The Last Petal (Chapter 5: A Sign of Wish)

chapter 5

Cast:

EXO Chanyeol  as  Park Chanyeol

TVXQ Changmin  as  Park Changmin/ Shim Changmin

SJ Eunhyuk  as  Lee Hyukjae

Sohee  as  Ahn Sohee

IU  as  Lee Jieun

Support Cast:

[OC] Kakek Pastry

[OC] Paman Bong

[OC] Bibi Lee

Background Song:

2AM – I Wonder If You Hurt Like Me

They say a person needs just three things to be truly happy in this world: someone to love, something to do, and something to hope for. –Tom Bodett-

“Anak itu belum datang juga? Sebenarnya apa yang dia lakukan?” Paman Bong mengomel tak sabar, Bibi Lee berusaha menenangkannya. Kakek Pastry tak berkomentar dan tetap terlihat tenang penuh wibawa. Dalam hatinya hanya ada keyakinan bahwa Chanyeol akan datang. Ia berdiri dengan lengan Jieun terpaut di lengannya yang tak memegang tongkat penopang, memandang jauh ke gerbang pemakaman.

Jieun dan Hyukjae berpandangan. “Telepon dia!” kata Jieun tanpa suara pada Hyukjae yang langsung bereaksi dengan menghubungi Chanyeol.

“Ini aku!” Kata Hyukjae setelah tersambung dengan Chanyeol. Ia menjauh, menuruni anak tangga. “Kau dimana?” Tanyanya. “Parkir saja di dekat plaza barat. Semua sudah menunggu.”

Chanyeol mempercepat langkahnya ke tempat keluarga Lee telah menunggu. Tampak Hyukjae menantinya di bawah tangga. “Cepatlah Chanyeol-ah!” teriak Hyukjae.

“Maaf aku terlambat!” Chanyeol membungkuk pada Kakek Pastry, juga Bibi Lee dan suaminya. Paman Bong mengendurkan urat di wajahnya yang tegang.

“Harusnya kau mengosongkan jadwalmu hari ini.” Kakek Pastry berkata pada Chanyeol, diikuti semua mata yang tertuju ke arah pemuda itu. Chanyeol membungkuk sekali lagi dan meminta maaf. Kakek Pastry menepuk punggung Chanyeol kemudian melangkah lebih dekat ke pusara orang tua Chanyeol untuk memimpin upacara peringatan kematian mereka. Sementara pemuda itu berdiri di sampingnya.

Selepas upacara dilangsungkan, mereka meninggalkan Chanyeol untuk menikmati momen itu sendiri. Sementara yang lain bersiap di pusara orang tua Hyukjae. Lima menit kemudian, Chanyeol menyusul dan upacara kembali dimulai. Kali ini Hyukjae yang berdiri mendampingi Kakek Pastry. Berbeda dengan Chanyeol, Hyukjae justru terlihat beberapa kali menyeka air mata, bahkan sejak upacara dimulai. Jieun terlihat tak jauh berbeda dengan Hyukjae, namun emosinya lebih terkendali.

Hari itu untuk pertama kali Hyukjae merasa benar-benar terluka. Setelah misteri di balik kematian orang tuanya yang tiba-tiba diungkap oleh Chanyeol, hatinya benar-benar hancur.

#

Upacara peringatan kematian hari itu berakhir sebelum tengah hari. Mereka bermaksud segera kembali ke Seoul –setelah sepakat menggabung upacara pada satu hari yang sama– mengingat kesehatan Kakek Pastry yang kembali menurun.

Bibi Lee dan suaminya kembali ke mobil lebih dulu sambil membawa barang-barang bekas upacara. Sementara Jieun dengan setia menatih kakeknya menuruni tangga, Hyukjae dan Chanyeol melangkah bersisian di belakang.

“Kau tidak ingin mengunjungi Changmin?’ Kakek Pastry tiba-tiba berhenti setelah menuruni delapan anak tangga. Ia menoleh pada Chanyeol dan melempar tatapan penuh sugesti. Jieun mengikuti arah pandang Kakek Pastry yang jatuh ke wajah Chanyeol.

Chanyeol mengerling pada Hyukjae. “Kami akan menunggu di mobil.” Ujar Hyukjae padanya.

Ia mengangguk, kemudian Hyukjae merapatkan jarak pada Kakek Pastry dan Jieun.

Chanyeol masih berdiri di tempatnya dengan beberapa hal yang muncul bergantian di kepala. “Jieun-ah, maukah kau menemaniku?” Tanya Chanyeol. Jieun menoleh, gadis itu tampak kaget. Kakek Pastry dan Hyukjae ikut menatap ke arahnya.

“Jieun-ssi, tolong temani aku!” pinta Chanyeol. Kakek Pastry melempar pandangan pada Hyukjae dan pemuda itu langsung menangkap maksud Kakek Pastry. Ia menghambur, mengaitkan lengannya pada Kakek Pastry lantas menoleh pada adiknya. “Pergilah! Kami akan menunggu di mobil.” Jieun melepas lengan Kakek Pastry yang terpaut padanya, lalu mengikuti Chanyeol mengunjungi pusara Changmin.

#

Sesampai di depan pusara Changmin yang berpualam keabuan, Chanyeol kembali diam seolah sedang berbicara pada saudaranya yang terkubur jauh di dalam sana. Jieun tak bersuara, membiarkan saja Chanyeol berdiam diri sesaat.

“Apa kau sering mengunjunginya?” Chanyeol bertanya pada Jieun, namun pandangannya tertuju pada pusara pualam saudaranya.

“Ya. Setiap aku mengunjungi makam orang tuaku, aku selalu mengunjungi makam Paman dan Bibi Park, juga Changmin oppa.”

“Terima kasih. Dia pasti senang kau mengunjunginya.” Ujar Chanyeol. Kali ini keduanya saling memandang.

“Jieun-ah, aku berpikir untuk memberitahumu sesuatu. Jika setelahnya kau bersedia memaafkanku, maka aku akan sangat berterima kasih. Namun, jika setelahnya justru menumbuhkan kebencian di hatimu, kau boleh melakukannya.”

Jieun menahan diri untuk tak berkata apapun. Ia merapatkan bibir dan membiarkan Chanyeol melanjutkan kata-katanya. Mengingat kasus kematian orang tuanya akan dibuka kembali, pemuda itu memutuskan memberitahu Jieun tentang dirinya.

“Maafkan aku.” Kata Chanyeol di akhir ucapannya, dengan tulus meminta pengertian Jieun. Gadis di hadapannya itu menatapnya kosong, dengan mata yang basah. “Jadi karena itu semuanya terlihat sangat berbeda bagiku.” isaknya.

Dari kejauhan, Hyukjae melihat Jieun terduduk di dekat pusara. Punggungnya bergerak naik turun tampak kasat mata. Dalam hati Hyukjae pun merasakan kesedihan perlahan menggerogoti tubuhnya.

#

Jieun bangkit setelah menumpahkan tangis. Chanyeol mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Jieun. “Aku tidak ingin mempercayai semua ini.” Ujarnya lemah. Isaknya kembali terdengar dan membuat Chanyeol merasa semakin bersalah. Ia menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Hingga tanpa sadar matanya telah basah ketika Jieun memeluknya erat.

“Apa yang kalian lakukan disini?” Seorang gadis berbicara pada Jieun dan Chanyeol, suaranya berbalut amarah.

Jieun melepaskan diri dari dekapan Chanyeol yang tampak pucat karena begitu kaget melihat kehadiran Sohee. Sungguh di luar dugaannya, gadis itu muncul di pemakaman. Jieun berusaha membuka mulut, namun Chanyeol menengahi dan langsung menghampiri macan yang sedang mengamuk.

“Aku rasa tidak ada yang perlu dijelaskan.” tukasnya dingin.

“Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi antara kalian berdua. Aku hanya ingin tahu, apa yang kalian lakukan di depan makam Shim Changmin?”

Jieun terhenyak begitu pun dengan Chanyeol. Gadis itu bahkan tak berani menatap gurunya. Chanyeol memberanikan diri melangkah lebih dekat pada Sohee.

“Aku sudah memperingatkanmu untuk patuh, tapi kau mengabaikannya. Mulai detik ini kau bisa bertindak semaumu. Dan aku tidak akan menjelaskan apapun tentang kejadian ini.” Chanyeol mengabaikan pertanyaan Sohee.

“Siapa kau sebenarnya Park Chanyeol?” Kemarahan Sohee sudah naik ke kepala. Matanya membelalak pada Chanyeol. Gadis itu masih berusaha menekan amarahnya dengan kedua tangan mengepal geram. Ia merasa dibohongi dan dikhianati oleh orang disekelilingnya.

“Aku adalah anak yang hidup atas belas kasih Presdir Ahn. Aku, Park Chanyeol.” Chanyeol merapatkan rahangnya. Di pangkal tenggorokan, rasa sakit di hatinya mulai merambat. Ia memandang sedih pada gadis di hadapannya. Ia sungguh tak tega memperlakukan Sohee sedingin itu.

“Jieun-ah, ayo!” Chanyeol berkata dengan suara bergetar pada Jieun yang mematung di belakangnya. Jieun berjalan patuh dengan perasaan bersalah menggelayutinya. Ia tahu betapa frustasinya Sohee saat itu. Gadis itu lantas membungkuk pada Sohee dan berlalu.

“Katakan dimana ayahku?” Geram Sohee.

Chanyeol menoleh sambil terus menggenggam tangan Jieun yang gemetar. “Kau akan segera bertemu dengannya. Aku akan memberitahu Presdir kalau anak perempuannya merindukannya.” Chanyeol menyahut ketus. Lalu menarik Jieun menuruni tangga pemakaman.

Sohee tak bergeming. Seperti patung malaikat kecil yang kerap melayang di atas pusara berpualam. Bahkan hingga Chanyeol dan Jieun sampai di plaza barat, tempat mobil terparkir, Sohee masih mematung seolah ditinggalkan rohnya.

#

Chanyeol menghampiri Hyukjae begitu tiba di area parkir. “Aku akan mengantar Jieun. Kau bisa bantu aku antar Sohee?” Kata Chanyeol, seraya menggenggamkan kunci mobil di tangan Hyukjae.

Pemuda itu ragu sejenak, meski akhirnya setuju. Kakek Pastry yang berada satu mobil dengan anak dan menantunya, dan Chanyeol yang bersama Jieun, kembali ke Seoul lebih dulu. Sementara Hyukjae menyusul sore harinya. Karena ternyata cukup sulit membujuk Sohee dan menenangkan gadis keras kepala yang tak berhenti menangis sejak ditinggalkan Chanyeol sendirian di depan makam Changmin.

#

Chanyeol memasuki apartemennya yang hening semenjak ditinggal Kakak Beradik Lee. Wajahnya nampak lelah, pikiran dan perasaannya semakin berkecamuk. Ia menyampirkan mantel di atas sofa, kemudian masuk ke kamar. Ia duduk di lantai parkit kayu oak berwarna terang, menghadap kabinet paling dasar di rak bukunya yang besar, lalu membukanya. Isinya sama persis dengan apa yang pernah dilihat Jieun, ketika tanpa sengaja gadis itu menemukan benda-benda peninggalan Changmin tersimpan di dalamnya.

Pemuda itu menyingkirkan alat-alat medis dan buku-buku yang berbaris rapi di bagian paling dalam kabinet hingga nampak sebuah bidang kayu tanpa penghalang dibelakangnya. Ia menggeser bidang kayu tersebut –yang sengaja didesain seolah menyatu dengan lemari, padahal merupakan pintu menuju sesuatu di baliknya– dan nampak sebuah brankas membisu di hadapannya.

Setahun yang lalu setelah kecelakaan menimpa dirinya dan saudaranya –Jieun mempertanyakan pertemuan terakhir mereka ini dan berakhir dengan: gadis itu menangis di pemakaman begitu mengetahui kebenarannya– ia pernah mencoba membukanya beberapa kali namun kombinasi angka yang ia masukkan selalu tidak cocok. Ia putus asa dan sempat berniat membawa brankas itu ke suatu tempat dan meledakkannya, tetapi kemudian menyadari pemikiran bodoh tersebut tidak akan menghasilkan apapun.

Waktu lah yang akhirnya mendesak otaknya berpikir lebih keras untuk mengetahui isi brankas itu. Ayah Angkatnya, Shim Dongwon, telah menyewa seorang pengacara –seorang junior semasa sekolah di Harvard– untuk membantunya membuka kembali kasus kematian orangtuanya yang akan berantai hingga kecelakaan di London pada musim dingin tahun lalu.

Chanyeol merunduk, menggapai lemari berbahan metal iron di depannya dengan susah payah –postur tubuhnya menyulitkannya menenggelamkan kepala ke dalam kabinet bertinggi 60 centimeter itu– lalu memasukkan kombinasi angka dari tanggal lahir jieun dengan percaya diri.

Brankas itu terbuka, mengumbar seluruh isinya yang hanya berupa tumpukan kertas. Ada setumpuk buku harian dengan bau khas buku-buku lama, bendel kertas warna-warni yang dijepit di sisinya, serta kertas hasil cetak yang terbungkus rapi dalam plastik. Chanyeol mengeluarkannya tanpa menyisakan satu pun, semua peninggalan saudaranya, yang barangkali bisa ia jadikan alat untuk menjatuhkan Ahn Kyeosoo.

Pemuda itu kemudian membawanya ke ruang tengah dan menumpuknya di atas meja. Ia menghempaskan tubuh lelahnya ke sandaran sofa dengan sebuah senyuman merekah tanpa ia sadari. Tak menunjukkan kebahagian, hanya sebatas wujud kelegaan dan kepercayaan diri yang membuncah.

#

Setelah mengabari Ayah Angkatnya soal benda-benda temuannya, ia lantas memulai penyelidikannya sendiri, sebelum membawanya pada Shim Dongwon untuk diteruskan pada detektif sewaan.

Chanyeol mengesampingkan buku harian saudaranya sejenak dan memulai penyelidikan dari kertas yang menyedot perhatiannya. Kertas hasil cetak itu terdiri dari dua lembar yang diambil dari kotak masuk email pribadi ayahnya, Park Minseok, dikirim melalui email atas nama Ahn ROK yang disinyalir mengandung arti Ahn Republic of Korea –menyatakan bahwa sang pengirim adalah seorang petinggi Korea bermarga Ahn–. Lembar pertama berupa email terusan berisi ancaman untuk menghentikan penyelidikan terhadap dirinya –dalam hal ini adalah Ahn Kyeosoo sendiri– atas kecurangan pemilu dan korupsi yang dilakukannya. Lembar kedua berisi pesan singkat bertuliskan: “PRESIDENTIAL MEETING, EAST COAST RESORT 3PM”, dikirim pada hari menghilangnya Park Minseok dan isterinya.

Chanyeol melempar lembaran itu sekenanya ke atas meja, namun akhirnya melayang jatuh di dekat kaki meja. Ia gemetar lagi dengan tangis yang tertahan di hatinya. Membayangkan kekejaman Ahn Kyeosoo membuat darahnya mendidih. Ia benar-benar ingin berteriak sekeras mungkin untuk meluapkannya. Seandainya ia sudah cukup dewasa dan mengerti saat itu, mungkin ia bisa mengupayakan sesuatu untuk keadilan orang tuanya. Juga tak perlu berakhir dengan kematian tragis saudaranya.

Ia melirik kertas warna-warni yang seolah menyapanya riang dari atas meja. Melihatnya saja ia sudah tahu itu surat balasan yang dimaksud Jieun. Gadis itu memberitahunya soal surat-surat yang dikirimkan Park Chanyeol dengan berurai air mata, di pemakaman siang tadi. Jadi sudah pasti kertas berwarna cerah itu adalah surat dari Jieun.

Di sebelah surat warna-warni Jieun, terdapat tumpukan buku harian milik Park Chanyeol yang berjumlah belasan, dengan sampul serupa berwarna kulit jagung, seperti sengaja dibeli secara grosiran. Ia membuka laci di dasar sofa dan mengeluarkan buku harian yang ‘terpisah dari kawanannya’, buku harian Park Chanyeol yang terakhir kali diisi sehari sebelum kecelakaan di London. Satu-satunya yang mendorongnya kembali ke Korea. Satu-satunya yang bicara paling jujur sementara yang lain mencoba menyembunyikan kenyataan pahit seputar kematian orang tuanya.

Ia membuka buku pada halaman yang ditandai –dilipat di bagian ujung atasnya- dan dirinya seketika kembali pada musim dingin tahun lalu di London saat kematian berada di depan matanya.

#

… Mobil bergerak memasuki London Bagian Utara, menjauh dari hingar-bingar seminar internasional yang dihadiri Chanyeol. Mengetahui kedatangan kakaknya ke London dari Ayah Angkatnya, Changmin langsung berangkat menjemput paksa Chanyeol. Salju turun perlahan, jatuh di kaca depan mobil yang dikendarai Changmin. Changmin terlihat marah setelah mendengar pengakuan Chanyeol tentang alasan meninggalkannya pada Keluarga Dubes Shim. Chanyeol memberitahu Changmin soal Ahn Kyeosoo dan memintanya tidak mengungkit kematian orangtua mereka lagi. Satu-satunya yang ia inginkan adalah agar adiknya dapat hidup dengan baik, begitu juga dengan Anggota Keluarga Lee yang lain.

Pada detik-detik setelah narasi panjang itu tiba-tiba Changmin terisak sebagai wujud kemarahan yang terpendam, tidak terima dengan perbuatan keji Ahn Kyeosoo pada keluarganya. Chanyeol mencengkram bahu Changmin yang bergerak naik turun, berusaha menenangkannya. Berkali-kali ia mengucapkan kata maaf untuk mengembalikan emosi Changmin yang memuncak. Namun adiknya terlanjur dibutakan amarah dan tak mendengarkan ucapannya. Dialog keduanya seolah menguap di udara. Changmin mempercepat laju kendaraannya seperti hilang kendali.

Changmin baru mengurangi laju ketika memutar di London Orbital Motorway. Naas sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mobil yang dikendarai Changmin. Tak mengurangi kecepatan sedikitpun, seperti bandul yang lepas dan akan menghantam badan kiri mobil. Semua terjadi begitu cepat bahkan sulit bagi Changmin mengingat detail kecelakaan yang akhirnya merenggut nyawa saudaranya.

Entah bagaimana akhirnya mobil telah berputar dan truk menghantam badan kanan mobil. Chanyeol rupanya berusaha membanting setir setelah melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya, agar mobil berbalik arah. Airbag mengembang di depan dada Changmin yang mulai hilang kesadaran. Chanyeol sudah memeluknya ketika truk menggiring mobil mereka hingga melewati pembatas jalan dan berguling ke dataran yang curam. Hingga berhenti di dasarnya yang dingin dan sepi.

Changmin merintih. Merasakan sakit di sekujur tubuhnya ketika kesadarannya kembali. Ia merasakan tubuh Chanyeol yang menimpanya tak bergerak lagi. Ia ketakutan dan mulai menangis. Persis seperti saat Chanyeol meninggalkannya pada Keluarga Shim. Ia mengguncang pelan tubuh kakaknya yang bersimbah darah. Namun Chanyeol tak bereaksi. Changmin mendorong tubuh itu menjauh darinya hingga ia bisa melihat wajah Chanyeol. Ia memeriksa nadi di leher Chanyeol yang melemah. Changmin mulai panik. Ia berteriak-teriak minta tolong namun sia-sia. Salju turun dengan lebat, tak ada yang berani turun. Mereka hanya bisa menunggu bantuan datang.

Sambil memeluk tubuh Chanyeol, dengan hati-hati Changmin menyeret tubuhnya keluar mobil. Changmin duduk di samping tubuh kakaknya, memposisikan dirinya untuk memberikan pertolongan pertama. Namun tekanannya terlalu lemah untuk memacu jantung Chanyeol agar tetap bekerja. Sekeras apapun upayanya untuk menyelamatkan Chanyeol tak berhasil. Kondisi Chanyeol terlalu lemah dan ia terlambat. Akhirnya ia sendiri jatuh ke atas tubuh Chanyeol dan memasuki alam bawah sadarnya.

Sayup-sayup suara seorang pria terdengar begitu dekat di telinganya. Berbicara dalam Bahasa Korea, “Semua sudah selesai Pak.” Kemudian diikuti suara keributan sekelompok pria Inggris dengan bunyi sirine yang sangat jelas. Changmin masih bisa merasakan seseorang menekan dadanya sebanyak 30 kali. “Dua korban sudah meninggal! Satu orang dalam keadaan kritis! Cepat evakuasi! Salju semakin deras. Cepat! Cepat!”

##

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s