The Last Petal (Chapter 6 – END : When Petals Fall)

tumblr_lxqvl6dxSa1r9kosxo1_500A second chance doesn’t always mean a happy ending, it’s a chance to end things right. – Anonymous

Cast:

EXO Chanyeol  as  Park Chanyeol

TVXQ Changmin  as  Park Changmin/ Shim Changmin

SJ Eunhyuk  as  Lee Hyukjae

Sohee  as  Ahn Sohee

IU  as  Lee Jieun

Chanyeol mencengkeram kemudi. Urat di punggung tangannya begitu kentara. Ia mengerang. Kemarahan tergambar di kedua matanya. Nafasnya memburu dan keringat mengalir melewati kulit lehernya. Ia tidak tahu perasaan apa yang sebenarnya ia rasakan. Kemarahan, kebencian, kesenangan, atau justru kesedihan. Semua serba tidak jelas. Ia seperti tak mengenali dirinya sendiri di puncak emosi setiap bayangan buruk yang menimpa keluarganya di masa lalu berkelebat di benaknya.

Sepuluh menit sejak tiba di gedung kantor The Korean’s Eye, Chanyeol terus berada di mobil. Ia perlu melenyapkan setan yang merasukinya. Ya, setan yang membakar dirinya dengan dendam pada masa lalu. Ia tidak ingin sesuatu terjadi pada tawanannya karena ia begitu gelap mata.

Chanyeol menarik nafas dalam-dalam, untuk terakhir kali, sebelum memberi label “safe” pada dirinya sendiri. Malam itu sudah ia putuskan untuk memberi peringatan terakhir pada Ahn Kyeosoo, sebelum bukti kejahatan dilimpahkan pada pengacaranya. Ia ingin pria itu mengakui dosanya, meminta maaf padanya, berlutut dan menangisi akhir hidupnya di depan pusara Keluarga Park. Atau jika pria itu tetap tidak sudi bertemu Keluarga Park di dunia, ia begitu berharap Ahn Kyeosoo akan dijatuhi hukuman mati. Tapi apa daya, ia tak akan sanggup jika kelak Seohee harus menghabiskan sisa hidup dengan membecinya.

Malam telah larut, tak ada lagi bau manusia di kantor The Korean’s Eye. Hanya ada Chanyeol dan tawanannya yang mungkin sudah lelap setelah Cho Heeyeong menjejalkannya antibiotik. Langkah Chanyeol terasa ringan menuju ruang kerjanya. Di belakangnya, diam-diam Hyukjae membuntuti sejak di pelataran parkir apartemen Chanyeol. Sebenarnya Hyukjae hanya mengembalikan mobil yang dipakai untuk mengantar Sohee, tapi tidak sengaja melihat Chanyeol terburu-buru meninggalkan apartemen. Ia merasa tidak nyaman melihat Chanyeol pergi. Karena itu ia membuntuti hingga ke gedung The Korean’s Eye.

Ruang kerja Chanyeol gelap dan sedikit sejuk, seperti baru saja dipakai. Ia menduga Cho Heeyoung telah menyalakan lampu dan pendingin ruangan di ruang kerjanya ketika mengunjungi Ahn Kyeosoo di ruang rahasia. Tapi anehnya, ia tak mengendus bau lavender jika benar Cho Heeyeoung “menetap” sejenak di ruang kerjanya. Chanyeol mulai merasa ada yang tidak beres dan perasaan itu semakin menjadi saat seberkas cahaya menerobos celah di bawah lantai. Saat ia mendekat, udara dingin menyeruak dari bawah.

#

Chanyeol menggeser penutup lantai dibawahnya hingga lubang seukuran satu meter persegi itu terbuka sepenuhnya. Hawa dingin membuatnya bergidik. Perlahan Chanyeol mulai menuruni satu per satu anak tangga menuju ruang rahasia.

“Ahn Kyeosoo, dimana kau?” suara Chanyeol bergetar. Tak ada jawaban, Chanyeol bergerak mendekati ranjang yang kosong. “Dimana kau? Jawab aku!”

Kedua matanya yang bulat penuh meneliti setiap sudut ruangan. “AHN KYEOSOO!!!” Chanyeol berteriak frustasi. Ahn Kyeosoo tergeletak di belakang kursi. Chanyeol mendekat, memeriksa denyut nadi pria itu yang nyaris sulit diraba. Ia mengangkat tubuh Ahn Kyeosoo ke atas ranjang, memasang selang pernafasan ke hidungnya. Kemudian kabel-kabel elektroda dari alat rekam jantung ditempelkan di tubuhnya. Monitor menunjukkan denyut jantung melemah dan pernafasan menurun. Chanyeol bersiap dengan alat pacu jantung kalau-kalau jantung Ahn Kyeosoo berhenti berdetak. Keringatnya mulai membanjir. Ia tampak panik dan takut.

Hyukjae tak dapat menahan dirinya lagi, ia keluar dari balik tangga dan langsung menyambar kerah Chanyeol. “Apa kau gila? Dia bisa mati kalau kau tidak membawanya ke rumah sakit!”

Chanyeol mengindahkan peringatan Hyukjae dan sibuk dengan peralatan kedokterannya. Sementara itu Ahn Kyeosoo sudah dalam keadaan koma. Hyukjae mengepal tangan, sebisa mungkin menahan emosinya. Tapi sebuah pukulan melayang ke wajah Chanyeol dan pemuda itu ambruk di samping ranjang pasien. Ia menggapai sisi ranjang dan berusah bangkit, namun pukulan yang lebih keras kembali mendarat di wajahnya. Ia merasakan bibirnya pecah karena pukulan Hyukjae.

“Aku tidak ingin dia mati disini!” Hyukjae menggeram, mengempaskan tubuh Chanyeol ke lantai. Pemuda itu lantas melepas kabel dan selang yang berseliweran di tubuh Ahn Kyesosoo.

Chanyeol bangkit untuk menghentikan Hyukjae dengan susah payah. “Dia akan mati kalau kau melepasnya! Ini akan membuatnya bertahan.” Teriak Chanyeol.

Hyukjae memandang Chanyeol, tetapi pria itu membuang muka menghindari tatapan Hyukjae. Tak ada cara lain, ia harus meminta bantuan.

#

Operasi masih berlangsung, Hyukjae dan Chanyeol menunggu di depan pintu. Keduanya berdiri berseberangan di sisi koridor ruang operasi.

“Kau benar-benar gila!” Hykjae menatap marah ke arah Chanyeol. Pemuda di hadapannya itu tak menyahut, hanya menatap kosong ke lantai yang dipijaknya.

“Aku yakin kakakmu pasti menangis di atas sana.”

Chanyeol mengangkat kepalanya memandang Hyukjae. Air mata menggenang di pelupuk matanya.

Hyukjae menghela nafas, masih menatap Chanyeol yang hampir menangis. “Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan. Tindakanmu ini adalah kriminalitas. Berdoalah dia tidak mati.”

Begitu kata-kata itu meluncur dari mulut Hyukjae, Chanyeol seketika menangis tanpa suara. Hanya air matanya yang turun, tak terkendali lagi. Hyukjae mendekat kemudian berkata pelan, “Jangan takut! Jieun sudah mengatakan semuanya padaku. Ada aku dan Jieun, jangan takut!”

Suara ketukan langkah kaki semakin mendekat ke ujung koridor. Chanyeol menyeka air matanya dan menoleh serentak dengan Hyukjae. Sohee muncul dari mulut koridor dengan mata merah penuh kemarahan. Ia mendekat dan semakin dekat. Plak!! Tanpa kata, ia mendaratkan tamparan ke wajah Chanyeol. Persis pada bekas landasan tinju Hyukjae. Rasanya sungguh sakit. Chanyeol merintih di dalam hati.

“Pembunuh!” desis Sohee.

“Ahn Sohee-ssi, tolong jaga bicaramu!” Hyukjae mencoba menengahi.

“Pergi!!” Sohee menatap garang ke arah Chanyeol, tanpa mempedulikan keberadaan Hyukjae. Seperti induk harimau yang akan menerkam musuh.

Hyukjae berdecak lalu menyeret tangan Chanyeol. “Ayo pergi!”

Chanyeol mengikuti langkah Hyukjae hingga di mulut koridor. Tepat sebelum belokan menuju lift, Chanyeol menghentikan Hyukjae. “Kau tetap disini!” pintanya.

“Apa? Kau tidak dengar dia menyuruh kita pergi?” Hyukjae seakan tak percaya dengan pendengarannya sendiri.

Chanyeol menatap Hyukjae sungguh-sungguh lalu memohon lagi, “Dia hanya punya Ahn Kyeosoo, tidak ada yang lain. Tetaplah disini, Hyung!”

#

Chanyeol turun ke lobby setelah mendapat pesan dari Jieun. Ia mempercepat langkahnya ketika melihat Jieun berdiri di luar gedung. “Jieun-ssi! Ada apa?”

Jieun menoleh dan bergumam, “Ini baru oppa yang aku kenal.”

“Aku ingin memberikan ini!” Jieun menyodorkan kaleng biskuit kuno miliknya, yang ia jadikan tempat penyimpanan surat-surat dari Chanyeol.

Chanyeol membuka kaleng itu dan melihat kertas-kertas sewarna serat kayu di dalamnya. “Tidak! Ini barang pribadimu, aku tidak bisa menerimanya.”

“Chanyeol oppa mengatakan sesuatu tentangmu di dalam suratnya. Kau tidak ingin tahu?”

Chanyeol memandangi Jieun dan kaleng biskuitnya secara bergantian. Gadis itu mengangguk dan membuat hati pemuda itu melunak.

Sesaat setelah benda itu jatuh ke tangan Chanyeol, sebuah sedan hitam berhenti di hadapannya. Empat pria berbadan tegap turun dari mobil, berjalan mendekati Chanyeol dan Jieun. Chanyeol membentangkan lengannya, menyembunyikan Jieun di belakang tubuhnya. Seseorang yang berjaket kulit hitam berdiri di baris depan, lalu berkata pada Chanyeol, “Park Chanyeol-ssi, kami mendapat laporan dari Nona Ahn Sohee tentang dugaan penculikan, penipuan, dan upaya pembunuhan terhadap Tuan Ahn Kyeosoo. Kami minta Anda untuk ikut dan memberikan keterangan.”

Jieun tampak ketakutan, berlindung di balik tubuh Chanyeol. “Baiklah!” Chanyeol menyanggupi dengan suara bergetar. Ia menoleh pada Jieun ketika dua orang pria mengapitnya. “Biarkan adikku pulang dulu!” Kedua pria itu menjaga jarak, lalu mengikuti Chanyeol yang mengantar Jieun ke tepi jalan.

“Berikan ini pada Hyukjae hyung! Aku akan bicara dengannya nanti.” Chanyeol menyerahkan kembali kaleng biskuit Jieun kepada pemiliknya.

Jieun meraihnya dengan tangan gemetar. Ia terlihat ketakutan dan masih menangis di dalam taksi. Chanyeol memegangi pipi Jieun dan mengusap air matanya. “Jangan takut! Pulang dan tidurlah! Begitu kau bangun, semua akan baik-baik saja.”

#

Setelah dinyatakan tidak terlibat dalam kasus penyekapan Ahn Kyeosoo, Hyukjae jadi harus bolak-balik ke rumah tahanan untuk membesuk Chanyeol. Ia juga harus berkali-kali hadir di persidangan sebagai saksi untuk dua kasus yang berbeda. Sidang pertama adalah sidang tuntunan Sohee terhadap Chanyeol dan Hyukjae. Heeyoung ikut terseret karena di lokasi kejadian ditemukan sidik jarinya. Sidang kedua adalah sidang kasus kematian orang tua Hyukjae dan orang tua Chanyeol.

“Lee Hyukjae-ssi!” Pengacara Kang yang disewa oleh Shim Dongwan, ayah angkat Changmin, memanggil Hyukjae begitu melihat pemuda itu keluar dari ruangan sipir. Hyukjae menghampiri pria itu dan membungkukkan badan. “Lama tidak bertemu,” ujarnya sembari tersenyum.

“Kau datang sendiri? Mana adikmu?”

“Dia masih di dalam dengan Changmin.”

Pengacara Kang mengangguk kemudian menghela nafas. “Kau pasti lelah karena harus bolak-balik ke pengadilan. Aku akan mengupayakan keringanan hukuman untuk Changmin.”

“Sayang sekali semua orang jadi terlibat perkara ini. Bahkan orang tua angkatnya juga.”

Orang tua angkat Changmin menjadi tersangka karena dituduh membantu pria itu membunuh Ahn Kyeosoo, dengan operasi wajah dan pengalihan identitas. Wajah Changmin rusak karena kecelakaan yang menewaskan Chanyeol. Oleh karena itu, Bae Seoran –ibu angkat Changmin yang juga seorang dokter bedah plastik di sebuah rumah sakit di London– atas permintaan putranya, ia pun mengubah struktur wajah Changmin menjadi serupa dengan kakaknya, Park Chanyeol.

Pada olah TKP (Tempat Kejadian Perkara) kasus penyekapan Ahn Kyeosoo, hanya ditemukan sidik jari Cho Heeyoung dan Shim Changmin. Tidak ada kecocokan dengan rekam sidik jari Park Chanyeol yang diperoleh dari Kepolisian Negara Swiss. Kecurigaan polisi terbukti setelah rekam sidik jari Shim Changmin dari Kepolisian London dan hasil tes DNA menunjukkan bahwa identitas pelaku yang sebenarnya adalah Shim Changmin.

“Kau tidak ingin mencoba mediasi dengannya?” Pengacara Kang memandang Hyukjae.

Lamunan Hyukjae mengabur. Ia menoleh pada Pengacara Kang dan langsung tahu arah pembicaraannya. Ia menggeleng tegas. “Dia tidak ada bedanya dengan Ahn Kyeosoo. Percuma aku bicara padanya.” Kata-kata Hyukjae terdengar begitu dingin. “Aku hanya ingin Ahn Kyeosoo mendapat hukuman yang pantas. Nyawa harus dibayar dengan nyawa,” lanjutnya, kemudian menatap kosong ke luar jendela.

#

Pengacara Kang membawa bukti-bukti yang diberikan Hyukjae ke muka pengadilan. Foto-foto lokasi pembunuhan Park Minseok dan isterinya yang diambil oleh Lee Jaehwan (Ayah Hyukjae), surel (surat elektronik) berupa undangan fiktif dan ancaman dari Ahn Kyeosoo untuk Park Minseok, buku harian dan surat-surat milik Park Chanyeol, bukti pembelian obat-obatan yang digunakan untuk membunuh Park Minseok, rekaman CCTV kediaman Dokter Park Chunjae, sangat menyudutkan Ahn Kyeosoo. Ditambah keterangan dari Cho Heeyoung, yang merupakan saksi pembunuhan atas Lee Jaehwan, dan Park Chunjae, yang membeli racun pembunuh atas permintaan Ahn Kyeosoo, membuat Ahn Kyeosoo tak dapat mengelak dari hukuman terberat.

Sohee menegang ketika pengadilan akhirnya memutuskan hukuman mati untuk Ahn Kyeosoo. Changmin, Hyukjae dan Jieun memandang sedih dari kejauhan. Wanita itu pasti sangat hancur dan ingin bersandar pada seseorang. Namun, Jieun dan Hyukjae tak menghiraukan perasaan Sohee. Gadis itu menangis di tempatnya berdiri.

Changmin divonis 8 tahun penjara, Cho Heeyoung divonis 2 tahun penjara dan 3 bulan pelayanan publik. Sementara itu Pengacara Shim dan isterinya yang mendapat perlindungan dari Kedutaan Inggris, dijatuhi hukuman deportasi dan pencekalan kembali ke Korea. Dokter Park Chunjae, suami Cho Heeyoung, dinyatakan tidak bersalah sama seperti Hyukjae dan Jieun.

#

“Bagaimana kabarmu, Park Changmin-ssi?”

Changmin tertawa masam. “Kedengarannya aneh. Aku sudah terbiasa dengan nama hyung.”

Tsk! Tapi nama itu tidak cocok denganmu.”

Changmin mengangguk setuju. “Oh iya bagaimana kabar Jieun? Hampir satu bulan dia tidak kemari.”

“Jieun sedang serius belajar untuk ujian masuk Universitas Seoul.”

“Aku harap dia lulus dengan nilai yang baik. Jadi buku-buku kedokteranku bisa kuberikan padanya.”

“Jadi, selama setahun ini apa yang Hyung lakukan setelah berhenti dari The Korean’s Eye?”

“Aku bekerja di stasiun televisi.”

“Baguslah.” Changmin manggut-manggut. Beberapa detik kemudian, ia tampak ragu menatap Hyukjae dari balik dinding kaca. “Oh iya, apa Hyung pernah bertemu Sohee?”

Hyukjae memandang Changmin. Kedua matanya menunjukkan tanda tidak senang ketika Changmin menanyakannya soal orang yang telah membuat pria itu menghabiskan 8 tahun hidupnya di penjara. “Aku tidak yakin dia masih di Korea. Jieun bilang, dia berhenti mengajar sejak peristiwa itu.”

“Maksud Hyung, sejak eksekusi Ahn Kyeosoo dilakukan?”

Hyukjae mengangkat bahu. “Sebelum pengadilan dimulai.”

“Aku tidak mengerti kenapa dia rela  berdiri di bawah kaki Ahn Kyeosoo. Bahkan setelah dia tahu bahwa Ahn Kyeosoo bukanlah ayah kandungnya.” Hyukjae mulai hilang kesabaran. Setiap kali membicarakan Ahn Kyeosoo, kepalanya langsung mendidih.

“Karena dia masih punya hati nurani,” Changmin menyahut pelan, memperhatikan kedua tangan Hyukjae yang mengepal di meja. “Ahn Kyeosoo tak punya keluarga. Dia mengambil Sohee dan membesarkannya seperti anak sendiri. Saat itu dia hanyalah staff biasa di Kantor Kedutaan. Dia berusaha keras untuk mendapat kekuasaan di Korea agar tak ada yang merendahkan Sohee.”

Changmin mengangkat kepalanya, menatap Hyukjae dalam-dalam. “Ayah angkatku yang memberitahu.”

“Sohee tak sejahat yang Hyung pikirkan. Dia berbeda dengan Ahn Kyeosoo,” Changmin terdengar sedang membela Sohee tapi alasan itu masih tidak masuk akal di kepala Hyukjae.

“Kuharap begitu.” Perasaan Hyukjae mendadak tidak nyaman. Dan ia memutuskan untuk mengakhiri kunjungannya, dengan beralasan akan kembali ke kantor.

#

Selang beberapa saat setelah Hyukjae meninggalkan ruang kunjungan, Sohee rupanya datang mengunjungi Changmin untuk pertama kalinya setelah setahun berlalu. Changmin begitu kaget, tak pernah menyangka akan melihat wajahnya lagi.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Changmin, mencoba bersikap sebiasa mungkin. Sohee tak menyahut.

“Kalau kau berharap aku mengatakan sesuatu tentang ayahmu, maaf aku tidak bisa.” Mendadak, pikiran Changmin menjadi sempit. Begitu pun hatinya.

“Aku mengerti. Aku tahu betapa bencinya kau pada ayahku. Seandainya aku juga bisa membenci orang yang sudah membuatnya dihukum mati.” Sohee, untuk pertama kali berbicara padanya.

“Kau tidak tahu bagaimana aku bersuka cita saat pengadilan membuktikan bahwa identitasmu yang sebenarnya bukan Park Chanyeol.”

“Aku ingin berlari memelukmu saat itu. Tapi aku harus menjaga perasaan ayahku. Aku ingin berdiri di dua kubu dan mendamaikannya. Tapi aku tahu itu tidak mungkin. Atas dosa yang telah dilakukan ayahku pada kalian, aku memilih untuk tidak memihak siapapun.”

“Terima kasih karena kau memberikan kesaksian yang jujur.”

“Kau tidak pernah berubah Sohee-ah!”

Sohee mengangguk pelan, ia memandangi wajah pria itu dari matanya yang basah. “Aku pernah membiarkan hatiku kosong sejak orang tua angkatmu memakamkan pria bernama Shim Changmin di Cheonan. Dan tempat ini akan tetap kubiarkan sampai kau kembali.”

“Sohee-ah, terima kasih. Tapi biarkan orang lain mengisinya kalau kau merasa begitu hampa.”

“Aku bisa menunggu! Aku akan menunggu! Biarkan aku menunggu!” Sohee berkata dengan suara bergetar. Ia membenamkan wajahnya di antara rambutnya yang jatuh. Suara isaknya membuat gadis itu begitu menyedihkan. Changmin, pria itu telah kembali pada identitas yang sebenarnya. Ia hanya bisa menatap Sohee dari balik dinding kaca, tanpa bisa menyentuh wajahnya atau menggenggam tangannya.

##

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s