The Last Petal (Chapter 1)

Chapter 1 : No Such Thing as Coincidence, GOD Planned It.

Cast:

EXO Chanyeol  as  Park Chanyeol

TVXQ Changmin  as  Park Changmin/ Shim Changmin

SJ Eunhyuk  as  Lee Hyukjae

Sohee  as  Ahn Sohee

IU  as  Lee Jieun

Background Song:

2AM – I Wonder If You Hurt Like Me

 

Dari dalam mobilnya yang terparkir di pelataran Shinhan School, Chanyeol mengamati seorang pria berpakaian serba hitam berdiri di bawah atap kantilever yang memayungi dropzone. Tidak jauh dari tempatnya, kurang dari 50 meter. Pria itu nampaknya tak menyadari jika sedang dijadikan obyek observasi. Chanyeol mengetuk-ngetuk kemudi dengan jemarinya yang panjang. Pandangannya jauh ke depan. Ekspresinya datar.

Pria bertubuh kurus itu berasal dari lingkungan tempat tinggal yang sama dengan Chanyeol di Cheonan. Sudah sebelas tahun, sejak Chanyeol dan Changmin – adiknya meninggalkan Cheonan, mereka tak pernah bertemu. Meski begitu Chanyeol dapat langsung mengenali dari rahangnya yang tajam. Lagipula tak banyak yang berubah –bahkan kenyataan bahwa ia tak pernah lebih tinggi daripada Chanyeol – kecuali lengan yang nampak lebih berotot sepulangnya dari wajib militer.

Pria itu terlihat sedang menunggu seseorang, sama seperti Chanyeol. Di tangannya menggantung sebuah payung hitam. Chanyeol merunduk dan memandang ke langit yang memang nampak kelam. Ia menghela nafas kemudian turun dari mobil. Sengaja ia membanting pintu dengan keras untuk menarik perhatian sasarannya.

“Lee Hyukjae!” Teriak Chanyeol dari sisi mobilnya.

Pria itu menoleh kesal ke arah pelataran parkir lantaran suara dentuman yang dibuat Chanyeol. Alisnya bertaut dan meninggalkan kerutan di dahi. Ia yakin tidak pernah punya saudara sepupu dengan penampakan seperti pria jangkung bertelinga peri yang berteriak ke arahnya itu. Lagipula ia baru beberapa hari pindah ke Seoul sehingga sangat sedikit orang yang mengenalinya.

“Oii!! Bada Namja –Sebutan untuk anak laki-laki pesisir- !” Chanyeol berteriak lagi, disertai erangan berat.

Kedua mata Hyukjae membulat dan rahangnya terbuka. Ia terperangah dan hampir menjatuhkan payungnya. Ia akirnya mengenali pria itu, pria tampan dengan setelan jas rapi yang baru saja berteriak padanya. Hanya Chanyeol yang berani mengumpatnya seperti itu. Tetangga sekaligus teman sekolahnya di Cheonan. Teman yang seperti hilang ditelan bumi 11 tahun lalu itu muncul kembali di hadapannya.

Chanyeol menyeringai. Sambil mengancingkan jasnya, ia melangkah mendekati Hyukjae untuk memperpendek jarak tempuh Hyukjae yang juga sedang menuju ke arahnya.

“Chanyeol-ah?” Hyukjae bergumam ragu. Ia nyaris tak mengenali Chanyeol. Padahal mustahil baginya tidak mengenali Chanyeol, bahkan dari suaranya sekalipun. Tapi kini Chanyeol berdiri di hadapannya seperti orang asing.

“Lama tidak bertemu, Lee Hyukjae” selorohnya, serta merta memamerkan deretan gigi yang penuh.

Hyukjae mengangguk , masih tak percaya. “Aku kira kita tidak akan pernah bertemu lagi.”

“Aku kembali ke Cheonan tahun lalu. Sayang sekali kita tidak bertemu.”

Nafas Hyukjae tiba-tiba sesak ketika Chanyeol menyebut tentang Cheonan. Membayangkan duka yang ditanggung Chanyeol tahun lalu, membuatnya sedih. “Aku turut berduka. Aku minta maaf tidak bisa menghadiri pemakaman Changmin. Saat itu aku dipindahkan ke semenanjung untuk latihan bersenjata –sewaktu menjalani wajib militer-.” Katanya berusaha terlihat tenang.

Chanyeol tersenyum getir. “Aku sendiri masih di Swiss saat Changmin dimakamkan. Keluarga angkatnya mempercepat pemakaman Changmin di Cheonan. Aku baru bisa mengunjunginya pada hari ke 100.” Katanya kemudian tampak murung.

Changmin 5 tahun lebih muda daripada Chanyeol. Orang tua mereka meninggal diduga karena bunuh diri ketika Chanyeol memasuki tahun terakhir sekolah. Sejak saat itu Chanyeol menjadi satu-satunya orang yang mempunyai hubungan darah dengan Changmin, karena orang tua mereka berasal dari panti asuhan.

Dua keluarga yang berbeda kemudian membawa Changmin dan Chanyeol dari Cheonan. Changmin –saat itu masih di bangku sekolah dasar- lantas dibesarkan oleh Keluarga Duta Besar Shim Dongwon yang baru saja dipindahtugaskan ke London. Dia tak lain adalah mantan bawahan mendiang Park Minseok –Ayah Chanyeol dan Changmin – semasa bekerja sebagai penasihat hukum kepresidenan. Sementara hidup Chanyeol –beasiswa kuliah, pekerjaan, tempat tinggal dan biaya hidup selama di Swiss- dijamin sepenuhnya oleh Keluarga Mantan Presiden Korea, Ahn Kyeosoo, sebagai tanda jasa atas pengabdian Park Minseok pada negara.

Hyukjae menepuk pundak Chanyeol, membuyarkan lamunan pria jangkung itu.

“Sudah berapa lama kau di Seoul?” Tanya Chanyeol pelan, suaranya sedikit bergetar.

Hyukjae mendesah. “Banyak sekali yang ingin kubicarakan denganmu.” Ia sama sekali tak menjawab Chanyeol. Padahal jika dipikir-pikir Hyukjae tidak perlu berpikir serumit itu untuk menjawab Chanyeol. Ia hanya sedang banyak pikiran dan butuh teman bicara. Terlebih setelah kakeknya meninggal.

“Hmm. Aku juga.” Chanyeol mengangguk lalu menunjuk gedung di belakang Hyukjae dengan matanya. “Apa Jieun bersekolah disini?” tanyanya kemudian.

Hyukjae mengekor pandangan Chanyeol. Ia membelalak tak percaya. “Wah, Park Chanyeol! Kau masih ingat dengan adikku?”

Chanyeol mendesis, membuang muka. Hyukjae jadi beniat menggodanya. “Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan hatinya juga cantik.”

“Lalu?” Chanyeol mengulum bibir, menyembunyikan senyumnya.

Bel berbunyi dan memecah pembicaraan keduanya, sebelum Hyukjae membalas Chanyeol. Para penghuni Shinhan School berhamburan ke luar gedung seperti anak ayam. Seorang gadis melintasi Chanyeol dan Hyukjae. Rambutnya yang hitam panjang dengan bagian ujung bergelombang terulur menutupi batch Shinhan School yang tersemat di bagian dada. Ia menoleh singkat dan menatap tajam ke arah Chanyeol dari sela rambutnya yang tertiup angin. Gadis itu kemudian duduk di dalam mobil yang dikendarai Chanyeol.

Chanyeol hanya melihatnya malas. Sementara Hyukjae terpaku pada titik awal munculnya gadis itu. Jantungnya berakselerasi berkali lipat dengan efek kupu-kupu beterbangan di dalam perut.

“Pacarmu?” Hyukjae mengangkat kedua alisnya bersemangat. Chanyeol terkekeh lalu menjawab asal, “Anak majikanku”.

Oppa!!” teriak seorang gadis berseragam, berlarian menghampiri laki-laki bertubuh kurus yang ia panggil ‘Oppa’.

Hyukjae berbalik dan tersenyum memperlihatkan gusinya. Gadis itu berdiri di samping Hyukjae dan nampak terkejut ketika melihat sosok Chanyeol.

“Wah! Apa benar yang berdiri di hadapanku adalah Lee Jieun?” katanya, tersenyum canggung. “Yang selalu dikuncir dua itu?” lanjut Chanyeol, kedua tangannya mengepal di samping kepala, memperagakan gaya rambut Jieun semasa kecil.

“Bagaimana? Jieun kami bertambah cantik bukan?” Hyukjae menyerobot, membuat Jieun kesal.

Jieun lantas menyikut kakaknya dan Hyukjae pun diam seketika sambil meringis. Chanyeol tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut Jieun. Gadis itu tampak terkejut. Rona merah muda di pipinya sekarang nampak jelas.

Tiiiin!

Ketiganya tersentak mendengar suara klakson mobil Chanyeol. Hyukjae menatap Chanyeol penuh tanya sebelum akhirnya pandangannya bergeser pada mobil di belakang Chanyeol, ketika pria itu tak mendapat jawaban atas kebingungannya. Chanyeol berbalik dan melemparkan tatapan tajam ke sumber suara. Gadis yang duduk di kursi penumpang itu rupanya sudah tidak sabar untuk diantar ke tujuan. Chanyeol hanya menghela nafas melihat kelakuannya. Sementara Hyukjae dan Jieun masih kebingungan.

“Berikan ponselmu!” perintah Chanyeol cepat. Hyukjae tak berkomentar tapi menyerahkan begitu saja ponselnya pada Chanyeol. Pria itu mengetikkan kombinasi nomor ponselnya lalu membuat panggilan dari sana.

“Akan kuhubungi nanti!” kata Chanyeol tanpa menjelaskan apapun, meski Hyukjae menuntutnya dengan tatapan ingin tahu.

Ia berjalan –setengah berlari – dengan kaki yang panjang itu menuju mobilnya, kemudian kembali lagi secepat kilat sambil membawa sesuatu.

“Sepertinya akan hujan deras. Jieun bisa basah kalau kalian hanya menggunakan satu payung.” Chanyeol menunjuk Jieun dengan dagunya.

“Pakailah! Nanti kuhubungi!” sambungnya. Ia menyodorkan sebuah payung dan Hyukjae langsung mengambilnya, melihat Chanyeol yang terburu-buru. Hyukjae tak menyahut. Ia membiarkan pria itu berlalu begitu saja.

#

Chanyeol mengaitkan seatbelt sembari mengerang pelan. “Sungguh kekanak-kanakan.”

Gadis yang duduk di sampingnya tersentak begitu kata-kata bernada merendahkan itu meluncur dari mulut Chanyeol. Gadis itu mengepalkan tangan di pangkuan dan melihat Chanyeol melalui spion tengah. Sayangnya justru wujud orang lain yang dipantulkan pada kedua matanya.

Ia memutar pandangan ke samping dan melihat sosok itu semakin jelas ada pada diri Chanyeol. Matanya berbinar namun kosong. Hatinya bergejolak seperti ada dorongan untuk menggapai pria di hadapannya saat itu juga.

Chanyeol menghentikan gerakan tangannya yang nyaris menekan tombol bulat biru di dekat kemudi untuk menyalakan mesin. Ia menyadari sedang diperhatikan oleh gadis di sebelahnya dan itu membuatnya tidak nyaman.

“Kenapa? Kau tidak terima?” tanya Chanyeol ketika mata keduanya beradu. Lawan bicaranya itu tak langsung bereaksi, hanya terpaku pada kedua mata Chanyeol yang bulat sempurna.

“Cha – “ gadis itu baru saja membuka mulut dengan susah payah, tapi langsung dipatahkan Chanyeol sebelum gadis itu semakin hilang akal sehat. “Sadarlah, Ahn Sohee!” katanya, suaranya terdengar berat. Ia menatap kasihan pada gadis itu.

Sohee mencelos. Binar di matanya meredup. Wajahnya kembali sedih seperti biasa dan pikirannya kembali “normal” –setidaknya bagi Chanyeol . Chanyeol menarik nafas lega melihat raut wajah gadis itu telah kembali sebagaimana mestinya. Sohee merapatkan bibir lalu bersandar di kursinya dan membiarkan matanya terpejam. Ia bisa merasakan perlahan mobil yang ditumpanginya mulai bergerak.

“Lihat siapa yang sedang cemburu sekarang!” ledek Hyukjae, mendapati wajah Jieun memerah. Ia meraih bahu adiknya untuk membuatnya nyaman. Tapi mata Jieun sudah terlanjur basah.

Jieun melirik Hyukjae dengan tatapan sedingin es untuk menghentikan lelucon yang saat itu sama sekali tidak terdengar lucu di telinganya. “Oppa, aku sedang tidak berselera mendengar leluconmu.” Bisiknya ketus.

Ne? –Ya?” Hyukjae mengerjap kaget karena perubahan sikap Jieun.

Di mata Hyukjae, Jieun terlihat sedang patah hati. Bisa jadi karena cinta pertamanya –Park Chanyeol sepertinya memiliki hubungan khusus dengan salah satu pengajar Shinhan School yang juga wali kelasnya –Ahn Sohee. Meskipun sebenarnya ia lebih berat memikirkan perasaan pria yang telah kehilangan keluarga satu-satunya itu. Hari itu ia merasa melihat hantu Chanyeol bangkit lagi, meskipun dengan perwujudan sama tapi hatinya berkata Park Chanyeol telah berubah.

#

Sudah menjadi kewajiban – atau anggap saja rutinitas yang membahagiakan – bagi Chanyeol selama setahun menjadi pengawal pribadi Sohee, meskipun ia tidak bisa dikatakan seperti itu. Pekerjaannya adalah sebagai penyambung lidah Presiden Direktur Kantor Surat Kabar “The Korean’s Eye”, dengan label General Manager. Semenjak kepergian Presdir Ahn Kyeosoo ke Swiss –yang entah untuk urusan apa tak seorang pun tahu dan mencoba mencari tahu – pasca menjadi Orang Nomor 1 Korea, Chanyeol dipercaya menjadi informan bagi perusahaan dan anak semata wayangnya yang keras kepala lagi dingin.

Chanyeol bukan lagi orang asing bagi Presdir Ahn dan keluarga. Ahn Kyeosoo tidak akan sembarangan membiarkan orang lain menyentuh miliknya. Tapi pengecualian bagi Chanyeol. Anak muda berbakat yang telah ia hidupkan kembali setelah meninggalkan Cheonan dalam keadaan menyedihkan. Sayangnya bagi seorang Ahn Kyeosoo, tak ada istilah memberi tanpa menerima. Melihat apa yang dilakukan Chanyeol bahkan tak membuat Ahn Kyeosoo membuka kedua matanya.

Sohee menarik nafas panjang untuk melegakan dadanya. Percakapan rutin selama tiga menit dengan ayahnya melalui telepon baru saja berakhir. Chanyeol rupanya diam-diam memperhatikan melalui spion tengah, seperti biasa.

Sohee memutar bola matanya, memikirkan sesuatu.

“Park Chanyeol-ssi…” Sohee mengerling pada Chanyeol yang fokus menyetir. Pria itu melirik dari ujung matanya tanpa menoleh, lalu menyahut pelan. “Hmm?”

“Sebenarnya apa yang ayahku lakukan di Swiss? Kenapa tak seorang pun memberitahuku ” Untuk kesekian kalinya Sohee menanyakan soal ayahnya pada Chanyeol. Chanyeol sendiri sudah muak mendengarnya, tapi tetap ia jawab dengan jawaban yang sama pula.

“Maaf tapi aku tidak tahu.” Jawab Chanyeol tanpa menggerakkan kepala sedikitpun.

Kedua mata Sohee menyipit, selalu meragukan ucapan Chanyeol yang satu itu. “Kau adalah orang kepercayaan ayahku, kan?”

“Walaupun Presdir memercayakanmu padaku, bukan berarti dia akan membiarkanku tahu setiap detil tindakannya, Nona Ahn Sohee. ” Chanyeol menatap Sohee sekilas, lalu menambah kecepatan mobilnya. Gadis itu tampak belum puas tapi menerima saja kata-kata Chanyeol yang tak pantas disebut jawaban.

“Lagipula aku hanya anak malang yang dibesarkan atas belas kasihan orang lain” batinnya.

#

Hyukjae memasuki restoran Chinese Food di dekat Dongdaemun Plasa dengan rasa lapar yang luar biasa. Aroma masakan membuat hidungnya berkedut. Ia menyeret lengan Jieun yang dengan berat hati mengikuti kakaknya itu kemanapun pergi sejak mereka tiba di Seoul. Bukan pertama kali bagi Hyukjae makan di restoran mewah seperti itu. Dulu saat orang tuanya masih hidup, beberapa kali mereka makan malam bersama. Tapi malam itu adalah yang pertama kali sejak 11 tahun berlalu. Ia memutar pandangan mengitari ruangan mencari sosok yang ia kenal.

Dari arah tenggara, seorang pria berkemeja satin hitam dengan dua kancing yang sengaja tak dikaitkan melambai ke arahnya. Hyukjae memamerkan gusinya lalu menggamit tangan Jieun.

Chanyeol memandang Hyukjae dan Jieun bergantian. Ekspresi keduanya nampak kontras. Jieun tidak terlihat senang sedikitpun dan itu tentu saja membuat Chanyeol merasa bersalah. Kalau dugaannya tidak meleset, Jieun mungkin tengah berspekulasi tentang kehidupannya selama sebelas tahun di Swiss dan pasca meninggalnya Changmin.

“Jieun tidak apa-apa?” Tanya Chanyeol, menampakkan raut cemas di wajahnya. Jieun mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk, menghadap Chanyeol. Ia lantas menggeleng dan memaksakan diri untuk tersenyum agar Chanyeol tak bertambah kuatir. Pemuda itu pun membalas senyum Jieun.

“Omong-omong bagaimana kalian bisa sampai ke Seoul? Apa tidak apa-apa meninggalkan Kakek Lee sendirian di Cheonan?”

Hyukjae tertegun, menoleh pada Jieun yang nampak terguncang. “Kakek meninggal dua minggu yang lalu.”

Chanyeol menampakkan ekspresi yang sama seperti Jieun. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu mencoba menanyai Hyukjae lebih jauh. “Maaf. Tapi bagaimana _”

Hyukjae menyela Chanyeol cepat. “Seseorang membawanya ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dokter bilang kakekku mengalami serangan jantung dan melihat dari luka gores di tubuhnya, kemungkinan kakek terjatuh lalu tak sadarkan diri.” Katanya, mencoba menjelaskan secara singkat pada Chanyeol.

… Beberapa hari sebelum kematian Kakek Lee ….

“Anda tidak apa-apa?” Chanyeol menangkap tubuh pria tua yang tiba-tiba limbung di dekatnya. Tubuh renta itu gemetar luar biasa. Sekantong buah jeruk terlepas dari genggamannya dan isinya menggelinding kesana-kemari. Beberapa berhenti di dekat pusara berlapis marmer gelap.

“Bagian mana yang sakit? Akan ku telepon ambulans.”

Pria tua itu mencengkeram erat lengan Chanyeol dengan segenap tenaga yang tersisa. Menahan Chanyeol menghubungi unit gawat darurat. Sebelah tangannya menekan bagian dadanya yang sakit. Ia terus berbicara pada Chanyeol meski dengan nafas tersengal.

“Dengarkan baik-baik! Kumohon!” kata Si Pria Tua.

Chanyeol mendekatkan telinganya agar suara pria itu terdengar lebih jelas.

“Berhati-hatilah! Dia tidak akan berhenti hanya karena kalian melupakan kejadian belasan tahun yang lalu. Jangan melangkah terlalu jauh.

“Tinggalkan Korea setelah aku mati. Kau, Hyukjae dan Jieun, kalian bertiga harus hidup dengan baik.”

Cengkeraman pria tua itu merenggang, hanya jari-jari tanpa daya yang masih melekat pada jas Chanyeol. Sementara Chanyeol terus memanggil nama pria tua itu untuk mengembalikan kesadarannya. “Kakek Lee! Kakek Lee! Kakek Lee!”. Namun Kakek Lee tak bereaksi bahkan dengan gerakan mata sekalipun. Ia meraba pergelangan tangan Kakek Lee untuk merasakan denyut nadinya. Merasa denyut nadi Kakek Lee yang melemah, Chanyeol bergegas membawanya meninggalkan kompleks pemakaman agar Kakek Lee segera mendapat pertolongan medis. …

“Kau merasa bersalah karena tak mengunjungi kakekku, kan?” Tanya Hyukjae sebelum memasukkan potongan lobak ke mulutnya –yang sebenarnya masih berisi lumatan daging yang belum meluncur ke tenggorokan – menyedot kembali perhatian Chanyeol yang sempat hilang dalam lamunannya.

“Lebih dari itu.” Jawab Chanyeol dengan suara memenuhi diafragma.

Alis Hyukjae bertaut. Di sebelahnya, Jieun memperlambat tempo mengunyah karena kerja otaknya terbagi ke pembicaraan Hyukjae dan Chanyeol.

“Kalian menginap dimana? Ikutlah ke tempatku!” pinta Chanyeol, mengaburkan kecurigaan Hyukjae.

“Tidak perlu, kami tinggal di Yongsan, uhm Itaewon _kurasa. Kau tahu, kan sulit sekali menghafal nama tempat di Seoul.”

“Itaewon? Rumah Kakek Pastry?” –Adik Kakek Hyukjae yang membuka usaha Toko Pastry kecil di depan rumahnya, karena itu ia dikenal dengan nama Kakek Pastry

Hyukjae mengangguk, mengerucutkan bibirnya. “Kakek meminta kami tinggal bersamanya di Seoul. Lagipula sekarang Kakek Pastry tinggal sendirian karena Gomo-Bibi dari pihak Ayah- dan keluarganya membeli rumah di gang sebelah.” Jelas Hyukjae. Ia sendiri merasa tak perlu menjelaskan detailnya tentang Kakek Pastry. Setidaknya Chanyeol pernah satu kali menginap di rumah Kakek Pastry selama beberapa hari bersama Hyukjae. Saat itu menjelang ujian kenaikan kelas, mereka berdua pergi ke Seoul tanpa ijin karena ingin melihat kota Seoul dengan kedua mata mereka sendiri.

“Aneh sekali. Sebelum kemari, aku mampir ke sebuah Toko Pastry di daerah Itaewon dekat Taman Bermain dan toko itu tutup sejak lima hari lalu.” Chanyeol mengerutkan dahi, seolah sedang berpikir keras.

Pegangan sumpit Hyukjae merenggang dan ia hampir menjatuhkan kembali jamur yang baru saja diangkat dari air rebusan shabu-shabu.

“Tetangga bilang, mereka sedang mengikuti Tur Kesehatan ke China karena kesehatan Kakek Pastry menurun semenjak kematian Kakek Lee. Dan mereka baru akan kembali besok lusa.” Chanyeol mengangkat sumpitnya ke piring asinan sawi. Matanya sengaja menghindari objek kurus pucat di depannya, yang pasti sedang sangat kikuk.

Hyukjae dan Jieun saling pandang. Jieun menggedikkan bahu lalu melanjutkan santapannya, tak mau ambil pusing. Pria yang merasa diabaikan oleh adiknya itu hanya bisa menghela nafas dan terpaksa menyerah atas tindakan intimidasi yang dilakukan Chanyeol terhadapnya.

“Ehem” Hyukjae membersihkan tenggorokannya, memandang Chanyeol yang terlihat menahan senyumnya. “Apa tawaranmu masih berlaku?”

#

“Jieun sudah tidur?” Tanya Chanyeol, berjalan menuju Hyukjae yang duduk manis di sofa kulit berwarna hitam pekat berbentuk ‘L’ dengan sandaran pada sisi terpanjang. Ia menodongkan sekaleng soda ke ujung hidung Hyukjae, kemudian duduk di bagia sofa tanpa sandaran setelah kaleng itu berpindah tangan. Hyukjae berdehem menyahut Chanyeol.

“Sepertinya Jieun bisa tidur nyenyak malam ini. Kau keterlaluan sekali mengajaknya tidur di Pemandian Umum. Harusnya kau menghubungi Kakek Pastry sebelum memtuskan pindah ke Seoul.” Chanyeol menyilangkan kaki menghadap Hyukjae, membuka kaleng sodanya dan meneguknya sekali.

Hyukjae memutar kaleng soda dalam genggamannya, kelihatan sekali sedang gusar. Chanyeol meneguk lagi sodanya lalu bicara pada Hyukjae, “Wae –Kenapa?”

“Boleh aku tanya sesuatu?”

Chanyeol diam. Tak peduli apapun jawabannya, pria itu tetap akan bertanya sesuka hati. Jadi, ia memilih untuk diam.

“Kau dan Changmin __ selama sebelas tahun berpisah __ apa kalian pernah saling bertemu?”

“Tidak.” Jawab Chanyeol pada detik kedua setelah Hyukjae menyampaikan keingintahuannya. Tanpa ada keraguan sedikitpun.

“Kenapa?” geram Hyukjae, terdengar ketidaksukaan dari suaranya. Intonasinya naik beberapa oktav.

Chanyeol menghela nafas. “Entahlah. Aku hanya merasa tidak berhak menemuinya. Selama yang aku tahu dia menjalani hidup dengan baik, aku tidak pernah berpikir untuk bertemu dengannya.”

“Kenapa? Maksudku, kenapa kau berpikir seperti itu, Park Chanyeol? Kau tidak merindukannya? Dia saudara kandungmu sendiri!”

Aku merindukannya.” Batin Chanyeol. Ia mengangkat kepala memberanikan diri memandang mata Hyukjae. “Tidak!” tegasnya.

“Tidak punya hati!” maki Hyukjae pelan. Ia akhirnya membuka kaleng soda yang permukaannya mulai mengembun, dengan kasar. Berbincang dengan Chanyeol hanya membuat suasana hatinya semakin buruk.

“Kau sudah dapat pekerjaan?”

“Apa ini disebut sebagai bentuk perhatian?” cibir Hyukjae, masih kesal pada Chanyeol. Kata-katanya mulai tak enak didengar. Kalau saja Chanyeol bukaan orang yang pandai mengendalikan emosi, mungkin malam itu hidungnya sudah patah terkena lemparan kaleng soda.

“Bisa jadi,” Chanyeol menanggapi dengan santai. Hyukjae berdecak sinis.

“Otakmu masih bisa diandalkan, bukan?” sambungnya.

Hyukjae mendelik seakan bola matanya itu akan keluar.

“Mulai besok gunakan otakmu untuk menulis, Editor Lee! Berhentilah menyerangku dengan kata-kata yang tidak beretika. Dasar Sarkastik! Tsk!”

Hyukjae berdesis semakin kesal . “APAA? Kau ingin aku apa? Menulis? Jurnalis, maksudmu?”

“Ya. Menulislah untuk The Korean’s Eye.”

Hyukjae terdiam beberapa detik, untuk mempercayai tawaran Chanyeol. “Kenapa harus untuk The Korean’s Eye? Apa ini hanya sekedar kebetulan? Kau bertemu lagi denganku setelah sebelas tahun, kemudian karena kau adalah manajer disana kau menawariku bekerja untuk The Korean’s Eye. Kau sudah lupa penyebab semua ini?”

“Lee Hyukjae! Tidak ada yang namanya kebetulan, jika Tuhan menyebutnya sebagai takdir.” Ujar Chanyeol. “Berhentilah mengingat masa lalu. Kau harus membuat Jieun hidup dengan baik.”

“Aku tidak punya keluarga lagi. Hanya kau dan Jieun, tidak ada lagi.” Sambung Chanyeol.

Hyukjae memandang Chanyeol tanpa berkedip, sebelum akhirnya memberi tahu keputusannya. “Baiklah. Jika ini adalah takdir Tuhan untukmu, maka aku harus terlibat.”

Tsk! Kau pikir apa yang akan kau lakukan? Kau hanya perlu menulis, aku yang akan menerbitkannya. Jadi berhentilah berlebihan!”

Tsk! Dasar Mulut Rendahan!” makinya. Ia bangkit hendak ke toilet, menghindari perbincangan menyebalkan yang selalu ia rindukan dengan Chanyeol.

Chanyeol segera melayangkan bantal sofa ke kepala Hyukjae dengan sengaja untuk memupuk kekesalannya. “Cepat matikan lampunya! Aku tidak bisa tidur jika terlalu banyak cahaya.” Kata Chanyeol sekenanya., kemudian menghilang di balik selimutnya. Hyukjae tak menjawab dan menuruti saja permintaan Chanyeol meski mulutnya tak berhenti mengumpat.

##

Advertisements

4 thoughts on “The Last Petal (Chapter 1)

  1. Sukaaaa,..terutama dari penulisannya. Feelnya dapet…cuma kalo dari segi cerita ngebingungi karna masih banyak menebak2. Karna ini chapter satu ya…

    Btw ini genrenya misteri kah?
    Aku berharap ada actionnya haahahaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s