We Got Married (The Series) – CROSS YOUR MIND (Part 2-End)

WE GOT MARRIED

(An Unvirtual Marriage)

Tripple Wedding – Unseen Scene

Cross Your Mind

(Part 2-End)

 christinography_CottiersWeddingPhotography_PlansPresents-6839

Love isn’t always about happiness. There’s a sadness between a lover. However, it ends happily.

 

Main Cast:

[SJ] Eunhyuk as Lee Hyukjae

[OC] Kwon Jiah

Support Cast:

[OC] Song Hyemi

[IKON] Hanbin

[SJ] Lee Donghae

Lee Dongwook

[OC] Go Areum

[FT ISLAND] Lee Hongki

Lonceng di atas pintu toko berdenting pelan. Hanbin menyambut dengan senyum dan sapa. Hyukjae masuk menenteng bingkisan Jeju greentea untuk Jiah, namun gadis itu tak nampak batang hidungnya. Hanbin menghampiri dan memberitahunya bahwa Jiah sedang mengurus pesanan bunga untuk wedding organizer milik sahabatnya. Hyukjae menitipkan saja bingkisan itu pada Hanbin. Dan Hanbin, bocah itu mendapat ginseng Jeju dari Hyukjae. Setelah mendengar celotehan Hanbin tentang pengalamannya mengunjungi Jeju saat masih SD, Hyukjae meninggalkan toko milik Jiah dengan perasaan kecewa.

Hari itu ia kembali dari Jeju bersama seniornya yang juga suami Hyemi, Lee Sunho, dan Dokter Nam, seorang Ahli Syaraf yang disebut-sebut Sunho sebagai yang terbaik di Korea. Setelah Dokter Nam memeriksa sendiri keadaan ibunya, Hyukjae lantas membicarakan tindakan medis yang akan dilakukan Dokter Nam selanjutnya. Didampingi Sunho, Hyukjae nampak tegang mendengar penjelasan Dokter Nam.

“Sejujurnya penyakit Ibumu sudah sangat terlambat untuk ditangani. Aku tidak ingin membuat perasaanmu hancur, tapi sebagai seorang dokter, kau sendiri tentu tahu kondisi pasien yang menderita Alzheimer selama 10 tahun tidaklah baik.”

Hyukjae hampir jatuh pingsan mendengar ucapan Dokter Nam yang langsung ke inti masalah. Sunho menenangkannya dengan menepuk-nepuk bahu Hyukjae.

“Aku akan bicara dulu dengan ibuku tentang operasi ini.” air mata menggenang di kedua mata Hyukjae, suaranya bergetar hebat. Dokter Nam mengangguk dan menyuruh Hyukjae menenangkan diri dulu sebelum bicara pada ibunya. Kondisi psikologi pasien juga salah satu faktor penting dalam operasi.

##

Tiga hari kemudian, tenggat waktu yang diberikan oleh Dokter Nam padanya untuk meyakinkan pasien. Hyukjae masih belum menemukan ketenangan untuk memberitahu ibunya soal rencana operasi. Baginya sama saja dengan mengatakan “Bu, bersiaplah! Malaikat akan datang menjemputmu.” Membayangkannya saja begitu berat, bagaimana mungkin ia bisa mengatakannya pada ibunya.

Hyukjae mengunjungi toko bunga milik Jiah untuk membeli bunga seperti biasa. Lagi-lagi Hanbin yang menyambutnya. Ia memberitahu Hyukjae bahwa bosnya sibuk belakangan ini. Jiah hanya menitipkan buket bunga Hyukjae yang sudah dirangkai pada Hanbin. Hyukjae menghela nafas panjang, sedikit mengganjal di dadanya. Sejak kembali dari Jeju, ia tak menjumpai Jiah. Bahkan ketika dihubungi pun, teleponnya selalu tidak aktif. Apa dia sedang menghindar?

“Tolong sampaikan pada Jiah untuk mengantarkan bunga pesananku besok.”

“Apa hyung akan pergi lagi?”

Hyukjae menggeleng, “Katakan saja begitu!” Hanbin manggut-manggut. Rupanya ia tampak begitu lugu dan patuh.

Sekembalinya dari toko, Hyukjae menunggui ibunya di rumah sakit. Ia berpikir bagaimana ia menciptakan ketenangan dalam dirinya. Ia butuh seseorang untuk diajak bicara, mendengar keluh kesahnya, memberinya dukungan. Tapi ia hanya punya ibu, Hyemi, Sunho, Dongwook –seorang pelatih baseball yang menjadi pasiennya dan sekarang menjadi teman dekat– , dan Jiah. Hyemi adalah orang yang paling tidak ingin ia mintai pendapat saat itu. Karena ia yakin sepenuhnya jika wanita itu akan menangis tanpa henti ketika mendengar cerita tentang ibunya. Sunho pun takkan bisa menenangkan hatinya, karena Sunho bukan tipe orang yang bisa menghangatkan. Dongwook? Dia sibuk mengurus pernikahannya dengan editor majalah yang bernama Go Areum itu. Jiah? Jiah! Hanya Jiah yang melintas di pikirannya. Tapi gadis itu justru menghilang disaat ia membutuhkannya.

Akhirnya malam itu ia mengutarakan isi hatinya pada ibunya. Keinginannya untuk melihat ibunya sembuh dan kembali ke rumah seperti ibu-ibu lainnya. Dorongannya agar ibunya mau menjalani tahap pengobatan. Juga harapannya agar ibunya mendampinginya saat menikah. Ia menelan sendiri ketakutan akan kehilangan ibunya, juga kesedihan jika benar-benar harus kehilangan ibunya. Hatinya terasa perih, sesak, berat, penuh, dan beragam rasa sakit yang tak tergambar.

“Ibu bersedia menjalani operasi. Apapun itu, akan kulakukan agar bisa hidup lebih lama denganmu.” Ibu Hyukjae berkata lirih. Ia duduk bersandar di tumpukan bantal, di ranjang pasien. Matanya yang jernih memandangi anak manja yang hampir menangis itu. Hyukjae tak kuasa membendung kesedihannya lagi. Tangisnya pecah dalam pelukan ibunya malam itu. Dalam pelukan yang hangat, keduanya hanya bisa saling memberi kekuatan.

##

Jiah terkejut mendapati ruang pasien yang sepi. Wanita yang ia temui seminggu yang lalu telah menghilang. Ranjang pasien sedang dirapikan oleh seorang perawat. Jiah mendekat sambil mendekap buket bunga pesanan Hyukjae.

“Permisi, pasien yang dirawat di kamar ini dimana ya?”

Perawat itu menatapnya ingin tahu. “Aku datang mengantarkan bunga!” Perawat itu berpaling pada buket bunga yang dibawa Jiah, lalu menatap Jiah lagi, “Oh, Anda terlambat. Pasien sudah dipindahkan keruangan lain.” katanya kemudian berlalu.

Jiah masih berdiri di tempatnya. Mungkin keadaannya sudah membaik, begitu pikir Jiah. Ia menghela nafas dan memandangi bunganya yang datang sia-sia.

Rupanya, hari itu menjadi hari terakhir ia mengantarkan bunga pesanan Hyukjae. Pria itu seolah menghilang. Tak pernah datang ke toko dan memperlihatkan senyumnya yang menawan. Juga tak pernah menghubunginya untuk minta dikirimkan buket bunga. Terakhir kali yang ia ingat, Hyukjae menanyakan bunga kesukaannya. Calla Lilies!

##

Hari-hari berlalu begitu hampa. Jiah hanya bisa memandangi rumah sakit di seberang toko dari meja kerjanya, dengan harapan dapat melihat Hyukjae lagi. Hanbin memandang bosnya itu dengan pandangan kasihan.

Hyukjae tengah menjaga ibunya. Ia mengambil cuti menjelang operasi karena sudah sulit untuk berkonsentrasi saat bekerja. Ibunya telah melewati masa kritis dan dipindahkan kembali ke ruang pemulihan. Dokter Nam, yang memimpin jalannya operasi Ibu Hyukjae, memberinya sinyal ‘bersabarlah’ begitu operasi selesai.

Hyukjae memandangi wajah ibunya yang begitu cerah malam itu. Wanita itu terus menggenggam tangannya meskipun saat ia tidur. Hyukjae pun enggan pergi dari sisi ibunya walau sekejap saja.

“Hyukjae-ah!” terdengar Ibu Hyukjae memanggilnya dengan suara yang begitu lemah. Kepala Hyukjae terantuk di udara, rupanya ia tertidur karena kelelahan. Ia mempererat genggaman tangan ibunya.

“Ada apa? Ibu butuh sesuatu? Katakan!”

Ibu Hyukjae menggeleng lemah hingga nyaris tak nampak. “Ibu baru saja bermimpi bertemu ayahmu.”

Hyukjae seperti dihantam tronton dengan kecepatan tinggi dan terdesak ke dinding bangunan tinggi yang segera roboh menimpanya. Air matanya menggenang. Ia menjadi begitu sentimental sejak Dokter Nam memberitahunya bahwa kondisi ibunya tak membaik.

“Ayahmu bertanya pada ibu, apakah ibu sudah bertemu dengan calon menantunya?”

Hyukjae menelan ludah. Pahit.

“Ibu rindu sekali pada ayahmu, Hyukjae-ah!”

Nafas Hyukjae tertahan di kerongkongan. Sesak. “Aku juga merindukan Ayah”

“Ibu ingin bertemu dengan ayahmu!”

Hyukjae mempererat genggamannya pada tangan wanita itu. “Kita akan bertemu dengannya nanti. Sekarang Ibu bantu aku bertahan, ya.”

Wanita itu tersenyum. Suara embusan nafasnya terdengar pilu ditengah keheningan malam. “Hyukjae-ah, jika Ibu bertemu dengan Ayahmu, apa yang harus Ibu katakan tentang calon menantunya?”

“Ibu tidak akan bertemu Ayah sekarang! Aku akan segera membawa gadis itu pada Ibu.”

“Baguslah. Dia gadis yang seperti apa?”

“Dia pendiam. Tapi dia baik dan perhatian.”

“Diam-diam tapi memperhatikan. Begitu ya. Tadinya Ibu kuatir tidak ada yang memperhatikanmu jika Ibu tidak ada.”

“Eommaaaa!!” setengah berteriak, Hyukjae memohon agar Ibunya berhenti bicara yang tidak-tidak. Wanita itu hanya bisa tersenyum karena tidak berdaya untuk menertawakan anaknya.

##

Toko bunga milik Jiah ramai sekali pagi itu. Hanbin dan Jiah kewalahan menerima pesanan. Hampir rata-rata pembeli yang datang mengenakan setelan hitam-hitam. Ada yang datang sendiri, juga ada yang datang bersama teman. Para wanita yang datang bersama dan sedang menunggu Hanbin merangkai bunga –keterampilan ini ia dapat dari kursus kilat yang diberikan Jiah setelah jam kerja– berbisik-bisik satu sama lain.

“Kasihan sekali ya, Dokter Lee. Padahal sudah jauh-jauh meminta Dokter Nam menangani operasi ibunya.”

“Iya. Aku tidak tega melihat wajahnya tadi. Sungguh kasihan.”

“Masih muda tapi sudah sebatang kara. Kenapa Tuhan menimpakan cobaan ini pada Dokter Lee, ya?”

“Dokter Lee itu sangat mencintai ibunya. Aku pernah melihatnya mengajak ibunya berkeliling di taman dengan kursi roda.”

“Benar. Aku juga pernah melihatnya membersihkan bekas muntahan ibunya di lantai.”

“Memang ibunya sakit apa, sih?”

“Entahlah! Aku dengar Alzheimer, sudah 10 tahun.”

Jiah mencuri dengar obrolan para wanita itu. Kemudian merasa simpati dan kasihan pada Dokter Lee yang disebut-sebut itu. Setelah membayar buketnya, para wanita itu pergi meninggalkan toko dan menyeberangi jalan raya. Jiah mengembuskan nafas panjang. Ia melirik Hanbin yang terkapar di dekat pintu kaca, begitu semua pembeli pergi.

“Kau sepertinya kelelahan. Sebaiknya kita tutup toko lebih awal. Lagipula sepertinya tidak aka nada lagi yang datang.” kata Jiah, melihat keluar jendela. Langit di atasnya kelabu dan redup. Hujan turun rintik-rintik.

Hanbin berdiri dan bersiap menutup toko ketika lonceng di atas pintu kaca berdenting lagi. Ia mengumpulkan semangatnya dan menyambut seorang pembeli yang datang. Rupanya langganan lama datang lagi. Hyukjae tersenyum pada Hanbin lalu berjalan ke meja kasir. Dari muka pintu, ia sudah melihat Jiah duduk di meja kerjanya.

“Lama tidak bertemu,” Hyukjae memamerkan deretan giginya. Jiah menyunggingkan senyum seadanya lalu menanyakan kabar Hyukjae. Pemuda itu terlihat seperti kelopak bunga yang diguyur hujan petir semalaman. Bukan kelihatan segar, sebaliknya ia terlihat layu.

“Apa kau juga akan pergi melawat?” Jiah mengamati setelan hitam dan kacamata yang dikenakan Hyukjae.

Hyukjae mengangkat bahunya. “Berikan aku buket bunga lili. Calla lilies!”

Jiah mengerutkan kening. Kenapa harus bunga kesukaanku yang dibawa untuk melawat?

“Sampai bertemu lagi!” Setelah mendapatkan pesanannya, Hyukjae pamit pada kedua ‘penghuni’ toko. Hanbin mengantarnya sampai keluar, sementara Jiah mengawasi dari balik meja kasir dengan tatapan sedih.

##

Satu bulan lebih berlalu tanpa disadari. Meski Jiah kerap memandang gedung di seberang tokonya dengan tatapan sedih. Baik Hyukjae maupun Hyemi, keduanya tanpa kabar. Jiah punya gengsi yang begitu besar hingga tak mau menghubungi salah satunya lebih dulu. Di seberang tokonya, seorang pria telah kembali membangun hidupnya yang hancur dengan susah payah. Menjelang peringatan 49 hari ibunya, Hyukjae terlihat jauh lebih tenang. Dengan Hyemi dan Sunho disisinya, ia berhasil menghapus kesedihan akibat ditinggal pergi sang ibu untuk selamanya.

“Cepat sedikit, Hyukjae!” Hyukjae masuk tergesa-gesa ke mobil Sunho, Hyemi yang duduk di samping kemudi tengah melotot padanya.

“Kenapa suruh aku yang beli bunga, sih?!” terdengar gerutuan dari kursi belakang, Hyemi dan Sunho serentak melirik spion tengah. Hyukjae tampak sedang bermain-main dengan Jungho, seperti lupa dengan keluhannya beberapa saat lalu. Sunho dan Hyemi menghela nafas, kemudian perlahan mobil melaju menuju Cheondamdong.

“Kau yakin ini tempatnya?” Hyemi membetulkan maskernya sambil mengamati gedung berlantai tujuh belas di depannya.

“Hmm!” Hyukjae menyahut malas, lantas menggendong Jungho keluar mobil lebih dulu. Tangan kanannya menenteng buket bunga yang ia beli di dekat apartemennya. Sungho dan Hyemi menyusulnya di lobby setelah menemukan tempat parkir.

“Noona, obatnya sudah kau minum belum? Di dalam pasti banyak bunga, alergimu bisa kambuh.” Hyukjae menyerahkan Jungho pada Sunho setibanya di depan pintu unit apartemen.

“Tenang saja, Dokter Lee. Aku ini pasien paling patuh di dunia.” Hyemi mengangkat dagunya lalu melirik Sungho. “Sudah cepat tekan belnya! Kita sudah terlambat.” Hyemi melotot lagi pada Hyukjae.

“Annyeonghaseyo!” Hyukjae tersenyum canggung pada Donghae yang membukakan pintu untuknya. Pemuda itu membungkuk sopan, mengambil buket pemberian Hyukjae. Dari arah dalam, Dongwook berteriak menyuruh tamunya masuk. Dongwook dan Areum menyambut di ruang tengah.

“Yah, Lee Hyukjae, kau bahkan terlambat di acara penting seperti ini!” Dongwook beranjak dari sofa, berteriak pada Hyukjae yang berjalan ke arahnya sambil memicingkan mata, berpura-pura kesal.

“Hahaha maaf hyung, belakangan ini aku sering insomnia. Acara makan-makannya belum dimulai kan?” Hyukjae menanggapi dengan santainya. Ia berjalan ke arah dapur mengikuti Areum dan Hyemi, bahkan sebelum Dongwook membalas.

“Waahh! Kakak ipar masak seenak ini, aku datang dengan perut kosong, pas sekali ya.” seru Hyukjae dari balik punggung Hyemi, sembari mengendus aroma masakan yang memenuhi ruangan. Wanita itu langsung menyikut Hyukjae yang sedang terkekeh. Dasar tidak tahu malu!

##

“Apa Taera akan datang?” Dongwook memandang Areum. Wanita itu mengangkat bahu. “Mobilnya mogok dan dia sedang menunggu taksi sekarang. Apa sebaiknya aku jemput saja, ya?”

“Dia dimana sekarang?” Dongwook memegang lengan isterinya yang beranjak dari kursi.

“Toko pastry tidak jauh dari sini.”

Dongwook melempar pandangan Donghae. “Baiklah. Donghae, kau saja yang jemput!”

Donghae membelalak dengan jantung yang memacu cepat. “AKU??”

“Maaf merepotkan, Donghae-ssi!” Kata-kata Areum membuat Donghae mati kutu. Kali ini tak bisa menolak.

Belum satu menit Donghae meninggalkan apartemen, bel pintu apartemen berbunyi. “Eh, dia kembali lagi? Apa ada yang ketinggalan?” Dongwook dan Areum saling pandang. Areum hendak beranjak dari kursi, tapi Hyukjae mengambil langkah lebih dulu. “Biar aku saja yang buka!”

Pintu dibuka dan seorang pria berpakaian kasual tersenyum pada Hyukjae. “Buket bunga untuk Nyonya Go Areum dan Tuan Lee Dongwook!” Buket bunga dominasi warna ungu yang dibawa kurir itu berpindah ke tangan Hyukjae. “Tolong tanda tangan disini!”

Hyukjae memeriksa buket bunga dan menemukan sebuah kartu tersemat di antaranya : Dari Park Tara.

“Terima kasih! Yang ini bonus dari toko kami. Hari ini ulang tahun Nona Bos.” Si Kurir tersenyum lagi dengan wajah berseri-seri.

Hyukjae kembali ke ruang makan dan menyerahkan buket bunga itu pada Areum. Kemudian ia kembali ke kursinya.

“Wah, dari Park Tara. Pemilik Wedding Organizer itu kan?” Dongwook mengendus-endus bunga di tangan Areum.

“Omong-omong toko bunga ini dimana, ya? Sepertinya aku tahu.” Dongwook memperhatikan dengan seksama, lalu berseru “Ah! Toko bunga milik teman Park Tara!”

Hyukjae mendekat karena penasaran dengan toko bunga yang dibicarakan keduanya. Walaupun ia lebih tertarik pada nama pemiliknya.

Dongwook masih mengobservasi buket bunga di tangan istrinya. “Eh, tokonya ada di depan rumah sakit tempat kau kerja, Hyukjae-ah!”

“Ne? –Apa?” Hyukjae berseru kaget, begitu pula dengan Hyemi yang langsung berdiri di belakang Hyukjae dan membaca kartu ucapan dari pemilik toko bunga. Ia memandang Hyukjae yang terpaku. Rupanya hari ini ulang tahunmu, Jiah-ssi!

##

Sunho menurunkan Hyukjae di depan rumah sakit. Setelah melambaikan tangan pada si kecil Jungho, Hyukjae menyeberang jalan menuju toko bunga milik Jiah. Sudah lama ia tidak melangkahkan kaki kesana. Lama sekali, bahkan ia tidak tahu toko itu sudah menambah seorang karyawan lagi. Bukan Hanbin saja yang kesana-kemari mengantar bunga.

Langit sudah gelap, beberapa saat lagi Jiah akan menutup tokonya. Hyukjae-pun memilih berdiri di depan toko jam, persis di sebelah toko Jiah. Lagipula ia memang tidak berniat masuk dan menemui gadis itu.

“Sudah mau pulang, Jiah-ssi?” seorang Ahjumma –Bibi pemilik toko sebelah muncul saat Jiah keluar. Jiah hanya menyahut singkat sambil tersenyum. “Eh, kenapa kau sendirian? Apa Hanbin tidak masuk?” wanita itu bertanya lagi.

“Hanbin bekerja sampai tengah hari dan Hongki –karyawan baru Jiah– sudah kusuruh pulang duluan. Ahjumma mau kemana?” Jiah memperhatikan tas tangan yang ditenteng wanita bertubuh gemuk itu.

“Aku juga sudah mau pulang. Menantuku baru datang dari Busan dan aku akan menjemputnya di bandara.”

“Kalau begitu hati-hati di jalan!” Jiah membungkuk dan menunggu sampai wanita itu masuk ke mobil.

Jiah berjinjit di atas heels 10 senti yang ia kenakan. Menggapai rolling door di atas kepalanya. Krekk!! Pintu perlahan menutup ke bawah. “Omo! Kamsahamnida –Terima kasih!” Jiah melempar senyuman pada pria di sebelahnya yang membantu menarik rolling door agar menutup sempurna. Setelah menyadari Hyukjae lah yang telah membantunya, senyum Jiah hilang tanpa bekas. “Long time no see!” Hyukjae memamerkan gusinya, seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka. Jiah melotot sebal. Mungkin saja tiba-tiba ada asap keluar dari lubang hidungnya karena begitu kesalnya.

“Ya, lama tidak bertemu. Aku bahkan nyaris lupa pernah mengenalmu.” Jiah membuang muka lalu berbalik meninggalkan Hyukjae.

“Wah! Apa begini caramu menyambut teman lama, Kwon Jiah-ssi?” Hyukjae mengikuti Jiah, ia hanya melihat punggung yang dibalut mantel cokelat gelap di hadapannya semakin menjauh.

Gadis itu berhenti setelah bersusah payah meredam emosinya, berbalik menghadap Hyukjae. “Teman?” Jiah menggeram, memegang tali tas sandangnya erat-erat. “Aku bahkan tidak tahu namamu. Kau berasal darimana. Apa pekerjaanmu. Semuanya aku tidak tahu.” geramnya.

“Apa itu penting?”

“Tentu saja!!” Jiah nyaris melempar Hyukjae dengan tas sandang yang ia kenakan.

“Tsk! Jiah-ssi, aku datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Kenapa kau malah memarahiku?”

“Aku kesal, kau tahu?”

“Memangnya apa salahku?”

“KAU!!” Jiah mendekat dan menunjuk wajah Hyukjae. “Kau datang dan pergi sesuka hatimu! Aku tidak akan mempermasalahkannya kalau saja kau hanya pelanggan biasa di tokoku. Ah, sudahlah! Kau tidak akan mengerti walau kujelaskan panjang lebar. Benar-benar membuatku kesal!”

“Apa kau mabuk?” Hyukjae bertanya dengan hati-hati, beruntung Jiah tak mendengarnya. “Err, maksudku apa kau mencemaskanku?” Hyukjae mengoreksi pertanyaannya.

Apa aku terlihat seperti sedang mencemaskannya? Kwon Jiah, kau tidak sedang menyatakan perasaanmu, kan? Jiah bergumal dalam hati.

“Kalau kau mencemaskanku, kenapa tidak menghubungiku?”

“Aku tidak mencemaskanmu! Aku hanya merasa kehilangan ikan besar. Kau sumber tetap pendapatan toko kami.”

Hyukjae mengerucutkan bibir. “Oooh! Baiklah kalau begitu aku pesan buket Calla Lillies untuk besok pagi. Aku mau kau siapkan sebelum jam 8!”

Jiah mendengus pelan dan memilih untuk diam.

Hyukjae merapatkan diri pada gadis itu kemudian berkata pelan, “Omong-omong, apa kau tidak ada rencana mentraktirku makan?”

Ya ampun! Apa dia tidak tahu kalau aku sedang kesal? Jiah mengentakkan kaki dan berbalik meninggalkan Hyukjae. Meskipun demikian, pria itu tetap membuntutinya sampai berakhir di sebuah restoran china.

##

Hyukjae menunggui Jiah di depan toko dengan tidak sabar. Berkali-kali ia melongo ke dalam memastikan gadis itu membuat pesanannya dengan benar. Sesekali ia melihat ke ujung pertokoan yang masih sepi. Jiah masih kesal dengan kejadian semalam, tapi seperti biasa tak bisa menolak permintaan Hyukjae.

“Kenapa tidak menunggu di dalam kalau kau begitu buru-buru?” Jiah muncul dengan Calla Lilies di tangannya tanpa menatap Hyukjae.

“Cepat ikut aku!”

“Apa?” Jiah berseru geram. Seenaknya saja menyuruhku!

“Tidak bisa! Aku harus menjaga toko.” Jiah mengabaikan kata-kata Eunhyuk dan bersiap masuk toko lagi. Tapi Hyukjae berhasil menahan Jiah di pintu. Gadis itu lantas melempar tatapan laser padanya. Membuatnya bergidik.

“Hyuuuuung!!! Pergilaaah!” Seseorang berteriak dari arah kanan toko dengan nafas tak beraturan. Hyukjae menghela nafas lega dan menyeringai lebar melihat kedatangan Hanbin.

“Ayo ikut!” Tanpa pikir panjang, Hyukjae menarik Jiah ke mobil meski gadis itu berusaha melepaskan diri.

##

“Aku datang memenuhi janjiku!” Jiah melirik Hyukjae yang membungkuk dan berbicara di depan makam.

“Kau tidak mau memperkenalkan diri?” Hyukjae menoleh dan kedua mata mereka bertemu, membuat Jiah kikuk.

“An- annyeong – annyeonghaseyo, aku Kwon Jiah!” Gadis itu membungkuk dengan kedua tangan di depan dada.

“Begitu saja?” Hyukjae memiringkan kepala ke arah Jiah. “Sudahlah!” Akhirnya ia hanya bisa menghela nafas dan menyudahi sesi perkenalan Jiah itu.

“Ayah dan Ibu bisa membicarakannya nanti setelah kami pergi.” Hyukjae membungkuk lagi.

Dia bicara apa sih? Jiah membatin sambil memperhatikan Hyukjae. Kemudian ikut membungkuk ke arah makam.

##

“Hari ini peringatan 49 hari ibuku!” Hyukjae mengatakan sesuatu tanpa menoleh Jiah. Perlahan menginjak pedal gas.

49 hari? Berarti hari itu ibunya yang meninggal. Ya Tuhan! Jiah mencelos. Ia teringat saat Hyukjae muncul dengan setelan dan kacamata hitam. Pemuda itu membeli satu buket bunga Calla Lilies tanpa mengatakan apapun tentang kematian ibunya. “Maaf, waktu itu kukira kau juga akan melawat.”

Hyukjae tersenyum pahit dari spion tengah. “Sebenarnya aku datang untuk memberitahumu. Tadinya begitu.”

Jiah mengangguk, mencoba memahami meskipun hatinya kecewa. “Aku mengerti, kau pasti sangat terpukul.”

Hyukjae tak menyahut. Selama beberapa saat, suasana di dalam mobil Hyukjae menjadi hening.

“Sebenarnya aku penasaran kenapa kau mengajakku ke pemakaman?” Jiah ragu-ragu melirik Hyukjae.

“Oh itu, aku sudah janji pada ibuku untuk mempertemukan kalian. Tapi sayang, walau kalian sudah sering bertemu, satu kali pun ibuku belum pernah melihatmu.”

Jiah mengernyitkan dahi, “Aku tidak ingat kau pernah memperkenalkan ibumu, kecuali hari ini.”

Hyukjae melirik Jiah lagi, lalu kembali fokus pada jalur kemudinya. “Wanita yang setiap hari kau antarkan buket bunga pastel di rumah sakit, dia adalah ibuku.” Hyukjae menahan senyumnya.

“Apa? Jadi dia ibumu?” Jiah memutar tubuhnya ke arah kemudi.

Gadis bodoh! Hyukjae tertawa sepuasnya dalam hati.

“Kenapa tidak bilang padaku?”

“Kau tidak pernah tanya. Setiap bertemu kau selalu bertanya: Mau pesan bunga apa?

“Kalau datang ke toko berarti kau pembeli. Kalau aku tanya ‘Apa kau bebas akhir minggu ini?’ itu baru aneh.”

“Memangnya kenapa? Kita kan teman, tidak selalu membicarakan bisnis.”

Jiah mendengus dan bersedekap. Wajahnya cemberut saat Hyukjae mencuri pandang dari spion.

“Akhir minggu ini kau bebas tidak?” Tanya Hyukjae, semula ia ragu-ragu.

“Aku harus jaga toko.” Jiah menjawab dengan nada datar.

“Hyemi noona akan merayakan ulang tahun anaknya. Kau datang saja denganku! Lagipula kalian kan sudah saling kenal.”

Jiah melirik Hyukjae dari ekor matanya, “Jungho? Err, akan kupertimbangkan lagi,” katanya.

“Apa tidak bisa dijawab sekarang?”

“Tidak bisa. Aku bisa saja tiba-tiba dapat pesanan banyak. Jadi harus lembur di toko.” Jawab Jiah santai, raut wajah Hyukjae terlihat masam. “Tapi aku bisa saja sih, menolak pesanan.” Jiah bergumam pelan, menghadap jendela. Samar-samar, Hyukjae terlihat menyeringai dengan kedua pipi yg memerah.

“Err, mungkin aku akan sibuk beberapa hari ini. Kau bisa tidak, datang ke rumah sakit setiap makan siang?” Hyukjae bertanya dengan hati-hati. Ia merasakan detak jantungnya begitu cepat, ketika gadis itu menoleh ke arahnya.

“Err, aku kerja di rumah sakit di depan tokomu. Ada ramen enak di kafetaria.”

Jiah berpaling, menggigiti bibirnya. Tampak sedang menimbang-nimbang tawaran Hyukjae. “Kau kerja di bagian apa?” tanyanya kemudian.

Hyukjae menjawab santai, “Bagian bedah tulang!” dan Jiah seketika bergidik di kursinya.

“Err, bagaimana aku bisa menemukanmu?”

“Tanyakan saja dimana ruangan Dokter Lee.”

“Lee apa? Nanti aku salah orang.”

“Lee Hyukjae bagian bedah tulang.”

Oh jadi namamu Lee Hyukjae! Jiah bersorak dalam hati. “Err, sebaiknya aku tunggu di lobby saja.”

Untuk apa tanya kalau mau tunggu di lobby? Hyukjae menghela nafas, lalu menanyai Jiah, “Kau tinggal dimana?”

“Gangnam!”

“Kalau begitu kita tetangga. Rumahmu sebelah mana?” Hyukjae berseru riang dan bersiap-siap mengoper persneling.

###

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s