We Got Married (The Series) : Let The Love Back In

5080814101_f16e718e75_z_large

WE GOT MARRIED

(An Unvirtual Married)

Episode: Let The Love Back In

Tripple Wedding – Unseen Scene

“Give us the sunshine instead of the rain
We got to let the love back in again” –Orange Light

Main Cast:

Lee Dongwook – baseball coach

Go Areum (OC) – a fashion journalist

Support Cast:

[SJ] Lee Donghae – Dongwook’s Cousin

Dongwook berdiri di depan gedung apartemen 17 lantai tempat ia dan isterinya tinggal selama satu tahun terakhir. Ia memandang jauh ke depan dengan kedua tangan menelusup di balik jaket. Kemudian mengamati pakaian yang ia kenakan –setelan training berwarna biru elektrik lengkap dengan sepatu olahraga– dengan perasaan jengkel. Wajahnya merah seperti kepiting rebus. Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Selang beberapa saat sebuah taksi menepi di depannya. Dongwook melompat ke dalamnya. Sopir taksi menyalakan argo setelah Dongwook mengatakan tujuan. Kemudian taksi berpindah jalur dan melaju dengan cepat.

Sepanjang perjalanan menuju Incheon, ia hanya memandang ke luar jendela dengan perasaan terluka. Peristiwa di ruang makan pagi itu membuat harga dirinya jatuh. Pagi itu tiba-tiba saja Areum melemparkan semua pakainnya ke lantai, tepat saat Dongwook baru saja akan menikmati sarapannya. Isterinya itu mengeluhkan gaya berpakaian Dongwook yang standar bahkan mengungkit soal karir pelatihnya yang sedang meredup, hingga ia hanya menerima gaji pokok tanpa tunjangan setiap bulan. Untuk pertama kalinya ia merasa Areum seperti orang asing baginya.

Tiga bulan terakhir itu adalah yang terberat sepanjang pernikahannya. Dongwook tak bisa memberi banyak untuk keluarga kecilnya. Sehingga Areum yang biasanya menolak jika harus dinas ke luar kota, kini beberapa kali terpaksa mengambil jatah dinas mengingat bonus kerja yang lumayan. Dongwook memahami pengorbanan Areum dan kesetiaannya selama krisis tiga bulan itu. Selama itu pula emosi Areum kerap kali berubah. Dan pagi itu adalah puncak kesabaran Areum atas permasalahan rumah tangga mereka.

Dongwook memejamkan mata. Sudut matanya basah tanpa ia sadari. Wajah Areum yang tengah menangis muncul di benaknya. Ia menyesali langkahnya meninggalkan rumah tanpa berusaha memberikan pengertian pada Areum.

#

Sesuai firasat Dongwook, Areum kini tengah menangisi kebodohannya. Bekas sarapan yang belum tersentuh masih berada di atas meja makan. Ia menangkupkan tangan ke wajah, dengan air mata mengalir dari sela jarinya. Membayangkan luka yang ia sebabkan di hati suaminya, Areum semakin terisak. Dalam hati ia hanya bisa memaki dirinya yang tak tahu diri, tak tahu diuntung. Jika suaminya bukan seorang Lee Dongwook, mungkin ia harus bersiap untuk sidang paling menyakitkan seumur hidupnya.

Areum mencoba mengendalikan emosinya, karena harus bersiap-siap menghadiri rapat review mingguan kantor. Ia mulai membereskan meja makan. Namun tiba-tiba kembali menangisi kebodohannya. Begitu pula saat merapikan pakaian Dongwook yang berhamburan di lantai, ia menangis lagi. Saat mengembalikannya ke lemari pakaian, ia kembali menangis. Sungguh ia menyesali perbuatannya pagi itu. Tapi ia tak tahu bagaimana memperbaiki hubungan mereka. Jadi, ia hanya bisa menangis dan menunggu Dongwook kembali.

#

Dongwook duduk menikmati kopinya sendirian di restoran. Restoran itu berada di lantai dasar hotel –tempat ia membuat janji bertemu dengan seseorang– yang menghadap ke kanal buatan dikeliling perdu berbunga. Sudah lewat jam makan siang namun orang yang ditunggunya belum muncul juga. Padahal perutnya sudah menjerit minta diisi. Dengan tidak sabar, ia mengirim pesan berisi “ancaman” pada teman janjiannya : Jika tidak datang segera, jangan pernah datang ke rumah! Kemudian sebuah balasan datang dengan cepat : Makan saja sepuasmu! Aku yang traktir. Mendapat jawaban demikian Dongwook segera memesan makanan untuk disantapnya sendiri. Lalu mengabari orang tersebut bahwa ia akan menunggu.

Beberapa jam selepas menyantap makan siang, Dongwook memesan secangkir Caramel Macchiato untuknya dan Au Lait –Kopi Susu Khas Perancis– untuk teman janjiannya. Dari kejauhan, seorang pria dengan tingkat ketampanan setara Dongwook berjalan penuh percaya diri ke mejanya. Pria itu menghela nafas tanpa sebab lalu duduk di depan Dongwook yang menyeringai ke arahnya. Menyandarkan tabung gambar di kursi kosong di sebelahnya.

“Kau begitu merindukanku, ya? Kenapa menyusulku?” Donghae –sepupu Dongwook dari sebelah Ayah– mendesis.

Dongwook berdecak sebal, hendak memukul kepala adik sepupunya, “Aku sedang ada masalah besar, kau malah bercanda.”

“Maaf, aku hanya bercanda. Jangan terlalu serius.” Ujarnya, refleks mengelak pukulan Dongwook. “Memangnya seberapa serius masalahnya?” Donghae mulai menyeruput Au Lait-nya.

Dongwook menghela nafas dan mulai bercerita panjang lebar soal Areum. Sampai-sampai Donghae kehilangan hasrat menikmati lagi minumannya lantaran mata Dongwook berkaca-kaca sepanjang narasi.

“Hyung, aku yakin kau bisa mengatasinya, kan? Kalian sudah bersama selama setahun. Masalah sebesar apapun pasti bisa kalian hadapi.” Donghae memberi pandangan, Dongwook diam mendengarkan –entah mendengarkan atau melamun–.

“Aku tidak ingin berpisah dengannya karena masalah ini. Tapi Areum terlihat tidak sebahagia dulu. Menurutmu jika aku mempertahankannya, apa aku egois?”

“Pernikahan benar-benar rumit.” Gumam Donghae. “Kau masih mencintai Areum Noona dan Areum Noona masih mencintaimu, kurasa__ tidak, tidak, aku yakin dia masih mencintaimu. Jadi, kenapa perpisahan bisa terbesit di pikiranmu, hyung? Materi bukan satu-satunya sumber kebahagian. Areum Noona hanya perlu pengertianmu.” Donghae menghela nafas panjang, sambil memandangi Dongwook yang membisu. Lalu melanjutkan, “Aku tidak bermaksud memihak salah satu dari kalian. Pikirkanlah bagaimana hidupmu jika tanpa Areum Noona dan sebaliknya.”

“Aku tidak bisa jika tanpa Areum. Tapi kurasa dia akan lebih bahagia jika tak bersamaku.” Ujar Dongwook.

“Kurasa sebaiknya kita kembali ke Seoul. Noona pasti menunggumu. Jika malam ini kau tidak kembali, aku kuatir kau berubah pikiran.” Desak Donghae kesal.

Dongwook mengangguk. Membayangkan Areum menunggunya di depan pintu, membuat senyumnya merekah. Ia perlahan bangkit dari kursi. Saat itu Donghae sudah jauh meninggalkannya menuju pintu, ketika rasa sakit di rusuk kirinya kembali menyerang. Dongwook berusaha menahan tubuhnya dengan sebelah tangan tertumpu di meja dan sebelahnya mencengkram bagian yang sakit. Menyadari ketahanan tubuhnya yang menurun, ia segera berteriak memanggil Donghae dengan suara gemetar. Donghae berbalik, melihat kondisi Dongwook ia segera berlari menghampiri. Sepupunya itu terlihat begitu pucat, keringat dingin meliputi dahinya, dan tak berhenti mengerang kesakitan.

#

Seusai rapat, Areum menemui seorang narasumber untuk diwawancarai. Namun selama sesi wawancara, Areum selalu kehilangan konsentrasi. Hati dan pikirannya sedang berlarian mencari belahan jiwanya. Ia mulai mengkuatirkan Dongwook, karena sejak pertengkaran mereka pagi itu tak satupun dari mereka saling memberi kabar. Rekan kerja Areum yang menemaninya sore itu menyarankan Areum agar langsung pulang setelah wawancara selesai. Ia bahkan menyarankan agar Areum melewatkan beberapa pertanyaan agar durasi wawancara menjadi lebih singkat.

Tidak sampai 10 menit wawancara selesai. Namun sang narasumber masih menunggu sopir menjemputnya, dan untuk menghilangkan kebosanan, dengan sengaja ia mengajak Areum mengobrol. Terpaksa Areum melayani obrolan ekstra selama 5 menit.

Seonbae, biar kuantar pulang.” Rekan kerja Areum menawarkan tumpangan setelah sang narasumber menghilang bersama sopirnya.

“Terima kasih. Aku naik taksi saja. Lagipula kita tidak searah.” Ujar Areum, mencoba tersenyum.

Juniornya itu mengangguk kemudian berpamitan. Areum berdiri dengan gelisah di tepi jalan. Beberapa kali ia melambai ke arah taksi yang lewat, namun tak satu pun bersedia “mengangkutnya”. Tidak biasanya malam itu jarang ada taksi yang melintas. Areum memilih menunggu di halte bus 30 meter dari tempatnya berdiri.

Ia mengusap ponselnya yang membisu sejak pagi, dengan perasaan kecewa. Tak ada pesan atau panggilan yang masuk. Padahal ia hanya butuh satu pesan saja, dari Dongwook : Cepat pulang! Aku menunggu di rumah. Areum menghela nafas, memandangi ponselnya dengan pasrah. Menyadarkan dirinya bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi setelah kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulutnya tadi pagi.

Ponsel Areum bergetar dalam genggaman. Panggilan masuk dari Donghae memberi secercah harapan baginya. Pada hitungan dua detik, Areum telah menjawab panggilan Donghae.

“Ya, Donghae? Ada apa?” tanyanya seolah tak terjadi apa-apa.

“Noona, kau dimana?” suara Donghae terdengar berbisik dan terburu-buru.

Areum menaruh curiga. “Aku baru saja selesai wawancara di Insadong. Ada apa?”

“Noona, aku sedang bersama Dongwook.” Donghae kembali berbisik.

Areum terhenyak. Ada balok es meluncur di jantungnya. Ada kelegaan terpancar di wajahnya. Namun nada suara Donghae menumbuhkan kecemasan baru. “Kalian ada dimana?”

“Rumah Sakit Inha. Dongwook hyung__”

Bip!

Sambungan terputus. Sementara Areum terus berteriak “Halo-halo” pada ponselnya seperti orang gila. Ia mencoba menghubungi Donghae lagi, namun tidak aktif. Begitu pula dengan ponsel Dongwook. Kuatir terjadi apa-apa pada Dongwook, tanpa pikir panjang lagi Areum menelpon taksi dan bergerak menuju Incheon.

#

“Halo? Halo?” teriak Donghae ke ponselnya. Belum selesai bicara, baterai ponsel Donghae rupanya habis. Padahal ia diam-diam ingin memberi tahu Areum bahwa Dongwook akan pulang.

“Donghae-ah!!” Dongwook keluar dari ruang emergency sambil memegangi rusuknya, memanggil sepupunya yang menunggu di koridor.

Donghae berjalan mendekat. “Bagaimana?” tanyanya, sambil membantu Dongwook berjalan.

“Cederaku kambuh lagi. Rusuknya sedikit bergeser.” Dongwook coba menjelaskan. Tiga bulan lalu sebelum akhirnya dirumahkan, Dongwook dan beberapa mantan atlet baseball mengadakan Pertandingan Amal di Busan. Saat pertandingan, Dongwook terjatuh dan mengalami cedera di rusuk kirinya.

“Tidak perlu rawat inap?” Donghae tampak kuatir. Dongwook mengeleng. “Sampai di Seoul aku akan periksa lagi.” Ujarnya.

“Aah~ temanmu yang dokter itu? Siapa namanya? Lee__” Donghae mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat. “Lee Hyukjae!” serunya.

“Kalau dia wanita pasti sudah kujodohkan dengamu.” Kata Dongwook asal.

“Mau mati??” ancam Donghae, disambut tawa ringan Dongwook. “Areum punya seorang sahabat saat masih di Paris dulu, kudengar dia sudah kembali ke Seoul.”

Donghae terdiam, darahnya berdesir, kedua pipinya terasa hangat. “Lihat dirimu! Belum bertemu saja kau sudah gugup. Pantas saja pengalamanmu sedikit.” Goda Dongwook, tertawa sambil memegangi rusuknya.

“Ayo pulang!!” teriak Donghae kesal. Dongwook terkekeh. “Baiklah! Tapi antarkan dulu aku ke kamar kecil!” pintanya. Donghae bersungut memapah Dongwook ke toilet di dekat ruang tunggu.

#

Di meja informasi, seorang wanita muncul dengan tergesa-gesa. Raut kecemasan kentara di wajahnya yang tanpa makeup. Membuatnya semakin pucat.

“Ma-af.. A-pa a-da pa-pa-pasien ba-ru satu jam yang la-lu?” Areum terbata-bata menanyai perawat jaga dengan nafas tersengal.

“Boleh saya tau nama pasien?”

“Na-ma namanya__” Areum menarik nafas dalam-dalam. Air matanya mulai jatuh perlahan. Ia mencoba mengendalikan emosinya dan hal itu justru membuat dadanya sesak. Ia tak sangup mengucapkan nama yang diminta perawat. Perawat berseragam peach itu mencoba menenangkan Areum.

“Namanya Lee__ Lee__”

“Areum-ah!!”

Areum menoleh ke arah suara memanggilnya. Dadanya terasa sesak, pandangannya mengabur lantaran air matanya turun tak terkendali, dan kakinya lemas luar biasa. Dongwook berdiri dalam keadaan bernyawa di depan matanya. Sejak telepon dari Donghae yang tiba-tiba terputus –apalagi sepupu iparnya itu mengatakan posisi mereka di Rumah Sakit– Areum ketakutan setengah mati. Takut terjadi apa-apa pada Dongwook. Takut kehilangan suaminya.

Melihat sosok itu tersenyum ke arahnya, Areum tak kuasa menahan tangis. Ia menjatuhkan diri di lantai, perasaannya berkecamuk. Ia malu bertemu Dongwook setelah peristiwa tadi pagi. Namun ia begitu mengharapkan kehadiran pria itu kembali. Areum membungkam mulutnya dan terisak. Rambutnya terurai di kedua sisi wajahnya, menyembunyikan tangisnya.

Perlahan Dongwook melangkah mendekat. Donghae memperhatikan dari kejauhan ketika Dongwook menyisipkan rambut Areum ke belakang telinga. Areum masih tertunduk dan menangis, tak berani menatap Dongwook. Pria itu tahu tekanan yang dihadapi Areum. Dan ia merasa tidak perlu membahas kesalahan Areum. Ia hanya perlu mencegah hal itu terulang kembali.

Dongwook membantu Areum berdiri. Areum mengangkat wajahnya, ragu-ragu melihat wajah pria di hadapannya. “Kau sakit? Bagian mana yang sakit?” tanyanya kuatir, matanya yang basah memandangi Dongwook. Pria itu tersenyum, lalu meraih tangan Areum dan meletakkan di dadanya. “Disini yang sakit!” katanya.

“Maafkan aku!” ujar Areum, kemudian meneggelamkan wajah di balik rambut nya yang terurai. “It’s ok!” Dongwook mengangkat dagu Areum, tapi isterinya itu enggan menatapnya. Dongwook merendahkan kepala sejajar dengan pandangan Areum. Ia tidak melihat apapun di wajah Areum kecuali air mata.

“Go Areum-ssi, kau tidak merindukan pria tampan di hadapanmu ini?” goda Dongwook.

Areum menaikkan pandangannya ke wajah Dongwook dan matanya kembali berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnya, menahan kerinduan yang tak terucap.

Dongwook mengecup lembut bibir Areum. “Bogoshipeo!” ujarnya, nyaris menangis. Pandangannya tak lepas dari Areum. Ia menunggu Areum menanggalkan egonya dan mengatakan hal serupa. Wanita itu kemudian menatapnya dalam-dalam seraya mengatakan, “Nado –Aku juga bogoshipeo!” Dongwook tersenyum dan perlahan menarik Areum ke dalam dekapannya.

“Aku suka trainingmu!” bisik Areum, membuat Dongwook tersenyum kecil.

#end#

ps: dedicated to female lead @nuningabe as Go Areum. Happy milad aciiik ^^ wishing you a blessed year

Advertisements

2 thoughts on “We Got Married (The Series) : Let The Love Back In

  1. Kyaaaaaaw.
    Emang ya cewe suka gitu. Ngamuk-nyesel-nangis-minta maaf. Siklusnya kayak gitu kalau udah terikat hubungan. Eh, apa iya? Berhubung asha belum pernah ngerasain jadi bikin kesimpulan sendiri hehe.
    Tapi Lee Dongwook-nya lucu banget ya, sampai curhat ke sepupu gitu.
    Kalau nggak ingat Lee Donghae nih bokapnya OC-nya asha, udah asha embat juga. Ups!

    Cao,
    Ashachan.

    1. Aku jg blm pernah ngerasain sih sha. Tapi filosofi berumah tangga gitu lah kira-kira #soktau hahaha
      Si LDW tuh ibarat ahjussi galau yang punya sepupu kebelet merit tapi malu-malu (Si LDH). Keliatan mana yang sebenernya siap berumah tangga, mana yang belum.
      Kenapa Donghae dijadiin bokap2 shaa? Kan sayaaang, jadi ga bisa di apa-apain. Hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s