The Last Petal (Chapter 3 : Reasons to Live)

chapter 3

 

Cast:

EXO Chanyeol as Park Chanyeol

TVXQ Changmin as Park Changmin/ Shim Changmin

SJ Eunhyuk as Lee Hyukjae

Sohee as Ahn Sohee

IU as Lee Jieun

 

Support Cast:

EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

Yang Jinhee (OC)

Cho Heeyoung (OC)

 

Background Song:

2AM – I Wonder If You Hurt Like Me

 

“The hills are getting hard to climb. I’m runnin’ out of time. My decisions are pending on you. And I will accept the blame for burnin’ out the flame. ” -Westlife: Don’t Say It’s Too Late-

 

Hyukjae bergegas kembali ke kantor surat kabar The Korean’s Eye pada jam makan siang, sesuai janjinya pada Chanyeol, setelah mengantar Jieun ke rumah sakit. Sebelum pulang ke apartemen, ia mampir ke sebuah restoran dan menyantap Sup Iga bersama adiknya. Karena itu ketika Baekhyun dan Jinhee mengajaknya makan Sup Pasta Kedelai, ia terpaksa menolak. Ia memilih berdiam diri di ruang editing dan membantu Jinhee memeriksa tulisan Baekhyun tentang praktek money politic pada kampanye calon presiden tahun ini.

Ia menghadapi monitor komputer milik Jinhee, membaca artikel Baekhyun yang rencananya akan ikut dimuat dalam kolom khusus akhir pekan. Sesekali kedua alisnya berkerut jika muncul kalimat aneh tulisan Baekhyun yang senyentrik penulisnya. Sebenarnya jika dibandingkan dengan tulisannya, kemampuan menulis Baekhyun memang lebih baik. Di samping itu, Baekhyun memang cocok dengan artikel bernada provokasi seperti itu. Bahasanya tidak hanya tajam secara lisan tapi juga tulisan. Pemuda itu dikenal berani membuat tulisan kontroversial. Karena itu Jinhee perlu memeriksa tulisan Baekhyun setiap kali akan dimuat.

The Korean’s Eye adalah kantor media cetak yang menerbitkan surat kabar berjudul sama milik Mantan Presiden Korea, Ahn Kyeosoo, yang didirikan pada tahun ke-3 Periode Pertama semasa menjabat sebagai presiden. Sejak awal diperkenalkan ke publik Korea pada Tahun 2001, The Korean’s Eye sudah mengundang polemik terutama dari kalangan penghuni dan mantan penghuni Rumah Biru karena pemberitaan yang kerap menyudutkan mereka. Meski demikian tak satu pun pihak mampu menghentikan Presiden Ahn waktu itu.

Tidak perlu waktu lama untuk memeriksa artikel Baekhyun. Nyatanya pria muda itu hanya menyerahkan tiga macam saja dan ketiganya telah selesai diperiksa. Hyukjae pun mulai merasa bosan karena Jinhee dan Baekhyun belum juga kembali. Ia memindai sekitar ruangan yang masih sepi. Semua karyawan masih berada di luar kantor untuk makan siang, tapi nampaknya Manager Cho yang misterius itu masih berdiam di ruangannya yang berada di lantai yang sama dengan ruangan Hyukjae.

Sebenarnya Manager Cho hanya satu dari banyak keanehan yang mengitari Hyukjae. Pertemuannya dengan Chanyeol dan rencana di balik perekrutannya sebagai karyawan The Korean’s Eye masih menjadi teka-teki. Ia sempat menolak tawaran Chanyeol karena mempunyai kenangan buruk dengan kantor media cetak tersebut. Jika merunut dari peristiwa demi peristiwa yang menimpa mereka sejak 11 tahun lalu, bukan tanpa alasan Chanyeol begitu patuh ketika diminta hidup di bawah tangan Presdir Ahn. Hyukjae meyakini Chanyeol sedang mengarahkannya pada sebuah kebenaran, karena itu ia setuju untuk bekerja bersama Chanyeol.

Hyukjae memberanikan diri membuka arsip lama -berisi layout koran yang telah siap cetak- yang tersimpan rapi dalam komputer Jinhee. Dengan mudah ia bisa menemukan edisi-tanggal-berapapun yang ia mau. Ia tak banyak mengingat tanggal penting dalam hidupnya, kecuali tanggal kematian orang tuanya. Pada Tanggal 28 April 2003, 1 hari sebelum pengumuman resmi hasil Pemilihan Presiden Tahun 2003, hampir setiap halaman The Korean’s Eye menyoroti kekuasaan Presiden Ahn Kyeosoo waktu itu. Pada masa kejayaannya, Presiden Ahn Kyeosoo merupakan tokoh yang dikagumi oleh masyarakat Korea termasuk Hyukjae dan Chanyeol. Tak mengherankan ketika The Korean’s Eye mengadakan perlombaan jurnalistik di Busan, Hyukjae dan Chanyeol ikut ambil bagian.

Lamunan panjang masa lalunya buyar, kala Hyukjae mendapati kolom kecil di koran yang tengah ia baca menulis tentang kematian jurnalis asal Cheonan, Lee Jaehwan yang tak lain adalah ayahnya. Dalam artikel itu diceritakan kronologis kecelakaan yang menimpa Lee Jaehwan dan istrinya. Hyukjae terhenyak seiring rasa sakit di dadanya. Seketika serangkaian kenangan masa lalu yang menyedihkan bergema di kepalanya. Rahangnya mengatup rahap menahan erangan hendak tangis yang bisa pecah saat itu juga menangisi kemalangannya. Ia menutup layout edisi menyeramkan itu tanpa ingin tahu detail tulisannya. Tubuhnya gemetar sama seperti saat pertama kali melihatnya 11 tahun lalu. Kemudian, masih dengan tubuh yang gemetar dan air mata yang susah payah terbendung di bagian bawah matanya, ia membuka edisi 5 hari sebelumnya. Sebagian besar tulisan masih mengenai Pemilihan Presiden Tahun 2003, namun berita kematian Mantan Penasehat Hukum Istana dan Istrinya yang menempati halaman khusus membuat sekujur tubuh Hyukjae lemas dengan sempurna. Rasa ngeri menyergapnya dan ia nyaris terlempar dari kursi.

#

“Apa yang kau lakukan?” Chanyeol –entah sejak kapan berdiri di samping Hyukjae yang masih ketakutan –memandang Hyukjae dengan tatapan menuduh.

Hyukjae tersentak. Nafasnya terhenti beberapa detik ketika wajah Chanyeol memenuhi penglihatannya. Ia memperbaiki posisi duduknya yang merosot. “Aku? Tidak!” sahut Hyukjae, masih tegang.

“Apanya yang tidak? Kau pucat begitu. Jangan-jangan kau melihat yang tidak-tidak.” Tuduh Chanyeol setengah bercanda.

“Aku tidak melakukan apapun!” Hyukjae berdalih, meski ia yakin wajahnya yang mendadak pucat itu sudah terbaca jelas oleh Chanyeol.

“Benarkah? Bukan situs yang begituan?”

Hyukjae mendengus kesal karena lelucon Chanyeol terdengar semakin menyebalkan. “BAIKLAH AKU MENGAKU! KAU PUAS?”

Chanyeol memperhatikan wajah Hyukjae yang menampakkan ketakutan. Lalu ia menyadari ada yang tidak beres. “Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan di komputer Jinhee?”. Kemudian ia berdiri menghadap monitor untuk melihat hasil perbuatan Hyukjae. Sayangnya Hyukjae terlambat menutup layout pemberitaan kematian orang tua Chanyeol, hingga raut wajah pria jangkung itu seketika berubah menyeramkan.

“Untuk apa kau melihatnya lagi?” Chanyeol melirik tajam ke arah pria kurus itu. Sudah lama ia mengubur kesedihan itu dalam-dalam, tapi kini Hyukjae menguaknya lagi.

Hyukjae diam sejenak kemudian balik bertanya. “Apa ini alasanmu bertahan dengan Ahn Kyeosoo?”

Chanyeol mempertajam tatapannya. Ada kemarahan di kedua matanya. Bibirnya terkatup rapat. Ia menghela nafas, memutuskan untuk setidaknya mengatakan sesuatu agar Hyukjae berhenti menanyainya soal Presdir Ahn. “Hyukjae-ah__”

Hyukjae menatap Chanyeol lekat-lekat kala pandangan lawan bicaranya meredup. Tapi pria itu nampaknya urung melanjutkan ucapannya lantaran mendengar suara langkah seseorang menaiki tangga.

“Aku sudah memperingatkanmu untuk berhati-hati.” Kata Chanyeol, melirik pintu ruang editor dari bahunya. “Kita bicarakan lagi di rumah!” Chanyeol kemudian berbalik ke arah pintu, dimana ia berpapasan dengan Jinhee dan Baekhyun.

Baekhyun mempercepat langkahnya menuju Hyukjae. Hyukjae buru-buru menutup semua lembar kerja yang terbuka dan menghapus riwayatnya di computer Jinhee. Ia lantas memutar kursi menghadap arah kedatangan Baekhyun. Jinhee yang tertinggal beberapa langkah dari Baekhyun, menatapnya curiga.

“Hyung, apa kau punya hubungan khusus dengan GM Park?” Baekhyun memegangi bahu Hyukjae, hingga ia tertahan di kursi. Matanya berbinar di balik kacamata minusnya.

“Tidak ada!” jawab Hyukjae. Baekhyun melepaskan Hyukjae dari cengkraman dan mulai berceloteh. “Wah, Hyung kau hebat sekali! GM Park tidak pernah mendatangi karyawannya untuk urusan apapun. Dia akan memerintahkan Manager Cho menjadi Semacam-Kau-Tahu, yah Juru Bicara.” Celoteh Baekhyun nyaris tanpa jeda.

“Sudahlah! Dia bilang, kan tidak punya hubungan apa-apa.” Kata Jinhee menengahi. Baekhyun menatapnya sebal, sementara Hyukjae merasa lega. Jinhee mengabaikan tatapan Baekhyun dan melirik Hyukjae. “Apa yang terjadi?” tanyanya sedikit cemas.

“Tsk! Kau sendiri begitu ingin tahu.” Desis Baekhyun sambil berjalan menuju meja kerjanya. Beruntung Jinhee tak mendengar, jika tidak Baekhyun akan bernasib sangat malang siang itu.

“GM Park kebetulan lewat saat aku memeriksa artikel Baekhyun di komputermu.” Hyukjae menjawab Jinhee.

“Sepertinya dia mencurigai hyung sebagai mata-mata Presdir!” Baekhyun berseru dari balik monitor, menghindari amarah Jinhee. Suaranya terdengar nyaring dan jauh.

“Jadi, apa artikelnya sudah selesai kau periksa?” Tanya Jinhee.

“Ya! Ada beberapa bagian yang kutandai karena agak janggal.” Hyukjae menyerahkan hasil cetak artikel Baekhyun. Wanita itu membaca sekilas coretan Hyukjae seraya mengucapkan terima kasih.

Hyukjae masih duduk di meja kerja Jinhee lantas menanyakan sesuatu yang mengganggunya. “Jinhee-ah, boleh aku bertanya?” Wanita itu mengangguk berat, terlihat sekali rekan kerjanya hendak menanyakan sesuatu yang pribadi.

“Manager Cho Heeyoung, apa dulu dia pernah menjadi penulis berita?” Tanya Hyukjae hati-hati. Jinhee terlihat kaget, dengan kedua mata menajam menatap lawan bicaranya. “Maaf! Aku membaca beberapa edisi lama untuk menghubungkannya dengan artikel Baekhyun dan tidak sengaja menemukan tulisan Manager Cho.” Lanjut Hyukjae dengan suara berbisik, menyadari Baekhyun berusaha mencuri dengan pembicaraannya.

Jinhee menghela nafas berkali-kali dan terpaksa membenarkan kata-kata Hyukjae. “Itu memang tulisan Manager Cho.” Katanya. “Tapi kusarankan agar tak membahas hal ini lagi atau kau akan berakhir seperti Manager Cho.” Sambung Jinhee pelan, meninggalkan tanda tanya di kepala Hyukjae.

#

“Bagaimana hasil pemeriksaannya?” kedua mata Chanyeol tertuju pada Jieun yang berada di seberang meja pantry. Di sebelahnya, Hyukjae sedang mengamati.

“Semuanya baik.” Jawab Jieun.

“Syukurlah kalau begitu.” Gumam Chanyeol sembari tersenyum, disambut rona merah di pipi Jieun.

“Chanyeol-ah__” Hyukjae akhirnya buka mulut. Pria bertelinga peri itu mengangkat alis sebagai tanda Hyukjae boleh melanjutkan ucapannya.

“Kakek Pastry sudah kembali ke Korea. Besok aku dan Jieun akan pindah.”

“Apa aku bisa menahan kalian disini? Tentu saja kalian harus pindah dan merawat Kakek Pastry.” Ucap Chanyeol.

“Chanyeol Oppa, aku sangat berterima kasih. Terima kasih untuk semuanya.” Kata Jieun tulus.

Chanyeol tersenyum kecil sambil menatap Kakak Beradik Lee bergantian. “Kalian satu-satunya orang terdekatku. Tidak perlu berterima kasih karena sudah sepatutnya begitu. Aku akan sering mengunjungi kalian.”

Hyukjae memandangi Chanyeol lekat-lekat. “Chanyeol-ah, menikahlah agar kau tidak merasa kesepian.” Ujarnya, meskipun terdengar bercanda di telinga Chanyeol tapi pernyataan itu adalah yang paling tulus dari hatinya.

“Aku tidak bisa menikahi gadis di bawah umur, tahu!” jawab Chanyeol, membuat Hyukjae merasa kesal karena ketidakseriusan Chanyeol. “Nah, karena tidak terlalu banyak barang yang dibawa, besok biar ku antar ke Itaewon sepulang kerja.” Serunya antusias.

“Begitu juga baik. Kakek Pastry memang berniat mengundangmu makan malam.”

“Oke. Kalian atur saja. Sekarang aku pergi dulu. Aku ada janji dengan rekan bisnis. Jadi tidak perlu menungguku pulang!” ujar Chanyeol sambil mengaitkan kancing jasnya.

#

Pria berusia lebih dari setengah abad itu duduk di kursi ukir klasik dengan mengenakan piyama putih berbintik hitam seperti cipratan tinta. Di hadapannya duduk pria muda mengenakan jas serat katun kombinasi berwarna navy blue –biru tua. Mereka saling menatap dan nampak bersitegang.

“10 hari lagi adalah peringatan 11 tahun kematian mereka. Apa kau sudah menentukan dimana akan menggelar upacara?” Pria muda mengangkat dagunya lebih tinggi, mengesankan keangkuhan.

“Tidak perlu. Aku tidak akan pernah melakukannya.” Jawab lawannya arogan.

“Lakukanlah selagi kau bisa. Jika akhirnya pengadilan menetapkan hukuman mati, paling tidak kau pernah melakukannya sekali dalam hidupmu.”

Pria berpiyama itu menjawab dengan nada marah. “Tinggal disini selama satu tahun, sama saja kau membunuhku.”

Pria muda itu tersenyum sinis. “Nyatanya kau masih hidup. Kau pikir aku berusaha agar kau tetap hidup untuk apa? Aku ingin sebuah hukuman yang pantas untukmu bukan sekedar kematian. Aku seorang dokter! Bagiku sebuah nyawa sangat berharga. Jika kau mati di tanganku, maka aku jauh lebih rendah darimu.”

“Menghargai sebuah nyawa, katamu? Lalu siapa yang bertanggung jawab atas kematian kakakmu? Aku?” desis pria berpiyama, membakar puncak kepala Si Pria Muda yang menggeram di tempatnya.

Pria berpiyama itu tersenyum puas. “Semua karena kecerobohanmu, menyebabkan orang lain menderita. Jika bukan karena kau, kecelakaan itu tidak akan terjadi.”

Pria muda itu bangkit hendak menarik kerah piyama pria itu, seandainya saja ia tak ingat pria itu terbaring tak berdaya semalam. “Aku bertanggung jawab atas semuanya. Tapi, kau akan menjadi orang pertama yang harus diadili karena telah menghancurkan keluargaku. Kau bahkan mengorbankan kebahagiaan putrimu sendiri.”

“Kau tidak akan punya cukup bukti sampai kasus ini ditutup!” geram Si Pria Berpiyama.

“Tidak lama lagi aku akan menemukan bukti yang kuat untuk menjatuhkanmu, Ahn Kyeosoo!”

#

“Apa kalian sudah memanggil dokter?” Chanyeol menghentikan langkahnya di tiga anak tangga terakhir menuju lantai dua. Ia memutar badan dengan pandangan mengerikan pada ketiga pelayan rumah tangga yang mengekor di belakangnya. Ketiga gadis berseragam itu menggeleng ketakutan.

Chanyeol meneruskan langkah menuju kamar Sohee, dan ketiga pelayan Sohee tetap mengekornya. “Kenapa?” Tanya Chanyeol di tengah perjalanan, suaranya yang berat terdengar menggema di seisi rumah. Salah seorang pelayan menjawab dengan suara pelan, “Nona tidak ingin diperiksa”.

“Ambil termometer dan letakkan di ketiaknya!” perintah Chanyeol. Seorang pelayan bergerak menuju kotak obat dekat lemari pakaian, dengan sigap mengikuti komando Chanyeol. Kemudian menunjukkan hasil ukur suhu tubuh Sohee pada Chanyeol. Tak perlu berpikir dua kali, ia langsung menghubungi Dokter Moon. Dua belas menit kemudian Dokter Moon datang dan langsung memeriksa Sohee. Setelah meninggalkan obat dan memastikan kondisi pasiennya Dokter Moon segera meninggalkan kediaman Presdir Ahn. Para pelayan yang semula berkumpul, satu per satu meninggalkan kamar. Hanya satu pelayan yang tetap tinggal untuk menemani Sohee jika ia butuh sesuatu.

Chanyeol mendekat beberapa langkah ke tempat tidur Sohee. “Aku berharap ini yang pertama dan terakhir kali kau bertindak seperti ini. Aku akan berjaga di luar.” Ujarnya pelan. Sohee tak menyahut. Matanya tertutup, tapi ia tidak tidur. Sebenarnya Chanyeol tak butuh respon dari Sohee karena gadis itu memang sepatutnya menuruti perintahnya yang satu itu. Ia berbalik meninggalkan kamar. Bau sterilizer dari tubuhnya tertinggal di kamar, memaksa Sohee untuk membuka lagi memorinya tentang Changmin.

Malam itu Chanyeol tidak kembali ke apartemen karena mencemaskan keadaan Sohee. Esok paginya, pelayang yang menunggui Sohee semalaman muncul. Chanyeol terbangun dengan sendirinya dan wanita itu memberitahu bahwa kondisi Sohee telah membaik. Chanyeol lantas meminta membawakan sarapan untuk Sohee, sementara ia masuk menemui gadis itu.

“Aku akan menghubungi pihak sekolah dan memintakan ijin supaya kau bisa istirahat. Cepatlah membaik! Presdir Ahn mencemaskanmu karena kemarin kau tidak bisa dihubungi.” Kata Chanyeol.

“Kau memberitahu Ayahku?” Sohee bertanya jengkel.

Chanyeol diam sejenak sembari mengendalikan emosinya. “Aku tidak ingin disalahkan jika terjadi sesuatu pada putrinya-yang-mulai-sulit-diatur.”

“Dan, Presdir tidak tahu kau pergi ke Cheonan. “ beri tahu Chanyeol. Ia tahu Sohee akan berpikir bahwa ia sedang mencari muka di depan gadis itu dengan bersikap sk baik menutupi tindakannya. Tapi gadis itu justru tidak menunjukkan reaksi seperti yang dipikirkan Chanyeol. Seperti biasa, Sohee hanya menanggapinya dingin.

#

Jieun tengah mengepak barang miliknya dan milik Hyukjae ketika Sohee meneleponnya. Ia menjawab dengan ragu-ragu. Sesuai dugaannya, Sohee bermaksud menemuinya siang itu dan ia yakin betul gurunya akan menanyainya tentang Park Chanyeol. Keduanya pun sepakat untuk bertemu di sebuah restoran bibimbap di Distrik Gangnam, karena Jieun belum hapal betul kota Seoul.

Selesai berkemas, Jieun terpikir untuk mengganti perbannya sendiri, karena Hyukjae yang biasa melakukan untuknya. Ia membersihkan bagian luka lecet yang masih berair dan mengoleskan cairan –semacam antiseptic berbasis iodine– sebelum menutupnya dengan perban. Ia nampaknya cukup terampil mengganti perban, setelah beberapa kali memperhatikan Hyukjae melakukannya. Sayangnya keteramplan saja tidak cukup, Jieun justru melupakan gunting untuk memotong kain kasa. Ia bangkit menuju dapur dengan langkah terseret. Satu per satu cabinet ia buka namun tak menemukan apa yang ia cari. Ia bersungut ke kamar Chanyeol yang selama beberapa hari ia tempati, kemudian membuka setiap cabinet yang ada. Hingga akhirnya ia menemukan cabinet di bawah rak buku berisi penuh dengan benda-benda milik Changmin. Mulai dari buku-buku hingga peralatan medis seperti selang berbagai bentuk dan ukuran; alat suntik dengan jarum beragam ukuran;  pisau bedah dan gunting dengan ukuran dan bentuk bervariasi pula. Tapi ia mengabaikan alat-alat kesehatan milik Changmin dan justru tertarik pada buku kedokteran berbahasa inggris yang berderet rapi di sudut paling dalam kabinet.

Jieun sama sekali tidak terkejut dengan apa yang ia lihat, ia justru merasa sedih karena ia mengerti bagaimana perasaan Chanyeol setelah kepergian Changmin. Sebelum kecelakaan di London yang merenggut nyawa Changmin, di setiap surat yang ia kirimkan pada Jieun selalu terselip nama Changmin. Begitu besar rasa sayang pada adiknya itu hingga ia rela menukar kebahagiaannya. Meskipun ia tak pernah menampakkan batang hidungnya di depan adiknya, Chanyeol akan selalu hadir di setiap acara kelulusan Changmin tanpa sepengetahuan adiknya. Barulah ketika ia menghadiri seminar di London pada musim dingin tahun lalu, ia memberanikan diri menemui Changmin. Namun sayang hari itu menjadi pertemuan terakhir mereka karena Changmin meninggal dalam kecelekaan mobil. Sejak saat itu, Chanyeol tak lagi mengirimi Jieun surat.

Di sebuah restoran di Distrik Gangnam, Sohee dan Jieun akhirnya bertemu. Jieun yang datang lebih dulu, menyembunyikan lutut yang dibalut perban di bawah meja. Sementara Sohee yang masih terlihat pucat, datang lima menit kemudian. Masing-masing lalu memesan makan siang lalu menyantapnya tanpa selera, membuat kedua gadis itu tampak menyedihkan.

“Jieun-ssi, bagaimana bisa mengenal Park Chanyeol?” tanya Sohee setelah pelayan membereskan meja mereka selesai makan.

“Dia teman kakakku.” Jieun menjawab singkat.

“Aku kira dia hanya berteman dengan ayahku.” Tukasnya lantas tertawa seperti orang mabuk. Jieun mengindahkan ucapan Sohee dan membiarkan gurunya itu terus bicara. Sohee meredakan tawanya sambil menyeka sudut matanya yang berair usai menertawakan lelucon tentang Chanyeol yang ia buat sendiri. “Maafkan aku!” ujar Sohee. “Tapi apa kau tidak merasa teman kakakmu itu sangat aneh?”

Jieun mengerjap memandang Sohee. Lalu gurunya itu melanjutkan, “Aku yakin mereka sudah lama saling mengenal. Apa kakakmu pernah ke Swiss?”

“Tidak.” Jawab Jieun. Sohee mengangguk-angguk dengan hipotesis di dalam kepalanya. “Berarti benar dugaanku. Mereka bertemu sebelum Park Chanyeol pindah ke Swiss.” Gumam Sohee. Jieun kembali diam, seolah membenarkan dugaan Sohee.

“Apa kau bisa membantuku?” Tanya Sohee, memandang kedua mata Jieun yang jernih. “Kau bisa minta apapun sebagai gantinya. Oke?”

Selama beberapa saat Jieun tampak berpikir, ketika gurunya mencoba bernegosiasi. “Baiklah. Apa yang bisa saya lakukan?” katanya kemudian. Tampak kelegaan di wajah Sohee.

“Ayahku berada di Swiss tapi aku tidak bisa melacak keberadaannya. Aku benar-benar frustasi. Park Chanyeol adalah satu-satunya orang yang ia percaya. Dan aku ingin kau membantu mencaritahunya dari Park Chanyeol.”

“Kenapa seonsaengnim– sapaan formal untuk guru- tidak menanyakan langsung padanya?”

“Park Chanyeol-ssi?” Sohee tertawa masam. “Pria itu tidak akan memberitahuku meski aku mengancam untuk membunuhnya.” katanya. “Aku yakin kalian punya hubungan istimewa, karena setahuku dia tidak punya kerabat lagi. Aku tidak tahu bagaimana kalian bisa sedekat ini, tapi _”

“Apa seonsaengnim mencurigai Park Chanyeol?” Jieun menyela.

“Kau lebih mengenalnya, jadi hanya kau yang tahu apa dia patut untuk dicurigai.”

Seonsaengnim, maaf, tapi bagaimana mungkin Anda tidak mengenal orang kepercayaan ayah Anda sendiri?” Tanya Jieun. Sohee tersentak, wajahnya berubah merah padam. “Bagaimana seonsaengnim bisa mempercayakan ayah Anda pada orang yang Anda sendiri tidak mengenalnya dengan baik?” sambung Jieun, meruntuhkan ego Sohee.

“Kau benar. Tidak seharusnya aku mempercayakan ayahku padanya. Dia hanya seorang yang kukenal. Sejujurnya, aku memang tidak mengenalnya dengan baik. Kami hanya bertemu sekali sebelum dia pindah ke Swiss. Aku tidak tahu bagaimana hidupnya sebelum itu dan setelahnya. Baru setahun ini dia mengitariku seperti bumi yang berevolusi.”

Jieun tampak terkejut. “Jadi, saem -sapaan informal untuk guru- tidak tinggal di Swiss?” tanyanya.

“Tidak. Aku melanjutkan sekolah menengah di London dan tidak pernah kembali ke Korea. Karena itu aku tidak punya banyak teman.” Tukas Sohee pelan. Kedua pipinya memunculkan semburat merah muda, ketika ekspresi Jieun berubah. “Jangan menatapku begitu! Aku punya seorang teman dekat saat menjadi mahasiswa. Dia adalah orang Korea.” Sambungnya.

“Benarkah? Apa dia juga sudah kembali ke Korea?” Tanya Jieun lagi. Kali ini ia bertanya tanpa ragu, setelah ketegangan di antara keduanya mencair.

“Dia kembali di hari yang sama denganku.” Sohee menahan nafasnya beberapa detik lalu melanjutkan. “Jieun-ssi berasal dari Cheonan bukan?” Jieun mengangguk. “Dia satu kampung halaman denganmu.” Beber Sohee.

Jieun mengerutkan alis dan mereka-reka. “Mungkin kau mengenalnya. Namanya Shim Changmin.” Beritahu Sohee, bibirnya nampak bergetar ketika menyebut nama itu.

“Shim Changmin?” Tanya Jieun begitu saja, padahal ia sudah mengendalikan mulutnya agar tak bereaksi apapun setelah nama Changmin disebut.

“Kau mengenalnya?” Sohee menatap heran namun penuh harap.

Jieun menggeleng kecil. “Ada banyak orang dengan nama yang sama di Cheonan. Tapi saya rasa, Shim Changmin yang saya kenal berbeda dengan teman saem.” Tandasnya, berbohong. Bagaimana pun ia akan tetap merahasiakan latar belakang keluarganya, seperti pesan Hyukjae.

“Kurasa memang bukan orang yang sama. Karena temanku sudah meninggal setahun yang lalu.” Kali ini mata Sohee nampak basah. Ia membuang muka ke luar jendela dan menyeka air matanya.

“Jadi, tidak bisakah Lee Jieun-ssi berbelas kasih sekali saja padaku?” pinta Sohee.

Melihat Sohee seperti itu, ia merasa amat beruntung karena tidak hidup sebatang kara bersama kakaknya saja. Sementara gurunya itu hanya memiliki ayah di dunia ini. Jieun mengangguk. Akhirnya bersedia membantu Sohee karena merasa kasihan padanya. Ia sendiri paham betul bagaimana perasaan kehilangan.

#

Usai makan malam di kediaman Kakek Pastry, Hyukjae mengajak Chanyeol berjalan di sekitar tempat tinggal Kakek Pastry. Keduanya kemudian duduk dipagar pembatas sebuah taman bermain. Hyukjae menyodorkan sekaleng soda rasa lemon pada Chanyeol yang tengah memandang langit, kemudian duduk di sebelahnya dan menenggak bir dari kalengnya yang berwarna keemasan.

“Sejak kapan kau berhenti minum? Kudengar Swiss punya wine yang sangat enak.” Ujar Hyukjae setengah mengejek, kemudian meneguk lagi birnya. Terdengar suara cairan itu meluncur bertahap melalui kerongkongannya.

Chanyeol menoleh pada Hyukjae lalu menatapnya miris. “Sejak pindah ke Swiss. Harusnya kau juga menghentikan kebiasaan minummu. Tidak baik bagi kesehatan.”

“Kau mulai lagi.” Desis Hyukjae.

“Aku kasihan pada Jieun kalau kau jatuh sakit.”

“Kau serius pada adikku?” Kedua mata Hyukjae mengerjap pada pria di sebelahnya.

“Maksudmu?” Tanya Chanyeol, pura-pura tak tahu.

“Kau menyukainya?”

Chanyeol tersenyum sambil menatap Hyukjae. “Kau sendiri bisa melihatnya. Park Chanyeol menyukai Lee Jieun sejak dulu dan tidak berubah sampai sekarang.”

Hyukjae menyipitkan pandangannya. “Sebenarnya aku tidak ingin percaya padamu. Siapa yang tahu kau punya banyak kekasih di Swiss. Tapi terima kasih telah menyukai Jieun.” Katanya masih dengan tatapan curiga.

“Aku tidak akan melukainya. Seorang pria akan memegang kata-katanya.”

“Sebaiknya kau pegang kata-katamu!” Kata Hyukjae dengan nada mengancam.

“Tentu!” Seru Chanyeol.

“Nah, aku ingat kau hutang satu cerita padaku soal kejadian tadi siang.”

“Kau yakin ingin mendengarnya?”

Hyukjae mengangguk-angguk. Lalu cepat-cepat menenggak habis birnya.

“Baiklah. Pertama, aku ingin kau tetap menjaga identitas kita dari siapa pun.” Tegas Chanyeol. Hyukjae mengangguk lagi. Ia meremas kaleng bir lalu melemparnya ke kotak sampah di seberangnya.

“Darimana aku harus memulai?” gumam Chanyeol, tampak sedang menimbang-nimbang.

“Dari awal. Saat kau meninggalkan Changmin.”

Chanyeol menoleh tak senang pada tuduhan yang dijatuhkan Hyukjae padanya. “Aku tidak meninggalkannya, Lee Hyukjae. Kau tahu, kan aku tidak akan bertindak tanpa alasan.”

“Apapun alasannya kau tidak seharusnya meninggalkan adikmu.” Geram Hyukjae.

Chanyeol mengepalkan tangan di atas pipa baja berukuran 2 inchi yang ia duduki , dengan pandangan yang terkunci pada Hyukjae. “Jika nyawa Jieun terancam, apa kau akan memilih berada disisinya dan mati berdua dengannya? Apa kau tidak merasa itu konyol?”

Alis Hyukjae bertaut dengan ribuan tanda tanya melayang di atas kepalanya. “Aku tidak mengerti. Siapa yang mengancam siapa.”

“Kau tahu siapa dalang di balik semua ini?” Tanya Chanyeol.

“Maksudmu?” Hyukjae melompat dari pagar yang ia duduki, berdiri menghadap Chanyeol.

“Orang di balik kematian orang tuamu, orang tuaku, dan changmin. Dia adalah Ahn Kyeosoo!! Apa kau tahu??” Chanyeol merasakan darahnya naik ke kepala. Bibirnya bergetar karena emosinya meluap.

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Chanyeol-ah. Katakan padaku dengan jelas! Jangan setengah-setengah seperti itu!!” Teriak Hyukjae, ada selaput bening menutupi kedua matanya.

Chanyeol memandang Hyukjae sedalam mungkin untuk menemukan ketenangan. Ia lantas mencoba menjelaskan runtutan kejadian 11 tahun yang lalu. “Pada hari kematian orang tuaku, Kakek Lee memberitahuku kalau ia melihat Ahn Kyeosoo di dalam mobilnya saat beberapa pria membawa paksa orang tuaku dengan mobil yang berbeda. Menurutmu, untuk apa Ahn Kyeosoo berada di tempat kejadian jika ia tidak terlibat?”

Tatapan Hyukjae yang semula penuh amarah perlahan meredup, tapi air matanya justru mengalir perlahan tanpa ia sadari. Ia mencoba menjadi pendengar sekarang, daripada bersitegang dengan Chanyeol. Ditambah penuturan Chanyeol bahwa kakeknya adalah saksi penculikan kedua orang tua Chanyeol, membuat hatinya tergerak.

Chanyeol lantas meneruskan ceritanya, sementara Hyukjae menyimak dengan air mata yang terus mengalir. “Setelah 3 hari menghilang, orang tuaku ditemukan meninggal di Resor Pantai Timur. Ayahmu juga ikut menulis beritanya di Daily Cheonan- sebuah surat kabar tempat Ayah Hyukjae bekerja. Semua surat kabar Korea memuat beritanya, namun satu jam setelah beredar, seluruh koran ditarik dari peredaran dan pemberitaan tentang orang tuaku dihentikan. Hanya The Korean Eye yang bertahan dengan berita versi mereka sendiri.” Lanjut Chanyeol, sambil berusaha mengendalikan rasa sedihnya.

“Kemudian, semua wartawan yang ikut memberitakannya menghilang. Bahkan beberapa ada yang meninggal. Tapi polisi menyimpulkan mereka meninggal secara wajar. Orang tuamu adalah salah satunya. Karena Paman Lee menuliskan kejadian yang sebenarnya tentang kematian orang tuaku. Bahwa orang tuaku tidak meninggal karena bunuh diri, melainkan dibunuh oleh Ahn Kyeosoo.”

“Kau punya buktinya?” tanyanya sambil terisak.

“Kau tidak percaya padaku?”

“Kau gila!” maki Hyukjae, air matanya kembali turun.

“Apa?” suara Chanyeol yang berat pecah di sunyinya malam.

“Apa yang kau dapatkan dengan menjadi tangan kanan Ahn Kyeosoo? Kau hanya membahayakan dirimu sendiri.” Hyukjae kembali terisak.

“Sudah kubilang, kan, dia bisa membunuh ‘sisanya’ jika aku buka mulut saat itu. Changmin, kau, jieun, dan keluargamu yang lain akan terbunuh jika dia tahu kita mengetahui perbuatannya. Aku tidak punya cukup bukti. Menurutmu apa yang bisa kulakukan saat itu? Orang-orang hanya akan menganggapku gila karena menuduh presiden melakukan tindak pembunuhan. Siapa yang bisa menjatuhkan Ahn Kyeosoo saat itu? Bahkan parlemen tidak cukup kuat mengkudetanya.” ujar Chanyeol nampak frustasi. Hyukjae kehilangan kata-kata, dan hanya merenung sambil sesenggukan.

“Aku ingin melindungi satu-satunya yang tersisa, Hyukjae-ah. Keluargaku.” ucap Chanyeol.

“Lalu kenapa kau baru mencariku sekarang?”

“Aku tidak berniat memberitahu siapa pun tentang hal ini agar kita dapat hidup dengan baik. Tapi, setelah Changmin juga menjadi korban Ahn Kyeosoo, aku berubah pikiran. Untuk itu aku kembali, karena aku butuh bantuanmu.”

Hyukjae mengusap air mata yang mulai terasa lengket di pipinya. “Apa yang bisa kulakukan?” tanyanya, sambil menahan isakan.

“Menunggu. Sampai aku menemukan bukti yang kuat untuk menyeret Ahn Kyeosoo ke pengadilan. Aku tidak ingin ada korban lagi setelah Changmin.”

“Aku tidak bisa membantu kalau kau hanya ingin aku jadi penonton. Katakan apa rencanamu sekarang?” desak Hyukjae. Pria kurus itu berteriak hingga jakun di lehernya bergerak naik-turun.

“Aku akan membuat orang-orang kepercayaan Ahn Kyeosoo bersaksi atas kejahatan yang ia lakukan sebelas tahun lalu dan setahun yang lalu.”

“Siapa?”

“Cho Heeyoung dan suaminya, Park Choonjae.” Sahut Chanyeol. Hyukjae membelalak dengan kelopak mata yang mulai bengkak karena menangis. Ia sama sekali tak menyangka jika Manager Cho dan Dokter Park adalah sepasang suami istri. Dan yang lebih mengejutkannya adalah hubungan pasangan itu dengan kematian orang tuanya juga orang tua Chanyeol.

##

Advertisements

4 thoughts on “The Last Petal (Chapter 3 : Reasons to Live)

  1. Waaaah,…kenapa di part 3 ini semuanya terbuka?
    Teka-teki di part sebelumnya satu persatu kejawab.
    Dari paragraf awal part ini gue serasa masuk dalam movie nih… /semacam 3days?/
    Part 4 bakalan jadi ending kah???

    Heeem… tuh dokter muda pasti changmin kan? muncul pertanyaan baru nih, gimana bisa changmin masih hidup trus kok bisa Ahn kyeosoo itu ada sama changmin?

    Aaaah, btw kalo Sohee tahu kenyataan sebenarnya tentang ayahnya itu, SoHee bakalan jadi yang paling kasihan nerima kenyataan kalo ayahnya pembunuh dan yang dibunuh itu adalah orang tua dari cowok yang dia cintain. Apalagi kalo ternyata changmin punya dendam sama ayahnya.

    huhuhuuuuuu fav paring itu Chanyeol-Jieun ^^

    1. Berbau 3days mgkn krn tentang presiden2an.. Tp upaya balas dendam chanyeol itu jd kaya seunggi di You’re all surrounded.
      Koq tau itu changmin? Hhaha endingnya bakal menjawab tentang changmin.
      Part terakhir dibagi 2 part kayanya kepanjangan kalo jd satu we.
      Bakal ada tokoh penting yg jd saksi hidup kejahatan ahn kyeosoo.
      Aku jg suka pairing jieun-chanyeol. Kalo sohee-hyukjae suka dak we? Hahhaha

      1. Bukan karna presiden itu sih aq serasa ngebayangin 3days,..feel mikir nya itu loh sm kyk kmrn nnt 3days,..😊

        Wkt di awal baca partnya ahn kyeosoo sm dokter muda itu udah nebak dy changmin.
        Pertama, dr awal kan eomma dah bikin castnya ada changmin, aneh aja kalo ternyata changmin cuma di ceritain udah meninggal /cuma disebut2/ Seenggaknya diceritainlah masa lalunya sm sohee. 😊
        Trus, eomma juga kasih clue kl changmin itu dokter /wktu diliatin barang2nya changmin/

        Heeeem Sohee-hyukjae ya? Sohee tetep sama changmin aj kali ya, biar hyukjae sama Jiah wkwkwwkkkk 😄😁😀

        Siiip ditungguin deh part selanjutnya,.. penasaran bakalan sama dengan yang dibayangkan ga ya endingnya….

  2. Goood!! Hehehe bgslah kalo bs bikin yg baca jd mikir, bs dikatakan misi ff mistery ini mendekati kata ‘berhasil’ hahaha.
    Ada 1 clue lg loh yg nunjukin soal changmin. (Find it!)
    Wkwkwk teteeep hyukjae hrs sm jiah di-ff- manapun dia berada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s