Halbae Yeoja (Grandpa’s Woman) Part 2 : Let’s Talk!

Halbae Yeoja

Don’t just pass me by

Don’t be shy around me

Maybe this is destiny

I finally met you

2PM Junho feat Yoobi – Cupid’s Arrow

Cast :

[2PM] Chansung : Hwang Chansung/ Alex Hwang

[Miss-A] Fei : Wang Fei Fei/ Fei

[OC] Jung Hyeosoo

[2AM] Seulong

Background Song : 2PM Junho – Kimi no Koe

Genre : fantasy, romance

Pagi itu mungkin adalah yang terberat bagi Chansung selama tiga puluh tahun masa hidupnya. Sejak menginjakkan kaki di Korea kemarin, ia belum bisa merasakan tidur enak. Terakhir kali ia tertidur dalam perjalanan dari bandara ke Rumah Sakit ketika Hyeosoo menjemputnya. Itu pun karena Hyeosoo mengemudi dengan lambat dan terlalu hati-hati. Semalam ia bahkan tak bisa memejamkan mata karena roh wanita it uterus menempel padanya.

“Ya Tuhan, Chansung-ah! Ada apa dengan wajahmu?” Seulong mengamati wajah Chansung yang disamarkan oleh kacamata hitam. Hyeosoo melihatnya sekilas dengan ekspresi prihatin sebelum masuk ke mobil.

“Aku tidak tidur semalaman,” Chansung menyesakkan tubuhnya di sandaran dan mengencangkan sabuk pengaman.

“Kenapa? Apa kau sedang banyak pikiran?”

Chansung mengangkat bahu. Ia melihat roh wanita yang duduk rapat di samping Hyeosoo dari pantulan spion. “Mungkin karena perbedaan waktu,” keluhnya disertai helaan panjang.

Ketika mobil memasuki area sekolah, kedua mata Chansung berbinar melihat para siswa yang baru berdatangan. Hyesoo turun lebih dulu di sekolah milik Keluarga Hwang, tempatnya mengajar sebagai guru lukis. Ia meraih ransel dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menjangkau pegangan pintu. “Aaarghh!” Tiba-tiba ia mengerang dan ransel yang hendak disandang terjatuh.

Hyeosoo-ya, gwaenchanha?” Seulong yang panik, langsung turun untuk memastikan keadaan sepupunya. Chansung yang kaget mendengar teriakan Seulong, melongo dari samping kemudi. Hyeosoo mengangguk sambil memijat-mijat lengan kanannya.

“Tiba-tiba tanganku kram, seperti ditindih sesuatu,” ia merasakan nyerinya perlahan menghilang.

Chansung yang mengamati dari dalam mobil merasa lega mendengar pernyataan Hyeosoo. Ia lantas melempar pandangan ke kursi belakang dan entah darimana keberanian itu muncul, Chansung menatap tajam pada roh wanita yang terus menguntitnya. Seolah berkata : Kau yang melakukannya, kan! 

Roh wanita itu menatapnya tak kalah garang, kemudian Chansung membuang muka keluar jendela karena tatapan itu membuatnya sulit bernapas.

“Apa perlu kita ke dokter?” Seulong memegangi bahu Hyeosoo.

“Tidak usah, tanganku sudah tidak apa-apa, kok!” Ia menggerak-gerakkan tangannya kemudian buru-buru melambai pada Seulong dan Chansung.  Gadis itu berlari menuju gedung pengajar. Seulong hanya bisa mengelus dada melihat sepupunya itu. Hyeosoo adalah gadis periang dan enerjik, meskipun ia mudah sekali menangis.

Seulong kembali ke mobil dan mendapati wajah Chansung yang berseri-seri. “Kenapa? Kau tiba-tiba ingin menetap di Korea?”

Belum lagi Chansung menjawab, roh wanita di kursi belakang berseru girang, “Benarkah? Menyenangkan sekali!” Ia melingkarkan tangan di sandaran kepala Chansung.

Chansung berdecak, kemudian menoleh Seulong. “Mengajar di sekolah komersil sama sekali tidak menarik!” ‘Sekolah Komersil’ adalah istilah Chansung untuk lembaga pendidikan yang memungut bayaran dari para murid untuk mendapatkan pengajaran. Sesuatu yang sangat ia benci.

Seulong mengangguk setuju, sementara roh wanita di kursi belakamg mendadak lemas seperti robot yang kehabisan daya.

#

Rapat hampir dimulai, Chansung dan Seulong nyaris saja terlambat. Ketiga putra Halbae, Hwang Sangtae, Hwang Kijoon, dan Hwang Dohyun, sudah menanti dengan tidak sabar. Hari itu adalah rapat perdana dewan direksi Hwang Leather and Goods –nama perusahaan kakek Chansung– setelah meninggalnya kakek Chansung, untuk membahas susunan baru di perusahaan sekaligus memperkenalkan cucu dari putra pertama halbae, Hwang Chansung sebagai pewaris perusahaan.

Perusahaan Halbae tidak begitu besar, karena ia bukanlah konglomerat dengan perusahaan yang memiliki puluhan anak perusahaan tersebar di KoreaHalbae mendirikan sebuah pabrik dan toko sepatu di pinggiran kota Seoul. Selama 25 tahun terakhir, Hwang Kijoon, ayah Seulong yang mendampingi Halbae memimpin perusahaan. Sementara Ayah Chansung memiliki bisnis sendiri di Amerika dan Hwang Dohyun, ayah Hyeosoo, memimpin direksi di sekolah milik Keluarga Hwang.

Masih mengenakan kacamata hitamnya –dewan direksi menganggap Pria Amerika ini keren, karena itu mereka tidak memprotes gaya berpakaian Chansung– saat Chansung memperkenalkan diri sekaligus muncul untuk pertama kali di depan dewan direksi, roh wanita itu memandanginya dengan takjub. Cahaya dalam tubuh Chansung berpendar dengan indah.Dewan direksi menyambutnya dengan tepuk tangan. Beberapa saling berbisik, memuji kepandaian dan performa Chansung. Sementara itu, ayah Seulong mencibir di kursinya.

Setelah sesi perkenalan itu, Chansung mulai merasakan ngilu di sekujur tubuhnya. Ia duduk dengan wajah pucat di samping Seulong. Matanya terasa berat dan pikirannya melayang kesana-kemari. Konsentrasinya menghilang. Perlahan kedua matanya tertutup ditengah rapat berlangsung.

“Chansung-ah!” Seulong memanggil Chansung dengan suara pelan, ketika Hwang Sangtae tak mendapat jawaban dari Chansung saat ia memanggil putranya itu. Ayah Chansung melemparkan tatapan seolah akan memakan anaknya hidup-hidup, sementara Seulong hanya bisa nyengir kuda di hadapan dewan direksi, sambil menyolek pinggang Chansung.

Chansung benar-benar tertidur. Ia tertidur seperti orang pingsan. Roh wanita itu meniup-niup wajah Chansung seraya memanggilnya, barangkali pria itu akan terjaga. Tapi Chansung justru tenggelam lebih dalam ke mimpinya. Selesai rapat, Hwang Sangtae, memarahi Chansung habis-habisan. Ayah Chansung begitu murka karena merasa dipermalukan di depan dewan direksi. Padahal ayahnya sedang berudaha merebut hak atas sekolah Keluarga Hwang yang kemungkinan akan jatuh pada Hyeosoo.

Shame on you!!” tangan Hwang Sangtae melayang di udara. Roh wanita yang berdiri di samping Chansung mencoba menghalangi, namun sia-sia. Tamparan keras mendarat di wajah Chansung. Tak ada protes yang keluar dari mulutnya. Sementara itu, roh wanita itu menatap marah pada ayah Chansung.

“Kau tidak kuijinkan meninggalkan Korea. Tetap disini hingga musim panas berakhir!”

Chansung mengangkat kepalanya, pandangannya menerobos roh wanita di hadapannya dan berakhir di wahah Hwang Sangtae. Ia tampak tak terima dengan hukuman yang diberikan ayahnya. Namun, sebelum protes itu berhasil disuarakan, ayahnya menambah ocehannya, “Mulai besok, kuperintahkan kau mengajar di sekolah kakekmu!”

Chansung melotot mendengar perintah ayahnya yang tidak masuk akal. Sejak awal, ayahnya sudah tahu bahwa ia tidak ingin terlibat dalam urusan harta keluarga Hwang. Ia tidak suka mengajar di ‘sekolah komersil’ seperti milik halbae. Ia lebih suka mengajar di pedalaman sebuah negara tanpa bayaran satu sen pun. Ia mencoba berontak namun ayahnya mengindahkan tatapannya. Ayah Chansung lantas meninggalkan Chansung seorang diri di ruang rapat.

Roh wanita yang terlanjur marah karena perbuatan tidak adil yang diterima Chansung, mengejar pria 65 tahun itu hingga ke dalam lift. Lift yang membawa ayah Chansung meluncur mulus dari lantai 6 ke lantai 5. Hingga lift mendadak macet dan Hwang Sangtae tergantung di antara lantai 5 dan 4 selama lima menit. Setelah merasa puas membuat ayah Chansung ketakutan, kemarahan roh wanita itu mereda.

Roh wanita itu lantas kembali ke ruang rapat, tetapi tidak menemukan Chansung. Ia mengitari beberapa tempat mengikuti nalurinya untuk menemukan Chansung. Hingga akhirnya mendapati pria itu di ruang kerja Seulong. Rupanya ia tengah diobati oleh sepupunya. Roh wanita itu merasa lega. Ia mencoba mendekat. Namun, Chansung yang menyadari kehadirannya langsung membuang muka.

“Kau tunggu disini! Aku akan ke ruangan direktur,” Ujar Seulong selesai menerima telepon dari ayahnya. Chansung hanya mengangguk.

“Kau tidak apa-apa?” Roh wanita itu menatap Chansung dengan wajah cemas. Chansung mendengus kesal, tetap bungkam.

“Harusnya kau tidak tidur pada rapat penting seperti tadi!”

“Ini semua gara-gara kau!” omel Chansung sambil memandangi kacamata hitamnya, berpura-pura kesal pada benda itu.

Namun, bukannya marah, roh wanita itu justru begitu senang mendengar kata-kata Chansung. “Kau bicara padaku?” kedua matanya berkilat-kilat memandang Chansung. Namun, Chansung kembali diam dan mengabaikan roh wanita itu.

#

Suasana hati Chansung masih buruk, setelah kejadian di ruang rapat siang tadi. Ia memutuskan untuk mengajak Seulong minum, meskipun ia sendiri tidak pernah menyentuh alkohol.

Hyung saja yang minum! Aku hanya ingin ditemani saja, makanya kuajak kemari. Supaya aku tidak sendirian.”

Seulong menarik kembali gelas soju yang ia tuangkan untuk Chansung, kemudian menenggak isinya. “Aaaah!” soju itu meluncur hangat ke tenggorokan.

Hyung, mengenai Hyeosoo, boleh aku tahu bagaimana dia mendapatkan marga Jung?” Chansung menuangkan soju ke gelas Seulong yang telah kosong. Roh wanita di depannya menatapnya tajam. Chansung mengabaikan dan berpaling pada Seulong.

“Oooh, jadi kau punya maksud lain mengajakku minum? Hwang Chansung, kau!!” Seulong menunjuk hidung Chansung dengan tangan menggenggam gelas soju.

“Ayolah hyung! Aku sudah sering mendengar tentangmu, tapi tidak pernah dengar tentang Hyeosoo. Orang tuaku tidak pernah menyebutkan kalau aku punya adik sepupu.”

Seulong menenggak sojunya, kemudian menatap Chansung. “Ibu Hyeosoo menikah dengan Dohyun samchon –paman,setelah suaminya, ayah kandung Hyeosoo, meninggal. Kalau aku tidak salah, namanya Jung Seho. Waktu itu, aku baru akan masuk SMP, berarti Hyeosoo masih murid TK. 

Chansung menuangkan soju ke gelas Seulong lagi, lalu memandang pria itu dengan perasaan tidak puas. Seulong dapat menangkap maksud dari sorot mata Chansung. Ia lantas menenggak lagi segelas soju dan meneruskan ucapannya, “ Awalnya pernikahan itu ditentang keluarga.”

“Siapa yang menentang? Halbae?”

Seulong mendekatkan kepalanya pada Chansung kemudian menggeleng, “Orang tua kita!” Ia mendesis pelan dan cairan dari gelas soju meluncur ke kerongkongannya. “Pernikahan tetap terjadi, karena Halbae sudah terlanjur menyukai Hyeosoo sejak pertama melihatnya. Dan Halbae ingin Hyeosoo menjadi cucunya.”

“Lalu kenapa Hyeosoo tidak didaftarkan dengan marga Hwang?”

Samchon yang menginginkan Hyeosoo tetap menggunakan nama Jung, agar Hyeosoo tidak melupakan ayah kandungnya.

“Pasti berat sekali baginya,” gumam Chansung.

Roh wanita yang duduk di samping Seulong, terus memandanginya. Sesekali ia menggoda Seulong dengan meniup tengkuknya atau telinganya. Setelah itu, ia akan kembali memandangi Chansung. Chansung mencibir tingkah laku roh wanita itu dalam hati. Kekanak-kanakan!

Brak!! Wajah Seulong mendarat keras di meja yang dipenuhi botol soju. Ikan-ikan kering di piring melayang dan jatuh di sekitarnya. Chansung tidak menyangka Seulong akhirnya mabuk juga. 

Hyung!” Chansung menggoyang-goyang tubuh Seulong. Ia panik karena memikirkan bagaiamana cara pulang kerumah kalau Seulong mabuk, sementara ia tidak tahu jalan pulang.

Aigoo! Anak muda zaman sekarang, baru minum 6 botol saja sudah tidak sadarkan diri. Tsk! Roh wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Chansung melirik wanita itu sekilas, kemudian melempar pandangannya ke jalanan. Lagi-lagi ia merasa tidak nyaman saat hanya berdua dengan roh wanita itu. Ia menyesal telah membawa Seulong ke warung soju. Karena pada akhirnya, Seulong “meninggalkan” mereka berdua begitu saja.

“Sebenarnya apa maumu?” Chansung menggebrak meja, menggetarkan botol soju di atasnya. Akhirnya ia putuskan untuk bicara saja pada roh wanita di hadapannya. Toh tidak ada yang mempedulikan tingkah laku aneh Chansung, karena pengunjung lain pasti mengiranya mabuk, makanya bicara seorang diri.

Roh wanita itu menatap Chansung lekat-lekat, hingga membuatnya sulit bernafas, karena sesungguhnya ia sendiri sangat takut pada hantu. “Baiklah! Ayo kita bicara empat mata!” Chansung berteriak lantang. Roh wanita itu tersenyum puas. Ia menoleh pada Seulong dan perlahan mendekat pada pria itu. Wujud roh wanita itu mengabur dan sedikit demi sedikit menghilang ke dalam tubuh Seulong. Chansung nyaris memuntahkan isi perutnya ketika melihat gerakan lambat roh wanita itu masuk ke tubuh Seulong. Chansung merogoh saku jasnya, ponsel dalam genggamannya hampir jatuh. Tubuhnya gemetar seperti orang kedinginan. Ia mengetik sebuah pesan untuk Hyeosoo.

 

Datanglah ke warung soju langganan Seulong. Cepat!

 

#

Roh wanita itu telah berhasil dengan sempurna masuk ke tubuh Seulong. Seulong yang tengah dirasuki, perlahan menegakkan kepalanya. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja. Gerakan Seulong berubah menjadi halus dan gemulai.

Aku Fei, Wang Fei Fei!” seru roh wanita dalam raga Seulong.

Chansung mengerjap, diam-diam mencubit salah satu lengannya. Sakit! “Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Chansung dengan suara gemetar.

“Aku tidak butuh apa-apa darimu! Fei menjawab enteng, senyumnya mengembang.

“Kalau begitu pergilah! Kenapa mengikutiku terus?” Chansung meninggikan suaranya.

“Karena aku suka berada di dekatmu.” Fei menggerakkan tangan Seulong, hendak menyentuh wajah Chansung.

Chansung mengelak cepat, “Apa?? Begini ya, err, Nona Wang Fei Fei..”

“FEI!” Fei mengoreksi dengan cepat, ia lebih suka dipanggil dengan nama kecilnya saja.

“Fei, baiklah. Begini ya, aku tidak tahu kau ini makhluk apa. Tapi aku tahu kau bukan manusia. Disini bukanlah tempatmu!”

“Kenapa? Aku sudah disini selama delapan puluh empat tahun. Aku senang berada disini bersama kakekmu. Aku tidak mau pergi!” Seulong bersedekap.

“Bagaimana agar kau mau pergi???” Chansung mengacak-acak rambutnya sambil berteriak frustasi. Ia tidak percaya bicara dengan roh wanita bernama Fei dalam wujud yang berbeda. Selama ini ia melihat Fei dalam wujud wanita muda dengan dress putih sebatas lutut tanpa lengan, sekarang ia melihat Fei dalam wujud pria gagah dan tampan yang mendadak lemah gemulai.

Aku-tidak-akan-pergi!” Fei teguh dengan pendiriannya.

“Terserah kau! Tapi kumohon jangan menempel padaku terus!”

“Kau takut padaku?” Kedua mata Seulong memandang redup ke dalam mata Chansung.

“Ya! Aku takut sekali padamu!” Chansung bergidik, Fei dalam wujud Seulong ternyata lebih menakutkan.

“Aku tidak akan melukaimu! Sebaliknya, aku akan melindungimu seperti aku melindungi kakekmu.”

Chansung terdiam, mencoba mencerna dengan akal sehatnya. Dan tepat pada saat itu, Hyeosoo muncul terengah-engah dan langsung duduk di samping Chansung.

“Menjauh darinya!!!” Fei berteriak ke arah Hyeosoo.

Oppa? Kau kenapa?” Hyeosoo memandang Seulong nyaris menangis, suaranya bergetar.

“Jangan dengarkan! Dia sedang mabuk!” Chansung menepuk pundak Hyeosoo.

“Aku tidak suka Hyeosoo dekat denganmu!” Fei berteriak lagi, mata Seulong pun berubah berkaca-kaca.

Hyeosoo memandangi kedua kakak sepupunya secara bergantian. Situasi itu membuatnya bingung.

Chansung menangkap ada kecemburuan dari nada bicara Fei. Ia menghela nafas, dengan puncak kepala yang terasa seperti terbakarIa tahu Fei bukan roh biasa, karena itu ia takut Fei akan melukai salah satu dari mereka, terutama Hyeosoo. Untuk meredam kemarahan Fei, Chansung terpaksa duduk di samping tubuh Seulong. Fei tampak lebih tenang.

Chansung memutar tubuhnya berhadapan dengan Fei. Keduanya saling pandang dalam waktu yang cukup lama.

Aku akan membuatmu pergi, Fei! Chansung membatin, ia merasakan rasa takutnya perlahan sirna.

#tbc#

Advertisements

2 thoughts on “Halbae Yeoja (Grandpa’s Woman) Part 2 : Let’s Talk!

  1. Ige mwoyaaa~~~ 😣😣😣
    Rumit, sangat rumit . . .
    Berapalah umur Hyeosoo ini? 😂
    Fei ini menyeramkan, tolong segera diusir ya Chansung~ 🙏🙏🙏
    Butakhae~~~

    Lanjut ya eon~ 😘😘😘

    1. ayo hitung berapa umurnya! nanti dikasih klu lagi. *dikira soal matematika*
      wkwkwk ga bisa diusir atuh si Fei-nya. Nanti siapa yg jadi main castnya? hahaha
      okeee segera dilanjutkan.. thank you :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s