Beast Boy Ramyeon Shop (Part 7 – Final)

PHOTO TEASER PART 7

Recommended song : Lee Seunggi – Last Word

Main Cast:

(2PM) Ok Taecyeon

(Miss A) Bae Suzy

(2PM) Jang Wooyoung

(2NE1) Dara/ Park Sandara

Support Cast:

(FX) Jung Krystal

(CNBlue) Lee Jonghyun

Cameos:

(SNSD) Kim Taeyeon – Kim Cordy

(EXO) Kris – Yifan

“Yang paling menyedihkan bukan saat cinta bertepuk sebelah tangan. Melainkan saat dua orang saling mencintai tapi mereka tidak bisa bersatu…” –author-

“Aku melihatmu tadi pagi.” Beri tahu Wooyoung, disertai dentingan dari cangkir cokelat panas milik Krystal yang menubruk saucer –piring tatanan.

Gadis itu hampir menjatuhkan cangkirnya karena kaget. Ia sedikit panik. Tapi ekspresi sedingin es itu mampu menutupinya.

“Kau memata-mataiku?” tuduhnya dingin. Wooyoung menggeleng santai.

“Baiklah. Kurasa kita tidak perlu membahas tentang apa yang kau lakukan bersama Jonghyun tadi pagi. Jadi __”

Krystal memotong cepat. “Kalau kau tidak tertarik dengan hubunganku dan Jonghyun untuk apa kita bicara. Kau egois sekali rupanya, Jang Wooyoung-ssi.”

Wooyoung menelan ludah. Sepertinya tidak ada yang salah dengan kata-katanya, hanya saja gadis itu terlalu sensitif.

“Kalau begitu kenapa kita tidak mendayung perahu yang sama saja?”

Tatapan Krystal seketika berubah. Ia tahu arah pembicaraan Wooyoung.

“ Kita sedang mengarungi sungai yang sama bukan? Perjodohan di jaman modern membuatku gila. Kau di perahumu dan aku di perahuku. Kita sama-sama sedang berusaha kembali ke hulu. Kau dengan caramu dan aku dengan caraku, tapi arus sangat deras mengalir ke hilir. Apa menurutmu tidak sebaiknya kita mendayung perahu yang sama?”

Tatapan mata Krystal melembut. Ia menggiggiti bibir bawahnya, nampak ragu-ragu.

“Aku butuh bantuanmu, Jung Soojung-ssi.” Wooyoung menatap penuh harap pada gadis di hadapannya. “Kumohon.”

“Kau dan aku bisa saja membatalkan perjodohan hari ini juga. Tapi berpikirlah, murka apa yang akan kita terima setelah itu. Pikirkanlah bagaimana Jonghyun.”

Krystal teringat beasiswa yang didapat Jonghyun dari pemerintah Korea dengan susah payah agar bisa belajar ke luar negeri. Jika sampai ayahnya tahu tentang Jonghyun, dia tidak akan melepaskannya. “Apa rencanamu?”

Kedua mata Wooyoung berbinar. Ada bongkahan es yang meluncur dari dadanya ke perut. Lega.

“Kudengar kau juga akan melanjutkan studi ke Amerika. Jonghyun juga, kan? Anggaplah kita bersembunyi di sana untuk sementara waktu. Jadi selama masa studi, tetaplah berpura-pura patuh dan menerima perjodohan ini.”

Tak ada sahutan dari Krystal. Ia masih mengunci mulutnya. Nampaknya akan menerima saja rencana penggagalan perjodohan yang dibuat Wooyoung.

“Ada tanggung jawab yang harus kupenuhi. Kau tetaplah pada mimpimu dan Jonghyun. Aku akan menyelesaikan studi lebih cepat. Begitu kembali ke Korea dan berhasil masuk jajaran dewan komite, aku langsung menemui ayahmu dan membatalkan perjodohan.”

“Wah! Jadi tujuanmu hanya agar bisa duduk sebagai dewan komite? Tsk!” Krystal mencibir.

“Tanpa jabatan itu, aku tidak bisa mendapatkan kepemilikan penuh atas Ramyeon Shop. Lagipula cara ini sama sekali tidak merugikanmu.” Bantah Wooyoung. Tak terima dicibir begitu saja.

Tsk! Sepertinya kita memang ditakdirkan haus kekuasaan ya. Kuberi tahu kau satu hal, saham terbesar JungAang Broadcasting System akan diberikan padaku begitu aku lulus kualifikasi dewan komite. Jadi, siapapun di antara kita yang berhasil menyelesaikan studi lebih dulu bertanggung jawab atas pembatalan perjodohan ini.” Krystal menarik ujung bibirnya untuk pertama kali di depan Wooyoung.

Wooyoung menyeringai bahagia. “Aku setuju.”

“Ah, satu lagi!” seru Wooyoung teringat hal penting lainnya. “Aku perlu seseorang untuk menjadi shareholder fiktif dan membeli saham Ramyeon Shop secara paksa.”

“Kau bisa mengandalkan kakakku.” Kata gadis itu yakin.

***

Akhirnya Suzy mendapatkan waktu liburan juga setelah tugas dokumentasi Art Charity Event diserahkan. Sekarang ia berdiri di Hwanghagkyo Bridge, jembatan ke-18 dari Cheonggyecheon Plaza. Musim gugur akan segera berakhir, Suzy menginginkan sebuah farewell date bersama Wooyoung sebelum pria itu berangkat ke Amerika. Meskipun sebenarnya bukan itu yang menjadi alasannya ingin bertemu Wooyoung.

Suzy sampai lebih dulu daripada Wooyoung. Karena Wooyoung, Dara dan Taecyeon sedang menemui pegawai baru Ramyeon Shop yang akan menggantikan Taecyeon mulai musim dingin nanti.

Gadis itu baru saja menunggu lima menit di depan Wall of Hope, yang berada persis di bawah Hwanghagkyo Bridge, ketika Wooyoung bergegas menghampirinya.

Wooyoung melirik jam tangannya. “Mianhae –maaf” katanya terengah-engah.

Suzy menggeleng. “Aku baru saja sampai.” Katanya lalu tersenyum.

”Ayo kita jalan!” Wooyoung meraih tangan Suzy, dan gadis itu tersenyum lagi.

Berjalan-jalan di sepanjang Sungai Cheonggye sudah menjadi tren orang Korea belakangan ini. Sungai sepanjang 11 km itu disulap menjadi tempat menakjubkan untuk dinikmati sendirian atau bersama orang yang disayangi.

“Bagaimana karyawan barunya?” Suzy menoleh Wooyoung.

“Pria Cina itu? Dia pernah menjadi pekerja paruh waktu di restoran mie Nyonya Guinto di Guangzhou. Dia sepintar Taecyeon untuk urusan dapur, hanya saja dia sedikit lebih tampan. Hahaha”

“Sepertinya harus menambah pegawai lagi karena pengunjung akan bertambah ramai, kan.”

Langkah Wooyoung terhenti. Ia memutar tubuhnya menghadap Suzy. “Nanti kau jangan terlalu sering ke restoran selama aku tidak ada. Pria Cina itu bisa memikatmu.”

Suzy terkekeh. Gadis itu menarik tangan Wooyoung dan melanjutkan perjalanannya.

“Lalu yang menggantikan Dara Eonni?”

“Sooyeon Noona akan menetap di Korea selama aku ke Amerika. Dia akan mengambil alih tugasku dan Dara Noona sekaligus. Songjoo Hyung juga akan sibuk di Jeju untuk resort baru. Jadi, mereka masih bisa bertemu seminggu sekali.”

Suzy mengangguk. Ia menggigit bibir bawahnya, seperti akan mengatakan sesuatu yang sejak tadi tertahan di rongga mulutnya. Begitupula dengan Wooyoung yang nampak gelisah.

“Apa kau ingat bagaimana kita pertama kali bertemu?” Tanya Suzy penasaran.

“Tentu. Copy Center Perpustakaan Kampus. Jam 4 sore. Musim semi tahun pertama. Halaman 98 buku Criminal Prosedure. Halaman 89 buku Pengenalan Komunikasi Visual.”

Suzy berdecak. “Kenapa? Apa ada yang salah?” Wooyoung menatapnya bingung.

“Kau bahkan ingat halaman foto kopi yang tertukar denganku.” Katanya pelan dengan ekspresi datar.

“Tentu.”

“Apa kau juga aka mengingat hari ini?”

Wooyoung menghentikan langkahnya. Otomatis langkah Suzy pun terhenti. Keduanya memutar badan dan saling berpandangan. “Tentu. Setiap saat ketika ada Bae Suzy, bahkan ketika hanya bayangannya saja yang melintas di pikiranku, aku akan mengingatnya. Kau?”

Nado –aku juga.” Jawabnya dengan segenap keyakinan.

Mereka semakin dekat dengan Dumuldari Bridge dan Suzy semakin tidak tenang. Dumuldari Bridge terbentang di hadapannya. Tangannya menggenggam erat tangan Wooyoung dan sebelahnya lagi mencengkram tali tas yang menggantung di pundaknya.

“Suzy-ah..” Gadis yang disebut namanya menyahut pelan. “Ya?” Keduanya melepaskan genggaman masing-masing.

“Aku tahu sedikit terlambat menjelaskannya padamu, tapi aku hanya sedang mencari jalan keluarnya. Maaf.” Wooyoung menarik nafas dalam-dalam, Suzy diam menunggu Wooyoung melanjutkan. “Kau pasti sudah dengar berita perjodohan antara aku dan Krystal. Aku minta maaf kau harus mendengarnya dari orang lain.”

Suzy diam memandang Wooyoung dengan mata berkaca-kaca. Ia menimpali dengan suara lirih. “Aku menunggu penjelasanmu Jang Wooyoung. Berhari-hari. Aku tidak ingin mempercayai apa yang orang lain katakan, kecuali darimu.”

“Maaf.”

Suzy kembali diam dan menatap Wooyoung. Air matanya mulai menggenang. Ia menunggu kelanjutan dari kata “maaf” yang dilontarkan Wooyoung. Meskipun ia tahu, pria itu tulus mengatakannya, tapi ia menunggu penjelasan Wooyoung. Sayangnya gadis itu harus menelan kekecewaan karena Wooyoung tak kunjung bicara.

“Sebelum kemari, aku menyusulmu ke Ramyeon Shop. Maaf, tapi aku mendengar pembicaraanmu dengan Taecyeon. Dan aku benar-benar terluka.” Suzy meremas bagian samping rok sifonnya yang berkerut. Bersusah payah mengalihkan emosinya.

Wooyoung terhenyak. Ia membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian bibirnya terkatup lagi. Ia teringat kejadian saat adu mulut dengan Taecyeon.

“Aku tidak tahu harus bagaimana agar bisa bersama dengan Suzy. Aku benar-benar tidak tahu. Aku berusaha mencari jalan keluar. Tapi aku tidak tahu akan seperti apa akhirnya.”

“Jika aku jadi kau, aku akan menemukan cara agar bisa bersamanya.” Taecyeon berteriak kesal.

Hae! –Lakukanlah!”Emosi Wooyoung memuncak hingga kata-katanya seperti hilang kendali.

“Aku benar-benar akan melakukannya, Jang Wooyoung!” erang Taecyon.

Wooyoung menyerah. Ia menggigit bibirnya yang bergetar. Air matanya mulai tak terbendung. Ia merasa hatinya sakit dan seluruh tubuhnya lemas. Ia benar-benar menyesal.

“Tidak perlu minta maaf. Karena aku sendiri tidak tahu harus bagaimana sekarang. Aku tidak yakin.” Suara Suzy terdengar lirih.

Gadis itu melempar pandangan jauh ke bawah Dumuldari Bridge, pada Wall of Proposal, yang kini terlihat menyedihkan. Ia mengatupkan bibir rapat-rapat agar suara tangisnya tak terdengar. Sementara air matanya terus mengalir. Benar-benar menyakitkan hatinya.

“Haruskah kita berjalan sampai akhir?”

Wooyoung memejamkan mata dan membiarkan air matanya jatuh untuk terakhir kali. Tangan kanannya berada di kantong celana, menggenggam kotak kecil berisi cincin yang akan ia berikan pada Suzy begitu mereka sampai di Wall of Proposal. Ia sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kata-kata terakhirnya. Ia sedang mencoba menenangkan perasaannya.

Tiba-tiba Wooyoung membuka matanya yang sembab lalu menarik Suzy ke pelukannya. “Maafkan aku, Suzy-ah. Maaf..” rintih Wooyoung. Kemudian tak mampu lagi melanjutkan kata-kata dan hanya menangis tanpa suara. Punggungnya bergerak naik-turun.

Gomawo –terima kasih, Wooyoung-ah” Suzy semakin mempererat dekapannya pada Wooyoung, seolah tak ingin melepaskannya.

***

Musim gugur hampir berakhir. Dan sudah berganti 2 kali musim gugur. Suzy berdiri di bawah guguran daun-daun ungu Jahayeon dan teringat kenangannya bersama Wooyoung. Ia mengamati cincin yang berbeda melingkar di jari manisnya. Hatinya masih sakit setiap kali teringat kejadian 2 tahun lalu. Ia merogoh saku blazernya dan mengeluarkan cincin yang pernah ia kenakan dulu.

Pada hari itu, saat ia berpisah dengan Wooyoung, ia mengembalikan cincin itu pada pemiliknya. Namun, cincin itu kembali lagi. Seorang Pria Cina bertubuh jangkung yang bekerja di Ramyeon Shop mengantarkan padanya, bersama dengan sebuah pesan dari Wooyoung.

Noona, himnae!” kata-kata Yifan saat itu masih jelas ia ingat. Saat Suzy menangis di atas pesan Wooyoung.

Aku tidak bisa menyimpan kenangan ini sendirian. Jika kau tak menghendakinya, tenggelamkanlah di Jahayeon. Seiring dengan tenggelamnya cincin ini ke dasar Jahayeon, aku berharap kebahagian akan datang padamu.

-Jang Wooyoung-

Gadis itu menghela nafas. Ia menggenggam cincin pemberian Wooyoung dan memejamkan matanya. Lalu dengan yakin melemparkannya jauh ke tengah Jahayeon. Meski begitu, tetap ada yang mengganjal di hatinya.

Drrr~ drrr~

Suzy tersentak ketika ponselnya bergetar. Ia buru-buru menjawab panggilan yang masuk.

“Kau dimana pengantin wanita?”

Suzy terkekeh. “Aku di kampus Gwanakdo. Kau dimana pengantin pria?”

“Aku di bandara bersama Yifan.”

“Mereka pulang bersama?”

“Hmm. Tapi penerbangan mereka delayed. Wooyoung pasti mati bosan karena tidak punya teman ngobrol. Krystal pasti menempel terus pada Jonghyun. Hahaha”

“Kenapa kau malah menertawainya?” Suzy menahan tawanya, berpura-pura kesal.

Wae? –kenapa. Ah, apa syutingnya sudah selesai?”

“Tinggal take terakhir. Aku akan langsung ke Ramyeon Shop begitu selesai.”

“Baiklah. Sampai bertemu, Nyonya Ok.”

“Hmm.”

Ia tersenyum lega untuk apapun yang telah terjadi dan akan terjadi. Jika ia bisa menemukan kebahagiannya lagi, maka Wooyoung pasti akan mendapatkan hal yang sama.

“Bae Reporter!!”

Suzy menoleh ketika Nim Cordy, salah satu staf JungAang Broadcasting System bermarga Kim, memanggilnya. “Ne! –Ya!” Sahutnya kemudian bergegas kembali ke set.

*end*

Advertisements

3 thoughts on “Beast Boy Ramyeon Shop (Part 7 – Final)

  1. Waaaaah waaaah,.. rada nyesek juga nih pas baca endingnya,..Jang Wooyoung kenapa kamu menyerah begitu aja?
    Poor Mr. Jang,..come with me.
    Kalo jadi suzy, aku mau nunggu wooyoung deh,..

    Heeem, tp ngomong2 ga dijelasin yak soal ramyeon shopnya pasti jatuh ke tangan Wooyoung gak tuh thor?

    1. biarinlah.. hukuman buat wooyoung.. kalo suka kan harusnya perjuangkan.. tsaaah!

      he eh di bagian akhir cm diceritain mereka mau reunian di Ramyeon shop (ceritanya sih). Sdh waktunya Wooyoung ambil alih restoran.

      anyway big thanks stay tune trs we.. 😀

      1. aaah, baru keliatan notifnya,..

        heeem,..setuju jg sih sm punishmentnya,..
        emg harusnya kalo WY tuh memperjuangkan suzy bknnya nyerah gitu aja,..

        sep deh,..ditungguin FF selanjutnya,..
        WGMnya mana????
        hehehee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s