We Got Married (The Series) – Cross Your Mind (Part 1)

WE GOT MARRIED

(An Unvirtual Marriage)

Tripple Wedding – Unseen Scene

 

Cross Your Mind

(Part 1)

417

“Life is about love. And there’s an endless story of love.. the family.”

 

Main Cast:

[SJ] Eunhyuk as Lee Hyukjae

[OC] Kwon Jiah

Support Cast:

[OC] Song Hyemi

[IKON] Hanbin

Hyukjae duduk di tepi jendela, memperhatikan dua wanita yang berbincang di ranjang pasien. Sesekali terdengar tawa renyah ibunya saat digoda atau saat mengejek putra semata wayangnya yang masih melajang. Kejadian pagi itu adalah yang paling membuat Hyukjae bahagia. Saat wajah wanita terkasihnya dibingkai dengan senyum dan tawa.

Ibu Hyukjae sudah hampir satu bulan rawat inap karena gangguan syaraf otak. Demi penjagaan, Hyukjae memindahkan ibunya ke rumah sakit tempatnya bekerja sebagai Dokter Bedah Tulang. Tak banyak kerabatnya yang tinggal di Seoul, karena itu ia kuatir ibunya akan merasa bosan. Beruntung sekali seorang senior semasa kuliah berkenan mengunjungi ibunya setiap pagi.

“Nah, sekarang waktunya pasien beristirahat.” Hyemi menenteng tas kulit hitamnya, setelah Ibu Hyukjae menuntaskan sarapan dan meminum obatnya. Wanita setengah abad itu menatap Hyemi seraya menggenggam tangannya. Kedua matanya terlihat sedih.

“Besok aku akan datang lagi dan kita sarapan bersama.” Ujar Hyemi pada pasien. Ibu Hyukjae mengangguk pasrah.

“Terima kasih, Noona!” Hyukjae mendekati kedua wanita itu, tersenyum pada Hyemi lalu membetulkan selimut di tubuh ibunya.

Ibu Hyukjae menghela nafas, lalu mengeluh pelan seraya melirik Hyukjae, “Seandainya bocah ini punya kekasih, kau tentu tidak perlu repot-repot menemaniku, Hyemi-ah.”

Hyemi tertawa kecil lalu menanggapi, “Dia memang benar-benar merepotkan ya, Bu!”

Hyukjae mendelik padanya, sambil komat-kamit menyumpah dalam hati.

“Nanti kubantu carikan menantu untuk Ibu,” lanjut Hyemi, mengabaikan reaksi kesal Hyukjae.

“Uhuk! Uhuk!” Hyukjae membuat suara batuk dengan sengaja, menyela bagian paling menjemukan dari obrolan kedua wanita itu, tak jauh dari pernikahan yang diidamkan Ibunya terjadi padanya.

“Ayo, Noona! Sebaiknya jangan mengganggu waktu istirahat pasien.” Hyukjae memutar tubuh Hyemi, mendesaknya ke pintu.

Hyemi membungkuk, lalu melambai pada Ibu Hyukjae, sebelum pintu tertutup.

“Hyukjae-ah, Sunho oppa bilang Dokter Nam akan kembali dari Eropa minggu depan. Beliau bersedia menangani sendiri penyembuhan ibumu. Begitu tiba di Korea, Sunho oppa akan menemanimu bertemu dengannya.” beri tahu Hyemi ketika berjalan bersisian dengan Hyukjae menuju Tempat Penitipan Anak di Lantai 4. Ia melirik Hyukjae yang muram, lalu melanjutkan, “Soal biaya jangan kau pikirkan. Aku dan Sunho oppa sepakat, kau bisa pakai dulu tabungan pendidikan Jungho untuk tambahan biaya perawatan.

Eh, kudengar aroma bunga segar dapat merangsang perkembangan syaraf otak. Bagus untuk ibumu. Bawakanlah setiap pagi untuknya!” lanjut Hyemi bersemangat.”

Hyemi melirik Hyukjae lagi dan mendapati sebuah wajah tanpa ekspresi. “Kau dengar aku, Lee Hyukjae?” Hyemi mengernyitkan dahi.

“Umm, aku dengar.” Hyukjae menyahut malas. Tak semua ucapan Hyemi terekam dengan baik sebenarnya. Ia sedang memikirkan kondisi ibunya. Sebagai seorang dokter, walaupun bukan ahli syaraf, ia sendiri tahu kemungkinan ibunya bisa bertahan sangat kecil. Penyakit Alzheimer yang diderita ibunya sejak ayahnya meninggal itu kian memburuk.

“Aku mengerti perasaanmu. Kalian sudah berjuang sepuluh tahun. Kau harus lebih kuat daripada Ibu.”

“Terima kasih, Noona.”

“Berhentilah berterima kasih!! Aku benci kau mengatakannya seperti aku ini orang lain bagimu.” intonasi Hyemi meninggi, wajahnya terlihat serius kali ini.

“Tidak, Noona! Aku benar-benar berhutang budi. Selain ucapan terima kasih, aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu dan Sunho Hyung.”

Hyemi menyipitkan mata, seperti ada kilatan di ekor matanya kala menatap Hyukjae. Pemuda itu lantas memasang ekspresi siaga. “Menikahlah!! Bahagiakan Ibu, Sunho oppa, dan aku!”

“Noooonaaaaa!!” rengek Hyukjae. Ia kesal setiap kali orang-orang disekelilingnya membahas pernikahan dan menyuruhnya menikah. Hyemi terlihat puas menertawai Hyukjae.

“Kau kira mencari isteri itu mudah? Membeli bunga saja perlu waktu lama untuk menimbang-nimbang.” lanjutnya.

“Hahaha! Kalau begitu pergilah membeli bunga dan belajarlah menyeleksi sesuatu. Ada toko bunga baru di seberang jalan. Siapa tahu pemiliknya bisa memberimu diskon.” Ujar Hyemi, terengah-engah memegangi perutnya yang kram sehabis menertawakan Hyukjae.

“Kau ini suka sekali meledekku, ya?” Hyukjae melotot kesal.

“Sudah pergi sana!! Belikan bunga untuk Ibu!” teriakan Hyemi membuat telinga Hyukjae sakit. Ibu muda itu mendorongnya sekuat tenaga ke arah lift, bahkan sebelum ia sempat melihat Jungho di Tempat Penitipan Anak.

##

Pintu kaca terbuka, mendentingkan lonceng yang dipasang di puncaknya. Hyukjae masuk disambut seruan “Selamat Datang” yang hangat. Kedua mata Hyukjae berkeliling cepat, bahkan lebih cepat dari langkahnya, di antara warna-warni bunga dan tanaman hias.

Seorang pemuda yang lebih tinggi darinya menghampiri. “Ada yang bisa saya bantu?” Pria itu menyeringai pada Hyukjae yang terlihat kebingungan.

Hyukjae berpaling menatap karyawan toko bermarga Park yang menyapanya –sebuah bet nama dengan jelas dijepit di atas saku bajunya– “Tentu saja aku butuh bantuan, Adik Kecil” desis Hyukjae dalam hati.

“Anda cari bunga apa?”

Hyukjae menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Matanya terus berkeliling. Terus terang ia tak mengerti soal spesies kesukaan kaum hawa ini. Tak ada dalam pelajaran orthopedic, pikirnya.

“Bisa beri aku saran, bunga apa yang bagus?”

Karyawan pria itu membisu. Ia sendiri baru pertama kali bekerja setelah lulus SMA dan juga tak mengerti seluk-beluk tanaman. Pemilik toko hanya berbaik hati ‘menampung’ semangat mudanya disana, sementara ia belum mendapat pekerjaan lain yang lebih sesuai.

“Sebaiknya Anda tanyakan sendiri pada ahlinya. Kebetulan Nona Bos sedang ada di tempat.” Karyawan Park menunjuk seorang wanita di balik meja kasir. Hyukjae lantas mengikuti saja saran Si Karyawan Amatir.

“Err, permisi!”

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” wanita pemilik toko itu melempar sebuah senyum pada Hyukjae. Manis, puji Hyukjae dalam hati.

“Err, saya ingin beli bunga. Tapi tidak tahu harus beli yang mana.” Hyukjae menjawab dengan kikuk.

Si pemilik toko menahan tawanya yang nyaris meledak. Bagaimana mungkin seorang pria tidak tahu soal bunga, pikirnya. Hyukjae merasa Nona Bos itu sedang meledeknya.

“Boleh saya tahu, Anda ingin membeli bunga untuk siapa dan untuk acara apa?”

Hyukjae menatap wajah pemilik toko, mencurigai dasar pertanyaannya. Kedengarannya seperti ‘pelecehan’ di telinga Hyukjae. “Untuk seorang wanita… Err, hanya untuk menyenangkan hatinya saja.”

“Apa usianya lebih tua? Atau lebih muda dari Anda?”

“Pertanyaan tidak penting” Hyukjae mendesis, menimbang-nimbang dalam hati. “Lebih tua.”

Pemilik toko mengangguk paham, kemudian meninggalkan Hyukjae. “Berikan yang bagus untuk kesehatan, Nona!” Hyukjae meneriaki Si Pemilik Toko yang sibuk memilih bunga yang sesuai. Wanita itu melambaikan huruf ‘O’ yang dibentuk dari telunjuk dan ibu jarinya.

Selang beberapa saat kemudian wanita itu kembali, meletakkan bunga-bunga segar di meja kerja di samping meja kasir. Hyukjae dengan sabar menunggui pesanannya. Beberapa kali Hyukjae tampak membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu. Sekedar mengajak pemilik toko mengobrol sembari ia menunggu. Tapi melihat wanita itu serius sekali dengan pekerjaannya, Hyukjae memilih diam memperhatikan.

Ada desir lembut mengiringi kekagumannya pada buket bunga warna pastel yang selesai dirangkai Si Pemilik Toko. Ia tersenyum lebar, dan mendapat balasan sebuah senyum manis dari Si Pemilik Toko. Selesai membayar, Hyukjae menyambar kartu nama di dekat layar monitor milik Toko Bunga “Ji Flower” –tertera di kertas warna merah muda berikut nama pemilik, Kwon Jiah, dan nomor telepon toko–. Denting lonceng di pintu kaca berbunyi lagi, disambung dengan suara Nona Boss ‘Terima kasih, silakan datang lagi!’ yang membuat senyumnya merekah tanpa ia sadari.

##

Sesuai saran Hyemi padanya, Hyukjae jadi rutin bolak-balik ke Toko Bunga Seberang Jalan. Awalnya niat Hyukjae murni membeli bunga untuk ibunya. Namun seiring berjalannya waktu, ia sadar bahwa gadis bernama Jiah itu telah melintasi pikirannya.

“Selamat pagi!”

Jiah yang sedang menguncir rambutnya, menoleh ke arah Hyukjae. Pria itu tersenyum menampakkan gusinya. “Anda datang lagi?” Jiah menyahut formal, seraya tersenyum. Wajahnya berseri-seri tiap kali Hyukjae datang.

“Memangnya tidak boleh?” Tanya Hyukjae setengah menggoda, meski jantungnya berdegup tak karuan.

“Bukan begitu. Kalau Anda mau beli bunga setiap hari, Anda bisa telepon kemari dan akan kami antar buketnya sesuai dengan alamat yang Anda minta.”

Café latte hangat untukmu!” Hyukjae menyela Jiah ketika teringat kopi yang ia beli di kafetaria Rumah Sakit.

Jiah mengamati benda yang disodorkan Hyukjae. “Err, aku membelinya untuk seorang teman. Tapi magnya sedang kambuh, jadi dia menolak. Kau bisa meminumnya.” Hyukjae mendadak kikuk dan meracau sambil memaki dirinya dalam hati. Pernyataan itu membuat Jiah kehilangan selera berbincang dengan Hyukjae. Ia mengambil paper mug sewarna biji kopi itu dari tangan Hyukjae dengan malas. Meskipun demikian, ia tetap mengucapkan terima kasih.

“Aku tidak terbiasa dengan jasa kurir. Lagipula akan lebih romantis jika memberikan bunga secara langsung, kan?” Hyukjae kembali pada rasa penasaran Jiah tentang buket bunganya. Habislah! Lagi-lagi ia membuat pernyataan yang salah.

Wajah yang berseri itu padam. Jiah merasakan suhu di pipinya sepanas paper mug di tangannya. Dalam hati ia memendam kekecewaan. Ia meletakkan kopinya di meja kerja, kemudian mulai merangkai buket pesanan Hyukjae seperti biasa. Tapi kali ini dengan hati yang hancur.

“Terima kasih, Jiah-ssi!” Hyukjae mencoba tersenyum sambil memandangi buket bunga pastel miliknya.

Jiah mencelos. Ia tidak mengerti perlakuan Hyukjae padanya. Jika ia hanya konsumen biasa, tentu tak perlu menaruh perhatian begitu banyak padanya. Kecuali semuanya hanya perasaan sepihak dari dirinya sendiri. Dasar playboy!

##

“Kau tahu tidak gossip yang beredar di rumah sakit?” Hyemi tampak bersemangat sekali siang itu. Ia terus memepet Hyukjae. “Gosip apa?” Hyukjae menoleh malas dan mempercepat langkah melewati lobby. Isi otak seniornya itu sudah sepenuhnya terbaca.

Hyemi mengejar langkah Hyukjae, “Dokter Lee terpikat pada Gadis Penjual Bunga” bebernya.

Noona! Terpikat apanya? Jangan sembarangan dengar gossip murahan! Kalau Ibu dengar, tamat riwayatku.” Hyukjae mengerucutkan bibirnya.

“Bagus juga kalau Ibu tahu. Jadi, kau bisa dinikahkan secepatnya.” goda Hyemi.

“Percuma saja! Aku tidak akan menikah hanya karena didesak terus-menerus.”

“Siapa namanya?” Hyemi mendesak.

Hyukjae memandang seniornya itu seolah tak mengerti siapa yang dimaksud Hyemi. “Siapa?”

“Pemilik toko bunga itu?” Hyemi menghentakkan kaki ke lantai seperti anak kecil yang kesal tak diberi cokelat.

Noona, kumohon!” Hyukjae menahan teriakannya.

“Aku tidak akan mendesakmu lagi. Beri tahu aku siapa namanya!” Hyemi tak menyerah. Wajahnya serius sekali saat menanti jawaban Hyukjae.

Hyukjae menangkap bahu Hyemi, mengarahkan wajahnya dan menyeringai pada Hyemi. “Berdirilah di kedua kakimu, seberangi jalan raya, masuk ke toko bunga, dan tanyakan sendiri pada pemiliknya!”

“YAAA!! LEE HYUKJAE!!”

##

Pukul 7.00 pagi, Toko Bunga milik Jiah belum dibuka tapi Hyukjae sudah berada di dalam. Menunggui Jiah yang didesaknya menyiapkan buket bunga lebih awal. Gadis itu bahkan belum sempat sarapan ketika menerima sms darinya. Kedengarannya menyebalkan, tapi Jiah tidak bisa menolak jika Hyukjae yang meminta. Buket bunganya pernah tak dibayar Hyukjae, saat pria itu lupa bawa dompet. Akan tetapi, pagi itu adalah yang paling menyebalkan.

Jiah mengulurkan buket bunga pada Hyukjae, diiringi helaan nafas panjang.

“Jiah-ssi, bisakah kau antarkan buket bungaku ke alamat ini mulai besok?” Hyukjae bertanya tanpa ragu sambil menyodorkan memo kecil. Sebuah permintaan aneh lagi.

“Diantar? Kau bertengkar dengan pacarmu? Bukankah kau bilang tidak suka pakai jasa kurir?” cecar Jiah.

“Hah? Pacar? Hahaha!” Hyukjae hanya menahan tawanya dalam hati. “Begini ya Jiah-ssi, siang ini aku akan berangkat ke Jeju. Dan temanku punya alergi serbuk sari, jadi dia tidak bisa menggantikanku mengantar bunga.”

Jiah mengangkat sebelah alisnya. “Jeju?”

“Err, aku tidak bermaksud ikut campur. Jangan salah paham, ya!” Jiah menggoyangkan telapak tangan di depan dadanya.

“Aku mengerti!” kata Hyukjae. “Aku sudah dua bulan menjadi pelangganmu. Setiap pagi bertemu, aku sudah tidak menganggapmu Nona Bos lagi, Jiah-ssi. Kau tidak berbeda dengan temanku yang alergi serbuk sari itu.” lanjutnya menjelaskan.

Jiah mengangguk kecil, mulutnya membulat mengucapkan kata “Oh” tanpa suara.

“Aku ada janji dengan seseorang di Jeju. Kalau kau tidak keberatan, tolong antarkan buket bunga ini mulai besok. Hanya tiga hari! Tapi aku ingin kau sendiri yang mengantarkan.” Hyukjae menekankan kalimat terakhirnya.

“Oke! Karena kau menganggapku seperti temanmu yang alergi serbuk sari itu, maka kupastikan buket ini akan sampai pada alamatnya dengan selamat.” Jiah akhirnya menyetujui permintaan Hyukjae. Lagipula ia sedikit penasaran dimana buket bunganya selama ini berakhir.

“Omong-omong, kau suka bunga apa?”

##

Demi memenuhi janjinya, pagi-pagi sekali sebelum membuka toko, Jiah merangkai buket bunga pesanan Hyukjae untuk diantarkan pada seseorang yang dicurigainya sebagai kekasih pria itu. Tanpa menunggu kedatangan Hanbin, karyawannya, Jiah menyeberangi jalan menuju gedung bertingkat di seberang tokonya. Hanbin membawa kunci cadangan, jadi tetap bisa masuk toko tanpa Jiah.

Jiah tengah mengendap-endap masuk ke kamar pasien yang dimaksud Hyukjae kemarin. Ketika itu Hyemi keluar dari lift di lantai yang sama dengannya langsung mengawasi Jiah masuk. Wanita yang akan menerima buket bunganya masih terpejam di tempat tidur, berbaring menghadap jendela membelakangi Jiah. Ia mendekat lalu dengan hati-hati mengganti bunga dalam vas dengan bunga baru, agar tak membangunkan pasien. Saat itulah Jiah diam-diam mencuri pandang ke wajah pasien.

Cantik, pujian itu tersirat dari tatapan matanya. Jiah mengembuskan nafas panjang. Setelah melihat wanita itu, tiba-tiba dadanya terasa sesak. Wajar jika Hyukjae menjadikan wanita cantik itu sebagai kekasihnya. Yah, meskipun kelihatan usianya jauh lebih tua daripada Hyukjae. Sepertinya usia 40-an tahun, ia pun menerka-nerka.

Bahu pasien bergerak naik-turun dengan teratur. Jiah memandanginya dengan rasa iba dan dada yang sesak. Semakin ia melihat wanita itu, ia bisa merasakan ketulusan hati Hyukjae yang dengan sabar merawat kekasihnya yang sakit. Jiah mencoba memahami perasaannya yang tak menentu dan menerima status Hyukjae dengan wanita itu. Meskipun demikian, hal itu masih mengganggu pikirannya.

Kreek! Pintu ruang rawat terbuka dan Jiah keluar dengan wajah murung. Hyemi yang sejak tadi memata-matai Jiah dari celah pintu langsung salah tingkah, pura-pura merogoh bagian dalam jasnya. Namun jiah kelihatannya tak menyadari. Melihat jas dokter yang dikenakan Hyemi, gadis itu berpaling dan hanya menyapanya sopan kemudian berlalu.

Hatchiiim! Hatchiim! Hyemi bersin-bersin karena hidungnya tiba-tiba gatal. Ia menyeka hidungnya dengan tissue antiseptic kemudian mengambil masker dari kantong jasnya. Ia merasa alergi serbuk sarinya kambuh. “Padahal baru sampai di depan pintu, tapi kenapa sudah bersin-bersin begini, sih!” gerutunya pelan. Ia lantas teringat pada Jiah yang tadi datang membawa bunga.

Seketika itu Hyemi menoleh, bersamaan dengan Jiah yang teringat akan teman Hyukjae yang alergi serbuk sari, saat mendengar Hyemi mulai bersin-bersin. Keduanya berpandangan beberapa saat dan bergumul dalam hati masing-masing. Rupanya wanita ini!

##

Jiah dengan canggung melepas sweater dengan maksud ‘menghilangkan’ efek serbuk sari yang melekat di tubuhnya. Lalu ia letakkan di kursi kosong di sebelahnya. Sementara itu Hyemi yang merasa tak enak pada Jiah, melepas masker yang ia kenakan agar leluasa saat mengobrol dan minum.

“Apa tidak merepotkan pagi-pagi sudah harus mengantar pesanan?” Hyemi mengerjap.

Jiah menggeleng dan mencoba tersenyum di tengah kegundahannya. “Sudah bagian dari pelayanan toko kami.”

Hyemi mengangguk-angguk, menyesap cokelat panas miliknya sambil tetap mengawasi Jiah. “Begitu ya. Hahaha. Sepertinya kalian cukup dekat ya.” Hyemi meletakkan cangkirnya kemudian bersedekap. “Selama ini dia tidak pernah membeli bunga untuk perempuan, apalagi memilihnya sendiri. Dia pasti menelpon toko bunga dan minta diantarkan. Tapi belakangan ini dia yang pergi dan memilih sendiri bunganya. Aku ini memang bukan teman yang bisa diandalkannya untuk masalah ini. Jadi harus merepotkanmu,” lanjutnya, tertawa pelan.

“Aku mengerti keadaannya” Jiah melirik Hyemi sambil mengosok ujung hidungnya seolah sedang gatal. “Aku tidak keberatan. Lagipula hanya tiga hari saja.”

“Eh, kau tau juga kalau aku punya alergi serbuk sari?” Hyemi tampak terkejut. Meskipun Hyukjae tak memberitahu, semua orang juga akan tahu alergi yang dimiliki Hyemi jika ia bersin-bersin saat berdekatan dengan bunga.

“Oh, itu Eunhyuk pernah menyebut seorang temannya dan kurasa yang dia maksud adalah Dokter.”

“Hei, Hyuk- err maksudku Eunhyuk memanggilku dengan sebutan noona, jadi kau anggap saja aku kakakmu juga.” Fyuh! Hyemi hampir keceplosan bicara. Hyukjae bilang, ia menggunakan nama Eunhyuk saat berkenalan dengan Jiah.

Ne, eonni!” Jiah mengangguk dan tersenyum kaku. Ia tidak berpikir menjalin keakraban dengan Hyemi. Lagipula ia perlu menjaga jarak dari dunia Hyukjae setelah melihat sendiri seperti apa kekasih Hyukjae. Tanpa sadar ia kembali terlihat murung.

“Sayang ya aku tidak bisa mengunjungimu di toko. Padahal hanya terpisah jalan raya saja,” Hyemi menyesalkan alerginya.

“Kalau eonni mau, aku bisa mengunjungi eonni disini,” tukas Jiah. Raut wajah Hyemi berubah ceria. Detik berikutnya, Jiah menyesali ucapannya. Menjaga jarak apanya?

“Bagus sekali. Nanti kukenalkan pada Jungho.”

“Jungho?” Jiah nampak bingung.

“Putraku, Lee Jungho.” Hyemi menyeringai.

Masih banyak yang ingin ia tanyakan pada gadis itu, terutama tentang hubungannya dengan Hyukjae. Tapi Hyemi harus menyimpan rasa penasarannya karena mempertimbangkan perasaan Hyukjae. Jika Hyukjae tahu ia merencanakan pertemuan lain dengan Jiah, pemuda itu pasti panik. Ia sudah mendapatkan ultimatum agar tidak mengatakan apapun tentang Hyukjae dan ibunya pada Jiah.

“Kau punya kartu nama?”

Jiah mengeluarkan satu-satunya kartu nama dari dompet. Hyemi menyambar dengan cepat, melihat kertas itu sekilas lalu memasukkannya di saku jas setelah mencatat nomor Jiah yang tertera disana.

##

Advertisements

2 thoughts on “We Got Married (The Series) – Cross Your Mind (Part 1)

  1. Heeem tambah excited itu waktu baca namanya dedek Hanbin *blush*
    Tapi yang bikin senyam senyum sendiri baca ff ini tuh ngebayangin tingkahnya unyuk. Kesukaannya Jiah (*tunjuk diri sendiri) banget deh karakternya unyuk di sini.
    Gengsiannya unyuk bikin doi tambah unyu. Cocoklah ya sama Jiah yang gengsinya tinggi. Alesan banget ya si unyuk ini beli bunga tiap hari, padahal mau liatin si Jiah ^_^

    Mau dong tiap hari dianteri cafe latte hangatnyaaaaa…

    Ceritanya simple tapi bikin nagih. trus sukses ngebuat beneran masuk ke dalam cerita.
    Sukaaaaaaaaaaaa…..

    Sebenernya Song Hyemi ini bikin jealous. Unyuk deket banget ya sama Hyemi.
    Eh tp Jiah malah cemburu sm eommanya. Salahkan Unyuk kata-katanya bikin mikir tuh cewek pacaranya!

    1. Glad to hear you like it.. 😆
      Tapi yg nulis blm puaaaas.. Pengen lebih romantis, tp apadaya disini ceritanya mereka baru kenal sebentar.. Lg mikir ide first date mereka ini..
      Wkwkwk ya mau pegimane lg ya eunhyuk disini ceritanya ga banyak temen, cm hyemi sm sunho..
      Tunggu sesi berikutnya.. Ini masih friendzone mereka we.. 😆😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s