Halbae Yeoja (Grandpa’s Woman) Part 3 : The Cold Hearted Man

Halbae YeojaGently, right, slowly
I deliver these feelings
Lean on my feelings

2PM Junho – Close Your Eyes

Cast:
[2PM] Chansung : Hwang Chansung/ Alex Hwang
[Miss-A] Fei : Wang Fei Fei
[OC] Jung Hyeosoo
[2AM] Seulong
Background song: 2PM Junho – Kimi no Koe
Genre: fantasy, romance

Setelah Fei keluar dari tubuh Seulong, pria itu kembali hilang kesadaran. Chansung lantas membawanya pulang dengan bantuan Hyeosoo. Ia tak mengatakan apapun pada gadis itu soal roh Fei yang merasuki Seulong, toh Hyeosoo sudah terlanjur menuduh Seulong mabuk berat dan meracau.

Malam itu Chansung berusaha memejamkan mata. Sejak mengajak roh Fei bicara, rasa takutnya perlahan menghilang, tapi sekarang ia justru merasa tidak waras. Ia merebahkan diri di samping Seulong dan tidur dengan gelisah. Sementara itu Fei berbaring di sofa sambil memandangi Chansung.

Keesokan harinya, Chansung meninggalkan pavilion Seulong pagi-pagi sekali, bahkan sebelum sepupunya itu bangun. Sebelum kembali ke pavilionnya sendiri, ia mampir ke dapur keluarga dan meminta pelayan rumah untuk membawakan madu hangat ke kamar Seulong dan menyiapkan Haejanggukhangover soup yang dibuat dari darah sapi, tauge, kubis– untuk menu sarapan Seulong.

“Kau akan pergi ke sekolah kakekmu?” Fei berdiri di samping Chansung yang tengah mengancingkan lengan kemeja di depan cermin.

“Uhm!” Pria itu menyahut singkat sambil merapikan rambutnya. “Kenapa? Kau mau mencegahku?” tanyanya, menoleh pada Fei.

“Huh! Ini semua karena Sangtae, maksudku ayahmu itu!” Fei mendengus kesal, dengan kedua tangan di pinggang.

“Apa dia sudah seperti itu dari dulu?” tanya Chansung sambil berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidur.

“Uhm! Dia itu menyebalkan sekali. Taesung oppa sering dibuat naik darah.” Fei berkata dengan nada kesal, mengekor di belakang Chansung.

“Taesung Oppa??” Chansung memegangi lehernya mendengar cara Fei memanggil halbae.

Sedang apa kau Hwang Chansung? Bicara pada roh, benar-benar gila.

“Eh, kau mau kemana?” teriak Fei ketika Chansung menjauh darinya.

“Toilet!!”

#

Meskipun rasa takutnya mulai hilang, tapi Chansung masih merasa tidak nyaman dengan kehadiran Fei. Roh wanita itu mempunyai emosi yang sangat labil, yang bisa berubah dalam hitungan detik. Bisa saja tiba-tiba Fei marah atas perbuatan Chansung lalu mencekiknya atau melemparkan tubuhnya dari ketinggian 10 meter. Memikirkan hal itu membuat bulu kuduknya berdiri.

Hari itu adalah hari pertama Chansung menjalani hukuman dari ayahnya. Ia akan mengajar Bahasa Inggris dan Mandarin di sekolah halbae. “Selama di sekolah kau tidak kuijinkan bicara denganku! Aku tidak akan mau mendengarkan. Aku bisa dianggap orang gila jika terlihat bicara sendiri,” Chansung menodongkan telunjuknya ke wajah Fei disertai tatapan laser yang mengerikan.

“Iyaaa! Aku mengerti. Aku hanya ingin dekat denganmu.” Fei terpaksa menuruti, meskipun dengan wajah cemberut.

“Terserah kau!” Chansung melengos kemudian meninggalkan Fei menuju ruang guru.

Setelah melakukan perkenalan singkat, seorang guru laki-laki berusia 40 tahun-an menemani Chansung menuju kelas yang akan diajar. Laki-laki itu berwajah ramah dan sangat bersahabat, tentu saja Chansung dengan senang hati menerima bantuannya.

“Jika butuh bantuan, katakan saja padaku!” Pria bermarga Lee itu tersenyum lebar. Chansung membungkukkan badan seraya mengucapkan terima kasih. Fei tampak memperhatikan Guru Lee tanpa berkedip ketika Chansung meliriknya.

“Oh iya, pulang kerja nanti kita minum bersama! Aku yang traktir!” katanya dengan wajah cerah.

Meskipun Chansung tidak suka minum, tapi ajakan pria baik seperti Guru Lee tentu tak pantas ditolak. “Baiklah seonsaengnim, sampai bertemu nanti!” Chansung membungkukkan badan, kemudian masuk kembali ke kelasnya setelah Guru Lee pergi.

Selama mengajar di kelas, Fei memang menuruti permintaan Chansung. Ia diam tanpa mengganggu pria itu. Akan tetapi, roh wanita itu justru duduk di salah satu kursi kosong yang ditinggalkan beberapa muridnya entah kemana. Fei duduk manis dan bersikap seolah-olah ia adalah murid Chansung. Ia akan bergabung dengan teriakan murid-murid lain, jika Chansung menanyakan apakah mereka paham tentang pelajaran hari itu. Chansung ingin sekali mengabaikan Fei, tapi roh itu terlalu mencolok di mata Chansung.

#

Guru Lee yang mengajak Chansung minum sebagai acara penyambutan untuknya malah mabuk di tengah-tengah obrolan mereka di kedai BBQ. Bagaimana mungkin pria itu mabuk pada situasi yang sulit seperti itu, pikir Chansung. Mereka hanya pergi minum berdua, meskipun sebenarnya bertiga dengan Fei, lalu siapa yang akan mengantar pria mabuk itu pulang. Chansung dibuat pusing tujuh keliling.

Saat Chansung tengah memutar otak mencari cara mengirimkan pria mabuk itu ke rumahnya, Fei tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Guru Lee.

“Yaaa! Mwohae –Apa yang kau lakukan?” Chansung berteriak tanpa mempedulikan sekitarnya lagi ketika Fei bergerak mendekati Guru Lee. Melihat reaksi yang tersirat di wajah para pengunjung kedai, Chansung terpaksa bertingkah aneh seperti sedang mabuk. Adegan itu mengingatkannya pada peristiwa mabuknya Seulong yang kemudian dirasuki oleh Fei.

“Kenapa? Aku hanya ingin lihat saja!” Fei berhenti pada jarak kurang dari 5 cm dari wajah Guru Lee kemudian menghadapkan wajahnya ke Chansung dengan ekspresi menantang. “Kau kira aku bisa sembarangan masuk ke tubuh orang?” lanjutnya kesal.

“Baiklah aku minta maaf,” ujar Chansung akhirnya.

“Lagipula aku, kan baru melakukannya dua kali,” sambung Fei dengan nada santai.

Apa dia bilang? Baru dua kali? Melihatnya sekali saja aku sudah mau pingsan. Chansung membelalak tak percaya dan langsung menyambar kaleng soda di meja kemudian meneguk isinya sekaligus.

“Kalau Seulong adalah korban keduamu, lalu siapa yang pertama?” tanya Chansung.

“Ayah Changmin!” Fei mengerjap.

“Ayah Changmin? Ayahnya??” tanya Chansung setengah berteriak. Ia seperti kena serangan jantung ketika Fei mengatakannya dengan begitu santai. “Lalu kenapa kau melakukannya?”

Fei memandang Chansung lekat-lekat, kemudian berkata “Aku perlu berinteraksi dengan manusia. Taesung oppa, kau, siapa suruh kalian mengabaikanku?”

Chansung selalu merinding saat Fei menyebut halbae dengan ‘Taesung oppa’. Ia jadi merasa sedang bicara dengan arwah leluhur. Yah, meskipun Fei seusia halbae, tapi dia punya wujud gadis 18 tahun.

“Aku tidak mengabaikanmu!” Chansung berkata pelan, nyaris tak terdengar.

“Jadi, kau mengikuti halbae selama puluhan tahun?” tiba-tiba Chansung menjadi penasaran dengan latar belakang Fei.

Roh wanita itu mengangguk ringan. “Aku sudah berjanji padanya.”

Ya Tuhan! Chansung mengurut dahinya yang pening.

Halbae sudah meninggal, kenapa kau tidak ikut bersamanya?”

“Karena ada kau!”

Sekali lagi Chansung terkena serangan jantung. “Aku? Kenapa? Kenapa bukan ayahku atau Seulong?”

Fyuuh! Karena kau berbeda!” jawab Fei seraya bertopang dagu. “Kau tahu, tubuhmu dikelilingi cahaya,” lanjutnya.

“Hahahaha!” Pernyataan Fei barusan, sontak membuat Chansung terpingkal-pingkal. Ia tertawa sambil memukuli meja, kemudian berhenti setelah mendapat tatapan mengerikan dari Fei.

“Kau tidak percaya??” Fei mengerucutkan bibirnya.

“Aku kan tidak bisa lihat. Hahaha!” jawab Chansung kemudian tertawa lebih lepas. Fei masih terlihat cemberut di samping Guru Lee. Chansung berdeham, menghentikan tawanya lalu teringat pada nasib Guru Lee. Ia menghela nafas panjang.

“Lee seonsaengnim!” Chansung mengguncangkan bahu Changmin. Tapi pria itu nampaknya sudah mabuk berat, tak berkutik lagi. “Bagaimana cara membawanya pulang?” Chansung bergumam dan memutar otak lagi.

“Aku bisa bantu! Aku tahu tempat tinggalnya!” Fei berseru dengan ekspresi cerah. Emosinya benar-benar labil.

“Err, tidak, tidak! Tidak perlu!” Chansung mengangkat tubuh Changmin, ketika Fei mencoba mendekati pria mabuk itu.

Tsk!” Fei mendengus kesal, kemudian mengikuti Chansung keluar warung tenda.

Chansung lantas menyetop taksi. Sebelum naik, ia berbicara pada Fei. “Kau duduk di depan dan beritahu aku arah jalannya!”

“Kau bilang tidak boleh mengajakmu bicara,” gerutu roh wanita itu.

“Ini darurat!” kata Chansung, kemudian masuk dan merebahkan tubuh Changmin di kursi belakang. Fei masuk melalui pintu depan tanpa membukanya. Begitu sopir taksi menanyakan tujuan, Chansung menyodorkan kartu nama dari dompet Changmin. Lalu mengarahkan arah jalan pada sopir taksi, sesuai petunjuk Fei.

#

“Melelahkan sekali!!” Chansung melempar tubuhnya di sofa begitu tiba di kamarnya. Fei mengikuti Chansung dan duduk di kursi malas yang menghadap sofa.

“Hei, apa tubuh halbae juga dikelilingi cahaya sepertiku?” tanya Chansung tiba-tiba, detik berikutnya ia merasa pikirannya tidak waras. Ia sudah mempercayai Fei, roh wanita yang sudah menguntitnya.

“Tidak! Hanya kau yang begitu.”

Aneh! Chansung bergumam dengan dahi berkerut. “Lalu kenapa kau mengikutinya?” tanyanya penasaran. Ia sudah lupa dengan akal sehatnya.

Fei menghela nafas dalam-dalam seraya memejamkan mata. Wajahnya tiba-tiba terlihat sedih. Chansung lantas duduk memandang Fei.

“Dia pernah menyelamatkan nyawaku..” Fei menatap sedih pada Chansung.

“Aku dan kakekmu bertemu di Shanghai pada masa invasi Jepang. Saat itu aku berumur 18 tahun dan tinggal di desa dekat gunung yang jauh dari Shanghai. Aku pergi ke Shanghai saat demonstrasi besar menentang komunis terjadi. Kakekmu bersama orang-orang Korea lain yang tinggal di China juga ikut berunjuk rasa.”

I see! Aku pernah membacanya di buku sejarah Manchuria,” Chansung berujar pelan, kedua matanya masih tertuju pada Fei.

“Aku terpisah dari temanku dan tertangkap oleh tentara Jepang. Kakekmu menyelamatkanku dari tembakan mereka dan membawaku pulang ke desa. Aku berhutang nyawa padanya.” Fei menghela nafas sejenak, kemudian melanjutkan ceritanya.

“Ayahku meminta Taesung oppa mengajar baca tulis di sekolah desa. Selama beberapa minggu dia tinggal di desaku. Sampai akhirnya desaku diisolasi karena Orang-orang Dongyi dari Korea mencoba masuk. Aku membantunya keluar dari desa agar bisa kembali ke Korea. Tapi, kami tertangkap di perbatasan.”

Fei menghentikan ceritanya dengan meninggalkan tanda tanya di kepala Chansung. Pria itu lantas menanyakan kelanjutannya, “Lalu?”

“Entahlah! Aku tidak ingat bagian itu. Tiba-tiba aku sudah berada di Korea bersama kakekmu.”

Chansung mengerutkan dahi. “Kau tidak ingat? Semacam amnesia?”

Tsk! Bagi sebagian roh, detik-detik menjelang kematian itu adalah kenangan yang menyakitkan.”

Chansung akhirnya hanya bisa menghela nafas dan memutuskan untuk tidur setelah Fei menyudahi cerita tanpa akhir itu.

#

Emosi Fei belakangan ini sangat baik. Wajahnya selalu terlihat menyenangkan di mata Chansung. Salah satu penyebabnya karena Chansung sudah mulai jaga jarak Hyeosoo. Hyeosoo sendiri tidak menganggapnya masalah besar, karena mereka memang tidak dekat sama sekali.

Chansung jadi terbiasa berada di dekat Fei. Ia memilih duduk di bangku belakang setiap Seulong mengantarkannya dan Hyeosoo ke sekolah halbae. Tentu saja roh wanita itu girang bukan main. Dia menempel terus pada Chansung.

Sudah separuh musim berlalu dan Chansung tidak pernah menikmati hari-hari di sekolah halbae. Ia merindukan anak-anak di kaki gunung dan di pesisir pantai. Ia merindukan aroma matahari yang melekat di tubuh murid-muridnya itu. Chansung menengadah ke langit dari ruang kerjanya, ruangan yang hanya diperuntukkan untuknya selama menjalani masa hukuman dari sang ayah.

“Kau sedang memikirkan apa?” Fei tiba-tiba mendekati Chansung dan mengerjap padanya.

“Tidak ada. Aku tidak apa-apa.” Chansung memendam kesedihannya yang justru bertambah ketika Fei tampak mengkhawatirkannya. Ia tak ingin roh wanita itu berubah marah atau sedih jika ia beritahu keinginannya untuk meninggalkan Korea.

“Apa kau pernah merasa sedih?” Chansung menoleh pada roh wanita di sampingnya.

Fei mengangguk dan tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Chansung memandangi Fei lekat-lekat, dan roh itu berkata padanya, “Aku menangis 2 kali selama menjadi roh. Saat Taesung oppa menikah dan saat dia meninggal. Aku menangis seperti halnya manusia.”

“Kau pasti begitu mencintai halbae.”

“Benarkah? Darimana kau mendefinisikannya?”

“Hatimu akan terasa sakit jika kehilangan orang itu. Bisa kusimpulkan kalau itu cinta.”

“Kalau aku tidak mau kehilanganmu, apa itu berarti aku juga mencintaimu?” Fei berpindah dari sisi kanan Chansung ke sisi kirinya.

“Err, tentu saja tidak. Kasus kita berdua berbeda. Kita tidak punya ikatan apa-apa. Tidak ada hutang budi. Jadi kau tidak perlu merasa begitu padaku. Mengerti?”

Fei mengangguk paham, dia roh yang begitu penurut. “Iya! Tapi kau tidak akan mengusirku kan?”

“Kalau ku usir, kau mau pergi kemana?”

Fei mengangkat bahu. “Alam keabadian. Mungkin.”

Chansung manggut-manggut dengan seribu akal mengakar di kepalanya. Bagaimana cara mengusir Fei ke alam keabadian?

“Aku ke toilet dulu. Kau tinggal saja disini.”

“Aku ikut! Aku akan menunggumu di depan pintu.”

#

Chansung mengendap-endap keluar dari toilet untuk menghindari Fei.  Roh wanita itu tengah duduk di salah satu jendela yang terbuka. Rambutnya bergerak-gerak saat ditiup angin. Sekilas Chansung memandang punggung Fei yang statis, entah kenapa tiba-tiba ia merasa sedih. Chansung berjalan ke arah yang berlawanan dengan Fei menuju tangga darurat. Ia ada jadwal mengajar kaligrafi China 15 menit lagi. Ia tidak ingin Fei mengikutinya sampai ke kelas.

Klak!! Pintu darurat terbuka dan Changmin muncul dengan wajah berkeringat.

“Lee seonsaengnim? Anda sedang apa disini?”

“Err, itu, saya tadi..” sambil mengelap keringat dengan sapu tangannya, Changmin mencoba menjawab Chansung. Ia memberanikan diri melihat mata Chansung yang menatapnya curiga.

“Eh, ada bau asap rokok dari dalam!” Chansung menjulurkan kepala ke balik pintu yang berada di belakang Changmin, kemudian hidungnya kembang-kempis mengendus sesuatu.

“Err, Hwang seonsaengnim sebaiknya kita kembali ke ruang guru. Bukankah sepuluh menit lagi jadwalmu mengajar!” Changmin menarik bahu Chansung agar pria itu menjauh. Kemudian ia menutup pintu darurat dan berdiri di depannya, berusaha menghalangi Chansung masuk.

Seonsaengnim, Anda merokok?” Kedua mata Chansung menatap Changmin, seolah sedang menghakimi.

“Eh, iya, iya. Saya yang merokok. Kalau sedang stress, saya biasa merokok. Karena sekolah ini bebas rokok, jadi saya pergi ke tangga darurat untuk merokok.” Kata Changmin seraya tertawa kaku.

Meskipun masih tidak nyaman dengan gelagat mencurigakan Guru Lee barusan, Chansung memutuskan untuk tidak terlalu mengurusi masalah pribadi pria itu. Guru Lee kemudian mengajak Chansung menuju ke ruang guru untuk mengambil buku ajar milik Chansung. Saat melintas di depan toilet, Fei sudah turun dari jendela dan memasang wajah ceria di hadapan Chansung. Roh wanita itu pun mengikutinya lagi.

#tbc#

Advertisements

3 thoughts on “Halbae Yeoja (Grandpa’s Woman) Part 3 : The Cold Hearted Man

  1. OMG~
    Jadi ikut belajar sejarah nih~ /demi Chanana/ 😉
    Akhirnya Fei jadi riang /eh kok/
    Changmin ini sepupu juga? 😃 Oalah~ semua keluarga ngajar di sekolah kakek ya~ Luar biasa~
    Pertanyaannya~
    Apakah Chansung pada akhirnya akan mengusir Fei ke alam keabadian atau malah membiarkan Fei kek kakeknya dulu?

    Meski pusing, tapi suka~
    Lanjut ya eon~ 😘😘😘

    1. Bukaaan.. Changmin teh anak temen kakeknya channa.. Hahaaha
      Itu sejarahnya ga seluruhnya bener tapi. Susah bikin korasi antara demonstrasi manchuria 1930s sama pertemuan fei-halbae.
      Laaah dia pusing mulu..😆😆
      Semoga bisa segera selesai ya ini cerita, nunanya udh mulai mabok.

      1. Wkwkwkwk
        Kirain sepupu jugak~
        Kalo gitu mesti cek sendiri lagi sejarahnya.
        Ya pusing kalo otaknya ga nyampe. 😂
        Aamiin~ semoga cepat kelar~ 😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s