The Last Petal (Chapter 4 : A Way to Find The Truth)

Image

Cast:

EXO Chanyeol  as  Park Chanyeol

TVXQ Changmin  as  Park Changmin/ Shim Changmin

SJ Eunhyuk  as  Lee Hyukjae

Sohee  as  Ahn Sohee

IU  as  Lee Jieun

Support Cast:

Cho Heeyoung (OC)

Shim Dongwon (OC)

Bae Seoran (OC)

Ahn Kyeosoo (OC)

Shinhwa Junjin  as  Park Chunjae

 

Background Song:

2AM – I Wonder If You Hurt Like Me

 

Soar high, you will discover a place that will even heal your sadness

The emotions that fill up the dark room overflow from the window

The moon’s light invites dreams giving rise to the hopes engraved in the rhythm

-DBSK, Bolero-

Oppa, sudah tidur?” bisik Jieun dari balik pintu, setelah mengetuknya dua kali. Hyukjae menyahut pelan dari dalam kamar, takut suaranya membangunkan Kakek Pastry yang sudah tidur, lalu membukakan pintu dan mendapati Jieun tengah tersenyum ke arahnya. Jieun lantas menerobos masuk dan duduk di atas lantai kamar yang hangat. Sekilas Hyukjae melihat kaleng using berbentuk persegi dalam dekapan gadis itu.

Wa –Kenapa dalam dialeg Cheonan– ?” tanya Hyukjae, melihat gelagat Jieun yang aneh. Kemudian bersila di seberang Jieun. Gadis itu tersenyum lagi padanya, yang justru menambah kecurigaan Hyukjae. “Katakan saja!”

Jieun mengendurkan senyum dan memutuskan untuk menceritakan detil pertemuannya dengan Sohee. Sesekali ada jeda, cukup lama, di sela ceritanya. Ia takut, ragu, bingung. Hyukjae sebisa mungkin menanggapinya datar, meski pikirannya sendiri telah dipenuhi kenyataan seputar kematian orang tuanya yang baru saja dijejalkan oleh Chanyeol. Selain itu, ia juga harus mengontrol laju jantung yang berdegup cepat tiap kali nama Sohee disebut.

“Jadi, menurutmu perempuan itu mengenal Changmin?” Tanya Hyukjae. Ia terus menerus mengganti nama Sohee dengan sebutan ‘Perempuan Itu’ untuk menjaga ‘kesehatan’ jantungnya.

Jieun mengangguk yakin. “Guru Ahn bilang namanya Shim Changmin – kuliah di London – berasal dari Cheonan – meninggal setahun yang lalu.” Ulang Jieun singkat.

“Tapi nama belakangnya adalah Shim bukan Park.” Hyukjae menimpali. Sekali lagi ia harus mengendalikan dirinya.

“Bukankah Changmin Oppa diadopsi oleh seorang duta besar. Jadi sudah pasti mereka adalah orang yang sama.” Jieun bersikukuh.

Hyukjae menyipitkan matanya. “Dari mana kau tahu duta besar itu bermarga Shim?” Tanya Hyukjae. Wajah Jieun berubah merah.

“Chanyeol Oppa pernah mengatakannya padaku.” Ujar Jieun pelan. Akhirnya mengungkap satu per satu hal yang selama ini ia rahasiakan.

“Dia tidak pernah cerita padaku.” Tukas Hyukjae.

Jieun diam tak berani menjawab lagi. Gadis itu lantas menyodorkan kaleng biscuit yang ia bawa, dimana surat-surat dari Chanyeol tersimpan. Kaleng itu tampak kusam, menandakan usianya yang sudah sebelas tahun. Hyukjae meraihnya kemudian membuka tutupnya sehingga tumpukan kertas itu menyembul ke permukaan karena sudah terlampau penuh. Jieun menunduk dengan mata terpejam, menanti murka Hyukjae yang ia tahu pasti akan terjadi.

“Apa ini?” Hyukjae mengerutkan dahi melihat kertas-kertas di hadapannya.

“Maafkan aku, Oppa. Selama ini aku dan Chanyeol Oppa saling berkirim surat. Karena dia mencemaskan kehidupan kita setelah ayah dan ibu meninggal.”

“Lalu kenapa tidak memberitahuku?” Suara Hyukjae terdengar sangat kecewa. Tapi ia tak berdaya jika harus melampiaskan amarahnya pada Jieun. Ia memilih menelan kekecewaannya sendiri.

“Aku tidak tahu.” Jawaban Jieun terdengar tak berdaya, tapi justru membuat kekecewaan Hyukjae bertambah.

“Lalu kenapa memberitahuku sekarang? Bukankah sejak awal kau tidak ingin aku tahu?” Tanya Hyukjae, mengintimidasi.

“Karena aku tahu ada yang tidak beres dengan Chanyeol Oppa sekarang.”

“Aku sependapat” Hyukjae membatin. Ia memangkas rasa antusiasnya dan hanya berdeham menyambut pernyataan adiknya tentang Chanyeol.

Jieun lalu melanjutkan, “Chanyeol Oppa terlihat berbeda. Dia seperti pertama kali bertemu denganku. Dia sama sekali berbeda dengan Chanyeol Oppa yang selalu menulis surat untukku. Sejak pertama bertemu dengannya di Shinhan School, aku tahu ada yang aneh dengannya.”

“Jieun-ah kurasa kau lelah. Sebaiknya kau istirahat!” Hyukjae berusaha menyudahi. Walaupun ia juga merasakan hal yang sama dengan Jieun, bahwa Chanyeol memang terlihat aneh setelah kembali dari Swiss. Meski Chanyeol kerap menunjukkan sifat ceria di hadapannya, pria itu akan berubah menjadi sisi mata uang yang berbeda saat bersama orang lain.

Oppa!! Ini bukan satu atau dua surat yang dikirimkan padaku. Aku menerima suratnya setiap awal musim berganti selama 10 tahun ini. Karena itu aku tahu seperti apa Chanyeol Oppa yang sebenarnya meski tidak bertemu dengannya.” Jieun masih berkeras dengan firasatnya. Air matanya mengalir perlahan karena frustasi.

Hyukjae menghela nafas melihat wajah adiknya merah sejadi-jadinya. “Jieun-ah, bagaimana orang saat menulis dengan orang saat berbicara tentu berbeda.” Ujar Hyukjae.

“Tidak ada gunanya. Aku akan mencari tahu sendiri.” Jieun merampas kaleng berisi surat Chanyeol dari tangan Hyukjae. Ia menyeka air matanya yang terus mengalir lalu bangkit menuju pintu. Hyukjae hanya menghela nafas panjang dan membiarkan adiknya yang masih menangis kembali ke kamar. Sementara ia bergelut dengan pikirannya sendiri tentang teka-teki kematian orang tuanya, orang tua Chanyeol dan Changmin.

#

Setelah percakapan emosional malam itu, Chanyeol, Hyukjae, dan Jieun tidak bisa tidur nyenyak karena dibebani pikiran masing-masing. Hyukjae sengaja menunda waktu tidurnya beberapa jam karena takut efek menangis tadi berimbas pada kelopak matanya yang bengkak, tentunya akan menimbulkan pertanyaan bagi Kakek Pastry juga Bibi Lee dan suaminya. Berbeda dengan kakaknya, Jieun justru jatuh tertidur setelah lelah menangis, tergeletak begitu saja di samping kaleng biskuit yang isinya berserakan. Hal yang lebih menyedihkan justru menimpa Chanyeol. Ia tertidur begitu saja setelah meminum obat pereda rasa sakit, karena sepulang dari rumah Kakek Pastry dan bersitegang dengan Hyukjae kepalanya kembali sakit. Malangnya, ia terus mengigau dan meneriakkan “Hyung! Hyung! Hyung!”, mengerang hampir di sepanjang malam. Lalu terbangun keesokan harinya, setelah efek obatnya habis, dalam keadaan pusing.

Karena masih merasa kesal pada kakaknya, pagi itu Jieun pergi ke sekolah begitu saja tanpa menunggu Hyukjae. Pria itu tak punya pilihan, kecuali diam-diam menyusul ke Shinhan School untuk memastikan Jieun sampai dengan selamat. Dan harus buru-buru menuju The Korean’s Eye yang untungnya berada di satu distrik dengan sekolah Jieun.

Begitu tiba di kantor bergaya Eropa Timur di Cheongdamdong, Hyukjae berpapasan dengan Manager Personalia, Cho Heeyoung, di persimpangan koridor lantai 2. Wanita berusia di penghujung 30-an dengan postur tinggi itu menanggalkan kaca mata bacanya, hingga ia terlihat lebih muda dan cantik. Keduanya saling menundukkan kepala tanpa sepatah kata pun keluar. Manager Cho bergerak lebih dulu dengan amplop cokelat klasik bertali di tangannya, sepertinya menuju ruangan GM Park, sementara Hyukjae tertegun sejenak. Kata-kata Chanyeol semalam soal keterlibatan Manager Cho dan Dokter Park kembali menggema.

Cho Heeyoung duduk di hadapan Chanyeol dengan posisi punggung tegap. Pria berkulit pucat itu masih berbicara dengan seseorang di ponsel, bahasanya sopan dan berpendidikan. “Baik. Sampai bertemu di Korea.” Dua menit kemudian, Chanyeol menyudahinya. Ia mengangkat bahunya dan duduk tegap menghadap Heeyoung.

“Kau sudah bicara dengan suamimu?” Chanyeol bertanya santai. Ia tidak ingin mengawali percakapannya dengan ketegangan pagi itu, sakit kepala bekas semalam bahkan belum hilang.

Wanita itu menggeleng lemah.“Kapan kau berencana membuka kembali kasusnya?” Tanya Heeyoung, tak yakin.

“Minggu depan. Mereka akan datang ke Korea untuk upacara peringatan kematian orang tuaku.” Sahut Chanyeol.

“Akan kupastikan suamiku bersedia menjadi saksi. Kau juga harus membantunya nanti.” Ujar Heeyoung. Chanyeol mengangguk dengan sebuah senyuman singkat untuk menenangkan wanita itu. “Pasti!” katanya.

Heeyoung mengangsurkan amplop ke dekat tangan Chanyeol. “Semua bukti foto di lokasi kejadian ada di sana. Dan naskah asli yang belum diubah Presdir Ahn, sudah kumasukkan juga.” Katanya. Pria itu tampak menegang ketika benda itu berada di genggamannya.

“Aku tidak menyangka kau sudah berjalan sejauh ini. Aku berharap kebenaran akan terkuak.” Heeyoung menambahkan.

Ia masih ingat setahun yang lalu, Chanyeol muncul menggantikan sementara Presdir Ahn yang harus menjalani penyembuhan di Swiss. Saat itu, dengan berani Chanyeol meyakinkan Heeyoung agar kembali bekerja di The Korean’s Eye, pasca pemecatan 11 tahun lalu akibat berita kematian Park Minseok dan isterinya yang ia tulis. Setelah membuat kesepakatan tentang status keterlibatan suaminya –yang menurutnya sama sekali tidak bersalah– dengan kematian orang tua Chanyeol, ia kembali ke The Korean’s Eye untuk membantu mengumpulkan bukti.

“Terima kasih, Noona! Aku berhutang budi padamu.” Ujar Chanyeol dengan mata yang basah. Heeyoung tersenyum, dan menepuk punggung tangan Chanyeol yang menggenggam amplop. Lalu meninggalkan ruanganan pria itu.

Chanyeol membuka lilitan tali pengait di belakang amplop dengan gerakan perlahan. Dengan perasaan lega dan antusias, namun juga sedih dan marah. Seperti yang dikatakan Cho Heeyoung, di dalamnya terdapat foto-foto yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya –atau mungkin sengaja dirahasiakan–sekaligus menjadi salah-satu bukti yang selamat dari tangan Ahn Kyeosoo. Menurut keterangan wanita itu, foto-foto tersebut diambil sendiri oleh Lee Jaehwan, yang secara kebetulan bertemu dengannya di tempat kejadian perkara –Resor Pantai Timur- sebelas tahun lalu. Dan diberikan padanya setelah menolong Lee Jaehwan yang tiba-tiba diserang oleh pria tak dikenal sepulang dari Rumah Duka Rumah Sakit Universitas K, ketika hadir di upacara peghormatan jenazah suami isteri Park.

Lee Jaehwan yang merasa Ahn Kyeosoo masih mengincar parawarta yang ikut memberitakan kematian Park Minseok dan isterinya, memberikan foto tersebut pada Cho Heeyoung –dengan harapan wanita itu akan menyerahkannya ke polisi– sementara pergi jauh dari Korea untuk alasan keselamatan. Setelah Ahn Kyeosoo –dalam hal ini diatasnamakan sebagai The Korean’s Eye– memberhentikan Cho Heeyoung, wanita itu pergi meninggalkan Korea menuju Beijing –di sanalah ia akhirnya menikah dengan Park Chunjae yang seorang dokter– dan kembali ke Korea begitu kekuasaan Ahn Kyeosoo berakhir.

Chanyeol memasukkan kembali foto-foto mengerikan itu ke dalam amplop cokelat besar bertali lalu menjejalkannya di laci meja paling dasar. Matanya yang basah memancarkan kemarahan. Ia harus segera mengakhiri semuanya setelah setahun menjalaninya. Dengan tiga orang saksi, Cho Heeyoung, Park Chunjae –jika berhasil diyakinkan isterinya– , Shim Dongwan, dan bukti dari masing-masing saksi, ia yakin mampu menyeret Ahn Kyeosoo ke penjara –meskipun sebagai manusia biasa ia lebih bernafsu untuk menghabisi nyawa orang yang telah membunuh anggota keluarganya itu–. Namun, dari semua bukti yang sudah ada, masih ada satu bukti lagi yang tersimpan di lemari besi berkode rahasia milik Park Chanyeol.

#

Saat jam makan siang tiba, Lee Hyukjae cepat-cepat merapikan meja kerjanya untuk meninggalkan kantor -Baekhyun nampak kecewa karena Hyukjae akan melewatkan makan siang bersama lagi–. Hyukjae rupanya berencana menemui Dokter Park siang itu sekedar untuk, yah, mengenalnya lebih dekat mungkin. Ia berada di posisi yang serba salah sebenarnya, ketika ia menginginkan kebenaran akan kematian orang tuanya sementara merahasiakan identitasnya, adalah hal yang sulit.

Pria kurus dengan tulang rahang jelas terlihat berdiri di depan resepsionis. “Apa Dokter Park ada jadwal hari ini?” Tanya Hyukjae. Sang petugas lantas mengatakan bahwa Dokter Park akan sangat sibuk sampai malam dan menawarkan jika Hyukjae mau diperiksa dokter lainnya. Ia memberi tahu ada urusan pribadi dengan Dokter Park. Wanita muda yang duduk di meja resepsionis memberikan nomor telepon pada Hyukjae, setelah mempertimbangkannya.

Hyukjae kemudian duduk di loby sembari minum kopi. Ia telah mengirimkan pesan ke ponsel Dokter Park : menantinya di lobby untuk makan siang bersama, tak lupa menyertakan keterangan yang dapat mengingatkan Dokter Park padanya. Dokter Park muncul lebih cepat daripada yang ia duga, dan masih mengenakan blazer putihnya. Mereka berjabat tangan. Wajah Dokter Park secerah biasanya meskipun terlihat lelah.

“Jadwalku penuh sampai nanti malam. Sepuluh menit lagi aku harus rapat dengan beberapa dokter untuk operasi sore ini. Sayang sekali.” Kata Dokter Park.

Hyukjae mengangguk, mencoba tersenyum meski agak kecewa. “Saya mengerti. Mungkin kita bisa bicara lain kali.”

“Kalau boleh tahu, soal apa ya?” Tanya Dokter Park.

“Soal Presdir Ahn Kyeosoo, jika Anda bersedia berbagi sedikit padaku.”

Dokter Park menegang. Teringat sms isterinya ketika ia memberitahu bahwa seorang pria bernama Lee Hyukjae datang menemuinya. Wanita itu memperingatkannya untuk tidak terlalu banyak membeberkannya jika itu menyangkut hal pribadi. Dan Dokter Park menyanggupi, meski ia juga cukup penasaran dengan orang-orang yang terus mencari Ahn Kyeosoo.

“Mungkin akan sedikit malam.” Setelah menimbang-nimbang, Dokter Park akhirnya setuju. Mereka mengatur pertemuan selepas jam kerja, sekitar pukul sembilan malam, di warung tenda favorit Dokter Park di Daerah Shinsadong.

Di dalam sebuah restoran kecil di belakang kantornya, Hyukjae menyantap makan siangnya dengan super cepat. Ia terburu-buru mengingat jam istirahat akan segera berakhir. Dan setelah nasi terakhir melesat ke tenggorokannya, ia mengeluarkan ponsel dari saku. Tepat sekali pesan Chanyeol masuk, padahal ia bermaksud menelepon adiknya yang merajuk tadi pagi. Chanyeol memberitahu Hyukjae agar pergi ke Cheonan bersama untuk upacara peringatan sebelas tahun kematian orang tua mereka yang hanya terpaut lima hari –enam hari sebenarnya–.

Hyukjae meninggalkan restoran dan berjalan cepat kembali ke kantor, dengan ponsel menempel di telinga. “Aku minta maaf soal semalam.. Aku tahu kau dengar.. Tidak masalah kalau tidak mau menjawab.. Chanyeol bilang minggu depan kita pergi ke Cheonan bersama.. Ah, iya mungkin dia sudah bilang padamu ya. Kau kan istimewa dan aku hanya teman yang terlupakan.. Maaf. Iya aku minta maaf. Aku tidak akan bicara seperti itu lagi.” Hyukjae terus bicara sendiri sementara Jieun hanya mendengarkannya. Ia begitu antusias memberitahu Jieun soal ajakan Chanyeol untuk pergi ke Cheonan bersama. “Jadi bagaimana? Kau setuju?” Tanya Hyukjae. Ia baru saja melewati lobby kantor.

“Aku setuju saja. Lagipula tanggal upacaranya hanya berbeda lima hari. Memangnya oppa dapat ijin cuti berapa hari?” Tanya Jieun. Seperti biasa, amarahnya tak pernah bertahan lebih dari tengah hari.

“Manager Cho memberiku ijin satu minggu.”

“Lalu aku bagaimana?”

“Jieun-ah, kau bisa kan bicara sendiri pada wali kelasmu? Aku sedang banyak pekerjaan.” Jawab Hyukjae, berdalih.

“Dasar pengecut!” cibir Jieun pelan, menjauhkan ponselnya sekitar tiga puluh senti dari telinga. “Baiklah. Nanti aku bicara pada Guru Ahn. Sudah, ya! Aku harus masuk kelas.” Kata Jieun buru-buru menyudahi sebelum Hyukjae menyahuti. Sambil menuju kelas usai makan siang di kantin, ia terkekeh sendiri membayangkan wajah kakaknya yang memerah setiap kali ia menyebut soal wali kelasnya.

#

Satu hari sebelum keberangkatan ke Cheonan, Chanyeol malah membatalkan rencana pergi bersama dengan Keluarga Lee. Meskipun alasan yang ia berikan cukup masuk akal, yaitu perintah mendadak dari Presdir Ahn di Swiss untuk mengiriminya dokumen perusahaan dan harus ditangani langsung oleh Chanyeol, tetap saja Hyukjae sedikit kecewa, terlebih lagi adiknya. Sebagai gantinya, Chanyeol meminjamkan Hyukjae mobil dan diminta pergi lebih dulu bersama yang lain. Sementara ia akan menyusul keesokan harinya.

Namun sebenarnya, Chanyeol tidak benar-benar membatalkan rencana. Ia justru tiba di Cheonan lebih dulu untuk mengadakan upacara peringatan kematian orang tuanya bersama dua orang yang berjasa baginya. Dan ia bermaksud merahasiakan hal itu dari Hyukjae.

Malam sebelumnya, Chanyeol datang pada Cho Heeyoung, meminta wanita itu menjaga Ahn Kyeosoo selama ia pergi. Ia memberi tahu makanan yang harus dan boleh dimakan; jam berapa ia harus berkunjung; benda apa yang tidak boleh ia bawa saat berkunjung; obat apa saja dan berapa dosis yang harus diberikan; jumlah cairan yang harus masuk ke tubuh setiap harinya; suhu tubuh, denyut jantung dan ritme pernapasan yang harus dilaporkan setiap selesai kunjungan. Chanyeol memberi tahu dengan sangat detail dan Cho Heeyoung mencatatnya di notes miliknya yang bersampul kulit.

Cho Heeyoung adalah orang pertama yang diperlihatkan ruang persembunyian Ahn Kyeosoo oleh Chanyeol. Dengan sedikit ancaman menyangkut suaminya, ia yakin wanita itu tidak akan berani macam-macam dan menggagalkan rencananya. Selain itu, sebagai isteri seorang dokter, Cho Heeyoung paling tidak –seharusnya ia tahu– mengerti bagaimana cara merawat pasien. Maka meskipun sedikit kuatir dengan pasiennya, terpaksa Chanyeol menyerahkan tanggung jawab itu pada Cho Heeyoung. Karena seseorang sedang menantinya di Cheonan.

#

Langit di atas komplek pemakaman masih sedikit gelap. Terasa teduh. Chanyeol sengaja mengatur upacara pagi-pagi sekali untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya saja bertemu dengan Hyukjae. Ia mengenakan setelan jas rapi pagi itu. Lengkap dengan dasi hitam yang kontras dengan kemeja putihnya namun senada dengan jasnya yang berwarna hitam pekat. Ia telah menata makanan kesukaan orang tuanya di dekat pusara. Di sebelahnya, ia letakkan buket bunga chrysant kesukaan ibunya.

Sejenak ia membiarkan dirinya terlena dengan kenangan masa lalu saat keluarganya masih utuh. Begitu menyenangkan hatinya. Hingga kebahagiaan itu terenggut dan nyaris tak berbekas ketika orang tuanya tewas dan keadaan membuatnya harus terpisah dari saudaranya. Ia terpaksa menitikkan air mata lagi.

Son!” terdengar sebuah suara yang tak asing memanggilnya dari bawah tangga pemakaman. Suara yang hangat dan lembut dari seorang pria yang telah setahun ini tidak bertemu dengannya. Chanyeol menyeka air matanya, berbalik ke arah suara. Senyumnya mengembang penuh kelegaan ketika kedua orang itu tersenyum ke arahnya.

Abeonim –Ayah!” Chanyeol menatap pria berperawakan tinggi besar berkacamata, lalu membungkuk dalam. Wanita disebelah pria itu memandanginya dengan hasrat kerinduan yang membuncah. Chanyeol balas menatap dan membungkuk dalam. “Eommeonim –Ibu!” katanya dengan suara bergetar. Kehadiran keduanya seketika mengubah emosi Chanyeol yang semula rapuh. Seakan memberinya kekuatan.

Shim Dongwon dan isterinya, Bae Seongran –seorang dokter bedah di King’s College Hospital London– menepati janji mereka pada Chanyeol untuk kembali ke Seoul memberi kesaksian atas kematian Park Minseok dan isterinya, serta kematian Lee Jaehwan dan isterinya, yang telah dibungkam pengadilan sebelas tahun lalu.

Chanyeol membungkuk sekali lagi, memberi penghormatan bagi suami isteri Shim yang jauh-jauh datang dari London. Shim Dongwon memeluknya selama beberapa saat, dengan kelegaan luar biasa, sambil menepuk punggung Chanyeol. Meski ingin lebih lama memeluk puteranya, melihat Bae Seongran tampak tak sabar ingin memeluk Chanyeol, Shim Dongwon melepas dekapannya. Dan tubuh Chanyeol langsung disambar oleh Bae Seongran, serta merta menenggelamkan wajahnya di dada Chanyeol dan menangis. Chanyeol dapat merasakan ketulusan kasih seorang ibu dari wanita itu. Ia mendekap wanita itu dan membiarkan tangis kerinduannya pecah.

Langit mulai menjingga. Bae Seongran terlihat sekali belum puas memeluk puteranya. Ia mengusap wajah Chanyeol sambil memandangi wajah itu dalam-dalam. “Kau tampak sangat sehat. Bagus sekali!” ujarnya, detik berikutnya air matanya kembali tumpah. Chanyeol mendekap wanita itu lagi. Shim Dongwon menepuk pundaknya dengan bangga. Lalu melepaskan tubuh isterinya dari Chanyeol. Mereka harus menyegerakan upacara peringatan kematian, jika tidak ingin ada bekas tetangga Keluarga Park melihat kedatangan mereka. Bergantian ketiganya memberi penghormatan bagi mendiang, menuangkan arak dan menyalakan dupa.

#

Selepas upacara peringatan kematian dan menyingkirkan ‘bekasnya’, Chanyeol beserta suami isteri Shim kembali ke hotel tempat Shim Dongwon dan isterinya menginap selama di Cheonan. Disana mereka membuat skenario untuk Ahn Kyeosoo. Chanyeol memberi tahu mereka soal kesediaan Cho Heeyoung dan suaminya menjadi saksi, juga bukti foto yang diberikan padanya. Shim Dongwon menanggapinya positif.

Bae Seoran sedang membuatkan teh di pantry, sementara Shim Dongwon menyalakan laptop di ruang tengah. Chanyeol menghampiri Bae Seoran, sedikit mengagetkan wanita itu. “Terima kasih, Eomma!” ujar Chanyeol, seraya melayangkan pelukan hangat pada wanita itu.

“Apa sakit kepalanya masih sering datang?” Tanya wanita berambut hitam lurus sebahu itu. Chanyeol melepas dekapannya, mengangguk dengan sebuah senyuman mencoba menenangkan.

“Kau mengalami kecelakaan sehebat itu, tentu saja efeknya akan muncul berkala.” Katanya dengan raut kecemasan yang kentara. “Kau mengerti bagaimana merawat tubuhmu sendiri, kan? Setelah semua ini berakhir, Eomma akan membawamu ke Inggris untuk pemeriksaan berikutnya. Kau sudah melewatkan 2 kali jadwal periksa.” Tambahnya serius. Chanyeol hanya bisa mengiyakan.

“Aku merindukan kau yang dulu!” desah Bae Seoran, terdengar seperti sebuah keluhan.

“Aku masih anak kalian, bagaimanapun juga.” Ujar Chanyeol, diikuti dengan helaan nafas panjang ibunya.

Suara ketel berbunyi nyaring, melegakan Chanyeol yang sebenarnya berusaha lari dari percakapan yang membuat ibunya sedih. Bae Seoran langsung beralih pada cangkir-cangkir mungil yang siap diisi. Chanyeol menyingkir dari pantry dan kembali ke ruang tengah bersama Shim Dongwon.

Shim Dongwon memutar sebuah rekaman cctv di laptop milik Chanyeol. Rekaman itu diambil dari cctv di depan rumah Dokter Park Chunjae, dimana Ahn Kyeosoo tampak berbincang dengan Dokter Park selama hampir tiga menit. Malam itu, 26 April 2003 sekitar pukul 22.06, Ahn Kyeosoo mengendarai sendiri mobilnya. Ia tidak mengenakan setelan jas, hanya mantel berwarna cokelat gelap dengan bagian kerah tinggi menutupi leher. Sementara Dokter Park muncul dari balik pagar, masih mengenakan kemeja biru lengan panjang bergaris putih tak kasat mata. Setelah percakapan kilat itu, Dokter Park tampak ragu masuk ke dalam rumahnya. Namun Ahn Kyeosoo di dalam mobilnya. Satu menit kemudian Dokter Park muncul dengan terburu-buru sambil mengenakan mantel abu-abu gelap nyaris hitam, lalu masuk ke mobil Ahn Kyeosoo.

Sebelum melanjutkan rekaman kedua, Shim Dongwon melirik Chanyeol yang wajahnya merah padam. “Kau sudah pernah melihat rekaman ini sebelumnya, kan?” tanyanya. Chanyeol mengangguk, ia pernah melihatnya setelah keluar dari Rumah Sakit tahun lalu. Kemudian Bae Seongran muncul dari arah pantry membawakan teh aroma mint. Lalu duduk di samping suaminya. Kali ini emosinya kembali stabil, sejak meluap tak terkendali di komplek pemakaman.

“Kau sudah bicara dengan Dokter Park soal bukti pembelian obat itu?” Tanya Shim Dongwon.

“Heeyoung noona sedang mengusahakannya. Dia ragu bukti itu masih disimpan suaminya.”

“Temanku akan membantu menyelidiki bukti dan saksi. Dia adalah mantan detektif besar di Gangwon. Aku yakin dia bisa membantu.”

Chanyeol mengangguk menanggapi. “Apa Abeonim yakin kasus ini bisa dibangun kembali?”

“Tentu. Meski agak sulit, tapi selagi ada saksi dan bukti yang memberatkan, Ahn Kyeosoo tidak akan luput dari hukum.” Ujarnya. Lalu beralih kembali pada rekaman cctv berikutnya.

Rekaman yang kedua masih diambil dari cctv rumah Dokter Park. Dengan setting waktu sekitar pukul 00.18 dini hari berikutnya, 27 April 2003 –dan diduga sebagai waktu terbunuhnya Park Minseok dan isterinya– berdurasi sekitar dua menit. Mobil Ahn Kyeosoo berhenti di depan rumah Dokter Park, dengan mesin yang dimatikan. Satu menit pertama, tidak seorang pun dari mereka yang muncul di kamera, terlihat siluet di kursi depan keduanya tengah berbincang. Menit berikutnya, Dokter Park turun dari mobil, kembali berbicara dengan Ahn Kyeosoo melalui kaca depan. Dokter Park berjabat tangan dengan Ahn Kyeosoo kemudian Ahn Kyeosoo meninggalkan tempat. Dokter Park memperhatikan laju mobil dari kejauhan selama beberapa detik. Kemudian melangkah masuk ke dalam rumah, dengan kedua tangan tersembunyi di kantung mantel.

“Menurutku kita bisa menemukan sesuatu dari sini.” Ujar Shim Dongwon pada Chanyeol. “Kuharap begitu.” Chanyeol menambahkan.

“Sebenarnya ada satu lagi yang mungkin bisa menjadi bukti yang memberatkan.” Kata Chanyeol.

“Kau masih belum bisa membuka lemari besinya?” Tanya Shim Dongwon, nadanya menggambarkan kepanikan, namun tidak dengan wajahnya yang senantiasa tenang.

“Aku sudah mencoba beberapa kombinasi, tapi tidak berhasil.” Tukas Chanyeol.

“Cobalah dengan seuatu yang berhubungan dengan seseorang yang istimewa baginya!” Bae Seoran mencoba memberi petunjuk pada Chanyeol, meski sedikit tak yakin. Dan nama Lee Jieun langsung melintas di kepala Chanyeol.

“Ya. Aku rasa kali ini akan berhasil dibuka.” Ujar Chanyeol.

Chanyeol menyambar cangkir teh yang mulai dingin, lalu menyesapnya tanpa jeda hingga habis. “Aku akan meninggalkan bukti yang diberikan Heeyoung noona disini. Barangkali Abeonim bisa menemukan sesuatu.” Chanyeol meletakkan amplop cokelat klasik di atas meja. Shim Dongwon melirik benda itu, lalu meletakkannya begitu saja di atas latopnya.

“Aku harus pergi dan memastikan Hyukjae sudah sampai di Cheonan.” Imbuhnya.

Bae Seoran bangkit, beberapa detik lebih cepat dari suaminya. Kemudian mengantar Chanyeol sampai ke depan pintu. Mereka pun berpisah setelah Chanyeol mendapat sebuah pelukan dari Bae Seoran.

# #

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s