Sebuah Catatan Kecil Tentang Silaturahmi dan Kematian

ab8a320f0873f98a38b1d70197f066b8

Kematian datang tanpa permisi, namun kita sudah antri. Tinggal menunggu giliran menghadap Ilahi. Taubat selagi sempat, silaturrahmi selagi sempat.

Innalillahi wainnailaihi roji’un..
Hari ini satu lagi orang terkasih yang pergi menghadap Ilahi. Risma Heryani bint Ishak Lancung, atau biasa disapa Tante Yeni. Beliau bukan kerabat atau keluarga. Beliau adalah seseorang tanpa hubungan darah dengan keluarga saya namun begitu baik layaknya keluarga sendiri.

Sejak pertama pindah dan bertetangga, suami beliau, Om Dodo, meminta ibu saya menjadi bude bagi anak-anaknya. Karena wajah ibu saya mengingatkan pada kakak perempuannya yang hilang. Sejak saat itu tak ada batas untuk saling mengasihi dan menolong antara keluarga besar kami.

Anak-anak beliau sepasang, sulung perempuan dan bungsu laki-laki, dekat dengan keluarga saya karena sering main dan tidur siang di rumah. Dulu saya biasa membawa mereka ke rumah. Si bungsu Dimas baru 2 tahun. Hampir setiap siang saya gendong dan diayun supaya tidur siang di rumah. Mandi dan buang air pun saya urusi. Si sulung Putri selalu satu paket dengan adiknya. Tapi sejak tahu main, jadi jarang main di rumah. Sekarang Dimas sudah kelas 10 dan Putri mahasiswa tahun ke-2.

Tante Yeni adalah wanita yang ringan tangan dan halus perasaannya. Bisa tiba-tiba menangis karena iba. Beliau suka sekali masak dan hasil masakannya selalu diantar ke rumah. Hampir setiap sore. Dari beliau, Mama jadi bisa buat pempek, tekwan, dan pindang meranjat, dari kursus masak gratis beliau. Beliau senang berbagi dan saya tahu beliau tulus. Beliau sangat perhatian pada siapapun juga peduli.

Karena begitu dekatnya keluarga kami, hampir semua saudara beliau kami kenal dan cukup dekat. Kadang saya ikut dengan beliau ke rumah kerabatnya yang lain.

Suatu hari mereka pindah keluar daerah. Betapa sedihnya saya yang terlanjur menyayangi Dimas dan Putri seperti adik sendiri. Setelah beliau pindah, hubungan keluarga tidak terputus. Sesekali berkirim kabar. Kami pun menyambung silaturahmi dengan kerabat beliau yang masih tinggal satu kota dengan kami. Sama seperti beliau, semua saudaranya pun ringan tangan.

Saat nenek dan kakak dari ayah meninggal, beliau dan keluarga datang melayat dan takziah. Padahal belum pernah bertemu sebelumnya. Namun karena kebetulan beliau tinggal satu daerah dengan keluarga ayah saya, silaturahmi pun terjalin. Beliau sering mengunjungi keluarga ayah saya. Jika sedang pulang kampung, maka kami akan bertemu di rumahnya.

Hingga akhirnya 4 tahun lalu beliau jatuh sakit. Itu kunjungan saya pertama dan terakhir sejak beliau sakit. Karena tahun berikutnya saya pindah kerja keluar kota. Beliau juga sengaja merahasiakan sakit agar tak merepotkan banyak orang. Termasuk tetangganya dulu, juga keluarga kami. Begitu tak ingin dijenguk, tak ingin dilihat, tak ingin dikasihani. Saya tahu betul bagaimana beliau. Hatinya sangat mudah tersentuh. Saat orang tua saya menjenguk, beliau meneteskan air mata.

Kondisi beliau memburuk 2 tahun lalu. Keluar masuk rumah sakit bertahan demi keluarga. Beliau sering melontarkan pernyataan : Aku belum ingin mati, anakku masih kecil-kecil.

Pada kunjungan terakhir orang tua saya 2minggu lalu, beliau menanyakan kabar para tetangga dahulu. Bahkan menanyakan kabar tukang sayur keliling. Beliau minta didoakan cepat sehat agar saat kembali ke Bengkulu, beliau bisa mampir bersilaturahmi ke kontrakan saya di Lubuk Linggau. Begitu banyak mimpi dan keinginan beliau.

Kemarin malam beliau dipanggil Allah. Dengan lafal syahadat yang dibimbing Si Sulung, Putri. Saya tidak gampang meneteskan air mata untuk sebuah musibah atau muhibbah. Tapi hari ini air mata tumpah berderu di dekat jasad beliau.

Putri dan Dimas, kedua adik saya, masih menangis. Dimas baru sampai dari Bengkulu dan tak mendampingi beliau di saat terakhir. Dalam pelukan Mama, tangis Putri menjadi. “Bude, Putri sudah ndak punya ibu lagi.”

Dan saat itulah tangis kembali pecah dari keluarga saya, keluarga almh, dan keluarga bekas tetangga beliau. Dimas menyembunyikan wajah sambil terus menangisi ibunya. Saya sungguh tak tega. Saya dekati dan saya usap punggungnya, Dimas masih menangis.

Beliau meninggalkan kesan baik bagi keluarga saya. Ada tempat di hati ini untuk beliau. Juga untuk seluruh keluarga beliau yang begitu baik. Jika teringat akan beliau, yang terkenang selalu kebaikan beliau dan keluarga. Juga pengorbanan suami beliau mengantar dan mengurusi saya ujian masuk SMA17. Hanya saja hasilnya tak berbuah manis.

Semoga kebaikan hablumminannas beliau dan keluarga semasa hidup menjadi penghapus bagi segala dosa. Semoga Putri dan Dimas menjadi jalan untuk beliau ke surga. Aamin Yaa Robbal’alamin. Selamat jalan Tante Yeni, semoga Allah memberi tempat terindah di surga.

Palembang, 27 Mei 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s