Halbae Yeoja (Grandpa’s Woman) Part 1 : No, I Can’t See You!

Halbae Yeoja

I will never forget the day I met you
Since then, our future had changed – Kimi no Koe (Junho)

Cast:
[2PM] Chansung : Hwang Chansung/ Alex Hwang
[Miss-A] Fei : Wang Fei Fei
[OC] Jung Hyeosoo
[2AM] Seulong
Background song: 2PM Junho – Kimi no Koe
Genre: fantasy, romance

Hyeosoo mengangkat kertas ukuran A3 setinggi dagu. Kertas penyambutan itu ia tulis dengan cat minyak sisa campuran dari palet lukisnya dengan kuas lukis yang ujungnya telah mengering. Matanya menjelajahi hall kedatangan mencari seseorang yang tak pernah ia lihat wujudnya. Sekian banyak orang berlalu tak satupun melirik kertas sambutannya. Hyeosoo menggigit bibir bawahnya dengan wajah cemas. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Seulong dan menanyakan keberadaan sepupunya yang baru datang dari California, “Halo? Iya aku sudah sampai. Sudah kubuat kertas penyambutan tapi dia belum muncul juga.”

“Kau tulis dalam hanja?”

“Tentu saja dalam romawi!” Suara Hyeosoo rupanya bertambah beberapa desibel, tanpa ia sadari. Seorang pria yang baru saja keluar dari pintu kedatangan, menoleh ke arahnya.

“Mungkin dia tidak melihatmu, angkat lebih tinggi kertasnya!” Seulong memberi komando dengan sabar.

“Fyuh! Oppa, kirimkan saja fotonya padaku!” Hyeosoo menghentakkan kakinya dan kertas yang dipegangnya jatuh.

“Aku tidak menyimpan benda semacam itu. Kau cari saja pria tinggi besar dengan hidung dan mulut yg besar.”

“Oke!” Hyeosoo memungut kertasnya, menggosok bagian yang berdebu dengan ujung mantelnya.

“Pria tinggi besar dengan hidung dan mulut yang besar.” Hyeosoo bergumam dan mengangkat kertas di atas kepala.

Seorang pria berkemeja putih, dengan ujung lengan digulung, berdiri di hadapan Hyeosoo. Hyeosoo bergeser dua langkah untuk menghindar agar tulisannya tak terhalang. Namun pria itu ikut bergeser.

Are you looking for me?” Pria itu merunduk pada Hyeosoo yang lebih pendek 30 senti darinya.

Ne– Apa?” Pupil mata Hyeosoo melebar.

Are you picking me up?” Tanya si pria lagi. Suaranya bergumul dibalik masker yang ia kenakan.

Pig? No! No!” Hyeosoo mengeleng cepat.

But you hold that!” Chansung menunjuk kertas penyambutan Hyeosoo. Gadis itu langsung menangkap maksudnya.

“Ah, Hwang Chansung! Alex Hwang! Not you!

“Fyuuh!! Where’s the car? I – am – Hwang – Chan – Sung!” Pria itu, Hwang Chansung, menghela nafas kemudian membebaskan mulutnya dari masker yang ia kenakan.

#

“Maaf ya aku tidak tahu kalau kau Chansung oppa,” Hyeosoo melihat Chansung dengan ekor matanya. Sepupunya itu tampan, dilihat dari samping ia punya kemiripan dengan Seulong. Wajah rupawan yang diturunkan dari kakeknya.

It’s okay!” Chansung mendesah pelan seraya menurunkan sandaran kursi.

Okay? Aah, yang ini aku tahu artinya.” Hyeosoo bergumam dengan wajah berseri. “Kau bisa bahasa Korea?”
“Sedikit,” Chansung mengerang kemudian bersedekap.

“Karena kau berada di Korea, sebaiknya pakai bahasa Korea.”

Chansung berseru dan berusaha memejamkan mata, “Oke!”

Hyeosoo perlahan mengurangi kecepatan dan menginjak rem ketika lampu lalu lintas berkedip. “Ah iya, namaku Jung Hyeosoo!” Ia menoleh pada Chansung.

“Jung??” Chansung membelalak tak percaya.

#

“Chansung-ah!!”
Eomma!” Chansung merentangkan lengan dan mendekap ibunya. Ayah dan ibunya sudah tiba di Korea tiga hari sebelumnya. Saat itu, mereka mendapat kabar bahwa kakek Chansung sedang sekarat.

“Kau sampai juga. Apa kau lelah?” Ibu Chansung mengusap wajah puteranya, menepuk lengannya, kemudian menggandeng puteranya itu berlalu menuju altar.

Di pintu Ruang Persemayaman, Seulong menyambut Chansung. “Hwang Chansung? Aku Seulong!”

Chansung diam sejenak, mengingat-ingat wajah sepupu yang bertemu dengannya 10 tahun lalu, saat Seulong berlibur ke Amerika. “Aah!! Hyung!” Serunya, kemudian menyambar tubuh Seulong dan memberinya sebuah pelukan.

“Kau pasti lelah sekali. Masuk dan temuilah Halmae– nenek!”

Chansung mengangguk. “Err, hyung.. Kau bilang kalau adik sepupuku yang akan menjemput di bandara. Tapi kenapa orang lain yang datang?”

“Benarkah? Tapi aku menyuruh Hyeosoo untuk menjemputmu,” Seulong mengerutkan dahi.

“Err, memang benar sih Hyeosoo yang datang. Tapi bukankah dia bermarga Jung?”

“Oh itu, sebenarnya.. Err, nanti saja kujelaskan. Sekarang masuklah!” Seulong hanya meninggalkan sebuah senyuman sebelum meninggalkan Ruang Persemayaman.

#

Tsk! Apa karena di dalam tubuhku tidak mengalir darah Halbae-kakek, makanya aku tidak diajak masuk?” Hyeosoo menggerutu pelan.

Hyeosoo ya!!” Seulong tersenyum menghampiri Hyeosoo. “Terima kasih sudah menjemput Chansung!”

Hyeosoo mengangguk dan memamerkan deretan geriginya yang rapi.

“Kenapa masih disini? Ayo masuk dan temani nenek!” Seulong mengaitkan lengannya pada Hyeosoo, serta merta menembalikan perasaan Hyeosoo yang semula tidak begitu baik.

Seulong duduk di samping Chansung. Semua penerus laki-laki duduk di samping altar, berseberangan dengan para wanita. Chansung tiba-tiba merapatkan duduknya pada Seulong kemudian berbisik, “Hyung, siapa wanita yang duduk di sudut sana?”

Seulong memandang ke arah yang disebutkan Chansung. “Kau belum menyapanya tadi? Dia Nenekmu! Nenek kita! Halmeoni!”

“Muda sekali! Apa Halbae menikah lagi?”

“Kau jangan bercanda! Halbae dan Halmae hanya terpaut 7 tahun. Sekarang umurnya mungkin sudah 97 tahun,” Seulong mendekatkan kepalanya ke belakang telinga Chansung.

“Jangan bercanda, hyung! Wajahnya tidak ada keriput dan masih sangat cantik.”

“Yahh!! Sudah jangan teruskan!” Seulong menggeram pelan.

Hyung, aku serius!”

“Kalau kau mengatakannya di depan Halmae, aku yakin dia akan sangat senang. Tapi kalau kau mengatakannya di depanku lagi, aku akan mengajakmu ke dokter mata.”

Hyung, aku tidak bercanda! Wanita muda yang duduk di sebelah Halmae, dia nenek kita juga?”

“Chansung-ah! Kurasa kau masih jetlag,” Seulong menggeser bokongnya menjauh dari Chansung, untuk menghindari percakapan yang mengada-ada itu terus berlanjut.

Chansung melirik Seulong dengan tajam, namun berulang kali ia bertanya pada Seulong, pria itu tetap pada jawabannya. Ia memberanikan diri melihat ke arah neneknya. Sekali lagi, ia bisa melihat dengan jelas wanita muda itu duduk di samping neneknya. Chansung pun sadar, hanya dirinya yang menyadari kehadiran wanita itu. A Soul!

#

Di pemakaman, wanita yang dilihat Chansung di Ruang Persemayaman, kembali muncul. Ia berdiri di samping Halmae dan terus memandang ke arah pusara Halbae dengan wajah sedih. Chansung mengamati diam-diam dari balik kacamata hitamnya. Usai pemakaman, semua anggota keluarga dan kerabat kembali ke kediaman keluarga Hwang di Selatan Seoul. Seulong meminta Hyeosoo menyetir, sementara ia duduk di sampingnya dan Chansung duduk di bangku belakang. Namun betapa kagetnya Chansung, ketika mendapati roh wanita itu sudah berada di dalam mobil. Chansung mencoba menenangkan diri dan bersikap biasa. Sementara itu, Seulong dan Hyeosoo telah memasang seat belt pertanda Hyeosoo telah siap bertolak. Chansung melepaskan jas dan mengebaskan kemeja satinnya, sembari memutar otak. “Seulong hyung, bisa tukar tempat denganku?” Seulong memutar kepalanya, alisnya bertaut. Ia melihat dahi Chansung mengilap karena keringat.

“Sedikit panas disini, sepertinya AC mobil ini rusak!” Kedua pria itu bertukar pandang sejenak. Setelah mendapat anggukan dari Seulong, keduanya lantas bertukar tempat duduk. Hyeosoo mundur perlahan dari parkiran untuk memutar mobil, Chansung dengan cepat mengencangkan sabuknya dan tanpa sengaja melihat ke spion tengah. Wanita yang duduk di sebelah Seulong tengah menatapnya. Meskipun telah mengenakan kacamata hitam, Chansung bisa merasakan pandangan mereka bertemu. Chansung bergidik dan tengkuknya tiba-tiba terasa dingin.

#

Sesampainya di rumah, keluarga mengadakan makan bersama. Saat makan malam berlangsung, lagi-lagi roh wanita itu muncul. Semakin lama membuat Chansung merasa tidak nyaman. Ia benar-benar ingin berteriak minta tolong, namun karena tak satu pun yang menyadari keberadaannya, Chansung memilih diam. Tak akan ada yang percaya, bahkan Seulong hanya menanggapinya sebagai lelucon.

Usai makan malam, Chansung terus diikuti hingga ke dalam kamar. Wanita itu hanya tidak mengikutinya saat pergi ke kamar mandi. Chansung sempat berpikir untuk menjadikan kamar mandi sebagai benteng pertahanan. Namun, udara di dalam sana terlalu dingin dan lembab, ia bisa masuk angin. Chansung lalu memutuskan pergi ke kamar Seulong.

Rumah keluarga Hwang sangat luas. Terdiri dari paviliun-pavilun seperti resort di tepi pantai. Setiap orang  menempati satu pavilun. Jarak antar pavilun tidak terlalu jauh, kira-kira 20 meter. Semakin jauh hubunganmu dengan Kakek Hwang, maka semakin jauh pula pavilun yang kau tempati. Seulong adalah cucu pertama Halbae, ia menempati pavilun lapis kedua. Chansung adalah cucu kedua dari anak pertama Halbae, pavilunnya  berdekatan dengan Seulong. Chansung berdiri di depan paviliun Seulong, sementara roh wanita itu berdiri di sampingnya. Ia memutar badan membelakangi wanita itu, melihat ke deretan pavilun yang semakin jauh. Lantas membayangkan nasib Hyeosoo dan paviliunnya yang pasti berada jauh sekali.

Chansung mengetuk pintu dan memanggil sepupunya. Seulong menyahut dan langsung membukakan pintu. Pria itu keluar dengan kimono mandi dan handuk di bahunya. “Kau ini kenapa? Pakai kacamata hitam di malam hari..” Seulong melempar pandangan seolah melihat pria mabuk.

“Aku tidur disini malam ini!” Chansung menurunkan kacamatanya setinggi hidung, kemudian menaikkannya lagi.

“Kenapa? AC di kamarmu mati?” Seulong bertanya dengan perasaan ingin tahu dan curiga sekaligus.

“Err- iya! Sepertinya rusak.”

“Masuklah! Besok aku akan suruh orang ke kamarmu.”

Malam itu Chasung menumpang di kamar Seulong. Awalnya mereka mengobrol ringan di depan tv, hingga akhirnya suara dengkuran menyambut Chansung. Seulong begitu kelelahan hingga tertidur di sela obrolannya dengan Chansung. Dengan perasaan jengkel, Chansung meraih remote tv dan menambah volumenya, tapi Seulong masih terlelap. Chansung menyenggol lutut Seulong dengan ujung kakinya, Seulong masih tak berkutik.

“Dia sudah tidur!” Celetuk roh wanita itu, berkacak pinggang di dekat Seulong yang terbaring. Chansung melirik dari balik kacamata hitamnya. Masih berpura-pura tak melihatnya. Wanita itu kemudian duduk di atas meja menghadap Seulong sambil bertopang dagu. “Lucunya! Persis seperti saat masih kecil,” Ia bergumam riang, kemudian bangkit merapikan ujung roknya sambil berjalan ke arah Chansung. Chansung membuang muka menghadap televisi, sementara wanita itu terus mendekat. Jantung Chansung berdetak kencang dan semakin kencang.

“Kau bisa melihatku kan?” Wanita itu membungkuk di hadapan Chansung. Chansung tak bergeming, masih berpura-pura menonton tv. Dalam hati, ia terus mengutuk kelakuan Seulong yang meninggalkannya seorang diri menghadapi roh yang entah dari mana asalnya.

“Mirip sekali dengan kakekmu. Dulu saat pertama kali bertemu denganku, dia juga pura-pura tidak lihat,” Wanita itu duduk di meja, menghadap Chansung dan terus memandanginya, nyaris tak berkedip. “Baiklah! Tidak apa-apa kalau kau malu. Hihihi~” ia terkikik sambil menutup mulutnya. Kemudian mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Chansung. Chansung menahan nafas tanpa sebab, nyaris kena serangan jantung. Wanita itu perlahan mengendus dengan ujung hidungnya. “Huwaah~ aku sukaaa sekaliii baumu!”

“Sial!” Teriak Chansung dalam hati. Meskipun ia berusaha menyangkal penglihatan dan pendengarannya, tapi ia tak bisa menolak takdir bahwa roh wanita itu terus menempel padanya malam itu. Chansung hanya bisa pasrah.

#tbc#

Advertisements

2 thoughts on “Halbae Yeoja (Grandpa’s Woman) Part 1 : No, I Can’t See You!

  1. Eyooon~ 😄
    So much fun~
    A soul? siapa ini?
    Hyeosoo sm Chansung sepupuan?
    Sama2 maknae?
    Penasaran~~~ 😣
    Tapi suka~~~
    Lanjut ya eon~
    😘😘😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s