Halbae Yeoja (Grandpa’s Woman) Part 5 : Hallucination

Halbae Yeoja (Grandpa’s Woman)

Part 5 : Hallucination

Halbae Yeoja

You still look so pretty, but you look so sad for some reason

Can’t we go back to how it was before?

To the beginning?

2PM – Hallucination

Cast:
[2PM] Chansung : Hwang Chansung/ Alex Hwang
[Miss-A] Fei : Wang Fei Fei
[OC] Jung Hyeosoo
[2AM] Seulong
Background song: 2PM – Hallucination
Genre: fantasy, romance

Fei duduk di kursi malas dengan sebuah buku melayang di depannya, sementara Chansung bersandar di sofa sambil memandangi roh wanita itu. Sebuah fakta baru tentang Fei, ternyata ia sangat suka buku-buku syair dan biografi orang-orang dalam sejarah. Terlihat sangat kuno untuk selera masa kini, tapi Chansung dengan senang hati membelikannya untuk Fei dari sebuah toko online.

“Lain kali akan kuajak kau ke perpustakaan. Ada banyak buku lama disana, kau pasti suka,” Chansung mengulum senyum.

“Hmm! Gomawo, Chansung-ssi,” Fei sekilas memandang Chansung dengan senyum lebar yang manis. Kemudian membalik halaman bacaannya yang lebih menarik daripada wajah Chansung.

Dari tempatnya bersandar, Chansung kembali mengamati Fei. Peristiwa membingungkan yang terjadi di gudang semalam kembali bergelayut di pikirannya. Ia mengusap punggung tangan, masih tetap memandang Fei. Sentuhan dingin itu seolah masih tertinggal di permukaan kulitnya dan terasa begitu nyata. Namun, melihat bagaimana cara Fei memperlakukan benda-benda di sekelilingnya, bahkan tak pernah menyentuh buku ketika membalik halamannya, Chansung menjadi ragu dan bertanya-tanya apakah kejadian di gudang kemarin nyata atau hanya halusinasi semata.

“Chansung-ah, apa sudah ketahuan siapa pelakunya?” Fei memandang Chansung, menanyakan peristiwa di gudang semalam, setelah menutup buku bacaan yang belum selesai ia baca dan meninggalkan suara berdebam ketika benda itu mengatup. Namun Chansung tetap bergeming dengan tatapan kosong dan jauh. “Chansung-ah??” Fei berdecak, perlahan mendekati pria itu.

“Yaaah!! Wang Fei Fei!!” Chansung berteriak karena kaget setengah mati ketika menyadari wajah Fei sudah begitu dekat dengannya. Ujung hidung mereka nyaris beradu. Chansung bergegas membenamkan tubuhnya di sofa untuk menjauhkan wajahnya. Sudah lama roh itu menempel padanya, tapi Chansung belum terbiasa dengan kebiasaan Fei yang satu itu. Muncul tiba-tiba.

“Kenapa??” Fei mengerjap dengan dahi berkerut penuh tanya. Sementara Chansung, sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang seperti derap kaki barisan tentara, melemparkan protes. “Kau ini suka sekali mengagetkan orang. Aku bisa kena serangan jantung tahu. Lain kali datang dengan cara yang normal saja bisa tidak?”

Fei mendengus dengan bibir mengerucut. Dengan berat hati mundur ke tempat semula dan kembali pada bukunya. Chansung berdeham sembari menegakkan punggung. “Soal semalam, aku penasaran kenapa pria di gudang itu berteriak begitu kaget? Bukankah seharusnya yang kaget itu aku?”

Alih-alih menjawab Chansung, roh wanita itu justru memalingkan wajah.

“Sebenarnya apa yang kau lakukan padanya?” kedua manik mata Chansung menatap punggung Fei yang statis.

#

Fei menarik nafas berat kemudian menutup bukunya lagi. “Tidak ada. Aku hanya melakukan ini.”

Fei kemudian memperlihatkan wajah pucat dengan tatapan kosong dan dalam. Chansung menggosok dagunya dengan kepala miring 30 derajat. Perubahan wajah Fei cukup menyeramkan tapi terlihat biasa saja bagi Chansung. Ia yakin Fei melakukan sesuatu yang lebih daripada itu.

“Dia saja yang penakut,” Fei memalingkan wajah.

“Benarkah?” alis Chansung berkerut, mulai curiga.

Fei mengangkat bahu lalu berbalik, “Oh iya, kau pernah tanya padaku soal jimat, kan?”

Mengalihkan pembicaraan adalah yang terbaik saat itu, sebelum Chansung mempertanyakan skinship antara mereka semalam.

Terpancing topik yang disuguhkan Fei, Chansung membelalak, “Kau ingat sesuatu?”

“Tentu saja! Memangnya aku ini amne- amne- kau sebut apa aku waktu itu?”

“Amnesia!” Chansung mendesis.

“Iya itu! Aku ingat benda itu ada dimana.”

“Benarkah? Jadi benar kau kehilangan benda itu? Kau bilang itu penting bagimu. Kenapa kau berikan pada orang lain?”

“Kalau aku tidak memberikannya, kakekmu bisa mati!”

Baiklah. Setidaknya aku berterimakasih karena kau telah menyelamatkan Halbae.

“Memangnya itu jimat apa?”

“Semacam perekat. Dimana roh dan tubuhmu tidak akan terpisah.”

“Jadi, kau menjadi seperti sekarang, karena benda perekat, err, jimat itu kau berikan pada Halbae?”

Fei mengangguk.

“Lalu kenapa Halbae meninggal?”

“Tsk! Kau kira benda itu dapat menolak kematian?” Fei mendelik.

Makanya aku tidak percaya dengan benda semacam itu.

“Kecuali..” Fei mengeratkan jemarinya dalam genggaman dan terdiam beberapa saat. “Kecuali apa?” Kedua manik mata Chansung menatap Fei.

“Kecuali kakekmu telah memberikannya pada orang lain,” Fei menyahut lesu.

Benda itu ada padaku, Fei! Sambil mengendalikan air mukanya, Chansung menimpali roh wanita itu, “Sudahlah! Tidak ada gunanya memikirkan hal itu sekarang. Halbae sudah tenang disana.”

Fei membisu dan berpikir.

“Omong-omong, seperti apa bentuknya?” Chansung mengangkat sebelah alisnya.

“Hei! Untuk apa kau tanya? Kau mau mencurinya? Tidak boleh! Benda itu sudah kuberikan pada Taesung oppa.” Fei berubah defensif.

“Aku? Mencurinya? Untuk apa? Aku tidak percaya dengan takhayul seperti itu!” Chansung melengos dengan kedua tangan dilipat di dada.

Detik berikutnya Chansung kembali menyelidik Fei. “Memangnya kenapa kalau benda itu jatuh ke tangan orang lain?”

“Tidak boleh terjadi! Benda itu sangat berharga bagiku.” Fei mempertegas seraya menghela nafas. “Aku akan memastikan kalau benda itu ada di kamarnya.” Fei beranjak dari tempatnya duduk namun Chansung menghalangi.

“Eh, jangan kesana!! Maksudku.. ayahku bilang semua barang berharga Halbae sudah dimasukkan ke dalam lemari besi. Pasti benda itu ada disana, jadi benda itu aman. Kau tidak perlu kesana! Lagipula di kamar itu ada Halmae. Kupikir itu tidak baik bagimu bertemu dengan Halbae yeoja.”

“Siapa yang Halbae yeoja? Aku adalah wanitanya Taesung oppa. Sebelum mengenal nenekmu, kami sudah bertemu. Seandainya saja aku tidak mati sebelum sampai ke Korea, kau akan menjadi cucuku!”

Mengerikan! Chansung bergidik, tengkuknya merinding.

“Iyaaaa! Baiklah. Aku minta maaf. Kau adalah wanitanya Halbae. Kau senang?”

#

“Kau tidak perlu ikut! Tunggu di kamarku saja! Aku akan memastikan jimatmu benar-benar aman.” Chansung sesumbar seraya memukul dadanya dengan bangga.

“Tidak! Aku akan ikut sampai depan pintu. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu.” Fei menolak.

Chansung menarik nafas. Bagi Chansung, rumah adalah tempat yang paling aman. Tapi, dunia luar adalah yang paling membuatnya bahagia.”Baiklah, kau tunggu aku di luar.” Akhirnya ia membiarkan Fei ikut.

“Omong-omong, apa kau juga memperlakukan anggota keluarga lain seperti ini? Maksudku, kau melindungi semua anggota keluarga?” Chansung bertanya di sela perjalanan menuju pavilion halmae.

“Tidak juga, sih. Pasti melelahkan kalau aku harus mengikuti kalian satu per satu. Paling tidak, aku akan memastikan semuanya aman saat berada di dekatku.”

“Karena itu kau selalu berada di sisi halbae?”

Fei menyembunyikan wajah di antara rambutnya yang tergerai, kemudian menggeleng pelan. “Jika suatu hari kau menikah, aku akan menjaga jarak.”

Chansung mengangkat alis dan Fei langsung mempertegas kalimatnya, “aku akan pergi saat istrimu ada di dekatmu.”

Hati Chansung mencelos, kedua matanya menatap Fei. Ia tidak tahu kalau selama menempel pada halbae, Fei selalu menghilang saat halbae sedang menghabiskan waktu berdua dengan halmae. Layaknya manusia, roh wanita sepertinya juga bisa merasakan sakitnya mencintai.

“Eh, bukankah itu Hyeosoo?” Fei beralih melihat Hyeosoo yang tiba-tiba muncul dari ujung jalan yang menghubungkan pavilionnya dengan pavilion Chansung. Gadis itu berjalan ke arah mereka. Chansung menarik diri dari lamunannya kemudian menegur sepupunya yang terlihat tergesa-gesa, “Kau mau pergi?”

“Ne!” Hyeosoo mengangguk ringan.

Chansung menaikkan alis, “Sendirian?” Gadis itu mengangguk lagi.

“Yaa! Berbahaya sekali kalau seorang gadis pergi sendiri malam-malam begini. Apa tidak bisa besok saja?”
Hyeosoo menggeleng cepat dan mengabaikan saja nasihat kakak sepupunya itu. “Aku ada urusan penting. Aku akan hati-hati. Maaf ya, aku buru-buru. Sampai jumpa!”

Chansung dan Fei saling melempar pandang setelah Hyeosoo berbalik melambaikan tangan ke udara. Roh wanita itu tampak cemberut.

“Kenapa? Kau cemburu?” Chansung menyipitkan matanya.

“Tidak!” bantah Fei, setengah melotot.

Chansung mendesis kemudian menunjuk tepat di tengah kening Fei. “Tertulis jelas  di keningmu itu!!”

#

Chansung masuk ke pavilion halmae, sementara Fei, sesuai perjanjian verbalnya dengan Chansung, menunggu pria itu di luar. Ia duduk di teras samping yang berlantai kayu dengan kaki menggantung di tepinya dan melihat Hyeosoo masuk ke mobil. Gelagat Hyeosoo terlihat aneh bahkan sejak berpapasan dengan gadis itu beberapa saat sebelumnya.

Fei menggoyangkan kakinya yang melayang bebas dengan gelisah. Tatapannya tak bergeser dari titik dimana Hyeosoo sudah siap memasukkan persneling. Selama detik-detik yang meresahkan itu, Fei bergumul dengan hatinya.

Ketika gadis dalam bingkai matanya mulai melaju, Fei beranjak dan melayang cepat menyeberangi kolam di samping pavilion halmae, lalu duduk di samping Hyeosoo yang berkonsentrasi penuh dengan mobilnya. “Kau mau kemana anak kecil??” Fei mendesah cemas.

Kendaraan yang ditumpanginya bersama Hyeosoo melesat cepat melalui rute yang ia kenal. Fei beberapa kali memperhatikan wajah serius Hyeosoo dengan kening berkedut. Lebih cepat sepuluh menit dari waktu tempuh yang biasanya ia perlukan untuk duduk diam di samping Chansung di bangku belakang mobil. Hyeosoo tiba di pabrik yang gelap dan sepi.

“Hyeosoo-ya, sebaiknya kita pulang! Ayo pulang!!” Fei memandang Hyeosoo cemas. Berharap gadis itu berubah pikiran dan kembali ke rumah tanpa ia harus campur tangan.

Hyeosoo yang tentu saja tak akan pernah bisa merasakan kehadiran Fei kecuali roh wanita itu menampakkan wujudnya, akhirnya benar-benar mengabaikan pengharapan Fei. “Kumohon Hyeosoo-ssi!!” suara Fei menguap di udara. Hyeosoo turun dari mobil, kemudian mencoba menelpon seseorang.

Fei dari sisi Hyeosoo, melirik layar ponsel tak bernama itu. “Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?” geram Fei. Matanya mengitari halaman belakang pabrik yang dilalui jalan menuju gudang tempat Chansung diserang semalam. Perasaan tak enak menghampirinya. Tempat itu benar-benar gelap.

Hyeosoo menempelkan telinganya ke dekat ponsel, yang ada hanya bunyi tut tut tut. Ia mencoba menelpon sekali lagi, namun tiba-tiba seorang pria misterius muncul dan langsung menyergapnya hingga ponselnya terjatuh. Kejadian itu begitu cepat, Fei lengah karena berdiri agak jauh dari tempat Hyeosoo berdiri.

Fei berusaha membantu Hyeosoo dengan mencekik pria itu dari belakang. Cengkeraman yang menjerat Hyeosoo melemah, karena tiba-tiba pria itu lemas dan terjatuh. Saat itulah Hyeosoo mengambil kesempatan untuk lari. Dengan cepat gadis itu menyambar ponselnya dan berlari sekuat tenaga kembali ke mobil. Fei bersiaga, melayang di sisi Hyeosoo.

Pria misterius itu kembali mengejar sambil memegangi dadanya yang sesak. Hyeosoo berlari sesekali menoleh ke belakang dengan perasaan takut luar biasa. Betisnya mulai terasa kebas. Nafasnya pun terasa berat. Rasanya sudah tidak sanggup lagi berlari.

Di saat Hyeosoo mulai menyerah, pria misterius itu justru terjatuh berkat campur tangan Fei yang menendang kakinya. Terdengar ia mengerang kesakitan dan marah. Hyeosoo sudah berada di depan kemudi. Beberapa kali ia mencoba menemukan lubang kunci. Sekujur tubuhnya gemetar. Fei duduk di samping Hyeosoo, setelah yakin pria misterius itu tak mengejar. Hyeosoo terlihat panik dan ketakutan.  Seratus meter dari pabrik, alih-alih menelpon polisi, ia mencoba menghubungi Seulong. Namun nahas Hyeosoo kehilangan kendali dan menabrak tiang listrik dekat pemukiman.

#

Fei mencoba memeriksa keadaan Hyeosoo. Gadis itu masih sadar. Terdengar rintihan pelan ketika Fei menampakkan wujudnya di depan Hyeosoo. Samar-samar Hyeosoo dapat melihat wajah Fei berada di atas pandangannya. Kemudian mulutnya bergerak seperti akan mengatakan sesuatu. Fei mendekatkan telinganya dan rintihan Hyeosoo semakin jelas.

“Bertahanlah! Aku akan cari bantuan.” Fei keluar dari mobil dan menampakkan wujudnya untuk mencari bantuan.

Seorang warga dengan sepedanya malam itu, dengan belanjaan di keranjang depannya, melintas di tempat kejadian. Fei lantas membentangkan tangan di tengah jalan sehingga wanita itu berhenti mengayuh sepedanya. Sesuai permintaan Fei dan setelah melihat seseorang sekarat di dalam mobil, wanita itu menekan 119 di ponselnya. Selang beberapa menit kemudian sirine ambulans dan mobil patroli bersahut-sahutan di langit Seoul. Hyeosoo sudah tak sadarkan diri ketika tubuhnya dimasukkan ke ambulans. Fei kemudian melompat duduk di sebelah tubuh Hyeosoo tanpa seorangpun menyadari kehadirannya.

#tbc#

[demi apa ff ini baru diupdate setelah setahun terabaikan. sebenernya males buat nulis lanjutannya, tapi kali-kali ada yg penasaran sama endingnya. :)) apakah cinta telah tumbuh dalam hati Chansung dan Fei? akankah mereka bersatu? :)) semoga ff ini cepet kelaaaaaaarr~]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s