Beast Boy Ramyeon Shop (Part 6)

PHOTO TEASER PART 6 EDIT

Main Cast:

(2PM) Ok Taecyeon

(Miss A) Bae Suzy

(2PM) Jang Wooyoung

(2NE1) Dara/ Park Sandara

Support Cast:

(FX) Jung Krystal

(CNBlue) Lee Jonghyun

Cameos:

Yenjit Horvejkul (Nichkhun’s Mother) as Camille Guinto

Kahi as Jang Sooyeon (Wooyoung’s Noona)

BoA as Song Hana

Sebuah lingkaran dengan high light merah melingkari nama Sooyeon-Jang yang muncul di layar berukuran 10 inch milik Nenek Camille. Melalui akun pribadinya, Nenek Camille menyelusup situs internal JKLife yang hanya diperuntukkan untuk para stakeholder dan Outside Director. Ia mengunduh file berkaitan dengan struktur dewan komite JKLife dan daftar asset berikut nilai saham yang akan ditunjukkannya pada Wooyoung. Nama Sooyeon-Jang mengisi salah satu kotak dalam diagram struktur dewan komite sebagai Director of JK Food and Beverage Business. Di sebelahnya, kotak kosong dengan label “on progress”  mengisi posisi Director of JK Law Service.

Tangan Nenek Camille berhenti dengan pena menancap di atas bagan. “Aku tidak bisa memberitahumu lebih banyak. Karena bagaimanapun kau masih “orang luar”. Meskipun pada akhirnya namamu akan berada disini!” katanya dengan nada serius.

Nenek Camille menyadari batasan bicaranya. Sebagai salah satu pemegang saham sekaligus outside director, ia tahu informasi internal perusahaan hanya dibagikan pada pihak-pihak tertentu saja. Tapi ia hanya ingin pemuda itu – Jang Wooyoung – tahu dimana posisinya kelak dalam perusahaan melalui gambaran susunan dewan komite.

Seorang dewan komite atau pemegang saham dapat memberikan pengaruh pada keputusan perusahaan.Tapi tidak  sembarang orang bisa menjadi bagian dari Diagram JKLife. Kualifikasi dasar yang harus dipenuhi adalah harus berusia minimal 25 tahun atau telah menyelesaikan pendidikan master atau berpengalaman lebih dari 10 tahun dalam bidang bisnis berkaitan dengan bisnis yang dikelola JKLife.

“Apa yang ada di pikiranmu?”

Wooyoung diam memandangi diagram yang dipamerkan Nenek Camille melalui notebook-nya. Dengan melihatnya saja Wooyoung sudah tahu tidak ada yang bisa dilakukan –Seorang Direktur On Progress – sepertinya. Ia tidak sanggup menjawab Nenek Camille dan hanya menahan pikirannya.

“Kau tidak bisa melibatkan Sooyeon-Jang. Dia berada pada posisi yang telah ditetapkan Chairman Jang. Dan akan sangat berbahaya jika masalah Ramyeon Shop diangkat ke Dewan Komite.”

Nenek Camille mengerti Wooyoung berada di jalan buntu hingga tak kunjung meresponnya. Ia lantas membuka file lain yang juga diunduh dari situs internal JKLife. File itu menampilkan deretan Daftar Aset JK Food and Beverage. Ia memperbesar tampilan pada bagian Regional Korea Selatan dan meminta Wooyoung membacanya perlahan.

Wooyoung berhenti pada Aset No. 5, setelah sempat melewatinya pada lap pertama ketika membaca daftar asset dengan cepat. Ia mengangkat kepalanya dari layar dan memandang Nenek Camille. Air matanya mengerling menutupi pupilnya.

South Korea Regional. Number 5 Asset. Ramyeon Shop. Direct Ownership in Woohan-Jang’s name with 78% shares and in Sooyeon-Jang’s name with 22% shares. Outside Director and shareholder are not allowed to take the shares.” Nenek Camille membacakan kalimat pada baris kelima yang menyita perhatian Wooyoung dan hampir membuatnya menangis. “TEMPORARY ASSET AND OWNERSHIP” lanjutnya sambil memperhatikkan perubahan ekspresi di wajah Wooyoung. Segaris senyuman mengembang tipis di antara keriputnya.

Ia meletakkan notebook di atas meja kopi yang berada di dekat pintu ruang kerja Wooyoung. Lalu mengusap punggung tangan Wooyoung yang gemetar. Nenek Camille menjelaskan kedudukan Wooyoung dan pengaruhnya terhadap keputusan perusahaan. Karena Wooyoung masih di bawah umur dan masih dalam masa studi, ia belum mendapat bagian apapun dari perusahaan. Termasuk kepemilikan atas asset yang diwariskan langsung padanya. Semua ditangguhkan sementara pada Chairman and CEO JKLife yaitu ayah Wooyoung. Namun, dengan kekuasaannya, Jang Woohan – Ayah Wooyoung – bisa menjadikan Ramyeon Shop sebagai asset permanen atas namanya.

***

“Kenapa? Dia tidak menjawab telponmu?” cibir Jonghyun dengan dialeg Busan kental. Melirik jengah pada Taecyeon yang sejak tadi mengusap-usap ponselnya .

“Apa mungkin dia sudah tahu?” Taecyeon mengoceh sendiri tanpa menjawab Jonghyun. Ia memang tidak mendengar Jonghyun karena pikirannya berada di tempat lain. Otaknya sedang penuh.

“Tulis saja pesanmu, nanti juga dia baca. Pasti dia sedang sangat sibuk sekarang.” Jonghyun masih bicara pada Taecyeon karena menyangka pria itu dalam kondisi yang baik jiwanya.

Taecyeon makin asik dengan ponselnya dan tetap mengacuhkan Jonghyun. Jonghyun mendengus kesal diabaikan oleh Taecyeon. Padahal Taecyeon lah orang yang membuatnya harus keluar asrama di hari libur seperti itu.

Taecyeon akhirnya mengetikkan sesuatu di ponselnya. Seolah bergerak sesuai perintah Jonghyun.

From: Taecyeon-ah

Apa kau sibuk?

Suzy membaca gelembung baru berisi pesan dari Taecyeon sambil berdiri membelakangi Wall of Fame. Dengan tangan yang gemetar, ia mengirimkan jawaban “ya” sebagai balasan sms Taecyeon. Pesan berikutnya masuk dalam hitungan detik dan masih dari pengirim yang sama. Ia hanya membacanya tanpa merespon cepat. Ia mengecek daftar panggilan di ponselnya. Nama Taecyeon berderet vertikal memenuhi layar, ditandai sebagai Panggilan Tak Terjawab. Sebenarnya ia ingin mengabaikan saja tapi usaha keras Taecyeon mengubah pikirannya.

Drrrrrr~

Ponsel Taecyeon bergetar dalam genggamannya. Ia memang sedang menunggu balasan dari Suzy saat mengatakan ingin bertemu dengannya.  Tapi tidak menyangka Suzy akan menelponnya.

“Taecyeon-ah, ada apa?”

Sekali lagi Jonghyun melirik Taecyeon. Kali ini wajahnya terihat lebih cerah setelah mendapat telepon dari Suzy.

“Kau dimana? Aku ingin bicara.”  Alih-alih menjawab Suzy, Taecyeon malah meracau.

“Bagaimana ya? Tapi aku sedang dalam perjalanan pulang. Apa ada hal penting?”

“Aku merasa tidak tenang jadi aku harus mengatakannya padamu.”

Suzy terdiam. Ia merasa tiba-tiba sulit bernafas.Ia menduga Taecyeon akan memberitahunya tentang sesuatu yang dapat melukainya. Karena itu Taecyeon tidak mengatakannya di telepon. Taecyeon tidak pernah mengatakan hal penting lewat telepon.

“Suzy-ah, sebaiknya ku beri tahu saat kita bertemu saja.” Tukasnya.

“Sepertinya sesuatu yang penting. Kau dimana? Apa perlu aku menyusulmu?” Suzy mengendalikan nada suaranya agar Taecyeon tak curiga. Pandangannya tetap lurus ke depan.

“Tidak! Tidak! Kau kan sudah di jalan pulang. Lain waktu saja.”

Jonghyun mengamati wajah Taecyeon yang kembali muram.

“Kau susul saja!” ujarnya, tak tega.

Taecyeon menggeleng lemah. Akhirnya menyahut Jonghyun. “Mereka menyuruhku cepat kembali ke restoran.”

Jonghyun mengernyitkan dahi. Sesuatu terjadi di restoran, pikirnya.

Taecyeon tertunduk meremas ponsel dalam genggamannya. Sebelum memutuskan mengabari Suzy tentang keberhasilannya mendapatkan beasiswa sekaligus mencari tahu bagaimana keadaan gadis itu setelah berita pertunangan Wooyoung menyeruak, Taecyeon tidak pernah bisa berkonsentrasi pada apapun. Pikirannya dipenuhi bayangan sedih wajah Suzy. Kepalanya terasa sakit begitu pula hatinya. Sejak kejadian di aula Gedung Jung-Aang Ilbo, ia seperti mengalami depresi.

Mungkin bagi orang lain hanya Suzy, Wooyoung dan Krystal yang terlibat dalam masalah itu. Ia juga tidak ingin ikut campur seandainya saja orang yang akan terluka jika pernikahan itu benar-benar terjadi adalah Suzy. Seandainya ia bisa membenci Wooyoung yang jadi tidak berdaya karena ayahnya. Bahkan jika akhirnya Suzy bisa bersama dengan Wooyoung pun ia mungkin bisa mengobati sakit hatinya lebih cepat daripada melihat Suzy tang terluka.

Saat pertama bertemu Suzy di perpustakaan pada musim semi 3 tahun lalu, Taecyeon sudah menyukainya. Hanya karena Wooyoung bergerak lebih cepat, Taecyeon mengubah caranya memandang Suzy sebagai seorang wanita. Tapi dalam hatinya Suzy tetap gadis yang ia cintai.

“Jika pada akhirnya ia terluka, maka semuanya adalah salahku.” Kata Taecyeon pada Jonghyun, meski terdengar seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.

Jonghyun menarik bahu Taecyeon, menepuknya pelan. Tanpa bicara lagi, sekedar untuk menenangkan, ia mengajak Taecyeon berjalan meninggalkan kampus. Di seberang gedung tempat mereka berdiri, Suzy sedang mengamati dengan hati yang sama hancurnya dengan Taecyeon. Sama sakitnya dengan hati Jonghyun pula, seandainya dunia tahu bahwa ia juga tokoh dalam drama Kawin Paksa Dua Keluarga Konglomerat.

Suzy memilih menghindar karena takut pada kenyataan yang akan disampaikan Taecyeon saat bertemu dengannya. Kenyataan yang sebenarnya sudah ia ketahui sendiri.

***

Wooyoung dan Dara mengantar Nenek Camille ke depan restoran setelah pembicaraan mereka berakhir. Meskipun Dara absen mendengarkan saat Nenek Camille dan Wooyoung terlibat pembicaraan serius dan memilih kembali ke dapur, Dara bisa melihat ada titik terang di wajah Wooyoung. Dara mendongak ke langit tanpa sebab. Hanya saja perasaannya sedikit lebih baik.

Dara masuk lebih dulu setelah taksi yang membawa Nenek Camille menjauh dari pandangan. Wooyoung tersadar kemudian mengejar langkah Dara.”Noona, kau mau kemana?”

Dara mengangkat apron sebagai jawaban bahwa ia akan kembali ke dapur. Wooyoung berjalan mendekati Dara, mengambil apron dari tangan Dara. Sementara tangannya yang lain memegang tangan Dara.

Noona, kembalilah ke ruanganku!” Wooyoung menatap penuh harap. Dara mengangguk pelan dan mengikuti Wooyoung tanpa membantah.

“Kukira kita akan menunggu Taecyeon untuk membahas masalah ini.”

“Tentu saja. Hanya saja ada hal lain yang ingin kutanyakan.”

Dara tersenyum. Wajah Wooyoung kembali cerah seperti biasa. Untuk pertama kali Dara merasa melihat orang lain saat Wooyoung menampakkan ekspresi penuh keseriusan di tengah perbincangan dengan Nenek Camille.

Noona, boleh ku tahu apa mimpimu?” Wooyoung mengerjap memandang Dara.

“Uh?” Dara terhenyak. Ia bukannya tak menduga Wooyoung akan menanyakan hal itu. Tapi ia sendiri sulit mempertahankan mimpinya. Lalu bagaimana ia harus menjawab Wooyoung.

“Kenapa kau tiba-tiba ingin tahu?”

Wooyoung memutar bola matanya lalu menatap Dara. “Aku penasaran, apa kembali ke Filipina adalah mimpimu.”

“Mungkin.”

Wooyoung mengerutkan kening mendapat jawaban mengambang dari Dara.

“Wooyoung-ah, ada dua hal dalam hidup ini, mimpi dan tanggung jawab. Mimpiku adalah kebebasan. Tapi aku punya tanggung jawab yang tidak mengijinkanku melakukan semuanya dengan bebas.”

“Mana yang akan Noona pilih? Mimpimu atau tanggung jawabmu?”

Dara diam sejenak. Ia tidak ragu dengan pilihannya, tapi ia merasa sebuah penjelasan singkat lebih bisa membuka pikiran Wooyoung daripada sekedar mengambil contoh dari tindakannya.

“Mimpi adalah janji yang kau buat dengan dirimu sendiri. Tapi tanggung jawab bukan hanya janji pada dirimu melainkan juga pada orang lain. Jika kau meninggalkan tanggung jawabmu, berarti kau mengecewakan dua sisi.”

Wooyoung mengangguk dan menyimpulkan jawaban Dara di otaknya.

“Maaf aku terlambat. Di luar hujan deras sekali.” Taecyeon muncul tiba-tiba dari balik pintu dalam keadaan basah kuyup seperti anak kucing yang baru saja jatuh ke sungai. Hanya kepalanya yang berada di zona ruang kerja Wooyoung.

Wooyoung meringis melihat rambut Taecyeon lepek seperti habis terkena badai. Air dari kepalanya bergelayut di ujung rambut, bersiap terjun bebas ke atas karpet. Wooyoung melonjak dan berteriak pada Taecyeon. “Ya!! Ok Taecyeon! Berapa kali kubilang untuk bawa payung saat cuaca buruk!”

Dara menoleh kaget mendengar teriakan Wooyoung. Baru saja ia melihat betapa dewasanya Jang Wooyoung ketika ia berhadapan dengan Nenek Camille. Sekarang ia melihat diri Wooyoung yang sebenarnya telah kembali, begitu bertemu Taecyeon. Dara terkekeh melihat kelakuan kedua hoobae – junior – nya.

“Apa? Payung? Hey, aku bukan anak gadis. Memangnya aku ini kau, selalu bawa payung.” Balas Taecyeon, rupanya sengaja menyulut emosi Wooyoung.

“YAAA!!! KAAAUU!!” Wooyoung mengarahkan telunjuknya pada Taecyeon yang menggelantung di daun pintu.

“Kenapa? Kau mau aku masuk dan berkelahi denganmu dalam keadaan basah kuyup dan membasahi karpet kesayanganmu? Tsk! Yang benar saja.”

“Jangan bergerak seinchi pun kemari!! Cepat mandi dan kembali kesini!!” suara Wooyoung kembali menggelegar. Sementara Dara masih tertawa, Taecyeon terus menggoda Wooyoung sengaja membuatnya marah.

“Ahhhh! Kau membuat karpetku basah!!” teriak Wooyoung frustasi.

Taecyeon mengabaikan teriakan Wooyoung dan berlari ke kamarnya, sambil berdesis “Tsk! Kalau sudah begitu dia jadi mirip Sooyeon Noona.”

***

“AAAAAAAKKKK!!!” Taecyeon berteriak kaget di muka pintu kamarnya yang terbuka. Ia berpegangan erat pada kusen pintu. Meski tidak memiliki riwayat penyakit jantung, ia memang gampang terkejut.

Seorang wanita berambut cokelat –gelap – sebahu sedang duduk di meja kerjanya. Wanita itu menoleh lalu meletakkan lagi figura yang mebingkai foto Taecyeon dan Wooyoung di meja. Ia menahan tawanya melihat penampilan Taecyeon ditambah wajah pucatnya saat kaget.

Noona sedang apa disini?” Taecyeon menarik langkahnya mendekati meja kerja. Jantungnya masih berdegup cepat.

Wanita itu berdecak sambil menahan tawa. “Memangnya aku tidak boleh kemari?” Wanita itu berdiri, berjinjit menjangkau kepala Taecyeon dan mengacak-acak rambut Taecyeon yang basah.

“Aku ingin makan ramyeon. Cepat mandi! Aku tunggu di bawah.” Katanya kemudian tersenyum.

“Apa Wooyoung tahu Noona kemari?” Taecyeon masih belum mempercayai kedatangan kakak perempuan Wooyoung yang seperti tiba-tiba. Sooyeon tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan meninggalkan Taecyeon sendirian.

Sooyeon duduk di Pojok Khusus yang selalu dibiarkan kosong. Sekilas ia melihat ukiran huruf latin “SW” di salah satu sudutnya ketika akan meletakkan tas di meja. Membuatnya tersenyum getir.

Noona, ini!” Taecyeon menyodorkan semangkuk seafood ramyeon di meja. “Makanlah selagi panas! Wooyoung menungguku di ruang kerjanya.” Katanya lagi dengan terburu-buru.

Sooyeon berdehem mengiyakan. Matanya mengamati ramyeon yang dibuat Taecyeon untuknya. “Sepertinya penampilan baru.” Celetuknya.

“Krys __” Tenggorokan Taecyeon tercekat. Ia cepat-cepat mengambil nafas. “Rupanya dia membantuku karena Wooyoung.” Desisnya.

Sooyeon membiarkan saja saat Taecyeon meninggalkannya di meja. Ia yakin Taecyeon baru saja mengatakan sesuatu, tapi begitu pelan.

Taecyeon masuk dan langsung duduk dengan nyaman di antara Wooyoung dan Dara.

“Wooyoung-ah, Sooyeon Noona ada disini.” Beri tahu Taecyeon.

Wooyoung terlihat kaget. Sesuai dugaan Taecyeon rupanya mereka tidak datang bersama.

“Dia sedang makan ramyeon. Kurasa kita bicara saja sekarang. Ada apa tiba-tiba mengadakan rapat di luar jadwal?” Taecyeon memandangi Wooyoung dan Dara bergantian.

Dara melempar pandangannya pada Wooyoung. Karena ia sendiri pun ingin tahu apa yang terjadi saat Wooyoung bicara berdua saja dengan Nenek Camille. Wooyoung kemudian memberi tahu rencana yang ia buat dengan Nenek Camille. Sepanjang penjelasan, Taecyeon terlihat serius, terkadang raut wajahnya berubah gusar.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Wooyoung di akhir pemaparan.

“Apa kau yakin?” Taecyeon menatap Wooyoung cemas. “Maaf Noona, aku tidak bermaksud mencurigai Nyonya Guinto.” Sekarang Taecyeon berbicara pada Dara. Kemudian kembali lagi pada Wooyoung, “Tapi, Wooyoung-ah bukankah rencana ini terlalu beresiko?”

Sesaat Wooyoung nampak ragu. Tapi tidak ada cara lain yang menurutnya memiliki persentase kemungkinan keberhasilan lebih besar.

“Kalau begitu apa kau punya pandangan lain?” Wooyoung menatap Taecyeon tajam.

Taecyeon menggeleng. Ia sendiri tidak tahu soal bisnis. Ia hanya percaya dengan keputusan Wooyoung. Itulah yang dinamakan insting bisnis. Selalu ada kemungkinan untuk berhasil.

“Nyonya Guinto bilang ini memang terlalu beresiko. Aku hanya perlu mencari shareholder fiktif untuk mengambil alih Ramyeon Shop dan menunggu hingga aku cukup memenuhi kualifikasi Dewan komite untuk memiliki restoran ini sepenuhnya.”

“Sementara aku mencari orang itu, aku harap kalian menemukan pengganti kalian sebelum meninggalkan Korea. Aku tidak bisa melakukan semua ini sendiri.”

“Kau harus berhati-hati. Ayahmu punya rekam data shareholder. Kau tidak bisa melibatkan nama-nama yang berada dalam Dewan komite.” Dara mengingatkan, disambut dengan anggukan dari Wooyoung.

“Kapan Noona akan kembali ke Filipina?” Alih Wooyoung tiba-tiba.

“Begitu aku yakin dengan nama yang diajukan Nenek Camille akan bisa membantu restoran, aku akan mengenalkannya padamu. Jika kau setuju barulah aku mengurus kepulanganku.”

“Kalian bagaimana?” Dara menujukan rasa ingin tahunya pada dua pria di hadapannya.

Wooyoung merespon lebih dulu, “Aku akan menyelesaikan satu hal lagi. Tapi aku akan berangkat lebih dulu daripada kau, Taec.” Katanya lalu menoleh Taecyeon.

“Berarti musim dingin nanti kau sudah di Amerika, ya. Aku akan menikmati salju pertamaku di Busan.” Kata Taecyeon sembari tertawa hambar.

***

Wooyoung berjalan mendekati Pojok Khusus dengan langkah yang terasa berat. Seorang wanita menunggu dan memandang tajam ke arahnya, siap menginterogasi. Wanita itu adalah orang yang paling ingin ia hindari. Karena bagi Wooyoung, dia adalah Master Pembaca Pikiran. Ia tidak ingin wanita itu tahu betapa frustasinya ia belakangan ini.

“Kenapa tidak melihat mataku?”

Wooyoung menghela nafas dan memberanikan diri melirik wanita di hadapannya.

Noona, sudah kubilang jangan kemari, kan” katanya, kemudian mengalihkan pandangan lagi.

“Dan jangan menatapku seperti itu.” Wooyoung menggosok-gosok belakang lehernya, ketika pandangan Sooyeon menatap jauh ke belakangnya.

“Ya!!” Sooyeon menghentikan Taecyeon yang sedang berlalu di depan Pojok Khusus, hendak menyusul Dara di dapur. Taecyeon menoleh dan bertingkah aneh seperti Wooyoung. Ia menghindari kontak mata dengan Sooyeon. “DUDUK!” Perintah Sooyeon dengan nada dingin. Taecyeon terpaksa patuh. Ia duduk tertunduk di sebelah Wooyoung.

Es-seu-nim-i nugunya? – Siapa itu Nona-S?”

Wooyoung dan Taecyeon seperti tersambar petir, mengeras di tempatnya. Keduanya spontan memandang Sooyeon. Wooyoung menoleh Taecyeon dengan tatapan curiga. Taecyeon tak terima dan balas melotot. Mulutnya bergerak-gerak memberi kode “Bukan aku” pada Wooyoung. Keduanya memandang Sooyeon lagi kemudian tertunduk dengan tangan terkait di pangkuan masing-masing.

Sooyeon mengetuk sudut meja dengan padangan terkunci pada Dua Pria Tak Berdaya di depannya. Seperti dugaannya, tak ada seorang pun dari kedua pria itu yang berani buka mulut. Ia menghela nafas. “Lupakan! Akan kucari tahu sendiri.”

Taecyeon cepat-cepat meninggalkan Pojok Khusus setelah Sooyeon memutuskan tidak mengungkit lagi soal Nona S.

“Apa ayah tahu Noona kemari?” Tanya Wooyoung, sesekali pandangannya beralih ketika bertemu dengan tatapan mengintimidasi Sooyeon.

“Tidak. Aku bilang akan mengunjungi Paman Yoon di Apgujeong.” Jawab Sooyeon santai. “Kau lelah?” tanyanya.

Wooyoung megangkat kepalanya dan menatap Sooyeon. “Noona, kau lah yang lebih lelah.”

Sooyeon mengangguk setuju. Ia sendiri bernasib tak jauh berbeda dari adiknya, dari ayahnya, kakeknya, sepupunya, pamannya, dan anggota keluarganya yang lain, yang memilih atau tak punya pilihan untuk menentukan kehidupan mereka.

“Karena itu berkacalah pada diriku!” kata Sooyeon pelan.

“Aku tidak ingin berakhir seperti Noona.” Alih-alih mengasihani dirinya sendiri, Wooyoung malah bersimpati pada nasib kakaknya.

“Kalau begitu berusahalah. Kau menyukai Krystal?” Tanya Sooyeon. “Tidak. Maksudku, kau bisa bahagia bersamanya?” ralatnya.

Wooyoung diam tak menyahut. Hanya sekelebat bayangan wajah Suzy berputar di pikirannya.

“Bagaimana dengan Krystal?”

Wooyoung mengangkat bahu. Ia sendiri tak punya ide tentang gadis yang dijodohkan dengannya itu. Meski ia berharap Krystal berlayar di perahu yang sama dengannya, tapi mengingat senyum Krystal malam itu, harapannya bisa pupus kapan saja.

“Aku sendiri menolak saat dijodohkan dengan Yoon Songjoo – Kakak Iparmu – tapi pria itu tidak bisa diajak bekerja sama. Hubungan tidak akan berhasil jika hanya satu pihak yang berjuang. Songjoo-ssi bersikeras menikah denganku. Maka itu lah akhir usahaku.”

“Jika hanya kau seorang yang menentang perjodohanmu, maka kau akan berakhir sepertiku.” Lanjut Sooyeon, memperingati adiknya.

***

Wooyoung menepikan mobil di pemberhentian bus dekat Gedung I – 49, tempat digelarnya Art Charity Event. Seorang wanita turun dari kursi penumpang dan melambai dari jendela seraya tersenyum. Wooyoung memberi tahu akan menjemputnya setelah acara selesai. Sementara ia akan menyiapkan berkas sidang di Firma Pengacara Lee.

Karena tujuannya berada pada arah Stasiun Nakseongdae, Wooyoung memilih keluar kampus melalui Gerbang Belakang dekat Asrama Mahasiswa. Ia pernah melewatinya beberapa kali saat mengantar Taecyeon ke stasiun, jika sahabatnya itu akan pulang ke Busan bersama Jonghyun.

Pada pertigaan setelah melewati Gate-12, ia berbelok ke kiri. Tidak jauh dari tempatnya berbelok, di Komplek – J terdapat lapangan olah raga yang menghadap ke jalan raya. Bekas hujan kemarin masih menggenang di beberapa titik lantai betonnya. Tidak ada yang berolah raga disana. Di akhir pekan, apalagi setelah hari hujan, tidak banyak mahasiswa yang tertarik berolah raga.

Wooyoung memperlambat laju kendaraannya dan menepi di dekat Pemberhentian Bus. Ia melihat Krystal bersama seorang pria berdiri di pinggir lapangan. Awalnya ia bermaksud mengabaikan apa yang ia lihat, tapi pria yang bersama Krystal tidak asing baginya. Keduanya berdiri berhadapan dan terlihat tegang.

Krystal terus berbicara pada pria di hadapannya. Matanya tak berhenti memandang lawan bicaranya itu. Wajahnya memerah karena emosi yang meluap. Terkadang semburat urat di lehernya yang jenjang naik ke lapisan terluar kulitnya yang putih. Sementara pria yang disebut sebagai lawan bicara itu tak menggerakkan mulutnya sedikit pun. Mungkin terlihat sedang mengabaikan Krystal, tapi ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk bicara.

Sudah lebih dari 10 menit sejak suasana menegang dan Wooyoung masih jadi penonton satu-satunya yang setia. Wooyoung tidak tahu apa yang keduanya bicarakan. Dari jarak sejauh itu, ia seperti sedang menyaksikan Film Bisu. Ia hanya bisa menerka.

Tiba-tiba Wooyoung menyaksikan Krystal terdiam, setelah banyak kata yang diucapkan sepanjang “pertunjukan”,  ia terlihat putus asa. Wooyoung meremas kemudi tanpa sadar. Ia tahu Krystal akan segera menangis. Wajah gadis itu sudah seperti daun pohon Maple yang akan gugur. Tinggal menunggu angin berhembus lebih dekat lantas ia jatuh.

Air mata Krystal akhirnya jatuh. Jonghyun, yang sejak tadi berdiam diri, sekarang malah terlihat yang paling menyedihkan. Ia menarik Krystal dalam pelukannya dan membiarkan tangis Krystal tumpah. Ia mendekapnya erat sekali seakan takut gadis itu meninggalkannya.

Wooyoung terkesiap. Hatinya mencelos. Tidak. Hatinya sakit. Ia merintih dalam hati. Melihat hal yang begitu melegakan baginya ternyata justru membuat hatinya semakin sakit. Ia tidak perlu mencari tahu bagaimana Krystal memandangnya, karena gadis itu hanya memandang Jonghyun. Wooyoung menangkupkan wajahnya di atas kemudi dan meraung sendirian. Ia sedang menangisi dirinya sendiri. Di saat orang lain berjuang agar bisa bersama dengan orang yang mereka sayangi, ia justru menyakitinya.

***

Convention Hall tempat Art Charity Event digelar sudah mulai sepi ketika Wooyoung muncul dari balik lift. Beberapa tamu melewatinya saat berusaha keluar lift. Ia bukan tamu, karena acara baru saja selesai beberapa menit sebelum ia tiba. Tapi penampilannya terlihat begitu formal dengan setelan jas hitam lengkap dengan dasi. Sebenarnya karena terburu-buru, ia jadi lupa menanggalkan jas di mobil.

Wooyoung merapikan jasnya dan memilih berdiri di luar ruangan sembari menunggu Suzy. Ia melongo melalui pintu yang terbuka, memutar pandangannya mencari Suzy. Tapi gadis itu seperti luput dari pandangannya. Ia mulai terlihat resah menunggu lama sementara Suzy tak muncul juga. Padahal ia yakin tidak terlalu terlambat menjemputnya.

Wooyoung mondar-mandir di depan pintu hall dengan ponsel yang terus melekat di telinga. Suzy tidak menjawab telponnya. Ia teringat Suzy bilang padanya mendapatkan ID Card dari seorang panitia, jadi ia mencoba mencari Suzy di Akses Khusus Panitia dan Tamu.

Dari arah yang ia tuju, Krystal muncul menggandeng seorang gadis dan  terlihat akrab dengannya. Wooyoung berusaha bersikap biasa meski sebenarnya ia ingin putar arah dan menghindari Krystal. Terutama setelah apa yang ia lihat tadi pagi.

Seonbae – Senior” Wooyoung menundukkan kepala menyapa Krystal dan gadis yang disebutnya seonbae.

Song Hana balas menyapa Wooyoung sementara Krystal tetap membeku. “Bagaimana tugas magangmu?”

Krystal menoleh sepupunya. Jelas sekali ia nampak kaget padahal Hana tidak pernah dipertemukan dengan pria yang dijodohkan dengannya. Wooyoung menangkap basah ekspresi terkejut Krystal, tapi mengacuhkannya begitu saja.

“Menyenangkan. Sayang sekali minggu depan jadwalku berakhir.”

“Jihoon hyung banyak membantuku.” Sambung Wooyoung. Terlihat perubahan rona pipi di wajah Hana ketika kekasihnya disebut-sebut Wooyoung.

“Aku tidak tahu kau tertarik juga dengan seni.” Hana mengalihkan pembicaraan karena menduga Wooyoung adalah salah satu tamunya.

“Aku datang menjemput teman. Dia dari Jurusan Broadcasting dan sedang bertugas mendokumentasikan acara kalian.” Wooyoung sedang menjelaskan tentang Suzy.

Song Hana mengangguk. Krystal mendengus dan sepertinya tampak tidak betah berlama-lama diabaikan.

“Mungkin kau melihat Suzy, Krystal-ssi?” Wooyoung menatap Krystal, diikuti kebingungan di wajah Hana yang bertanya situasi macam apa yang sedang terjadi. Bagaimana keduanya bisa saling mengenal.

Krystal menggeleng malas kemudian membuang muka sambil menggamit ujung lengan Hana.

“Apa yang kau maksud Bae Suzy?” Hana mencoba memahami cerita. “Kurasa dia kurang enak badan, begitu acara selesai dia langsung pamit.”

Song Hana cepat-cepat undur diri karena Krystal terus menarik-narik ujung blazernya dengan muka masam. Hana cukup paham kode Krystal yang satu itu- Aku Benci Basa-Basi Cepat Pergi dari Sini-. Hana tampak mengomel ketika Krystal menyeret langkahnya menuju lift.

Jika hanya kau seorang yang menentang perjodohanmu, maka kau akan berakhir sepertiku.

Kata-kata Sooyeon kemarin menggema begitu saja di telinganya. Terdengar jelas seperti sedang diulang dengan pengeras suara. Cukup untuk membuatnya tersadar bahwa ia telah melewatkan kesempatan berharga.

“Krystal-ssi!” Wooyoung berbalik mengejar Krystal yang sudah berdiri di dalam lift. Krystal refleks menekan tombol “Hold”. “Kita perlu bicara.”

***

ps: Ya Allah maaf ya ini tulisan apa panjang banget. huhu. kapok lah bikin ff series udh kaya telenovela. besok2 mau bikin yg lucu2 aja. Anyway yg bertahan dari part 1 sampe part 6 xie xie so much. The Last Part will post in very short time.

Advertisements

3 thoughts on “Beast Boy Ramyeon Shop (Part 6)

  1. Eeeiy,..satu part lagi ya?

    Heeem abis baca ini yg paling nempel di otak tuh omongan dara ttg mimpi dan tanggung jawab,,.setuju deeh,..
    Tp apa dara bakalan mengorbankan mmimpi demi tanggung jawab?

    Jadi suzy dah tw ya soal perjodohan WY kristal? Waah, udah dek, nyerah aja biarin WY sm krystal,..masih ada taec,..
    Jonghyun biar sama aku aja kkkkk

    1. Satu part lg. Cm lg setting ending. Hahaha
      He eh dah tau, baca sendiri akhirnya di wall of fame. Huaaaa pengen ksh feel Pacar Kim Won di the heirs pas baca pertunangan kim won sm cewek laen.. tp suseee..

      Sebenernya sih yg paling kasian disini tuh wooyoung. Ndak bs ngapa2in. pasrah.

      Eh jgn lah jonghyun ga dpt pasangan. Wkakaka cukup we, aku ndak berniat menambah cast. Jd jonghyun di pair sm yg lain aje.

      Pokoknya suzy-taecyeon.wooyoung terserah meratap aja di part akhir. XD

      1. Cruel jg nih,..
        Yap setuju deh yg plg kasian itu wooyoung,..tp jgn ga dpt apa2 dong woooyongnya,..
        Apes bgt doi kl suzy ga dpt ramyeonshop jg ga dpt,..
        Oke oke,..will wait deh endingnya,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s