim pesan pada Cheondung agar membantu Dara. Perasaannya benar-benar kacau. Ia butuh menenangkan diri. Sejenak wajah Suzy tiba-tiba saja melintas. Tapi Taecyeon tidak yakin untuk menemuinya setelah kejadian di aula. Akhirnya malam itu ia hanya berjalan tanpa arah di sepanjang Dongdaemun.

***

“Mmm~ Eomma – Ibu dalam bahasa Korea, kalian pulang saja duluan. Aku akan ke restoran. Berkas sidangku tertinggal di kamar Taecyeon.” Wooyoung melingkarkan lengannya ke belakang Nyonya Jang ketika keluarganya bercengkrama dengan keluarga Krystal di drop zone gedung JungAang Ilbo.

Nyonya Jang mengerutkan dahi. Ia tidak yakin dengan Wooyoung. “Memangnya tidak bisa besok saja?” bisiknya.

“Tidak bisa, Eomma. Aku pergi dulu, ya!”

Masih dengan sikap formal dan etika terjaga demi nama baik ayahnya, Wooyoung basa-basi sebentar lalu berpamitan pada keluarga Krystal. Tanpa menghiraukan wajah ayahnya yang terlihat kaget dan tatapan dingin Krystal, Wooyoung berlari ke jalan raya dan menyetop taksi. Ia merasa lega sekali meski sedikit menyesal telah membohongi ibunya soal berkas sidang yang tertinggal di restoran. Wooyoung menyandarkan tubuhnya di sandaran lalu memberi tahu tujuannya pada sopir taksi. Matanya terpejam sepanjang perjalanan dan pikirannya membayang tentang Suzy.

Taecyeon menaiki tangga menuju kamarnya yang berada persis di ujung anak tangga. Pintu kamar yang terbuka membebaskan cahaya lampu hingga jatuh ke bordes pertama. Seseorang sedang menunggunya, pikir Taecyeon. Dan ia langsung tahu siapa tamu tak diundang itu. Taecyeon berjalan mendekati ranjangnya dengan santai. Tampak tubuh Wooyoung membujur di atasnya dengan kaki menggantung di atas lantai. Ia tampak sedang tertidur. Taecyeon mengepal tangannya yang habis meninju dinding dibalik jas yang ditentengnya.

“Kau bersenang-senang?” Taecyeon menggeram di antara gerahamnya. Bayangannya menutupi tubuh Wooyoung ketika ia berdiri di depan Wooyoung yang masih terbaring.

Menyadari keberadaan Taecyeon, Wooyoung hanya menghela nafas. Masih dengan mata terpejam. Ia diam dan pura-pura tidur. Sengaja mengabaikan Taecyeon hingga Taecyeon semakin kesal.

“APA KAU BERSENANG-SENANG??” Tacyeon mengulang pertanyaannya. Tapi kali ini terdengar seperti sebuah teriakan. Suaranya yang bergetar memenuhi seisi kamar.  Wooyoung membuka mata dan langsung melempar tatapan tidak senang pada Taecyeon yang mengambang di atasnya.

“Pukul saja! Ayo pukul! Bukankah itu yang mau kau lakukan padaku!” Wooyoung berteriak di bawah Taecyeon yang ekspresinya terlihat menyeramkan.

Untuk harga dirinya, Wooyoung tak segan menantang Taecyeon. Lagipula perasaannya juga sedang tidak baik. Sebuah pukulan dari Taecyeon mungkin bisa menyadarkannya. Wooyoung memberanikan diri memandang Taecyeon. Wajah Taecyeon merah padam. Pertama kalinya ia melihat wajah sahabatnya begitu menyeramkan. Sudah tidak ada waktu untuk menghindar. Wooyoung hanya pasrah saat sebuah bogem mentah mendarat di wajahnya. Persis di bagian tulang rahang. Sudut bibirnya pecah dan mulai berdarah. Wooyoung merasakan pipinya berdenyut.

Sementara Taecyeon yang sepertinya kehilangan tenaga setelah melayangkan tinjunya, terlihat mengontrol napas. Wooyoung melirik tangan kiri Taec yeon masih menghujam ranjang. Urat tangannya bergerak-gerak. Tangan kanannya masih melayang di atas wajah Wooyoung, dan terlihat gemetar.

***

Wooyoung kembali memandang wajah Taecyeon. Wajahnya kelihatan lebih tenang sekarang. Urat-uratnya yang menegang seperti sudah mengendur.

“Kau pantas menerimanya!” kata Taecyeon dingin. Taecyeon menegakkan badannya. Masih berdiri di depan Wooyoung.

“Tsk! Apa kita sedang berkelahi karena seorang wanita?” Desis Wooyoung tanpa memandang Taecyeon. Lalu bangkit dan duduk di tepi ranjang. Mengusap sudut bibirnya dengan jempol dan melihat bercak dara menempel di sana.

“Apa?” suara Taecyeon terdengar dalam. Uratnya kembali menegang.

“Kau memukulku karena Suzy?”

Taecyeon mundur. Berbalik malas menuju meja kerjanya. Gantian Wooyoung yang naik darah. Ia menyerang Taecyeon dari belakang. Mendorong tubuhnya ke dinding. Wooyoung gemetar menahan emosinya. Taecyeon tidak melakukan perlawanan. Ia membiarkan punggungnya bersandar .

“Aku tidak suka ikut campur. Hanya saja kau pantas mendapat pukulan karena kebodohanmu.”

Tawa Wooyoung meledak. Getir sekali. Taecyeon menatap heran dan merasa kasihan pada Wooyoung. Apalagi tindakan kekanak-kanakan Wooyoung yang menyeret nama Suzy dalam perkelahian mereka. Taecyeon mencoba memaklumi.

Aku lelah.” Ujar Wooyoung dengan tatapan jauh ke dalam mata Taecyeon. Membuatnya terlihat semakin menyedihkan.

Taecyeon hendak memeluk Wooyoung, ketika wajah Wooyoung  berubah merah padam. Taecyon mundur merekatkan punggungnya ke dinding. Ia tahu apa yang akan segera terjadi. Beberapa detik kemudian, tinju Wooyoung sudah menghajar tembok, hanya berjarak beberapa inchi saja dari wajahnya. Taecyeon membelalak. Jantungnya berdegup kencang sekali. Ia lantas memalingkan wajah Ke arah yang berlawanan dengan tinju  Wooyoung. Menunggu penjelasan masuk akal dari sahabatnya.

“Aku begitu bodoh hingga pura-pura tidak tahu perasaanmu pada Suzy.” Batin Wooyoung. Meringis. “Sakit!” katanya dengan suara bergetar menahan tangis. Wajahnya terlihat seperti anak kecil yang menangis sehabis jatuh dari sepeda. Tapi tangannya masih meninju tembok.

Taecyeon menoleh. Melihat air mata yang menggenang di kantung mata Wooyoung. Ia tidak mengerti kenapa penjelasannya jadi serumit itu. Wooyoung mengendurkan otot lengannya yang terasa seperti kabel putus. Sakitnya mulai menjalar.

“Sakit sekali Taecyeon-ah.” Rengek Wooyoung sambil menekan dadanya dengan tangannya yang terluka.

Taecyeon menahan emosi untuk menangis bersama Wooyoung dan memilih menenangkannya daripada membuat keadaan memburuk.

“Sakit, kan? Makanya kau jangan sok jagoan. Kau kira tanganmu lebih kuat daripada beton, uh?” Taecyeon memarahi Wooyoung. Bukan benar-benar memarahinya. Hanya untuk mencairkan suasana.

Namun, tiba-tiba tangis Wooyoung pecah. Terdengar isaknya dengan jelas. Alih-alih meraung seperti anak kecil dan menangis sejadi-jadinya. Ia menangis tanpa suara dengan tangan menekan-nekan dadanya yang sesak.

***

Taecyeon dan Wooyoung berdiam diri sejak tangis Wooyoung mereda. Bahkan tidak sepatah pun keluar saat mereka saling mengobati luka di punggung tangan akibat menghajar tembok. Keduanya tetap bungkam sambil duduk bersisian, bersandar di sisi ranjang. Mereka mengamati perban di tangan masing-masing dan tetap membisu. Tak satu pun mengalah dan mencoba menjernihkan masalah yang masih buram. Beberapa kali keduanya terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun masih tertahan di tenggorokan.

Suasana begitu hening untuk waktu yang cukup lama. Hingga Taecyeon bisa menangkap basah tarikan nafas Wooyoung yang terdengar seperti terganjal sesuatu. Napasnya panjang dan dalam.

“Ehem! Katakan saja apa yang mengganjal pikiranmu!” Akhirnya Taecyeon terpaksa buka mulut. Membayangkan dirinya dan Wooyoung terjaga sepanjang malam karena gengsi kalau sampai tertidur dalam situasi serba tidak jelas seperti itu.

Wooyoung diam sejenak. Ragu. Ada semburat merah muda di pipinya. Membias di bagian rahang yang lebam. “Ketahuan juga.” candanya. Ia menarik nafas untuk melegakan paru-parunya. Dan merasakan nafasnya tersengal di tarikan terakhir.  “Baiklah. Karena kau sudah berpikir begitu. Aku _ memang ada yang ingin ku katakan.” Lanjutnya.

Taecyeon tak merespon dan tetap memandang lurus ke tembok. Tapi ia mendengar Wooyoung dengan jelas. Wooyoung mengerling. Mencoba menahan air matanya yang mulai menggenang.

“Satu minggu yang lalu ayahku menelpon dari Los Angeles. Dan memintaku mengerjakan pesanan ramen Konglomerat Jung. Meski aku menolak karena waktunya yang terlalu singkat, tapi ayah terus mendesakku. Kau tahu bagaimana dia, kan?” Wooyoung menoleh pada Taecyeon. Lalu melanjutkan, “Aku sempat merasa aneh karena tiba-tiba dia menelponku. Hal yang tidak pernah dilakukannya 5 tahun terakhir. Maka kupikir ini pasti hal yang sangat penting bagi bisnisnya. Lalu Sooyeon Noona memberi tahuku kalau Tuan Jung adalah teman lama ayah. Akhirnya aku menyanggupi pesanan itu dan menemui Tuan Jung. Tapi selama kami membicarakan pesanannya, dia tidak pernah menyinggung masalah perjodohan ini.” Wooyoung tercekat di akhir ceritanya yang sebenarnya belum selesai.

“Lantas kau menerima perjodohan ini begitu saja?” Tanya Taecyeon kesal.

“Kau tahu? Ini semacam ‘kutukan turun-temurun’. Ayahku, kakekku, kakek buyutku, laki-laki dan perempuan, semua harus hidup dalam aturan primitif seperti ini. Kami tidak bisa memilih. Karena semua sudah dipilihkan oleh para tetua. Ini bukan pernikahan dua orang saja, tapi dua perusahaan. Maka pernikahan akan membawa pengaruh besar bagi semua orang.” Kata Wooyoung menegang.

“Aku tidak bisa menyalahkan ayahku. Karena dia juga pernah mengorbankan gadis yang ia cintai dan harus menikah dengan ibuku. Aku mengerti karena aku berada di posisi yang sama sepertinya. Aku bisa terima. Setidaknya aku tidak akan meneruskan rantai kutukan ini pada keturunanku.” Lanjut Wooyoung. Taecyeon melongo tak percaya.

“Aku sempat memohon pada ibuku untuk membantu menangguhkan perjodohan_”

“Lalu?” Taecyeon menyambar.

“Kecuali aku ingin kehilangan restoran ini, tidak ada yang bisa kulakukan.”

Taecyeon bingung harus berkata apa. Jadi ia terpaksa diam. Berharap Wooyoung mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya lega. Suzy. Ia tidak tahu bagaimana jika gadis itu tahu tentang perjodohan ini sebelum Wooyoung menemukan jalan keluar. Ia di posisi yang sama dengan Wooyoung. Tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kau tenang saja. Semua yang terjadi disini, aku tidak akan lari begitu saja. Aku akan mengakhiri semuanya. Karena itu, selanjutnya aku mengandalkanmu.” Wooyoung tersenyum. Memandang Taecyeon dengan mata berkaca-kaca. Lalu cepat-cepat memalingkan wajahnya, menengadah ke drop ceiling kamar Taecyeon yang bercahaya redup. Dan air matanya mengalir lagi. Dari kedua sudut matanya yang tertutup.

***

Esok paginya kampus Gwanakdo SNU dibuat heboh dengan berita perjodohan dua perusahaan raksasa Korea, JungAang Ilbo dan JKGroup. Berita menyebar dari mulut ke mulut. Beberapa selebaran tertempel di dinding kampus. Sementara di salah satu sudut kampus, sekelompok mahasiswa yang tidak mendapat libur di akhir pekan, sibuk dengan Art Charity Event yang akan diselenggarakan mahasiswa Fakultas Seni SNU. Hingga tak ada yang lebih menarik daripada menyelesaikan proyek kemanusiaan sekaligus tugas kuliah mereka itu. Semua fokus pada tugas masing-masing.

Suzy menerobos koridor menuju ruang editing dengan setengah berlari. Ia harus segera mengedit video dokumenter tentang Foreign Visiting untuk mata kuliah Prof. Im. Karena satu minggu kedepan mahasiswa akan sibuk dengan pembuatan dokumenter Art Charity Event, Prof. Im mempercepat waktu pengumpulan. Tugasnya harus segera diemail sebelum tengah hari. Suzy datang lebih awal agar bisa menggunakan ruang editing lebih dulu. Beberapa teman sekelasnya juga baru saja masuk.

“Apa kalian sudah dengar berita pagi ini?” seorang mahasiswi berbisik pada kedua temannya di sela proses editing. Gayanya terlihat seperti leader dalam grup trio.

“Ah~ berita perjodohan itu.” Sahut temannya yang berambut sebahu, melepas lolipopnya. Suaranya cukup keras hingga mahasiswa lain menoleh ke arah mereka bertiga. Mahasiswi itu pun membungkam mulutnya dan menundukkan kepala sebagai permintaan maaf.

“Tentu saja! Seluruh Korea benar-benar dibuat gempar.” Sambungnya, kali ini berbisik pada kedua temannya.

“Beruntung sekali. Keturunan mereka tidak akan hidup miskin. Huh! Benar-benar tidak adil. Anak orang kaya hanya bisa menikah dengan sesamanya.” Temannya yang berdandan sedikit berlebihan, menimpali.

“Eh, tapi kalian perhatikan tidak wajah Jang Wooyoung. Sepertinya dia terlihat tidak begitu senang.” Komentar sang leader lagi. Sambil memamerkan video disitus JungAang Ilbo melalui ponselnya.

“Benar juga, ya. Berbeda sekali dengan Krystal Jung. Tsk! Gadis angkuh itu bagaimana bisa dia mendapatkan pangeran seperti Jang Wooyoung. Temanku adalah adik kelasnya. Dan gadis angkuh itu selalu bermuka masam. Kasihan sekali Jang Wooyoung harus menghabiskan sisa hidupnya dengan wanita seperti itu.” Mahasiswi Tukang Dandan itu kembali menimpali dengan nada sinis dan terlihat seperti mulai kehilangan kesabaran. Suaranya meninggi.

Suzy melepas headsetnya tepat ketika seorang mahasiswa meneriaki Trio Gosip yang mulai membuat suasana Ruang Editing tidak nyaman.

“HEY KALIAN BERTIGA!! BENAR-BENAR!! KALAU SUDAH SELESAI MENGEDIT, BERGOSIPLAH DI LUAR SANA! KETERLALUAN!! DASAR TUKANG GOSIP!” Teriaknya sambil menunjuk-nunjuk ketiga mahasiswi yang sedang asik bergosip dengan wajah garang. Ketiga mahasiswi itu langsung ambil langkah seribu sambil menggerutu.

Suzy kembali pada videonya yang telah selesai dirender. Ia mengusap ponselnya untuk melihat jam. Setengah jam lagi gladi bersih Art Charity Event dimulai. Paling tidak ia harus sudah sampai di convention hall sepuluh menit lebih awal.

“Selesai!!” Suzy tersenyum lega setelah mengunggah tugasnya ke email Prof. Im. Ia menyambar barang bawaannya dan bergerak menuju gedung Fakultas Seni.

Di sepanjang koridor gedung broadcasting beberapa  mahasiswa berkelompok dan berbincang. Suzy sengaja memperlambat langkahnya, mencoba mencuri dengar berita yang menghebohkan kampus. Sayang sekali ia tidak bisa mendengar percakapan dengan jelas. Akhirnya ia putuskan sesegera mungkin tiba di lokasi acara. Namun, lagi-lagi ia melewati mahasiswa yang sedang mengerumuni “Wall of Fame” –sebutan untuk area yang boleh ditempeli selebaran berita-berita penting bahkan tak jarang yang murahan sekalipun- di luar Gedung Broadcasting. Ia tidak percaya kalau tugas liputannya bisa membuatnya tidak gaul. Kali ini ia menyerah pada rasa penasarannya. Ia menyelinap di antara kerumunan mahasiswa. Ada beberapa lembar kertas tertempel di dinding. Suzy mengangkat badannya lebih tinggi dengan berjinjit di atas flat shoesnya. Tapi sayang selebaran yang sepertinya penting itu tertutup oleh mahasiswa yang bertubuh besar. Ia mencoba mencari tahu dari mahasiswi yang sedang berusaha keluar dari kerumunan setelah membaca selebaran.

“Permisi! Sebenarnya ada berita apa?” Suzy menahan lengan seorang mahasiswi.

“Kau tidak tahu?” Mahasiswi itu memandangnya dengan tatapan merendahkan. Seperti sedang berkata –Kau ini makhluk dari planet mana–  pada Suzy. Lalu melanjutkan dengan malas, “Itu tentang perni_”

“Bae Suzy!!!” Jonghyun berteriak ke arah kerumunan.

“A-a-a Sssssseoon-bbbaaae!” Mahasiswi yang sedang berbicara dengan Suzy pun tergagap. Kemudian menghilang dalam sekejap sebelum menyelesaikan kalimatnya.

Sebagai senior yang paling disegani karena kecerdasan dan ketampanannya, kehadiran Jonghyun membuat mahasiswa yang berkerumun di depan Wall of Fame menghilang secepat kilat dari pandangan Jonghyun.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Jonghyun dengan gayanya yang santai.

“Aku hanya lewat. Lalu__mereka__” Suzy menunjuk mahasiswa yang berlarian seperti lebah yang sarangnya diserang api. Kemudian menoleh lagi pada Jonghyun. “Oh, Seonbae,- Senior, apa kau tahu sebenarnya ada berita apa? Kampus kita sepertinya heboh. Apa Korea sedang genting?”

Jonghyun membeku karena tidak tahu harus bicara apa. “Apa ada yang lebih penting daripada tugas liputanmu?” Alih Jonghyun.

Suzy menepuk dahinya pelan. “Benar juga! Kalau begitu aku pergi dulu.” Katanya kemudian berlalu begitu saja.

Jonghyun mematung, memandang Suzy di kejauhan. Ia memutar tubuhnya ke arah Wall of Fame dan tiba-tiba merasa dadanya sakit sekali. Ia tersenyum dengan bibir yang bergetar. Kemudian bergerak menjauhi Wall of Fame menuju Convenient Store di Gedung Teknik.

***

Suzy berlarian menjangkau pintu Convention Hall. Ia berhenti sejenak begitu melewati pintu utama untuk merapikan rambutnya. Ia mengamati bayangannya di pintu kaca. Menarik senyumnya dan mencoba menyemangati dirinya sendiri.

“Bae Suzy!!!”

Suzy tersentak. Ia menoleh mencari sosok perempuan yang memanggilnya. Ia yakin itu bukan Krystal karena suara itu terdengar lebih ramah. Benar saja. Seorang mahasiswi menghampirinya dan itu bukan Krystal. Suzy menarik nafas lega. Ia malas bertemu dengan Krystal, karena mendengar namanya saja membuatnya tidak nyaman.

“Mahasiswi Broadcasting, Bae Suzy. Apa aku salah orang?” mahasiswi itu kini berdiri di hadapan Suzy. Ia berkata dengan yakin. Senyumnya yang ramah membuatnya terlihat manis. Ia menyodorkan sebuah ID Card pada Suzy.

Suzy memperhatikan sejenak benda tipis yang dikaitkan di seutas tali untuk dikalungkan di leher. ID Card untuk jurnalis. Ia melihat benda yang sama tergantung di leher Song Hana –Nama yang tertulis di ID Card-.

“Seorang wartawan tidak bisa hadir. Ambillah!” Kata Hana. Mengaburkan lamunan Suzy. Hana masih tersenyum. “Cepat pakai dan masuklah! Sebentar lagi acara dimulai.” Katanya lagi.

Suzy mengambil ID Card dari Hana dan mengalungkannya di leher. “Terima kasih!” Suzy membungkuk sebatas dada. Hana hanya membalas dengan tersenyum dan berlalu.

Hana mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetikkan sesuatu.

To : Soojung-ssi

Sudah kuberikan padanya. Kau berhutang satu lukisan padaku. :p

From : Soojung-ssi

Hehehe~ Terima kasih, Eonni. Akan kubayar di hari pernikahanmu, ya. Kekeke~

Seonbae!!”

Hana berbalik lagi ketika Suzy memanggilnya. Cepat-cepat ia menyembunyikan tangannya di saku blazer hijau lemon bersama ponselnya.

“Tapi Seonbae_ Kenapa kau memberikan ini padaku?” Tanya Suzy penasaran.

“Anggap saja kau beruntung.” Jawab Hana singkat. Ia cepat-cepat meninggalkan Suzy dan menghilang di antara mahasiswa seni rupa yang sedang menata benda pameran.

Suzy mengubah fokusnya pada Art Charity Event  dan mengabaikan asal usul ID Card-nya. Seperti kata Hana, ia anggap saja sedang beruntung. Suzy membidikkan lensa kamera ke beberapa titik yang dianggapnya menarik. Bergantian dengan video recordernya, memutari hall ke segala penjuru. Tiba-tiba ia menyadari ada sesuatu yang hilang. Ia tidak melihat Krystal Jung –Mahasiswi Seni yang Berpengaruh- beredar disana. Padahal lukisan Krystal juga akan ikut dilelang.

“Harusnya, kan dia ikut gladi bersih?” Gumamnya tanpa sadar. Namun detik berikutnya ia cepat-cepat membuang pemikiran menyebalkan yang tiba-tiba muncul hanya dengan memikirkan Krystal Jung.

***

This place has not changed over the years.” Nenek Camille bergumam pelan. Dara menoleh dengan alis bertaut.

Come inside!” Dara mengaitkan lengan pada Nenek Camille. Setelah berusaha memanggil Taecyeon dari depan restoran dan tak ada jawaban, Dara membuka pintu dengan kunci duplikat yang ia bawa. Dara, Taecyeon dan Wooyoung masing-masing memegang duplikat kunci restoran.

Dara membawa Nenek Camille duduk di spot terbaik Ramyeon Shop, yaitu lantai mezanine dekat madang. Ia duduk sebentar dan berbincang dengan sahabat ibunya itu. Kakek Guinto sedang mengikuti rapat pemegang saham JKLife. Karena itu Dara mengajak Nenek Camille ikut dengannya. Dara mengirim pesan pada Taecyeon. Memberi tahu kalau ia sudah di restoran. Taecyeon rupanya sedang ke kampus karena ada janji dengan seorang teman. Sementara Wooyoung sepertinya masih dalam perjalanan menuju restoran.

Dara dan Nenek Camille menikmati ramyeon buatan Dara. Meskipun rasanya tak seistimewa buatan Taecyeon, tapi Nenek Camille tampak menyukainya. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan, tapi mereka masih menunggu Wooyoung. Nenek Camille berencana membawa Dara pulang ke Filipina. Karena itu ia harus bicara pada Wooyoung sebagai atasan Dara. Nenek Camille begitu menikmati suasana restoran. Ia melihat jauh ke dalam madang sambil menyeruput bocha-teh tawar yang terbuat dari biji gandum. Sementara Dara memulai pekerjaannya di dapur.

Di luar hujan turun deras. Dara berkali-kali melihat ke jalan dari dapurnya yang terbungkus dinding kaca. Wooyoung dan Taecyeon belum juga datang. Padahal sudah hampir jam makan siang. Semua karyawan sudah sibuk di dapur. Dara merasa gugup. Ia reaksi Wooyoung saat ia menyampaikan niat pengunduran dirinya. Tapi memikirkan hal itu justru membuatnya bertambah gugup dan merasa bersalah.

Beberapa saat kemudian pintu restoran terbuka. Seorang pria yang baru saja turun dari mobil mendorong pintu dengan bahunya. Ia mengelap bagian jas yang terkena air hujan dan berjalan masuk ke restoran. Pandangan Dara mengikuti sampai pria itu menghilang di belakang counter.

Manager Noona, apa kau baik-baik saja?”

Dara terkejut. Ia menoleh dan mendapati wajah Cheondung tiba-tiba muncul di depannya.

“Aku tidak apa-apa. Kerjakan tugasmu sana!” perintah Dara, persis di depan hidung Cheondung.

Cheondung bersungut kembali ke cucian dagingnya begitu Dara melotot padanya. Padahal ia masih penasaran kenapa Dara terus memandangi Wooyoung sejak bosnya itu turun dari mobil. Dara hanya tersenyum di belakang Cheondung yang mengomel tak jelas. Ia melepas apron dan bergegas menuju Nenek Camille dengan kaki yang gemetar. Bersiap menemui Wooyoung yang baru masuk ke ruang kerja.

***

“Ada apa Noona?” Tanya Wooyoung cemas. Matanya memandangi wajah Dara yang tampak pucat.

“Ada hal yang ingin kusampaikan. Wooyoung-ssi, aku…”

“Noona, kau belum mengenalkan padaku.” Wooyoung mengkode Dara dengan matanya yang mengarah pada Nenek Camille.

“Aaah~ Emm~ ini teman nenekku.”

A Philppine?” Pandangan Wooyoung beralih lagi pada Dara. Dara mengangguk dan Wooyoung paham komunikasi selanjutnya akan bersifat bilingual.

Looks like I have seen you, Mrs? ” Ujar Wooyoung, mengangkat alis kirinya.

Nenek Camille tersenyum. Lalu mengulurkan tangannya pada pemuda di hadapannya. “Camille Guinto.”

Wooyoung meraih tangan wanita 70 tahun-an itu. “Wooyoung – Jang”

I attended Mr. Jung’s birthday party last night.

Aaah, apparently you meet there.” Gumam Wooyoung, masih menggenggam tangan Nenek Camille.

So, I’m sorry about your grandmother’s death.

Wooyoung merenggangkan genggamannya. Nenek Camille mendadak canggung dengan reaksi Wooyoung, lalu melepaskan tangannya.

Do you know my grandmother?”

Nenek Camille mengangguk pelan. “Twenty years ago I came to Korea with my husband to learn about cooking. And this restaurant has just reopened after your father, Woohan– Jang,  take over this place. Your grandmother is a nice lady. She teached us how to cook Korean dishes.” Ujarnya.

Wooyoung dan Dara menyimak. Wooyoung tampak tegang ketika Nenek Camille menarik nama ayahnya dalam pembicaraan mereka. Nenek Camille meneruskan ceritanya, tapi pikiran Wooyoung justru tidak pada tempatnya.

Reopened? Mengambil alih? Apa mungkin restoran ini sebenarnya bukan milik siapa pun termasuk aku dan ayah?”

Mr. Jang? Are you ok?”

I’m sorry. I listened. I just a bit surprised. Seems like you know better than me.” Wooyoung tersenyum dingin.

“I don’t need to explain, do I?”

Nenek Camille memasang wajah tanpa ekspresi dengan tangan menggenggam tangan Dara di bawah meja kerja Wooyoung. Wajah Dara terlihat merah padam.

“No. I’ll take care of that.” Wooyoung menatap tajam pada Nenek Camille.

You have to.” Balas Nenek Camille.

“I’ll take her home!” Katanya lagi.Perasannya sekarang di atas angin. Seperti berhasil menjatuhkan pion-pion catur dan menyudutkan Sang Ratu.

Wooyoung terdiam dengan tatapan melotot ke arah Dara. Dara balas menatapnya sambil menyerahkan surat pengunduran diri.

I reject!” Wooyoung bersandar di kursinya. Mencoba untuk tetap terlihat tenang.

Dara menegang dan hendak menyerang Wooyoung dengan sederetan argumen seandainya Nenek Camille tidak menyela.

“I can understand your situation. But you have no right to withstand your employee. Besides, she runs away without notice. It’s legal. Am I wrong?

“I’m sorry Mrs. Guinto, I understand why Miss Park really wants to quit. But I need time. It’s not like lying on one’s back and eating rice cakes.” Tegas Wooyoung. Ia mengalihkan pandangannya pada Dara. Mencoba mencari dukungan darinya setelah kalah argumen dari Nenek Camille.

“Noona, kau harus membantuku. Aku tidak ingin restoran ini berakhir. Taecyeon sudah pasti akan pergi musim dingin nanti. Ita bertiga harus bicara dan cari pemecahannya.”

“Karena itu Nenek Camille kemari untuk membantu mencari jalan keluarnya.”

Wooyoung akhirnya mau mendengarkan nasihat Nenek Camille setelah Dara meyakinkannya. Ketiganya mendiskusikan cara melanjutkan bisnis Ramyeon Shop tanpa Wooyoung, Dara dan Taecyeon. Wooyoung dan Nenek Camille saling pandang. Wooyoung ragu dengan cara yang diajukan Nenek Camille. Sementara itu Dara terus berusaha menenangkan Wooyoung yang kuatir akan masa depan restoran warisan neneknya.

***

Advertisements

10 thoughts on “Beast Boy Ramyeon Shop (Part 5)

  1. scene favorit itu waktu wooyoung sm taec berantem. dilema sekali mereka berdua ini,.tp dasar laki tetep aj maunya tonjok2an. tp cblah dipanjangin lg,..bakalan mewek lebih dr wooyoung nih saya.

    rada kayak sinetron nih waktu suzy yg ga jadi2 liat brita wooyong yg lg heboh. patah hatilah sih suzy kl wooyoung sm krystalion itu. walaupun taecyeon akan selalu ad di belakang suzy.
    btw kasian amat ini si wooyoung hrs jadi korban demi perjodohan. masalah orang kaya ini ga jauh dr perjodohan dan pernikahan buat mereka kykny cm sebates penggabungan dua perusahaan.
    ditambah lagi tuh masalah ramyeon shop n dara yg mau ngundurin diri,..waaah waaah,..come to me deh wooyoung 🙂

    ditungguin secepatnya part selanjutnya, ga pake lama ya thor,..hahahaha

    P.S
    sharw di twit or fb dong biar tw ad postan bru,..

    1. Pada intinya sih part ini sinetron sekali. XD rada susah nge-lebay-in adegan2 disini.

      Laki-laki yg gentle ga main pukul2an. Satu pukulan untuk menyadarkan. it’s enough. kalo berantem terlalu lama kasian Wooyoung remuk. wkakaka

      Ini cerita telat klimaks. Baru lah mulai dari sini tokoh2 berpengaruh bermunculan.

      Hua hua semoga bs kelar part selanjutnya. anyway kamsahamnida *bow bareng taec*

      ps: sdh konek wp sm twitter koq. jd kalo ada new post pasti ke share.

      1. Iya nih, semakin ke sini semakin banyak tokoh bermunculan,..

        tp ga dimention kan di twitternya?
        hehehe kebiasaanku cuma liatin mentionan aje,…

  2. eh iya,..

    btw krystal ini sukanya sama wooyoung atw teacyeon sih??
    regtangle love dong ya mereka ini,..

    suzy-wooyoung?
    suzy-taecyeon?
    wooyoung-kryatal? atw
    Taecyeon-krystal?

    skrg gw sukanya suzy-wooyoung deh jgn suzy-taecyeon,..cukup di dream high aje hahahaa

      1. Ya lah,..jgan entar tiba-tiba ada new pairing ya,.. apalagi tolong jangan munculin Kwon Jiah buat di pairing sama Taecyeon.

        *ngayal bareng hyuk*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s