Halbae Yeoja (Grandpa’s Woman) Part 4 : Do You Believe in Magic?

Halbae Yeoja

Each of my days get brighter because of you
But because my days are so short, I fall asleep in front of you, and I’m on my way to you

On My Way to You – Junho feat. Taecyeon

Cast:
[2PM] Chansung : Hwang Chansung/ Alex Hwang
[Miss-A] Fei : Wang Fei Fei
[OC] Jung Hyeosoo
[2AM] Seulong
Background song: 2PM Junho – Kimi no Koe
Genre: fantasy, romance

Cerita Fei tentang pertemuannya dengan Halbae membuat Chansung penasaran bagaimana cerita itu akhirnya berakhir. Akan tetapi, ia tak ingin menanyakan hal itu lagi pada Fei karena dapat membuat roh itu sedih. Ia bermaksud menanyakannya pada ayah Changmin, pria yang pernah dirasuki oleh Fei demi bisa berkomunikasi dengan Halbae. Ayah Changmin adalah teman baik Halbae, ada kemungkinan ia tahu tentang hubungan Halbae dan Fei. Namun, Chansung tidak yakin pria itu masih mengingatnya.

Satu-satunya yang bisa ia tanyai mungkin adalah Halmae. Meskipun sebagian besar pria akan menyembunyikan masa lalunya dengan wanita lain, Chansung yakin Halbae pernah satu dua kali kelepasan bicara mengenai Fei pada Halmae. Tapi, yang menjadi masalah, roh wanita itu tak pernah bisa sedetik saja pergi darinya. Kalau pun Chansung menghilang ketika Fei lengah, roh wanita itu akan dapat menemukannya dalam waktu beberapa menit saja. Hal ini tentu mempersulit Chansung untuk bicara empat mata dengan Halmae.

Pelajaran kaligrafi China baru saja selesai ketika sebuah panggilan internasional masuk ke ponselnya. Sambil menenteng buku ajar, Chansung berjalan meninggalkan kelas dengan ponsel menempel di telinganya.

Hallo? Eomma?” Chansung ragu-ragu menjawab teleponnya. Suara dari seberang berbisik dengan nada cemas. Pria itu memalingkan wajah pada Fei yang seketika dipenuhi tanda tanya.

“Kenapa tiba-tiba menelpon? Apa sesuatu yang buruk terjadi?” Chansung melirik benda berdetak di pergelangan tangannya lalu mengalkulasikan perbedaan waktu antara Seoul dan California. Ia memperkirakan di Amerika sudah masuk jam 3 pagi, lalu kenapa ibunya menelpon pada jam itu. Ekspresi wajah Chansung berubah panik karena kuatir terjadi sesuatu.

Masih dengan berbisik, ibu Chansung menyahut putranya. Ia sengaja memelankan suara karena takut ketahuan oleh Ayah Chansung. Apalagi kali itu ia menghubungi Chansung hanya untuk menanyakan soal jimat pemberian Halbae.

“Ibu terbangun karena tiba-tiba ingat tentang jimatmu. Ternyata benar, kau tidak membawanya. Kenapa kau tinggalkan di lemari pakaianmu? Ya ampun! Dasar kau ini! Bagaimana kalau sesuatu yang buruk menimpamu, Chansung-ah??”

Rasanya seperti meluncur dari roller coster setelah mengetahui alasan ibunya menelpon tak seburuk dugaannya. Chansung menghela nafas lega namun ia merasa ibunya sangatlah berlebihan. Jimat itu sengaja tidak dibawa ke Korea. Ia mengeluarkan benda itu dari koper dan meletakkannya di lemari pakaian. Sudah saatnya benda yang selalu menempel di tubuhnya bak benalu itu lepas darinya. Ia tidak ingin mempercayai hal-hal berbau magis

Don’t worry! I’m okay. I’m gonna be okay.” Chansung berusaha menenangkan ibunya.

“Bagaimana mungkin ibu tidak kuatir? Ini jimat pemberian Halbae, kalau tidak ada ini entah dimana kau sekarang, Chansung-ah!” Ibu Chansung berteriak di tengah suaranya yang bisik-bisik.

I’ll take care, so don’t worry! I’ll be home soon, okay?

“Tidak bisa. Ibu akan kembali ke Korea. Benda ini sangat penting bagimu.” Ibu Chansung berkeras.

“Besok?”

“Tidak! Kalau ibu pergi besok, ayahmu akan curiga. Ibu akan cari waktu yang tepat dan menyusulmu. Aigoo!

“Baiklah, aku mengerti. Sekarang pergilah tidur, Ayah bisa curiga.”

Akhirnya, ibu Chansung terpaksa menyudahi pembicaraan mereka. Meskipun begitu, Chansung yakin ibunya akan mencari cara agar bisa kembali ke Seoul secepatnya. Chansung melesakkan kembali ponselnya ke saku, kemudian melirik Fei yang mendekatkan wajahnya pada Chansung. Chansung merasakan jantungnya berdegup kencang karena dikagetkan oleh ulah roh wanita itu.

“Ibumu?” Nada suara Fei terdengar cemas. Pria itu mengangguk kemudian menghela nafas.

“Di saat manusia sudah berwisata ke bulan, bagaimana mungkin ibuku masih percaya dengan jimat.” Chansung menjawab Fei dengan suara tak jelas seperti sedang menggerutu.

“Jimat?” Tiba-tiba Fei sudah berdiri di depan Chansung dan membuat pria itu berhenti mendadak karena takut menabrak Fei. Ya, meskipun ia yakin manusia tidak bisa bersentuhan dengan roh.

“Sudahlah. Kau pasti juga percaya soal benda keramat seperti itu.”

“Kau jangan meremehkan begitu. Jimat tidak selamanya buruk. Jimat adalah benda yang berisi doa dari orang-orang yang menyayangimu. Kau bukan percaya pada bendanya, tapi pada orang yang memberikannya padamu. Percaya bahwa mereka akan melindungimu.” Fei berkacak pinggang, seraya menatap Chansung tajam.

“Apa kau juga punya jimat?”

“Tadinya ada. Pemberian kakekku. Tapi sekarang entah dimana aku meletakkannya.” Fei mengangkat bahu, kemudian kedua matanya yang bening beralih ke langit-langit.

“Mungkin jatuh sebelum kau.. Menjadi roh.” Chansung berkata pelan dan hati-hati. Roh itu lantas memandangnya lagi dan membuat bulu kuduknya berdiri.

#

Entah apa yang membuat Fei begitu senang menempel pada Chansung, seperti anak itik yang mengekor terus kemana induknya pergi. Terkadang Chansung merasa kebebasannya sudah tak ada lagi. Tidak ada lagi kesempatan menikmati waktunya sendirian tanpa Fei. Tapi setidaknya ia bersyukur karena Fei tidak pernah mau mengikutinya ke kamar mandi atau tidur satu ranjang dengannya. Dia benar-benar roh yang mempunyai harga diri. Chansung menyebutnya begitu.

Setelah acara minum teh seusai makan malam berakhir, Chansung langsung kembali ke pavilionnya. Ia bahkan menolak tawaran Seulong untuk bermain game di pavilionnya. Chansung telah membuat skenario bagaimana melarikan diri dengan memanfaatkan kelemahan Fei. Ia tidak boleh membuat Fei curiga atau rencananya akan gagal.

“Aku ingin berendam! Kau tidak akan mengikutiku, kan?” Chansung menodongkan telunjuk ke wajah Fei yang mengekornya menuju kamar mandi. Roh itu kemudian menatapnya sebal. Berjauhan dengan Chansung membuat Fei tidak senang.

“Apa boleh buat, aku akan menunggu disini.”

“Oh iya, kau tidak perlu berteriak-teriak memanggilku. Aku tidak akan dengar!” Chansung memamerkan headphone di depan wajah Fei hingga bertambah kekesalannya.

“Kira-kira berapa lama kau di dalam?”

“Kira-kira satu sampai dua jam.”

“Apa kulitmu tidak akan mengeriput?”

Chansung nyaris tertawa. Ia menepuk dahinya, tak habis pikir dengan pertanyaan Fei yang kadang terdengar aneh. “Sudahlah! Kau tunggu saja. Kalau kau bosan, pergilah ke kamar Seulong hyung!”

“Tidak, aku akan membaca saja!” Fei melihat ke arah rak buku di belakang Chansung. Kemudian kedua matanya menyipit dan sebuah buku melayang dari balik tubuh Chansung lalu jatuh di meja tepat di hadapan Fei dengan posisi terbuka.

“Wow! Kau bisa melakukan hal ini juga? Aku kira hanya ada di dalam film,” Chansung melongo takjub, mulutnya menganga lebar.

“Tentu saja! Kalau aku mau, aku juga bisa melakukannya padamu.” Fei berseru setengah menggoda Chansung. Pria itu melempar tatapan tajam padanya dan mendesis pelan. Fei terkikik kemudian berseru lagi, “Aku bercanda!”

#

Setelah berhasil meloloskan diri dari pavilionnya dan mengendap-endap ke pavilion Halmae, kini Chansung duduk dengan posisi punggung tegap menghadap Halmae dan kedua tangan di atas paha. Ada perasaan asing yang tiba-tiba menyergapnya. Ini pertama kali dalam hidupnya, berinteraksi seintim itu dengan neneknya.

Halmae sudah lama mengamatinya seolah kedua mata itu tak berkedip. Leher Chansung mulai pegal karena menunduk dan kakinya kebas karena tidak terbiasa duduk bertumpu di kaki seperti itu.

“Kau tiba-tiba datang ke kamarku, ada apa?” Halmae melempar tatapan mengintimidasi disertai nada bicara yang tinggi dengan dialek Busan yang kental, seperti sedang memarahi Chansung.

“Tidak apa-apa. Aku hanya mengkhawatirkan Halmae.” Chansung mengangkat pandangannya sejenak dengan perasaan lega, kemudian menunduk lagi karena tatapan mengerikan neneknya.

Aigoo! Kau ini pintar sekali bicara, Chansung-i!”

Halmae, aku serius! Aku takut Halmae merasa kesepian, makanya aku kemari.”

“Baiklah. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku.”

Pandangan Chansung naik turun memandang neneknya, ia kehabisan kata-kata karena tiba-tiba suasana menjadi kaku. Bagaimana cara memulainya, ya? Kalau tiba-tiba bertanya soal Fei, neneknya pasti akan curiga.

“Aku dengar kau dihukum oleh ayahmu. Ibumu yang cerita padaku.” Seolah mengetahui rasa canggung yang muncul di wajah Chansung, Halmae akhirnya mengatakan sesuatu.

“Ah, itu memang kesalahanku membuatnya marah.”

“Dia itu terlalu keras padamu. Padahal susah payah agar ibumu bisa melahirkanmu.” Halmae mulai mengomel lagi dengan dialek Busan-nya.

“Benarkah? Pantas saja Ibu bilang kalau aku adalah bayi emas. Hahaha! Aku kira karena aku anak mereka satu-satunya, makanya disebut begitu.” Chansung menggaruk tengkuknya seraya tertawa canggung.

“Kau ini bayi emas karena ibumu sangat sulit untuk mendapatkanmu. Sejak menikah, selama 4 tahun dia mengalami 2 kali keguguran. Sementara Seulong telah lahir. Halbae sangat sedih melihat ibumu. Dia juga ingin punya keturunan dari anak pertamanya yaitu ayahmu.”

Tiba-tiba hal tentang kelahirannya membuat Chansung penasaran. Ia tidak pernah tahu soal ini sebelumnya. Kecuali kenyataan bahwa ibu dan ayahnya sangat protected padanya.

“Lalu bagaimana akhirnya aku bisa lahir?”

“Pada hari dimana ibumu mengatakan kalau dia hamil, malam itu diam-diam aku dan Halbae mengambil sarung tangan bayi milik Seulong. Kemudian meletakkan sesuatu di dalamnya untuk dikenakan pada ibumu. Yah, semacam jimat.”

Jimat? Chansung membatin dan langsung teringat pada benda yang diceritakan Fei padanya. Tanpa sadar cerita Halmae tentang anak emas itu membawa Chansung pada kisah Fei dan Halbae.

“Benda apa yang ada di dalamnya?” Chansung menyelidik dengan wajah serius.

“Kau tidak pernah membukanya?”

Eomma bilang aku tidak boleh melihat isinya. Apa Halmae pernah melihatnya?” Kedua mata Chansung berbinar penuh harap.

“Benda itu berupa batu hitam mengkilap. Kira-kira sebesar ini.” Halmae kemudian menunjukkan kuku jari kelingkingnya yang tak lagi sempurna. Persis seperti itu kira-kira ukurannya ketika Chansung meraba isi jimatnya.

“Apa Halmae percaya benda semacam itu?”

“Entahlah. Tapi Halbae bilang kalau batu itu seperti punya kekuatan untuk menyatukan roh dengan raga. Kandungan ibumu sangat lemah, karena itu janin tidak menyatu dengan rohnya dan ibumu mengalami keguguran.”

“Darimana Halbae mendapatkan benda itu?” Chansung mencondongkan tubuhnya.

“Aku tidak tahu darimana dia mendapatkannya!” Halmae membuang muka kemudian berusaha berdiri untuk menghindari tatapan Chansung.

Halmae??” Chansung beranjak mendekati neneknya.

“Aku benar-benar tidak tahu. Sudah sana kembali ke kamarmu! Aku ingin tidur!” Halmae mengabaikan rasa ingin tahu Chansung, serta merta berteriak mengusirnya dari kamar.

Sampai kapan Halmae akan merahasiakannya?

#

“Eh, lama sekali kau berendam! Aku bosan! Bukumu tidak ada yang menarik.” Fei langsung melonjak girang dan menghempaskan buku yang sedang ia baca saat Chansung muncul.

Chansung keluar dengan mengenakan kaos putih dan training hitam standar. Di lehernya menggantung headphone untuk meyakinkan Fei bahwa ia benar-benar menikmati saat-saat berendamnya. Fyuh! Fei sama sekali tak menaruh curiga. Roh wanita itu benar-benar lugu dan patuh. Sayangnya, Fei selalu saja membuat ulah. Begitu melihat buku-buku yang berantakan di meja, Chansung rasanya ingin menangis. Tapi apadaya ia hanya bisa menghela nafas panjang.

“Tidak bisakah kau mengembalikan buku-buku yang sudah selesai kau baca?” Chansung tiba-tiba merasa hari-harinya begitu melelahkan sejak kehadiran Fei.

“Aku lelah sekali karena terlalu aktif hari ini. Kau saja yang bereskan, ya!” Fei berkata santai. Tak ada rasa bersalah sedikit pun.

“Lalu kau?” Chansung mendelik, sementara roh wanita itu malah nyengir kuda.

“Aku akan menunggu disini!” Seru Fei kemudian duduk di kursi malas.

Tsk! Sama sekali tidak membantu. Sekarang malah merepotkan orang.” Gerutu Chansung sambil mengembalikan buku-bukunya ke rak.

“Apa?” Fei berteriak dari kursinya. Beuntung sekali roh wanita itu tidak mendengar keluhan Chansung.

“Tidak apa-apa! Aku sedang menghapalkan syair kuno.” Sahut Chansung tanpa menoleh Fei.

#

“Kenapa tiba-tiba kau mau ke pabrik?” Seulong melirik Chansung sebelum masuk ke mobil.

“Aku dapat sms dari ayahmu, dia yang menyuruhku ke pabrik. Katanya ada dokumen yang harus dipelajari menggunakan huruf tradisional China. Samchon tidak bilang pada hyung?”

“Tidak.” Seulong menjawab singkat dengan dahi berkerut karena jawaban Chansung terdengar aneh. Sejak kapan paman dan keponakan itu menjadi akrab. Lagipula ayahnya sedang tidak berada di Seoul, untuk apa menyuruh Chansung mengecek dokumen.

Oppa, harusnya oppa kursus Bahasa Mandarin. Kalau Chansung oppa kembali ke Amerika, siapa yang akan membantu samchon?” Hyeosoo yang punya sifat jahil memulai serangannya dengan meledek Seulong.

Ketika Chansung dan Seulong tengah menertawakan perkataan Hyeosoo, raut wajah Fei tiba-tiba berubah muram. Chansung yang menyadari perubahan emosi roh itu langsung menutup mulutnya. Lalu memiringkan kepalanya dan berbisik pelan pada Fei dari balik tangannya.

“Jangan menangis!”

Fei hanya diam kemudian memandang Chansung dengan perasaan takut. Kedua matanya berkaca-kaca. Chansung memang tak pernah melihat Fei menangis, akan tetapi ia tak pernah menginginkan roh wanita itu merasa sedih. Karena itu Chansung selalu menjaga perasaan Fei.

Seringkali ia dihinggapi perasaan aneh setiap kali keinginan mengusir Fei muncul. Meskipun ia tidak ingin roh wanita itu selamanya menguntitnya dan Chansung masih berupaya mencari cara bagaimana terbebas dari Fei, Chansung sadar justru ia mulai terbiasa dengan kehadiran Fei di sisinya.

“Ooooh, jadi kau sekarang di pihak Chansung? Baiklah! Jangan salahkan aku kalau besok kau harus naik bus.” Seulong balik menyerang sepupunya. Skak mat!

“Eh, kenapa mengancamku begitu? Jangan begitu oppa! Aku bisa terlambat kalau ke sekolah naik bus. Maafkan aku, ya? Seulong oppa, oppa-ku yang paling tampan dan baik hati.” Hyeosoo mencoba berdamai.

Aigoo! Makanya kau ini jangan selalu tidur larut malam. Aku harus tancap gas setiap pagi supaya kau tidak terlambat.”

“Kalau begitu ijinkan aku bawa kendaraan sendiri!”

Andwae –Tidak bisa!!!”

Chansung tertawa pelan dari kursi belakang mengamati kedua sepupunya adu mulut. Sesekali ia melirik wajah Fei yang perlahan berubah cerah. Kedua orang di kursi depan terus berdebat sepanjang perjalanan, hingga akhirnya Hyeosoo turun lebih dulu di sekolah dan Chansung pindah ke samping kemudi.

#

Seulong meninggalkan Chansung sendirian di ruang rapat, setelah membawakannya dokumen yang diminta Chansung. Dokumen itu merupakan dokumen lama perusahaan yang berisi perjanjian kerjasama perusahaan kakeknya dengan sebuah perusahaan China. Semua dokumen ditulis dalam huruf China tradisional sehingga ia sedikit kesulitan. Akhirnya, Fei membantu Chansung menerjemahkan dokumen agar pekerjaannya cepat selesai.

Setelah menerjemahkan dokumen kerjasama lama itu, Chansung menerima pesan singkat dari ayah Seulong yang memintanya mengecek barang-barang gagal produksi di gudang. Mau tak mau Chansung mengiyakan dan pergi ke gudang yang berada cukup jauh dari pabrik. Sebelum pergi ke gudang, Chansung memberi tahu Seulong tentang permintaan ayahnya. Tadinya Seulong memaksa untuk ikut menemani Chansung pergi ke gudang, namun pria itu bersikeras tidak mau ditemani.

“Woah! Ini sih bukan gudang, tapi istana aksesoris.”

Fei terperangah ketika Chansung membuka pintu gudang lebar-lebar. Sepatu, dompet, tas, semua tersusun rapi di rak, terlihat mengilap ditimpa sinar matahari. Meskipun barang-barang itu adalah produk yang tidak lolos QC (Quality Control), namun tetap terlihat berkelas. Biasanya produk itu akan dijual murah pada saat midyear sale atau endyear sale.

Chansung hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Fei. Roh wanita itu bisa begitu saja melupakannya yang sedang menyalakan lampu. Melompat kesana kemari dengan mata berbinar dan mulut yang tak henti berdecak kagum.

“Memangnya kau belum pernah kemari?”

Chansung berjalan mendekati Fei yang terlihat sibuk memilih barang. Wanita tetaplah wanita, meskipun sudah menjadi roh, Fei tetap merasa senang melihat barang-barang bagus. Tidak disangka roh juga suka shopping.

“Tempat ini baru dibangun. Biasanya kakekmu akan membawa produk yang kualitasnya kurang baik ke desa-desa dan dijual separuh harga.” Fei menyahut tanpa memandang Chansung, ia masih sibuk melihat-lihat barang.

“Wah! Yang ini cantik sekali!” Fei mendekatkan wajahnya pada sepasang sepatu kulit warna ivory dengan ekspresi begitu bahagia.

“Yang ini?” Chansung mengangkat sebelah sepatu itu dari rak.

“Berikan padaku! Aku mau mencobanya.” Fei menangkupkan kedua tangannya, memohon belas kasihan Chansung.

Chansung menghela nafas, bertanya-tanya bagaimana cara Fei mencoba sepatunya. Karena penasaran, akhirnya ia meletakkan sepasang sepatu itu ke depan kaki Fei. Roh wanita itu berbinar, tak dapat menguasai dirinya lagi, ia menyelongsongkan kedua kakinya kedalam sepatu.

“Cantik tidak?” Fei berputar di tempatnya. Tingkah lakunya tak beda jauh dengan gadis biasa.

“Hem! Kau suka? Kau boleh melihatnya sampai bosan. Kalau sudah selesai, kembalikan ke tempat semula. Memangnya kau mau memakainya terus.”

Sepatu itu memang terlihat pas di kaki Fei. Tapi apa yang bisa ia lakukan kalau sepatu itu memang cocok untuknya. Chansung mencoba lebih realistis disaat Fei begitu terhipnotis dengan barang-barang manusia.

“Tsk! Yaa!! Tunggu aku!”

Fei mengenakan kembali sepatu miliknya, kemudian mengejar langkah Chansung dan berhenti setelah cukup dekat dengan pria itu. Namun, tiba-tiba Fei merasakan sesuatu yang aneh di dalam gudang. Ia melihat ke sekeliling dan mendadak berhenti ketika sekelebat bayangan hitam terlihat di rak paling depan dekat pintu. Tanpa pikir panjang, Fei mengikuti arah bayangan itu pergi dan meninggalkan Chansung dalam kebingungan.

Sebelum Fei berhasil mendapatkan buruannya, Chansung sudah berteriak memanggil-manggil nama Fei. Teriakan pria itu terdengar begitu ketakutan. Fei menduga Chansung dalam bahaya, tapi tak menyadari listrik di dalam gudang tiba-tiba padam. Ketika Fei kembali pada Chansung, pria itu sudah bersandar di rak dengan tubuh bergetar hebat dan wajah berkeringat.

Saat listrik tiba-tiba padam, Chansung mencoba menyalakan ponselnya tapi tidak berhasil karena ponselnya kehabisan daya. Chansung, pria itu hanya takut pada satu hal, yaitu hantu. Sebenarnya sejak Fei muncul, ia nyaris tak pernah merasa takut pada hal gaib semacam itu. Tapi hari itu, saat ruangan menjadi gelap gulita dan Fei tak menyahut panggilanya, rasa takut itu menyerangnya lagi.

“Fei!!” Chansung berteriak dengan suara serak. Seperti telah berteriak sepanjang hari memanggil roh itu.

Fei menatap kasihan pada Chansung. Ia menyesal karena meninggalkan pria itu sendirian, sementara ia mengejar bayangan misterius di dalam gudang.

“Ikuti aku!”

Chansung merasakan sebuah sentuhan di tangannya. Dingin.

“Fei?” suara Chansung bergetar. Fei dapat melihat dengan jelas pupil mata Chansung melebar dalam kegelapan.

“Uhm! Ikuti aku!”

Fei menggenggam tangan Chansung yang kemudian menggenggamnya erat. Perlahan roh wanita itu menuntun langkahnya menuju pintu gudang yang tertutup. Entah siapa pelakunya, tapi Fei yakin bayangan misterius itu yang diam-diam menutup pintu gudang dan memadamkan lampu ruangan.

Pintu gudang sudah di depan mata, sejenak Fei merasa lega. Ia berpaling pada Chansung untuk melihat keadaan pria itu. Chansung terlihat lebih tenang, meskipun harus menyeret langkahnya.

Namun, tiba-tiba seorang pria misterius muncul dengan pisau ditangannya. Ia bersiap menyerang Chansung, namun sebelum benda itu berhasil menyentuh kulitnya, tiba-tiba terdengar teriakan di hadapan Chansung. Chansung tak kalah kaget dan mengeratkan genggamannya pada Fei. Ia tak bisa melihat apapun. Tapi teriakan pria itu terdengar jelas dan mengerikan.

Pintu gudang terbuka dan pria misterius itu lari. Cahaya matahari menyeruak ke dalam dengan cepat hingga Chansung menyipitkan matanya. Ia memandang Fei yang berada di hadapannya. Tangannya masih dalam genggaman Fei dan terasa begitu nyata. Seakan waktu berhenti berputar, hanya ada mereka berdua yang saling berpandangan. Chansung tak pernah membayangkan akan ada hari seperti itu, ketika dimensi waktu membodohi akal sehatnya.

Setelah akal sehatnya kembali, Chansung menyadari sebuah pisau tergeletak di lantai. Ia bertanya-tanya apa yang telah terjadi? Chansung memandang Fei lagi, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Akhirnya, Chansung melepaskan tangannya dari Fei kemudian mengejar sosok pria misterius dengan pakaian serba hitam yang berlari semakin jauh.

“Chansung-ah!!! Tunggu aku!!” Fei berteriak dan mengejar Chansung dengan sekuat tenaga.

#tbc#

Advertisements

2 thoughts on “Halbae Yeoja (Grandpa’s Woman) Part 4 : Do You Believe in Magic?

  1. Omg ~~~
    “Chansung tak pernah membayangkan akan ada hari seperti itu, ketika dimensi waktu membodohi akal sehatnya.”
    /pingsan pake mata lope2/ 😍
    manis banget~

    Soal halmae, apa yang disembunyiin halmae? Apa halmae pernah ketemu/ ngobrol sama fei? 😱

    Siapa yang mau celakain Chansung? 😡

    Lanjut ya eon~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s