INSIDEN AIR ASIA QZ 8501 BERBUNTUT PANJANG

1419758819-2731

“Saya mengucapkan duka cita atas musibah jatuhnya Air Asia QZ 8501. Doa saya untuk para korban, keluarga korban, keluarga besar Air Asia, dan dunia penerbangan Indonesia.”

Musibah jatuhnya Air Asia QZ 8501, rute penerbangan Surabaya-Singapura, di Selat Karimata 28 Desember 2014 lalu, meninggalkan duka bagi banyak pihak. Tak hanya keluarga korban, pun seluruh rakyat Indonesia. Tanpa bermaksud menyudutkan atau menyalahkan pihak tertentu, saya mencoba menuliskan hal-hal yang saya kumpulkan dari media. Saya mencoba memahami sendiri tentang musibah yang berbuntut panjang ini.

Titik Terang Evakuasi

Dua hari pasca jatuhnya pesawat, Tim Basarnas akhirnya menemukan titik terang, dengan ditemukannya puing pesawat dan jenazah pertama korban Air Asia yang mengambang di perairan. Hari-hari berikutnya pemerintah berfokus pada evakuasi korban dan pesawat. Berharap seluruh korban kembali pada keluarga dan blackbox dapat segera ditemukan.

Dugaan Awal Penyebab Kecelakaan

  • Jam terbang pilot yang minim
  • ATC lambat merespon request dari kokpit
  • Pesawat menembus awan cumulonimbus, mengakibatkan icing engine, kemudian jatuh

Dugaan-dugaan di atas hanya dugaan awal yang belum bisa dibuktikan hingga saat ini. Kemudian menguap begitu saja. Karena dugaan ini masih bersifat umum, spekulasi berlanjut dan diarahkan pada maskapai.

Terbang Tanpa Dokumen Lengkap

Investigasi kemudian diarahkan pada maskapai. Muncul dugaan bahwa pilot tetap terbang meski dokumen tidak lengkap. Dokumen berisi prakiraan cuaca dari BMKG tidak ada dalam kelengkapan. Sehingga hal ini ditengarai menjadi salah satu sebab pilot tak mengenali cuaca di medan terbang. Akibatnya pesawat jatuh karena faktor cuaca buruk yang tak terdeteksi.

Pihak maskapai enggan menanggapi dugaan ini. Menurut beberapa ahli, pengamat penerbangan, pilot, mantan pilot, dan staf BMKG (yang wara-wiri di stasiun TV), bentuk fisik info cuaca tidak harus didapat dari kantor BMKG, akan tetapi boleh diunduh dari situs terkait.

Betapa pentingnya dokumen cuaca ini selama penerbangan. Tidak mungkin terbang dengan mengabaikan prosedur keselamatan.

Pertanyaannya: Jika dokumen tidak lengkap, mengapa pesawat bisa take off?

 

Wacana “Izin Hantu”

Kemenhub ikut serta dalam penyelidikan kasus jatuhnya Air Asia QZ 8501. Pihaknya menginvestigasi AirNav Indonesia dan PT. Angkasa Pura I yang berada di Bandara Juanda. Kemenhub lantas mendapati adanya pelanggaran jadwal terbang yang dilakukan Air Asia.

Awalnya Kemenhub hanya menyoroti perubahan jam terbang yang dimajukan dari jadwal semula. Lalu berbuntut pada temuan pelanggaran izin terbang oleh Air Asia. Kemenhub menyebutkan bahwa pada hari itu (Kamis), Air Asia tidak memiliki izin untuk terbang dari Surabaya ke Singapura.

Dalam UU No 1 tahun 2009 tentang penerbangan pasal 122 (2) disebutkan bahwa jaringan dan rute penerbangan luar negeri ditetapkan oleh menteri berdasarkan perjanjian angkutan antar negara. Maka, Kemenhub dianggap bertanggung jawab atas kelaikan izin terbang dan prosedur penerbangan.

Pertanyaannya: Jika AA tidak memiliki izin terbang, kenapa pesawat tetap bisa take off?

 

Audit Internal Kemenhub

Dari investigasi tersebut, Kemenhub mendapat kritikan pedas dari berbagai pihak. Kemenhub dianggap lalai dan kurang koordinasi. Intinya internal Kemenhub dipertanyakan.

Kemenhub kemudian menginstruksikan untuk mengadakan self audit pada Kemenhub, PT. Angkasa Pura I, dan Perum AirNAv Indonesia, yang terkait izin penerbangan terhadap Air Asia pada hari nahas itu. Hasilnya, beberapa staf dinonaktifkan, diantaranya: (Sumber: merdeka.com)

  • Dari Kemenhub: Kepala bidang Keamanan dan Kelaikan Angkutan Udara, merangkap unit kerja pelaksana slot time di Otoritas Bandara Wilayah 3 Surabaya, dan Principal Operation Inspector Kemenhub di AirAsia.
  • Dari Perum AirNav Indonesia: General Manager Perum AirNav Surabaya, Manager ATS Operation Surabaya, dan Senior Manager ATFM dan ATS Kantor Pusat Perum AirNav.
  • Dari PT. AP I : 2 orang dimutasi setingkat manajer bagian Operasi dan Pengawas Tugas Operasional (PTO) AMC (Apron Movement Control).

Apresiasi saya untuk Kemenhub karena tidak menutupi kebobrokan internal. Namun, mengapa tak banyak yang mengungkapkan hasil audit tersebut. Pemberitaan justru kembali menyoroti maskapai.

Pertanyaannya: Bagaimana kelanjutan investigasi ketujuh orang tersebut?

 

Pembekuan Rute Air Asia

Imbas dari temuan “Izin Hantu”, Kemenhub mengambil langkah cepat dengan memberlakukan Pembekuan Rute Air Asia Surabaya-Singapura. Tapi Kemenhub justru dianggap terlalu cepat, tanpa memikirkan dampaknya. Dalam hal ini, yang terlihat jelas adalah dampak bagi penumpang yang telah membeli tiket.

Pihak Air Asia mengakui jika pihaknya terbang di luar jadwal. Oleh karena itu, pihaknya bersedia menerima sanksi pembekuan rute yang diberikan Kemenhub. Namun, Kemenhub membuka peluang jika maskapai akan mengajukan izin baru.

Pertanyaanya: Mengapa hanya Air Asia yang menjadi sorotan “izin hantu”?

 

Abaikan Faktor Keselamatan

Lebih lanjut, Air Asia sebagai Low Cost Carrier atau maskapai dengan biaya rendah, dianggap mengabaikan faktor keselamatan. Namun, ternyata tak hanya AA yang dianggap lemah. Ketua Penerbangan Berjadwal Indonesia National Air Carries Association (INACA), Bayu Sutanto menjelaskan selama ini seluruh maskapai penerbangan tidak mengutamakan keselamatan dan keamanan penumpang. Pasalnya, standar keselamatan penerbangan Indonesia masih lemah. (sumber: merdeka.com)

Pertanyaanya: Mengapa hanya Air Asia yang menjadi bulan-bulanan?

Tidak Ada Lagi Tiket Murah

Buntut panjang rangkaian investigasi akhirnya menyentuh konsumen. Seolah perhatian publik akan kredibilitas internal Kemenhub dialihkan pada wacana baru yang lebih menarik. Para pengguna jasa LCC seperti Air Asia, dibuat resah dengan rencana diberlakukannya regulasi baru tarif batas bawah tiket penerbangan. Dapat dipastikan, kedepannya tak akan ada lagi tiket murah, tiket promo, tiket kelas ekonomi, dan segala penyebutan atas tiket tarif bawah.

“Kementerian Perhubungan (Kemenhub) segera menerbitkan regulasi yang mengatur soal tarif batas bawah tiket penerbangan domestik. Kebijakan baru ini akan berlaku setelah proses sinkronisasi di Kemenhub dan Kementerian Hukum dan Ham.

Regulasi baru ini hanya berlaku untuk penerbangan domestik saja. Kebijakan baru ini tidak berlaku bagi maskapai asing yang terbang dari atau masuk ke Indonesia.

Kebijakan ini untuk mendorong peningkatan level keselamatan penerbangan, agar maskapai memiliki pendapatan yang cukup untuk membiayai berbagai komponen suku cadang terkait keselamatan penerbangan.

Kemenhub menegaskan kebijakan ini tidak merugikan masyarakat yang biasa membeli tiket murah, justru melindungi masyarakat.

Namun apakah dengan kebijakan anyar tersebut menjamin maskapai penerbangan berbiaya hemat akan mengutamakan keselamatan dan keamanan penumpang?” (sumber: merdeka.com)

Pertanyaannya: Apakah tiket mahal dapat menjamin keselamatan penumpang?

Low Cost Carrier Tak Berarti Low Safety

Last but not least, saya sebagai warga negara biasa yang mulai menyukai traveling karena mudah dan murahnya mendapatkan tiket, sangat menyayangkan pemberlakuan regulasi baru dari Kemenhub. Kiranya tiket mahal dapat menjamin nyawa seseorang, tentu pantas diberlakukan. Namun, saya yakin Kemenhub punya solusi lebih baik daripada sekedar meniadakan tiket murah.

Dampaknya akan sangat besar. Bukan hanya bagi konsumen dan perusahaan penerbangan, tapi juga pada kas Kemenhub akibat menurunnya volume penumpang. Airport tax ikut berperan.

Lagipula maskapai berbiaya murah bukan berarti mengabaikan safety. Mereka mampu menawarkan tiket murah hanya untuk rute dekat tanpa transit. Mereka pun harus menekan kenyamanan BUKAN keselamatan penumpangnya. Mereka menambah kapasitas seat sehingga pengaturan tempat duduk lebih rapat. Mereka meniadakan pelayanan snack selama penerbangan. Mereka harus mendaratkan pesawat di bandara kecil dan jauh, seperti Donmueang Airport di Bangkok dan KLIA2 di Kuala Lumpur.

Besar harapan saya tulisan ini menyentuh badan Kemenhub. Semoga permasalahan segera selesai dan dunia penerbangan Indonesia segera bangkit. SAFETY IS NUMBER ONE!

(mtnisa)

Advertisements

2 thoughts on “INSIDEN AIR ASIA QZ 8501 BERBUNTUT PANJANG

  1. super sekaliii pemikiran ibu anis ini…

    manusia biasa seperti kita pun ingin melihat betapa indahnya dunia ini,ingin memijakkan kaki mengelilingi bumi ini, semoga mimpi-mimpi itu tidak terputus hanya karna persoalan ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s