PENDAKIAN MERBABU VIA SELO Bagian I

IMG_0054

Bagi saya, tulisan ini layaknya Pensieve. Setiap katanya adalah material perak yang menari-nari indah ketika mereka tersedot keluar dari memori otak saya. [ sah jadi anak hogwarts ]

Hampir setahun berlalu sejak pendakian Merbabu via Selo, bulan Mei 2016. Akhirnya saya putuskan untuk menceritakan kisah cinta saya, eh kisah pendakian saya ini buat para penggemar saya [ harap maklum, lagi butuh piknik ]. Saya pikir lebih baik telat posting daripada cerita ini aus di memori otak saya. Soalnya telat dikit aja, saya bisa lupa kalo pernah ke Merbabu 😀

Setiap pendakian pasti menyimpan kisah yang berbeda, walaupun naik ke gunung yang sama lewat jalur yang sama pula. Dan saya merasa wajib membagi cerita pendakian saya ke kalian. Intinya adalah ambil pelajaran pada setiap pendakian. [ sok waras ]

Well, langsung cerita aja.

Pendakian kali ini saya masih bareng Adrie dan Ayu, temen nanjak Gunung Prau tahun lalu. Ketambahan 5 (lima) orang: Eka, Rizka, Ida, Yesi, dan Yeni. Dikoordinir oleh saya dan Adrie, kita bagi tugas buat ngurus trip. Adrie bagian cari dan kontak2 guide, sementara saya ngurus transport.
Saya dan Adrie tetap pake jasa guide. Selain karena kita minim peralatan juga minim pengalaman. Kita ga mau ambil resiko buat diri sendiri dan anak orang. Setelah berdua rembugan, akhirnya terpilihlah dua pria tampan nan berani [ mendadak mules ] untuk memandu kita selama pendakian.

06 Mei 2016
Menuju Basecamp
Sesuai perjanjian, kita ketemuan sama guidenya di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta jam 7 pagi itu. Dua sosok makhluk ajaib, yang satu kribo yang satu berkumis, beserta rombongan lain (termasuk Ayu yang berangkat dari Bandung) nunggu di warung soto persis depan stasiun. Setelah kenalan satu-satu sama rombongan lain juga, kita sarapan sambil hahahihi nunggu jemputan.

Jadi guidenya ini sebenernya ada 2 orang, Kribo sama Om Kumis [ nama disamarkan ]. Tapi mereka ngajak rombongan lain, yang juga temen-temen mereka dari Bandung. Ada pacarnya Om Kumis juga ikutan, nih [ Tapi jangan panggil Tante Kumis ya. Masa geulis2 kumisan ]. Nah rombongan lain dari Jogja, temennya Om Kumis ikutan nge-guide sekalian nge-trip, ga ngerti juga sih saya.

Total ada 10 cowok, 11 cewek. Om Kumis ngelead sementara Om Kribo nge-sweep.
Kira-kira jam 9 selesai sarapan kita langsung diangkut ke Basecamp Selo dengan APV. Muatan padat banget karena kita berdelapan masuk di satu mobil bersama keril-keril segede badan kita. Tapi tetep aja yah alhamdulillah nyaman banget buat ditiduri sepanjang perjalanan ke basecamp yang memakan waktu 2 jam.

Sampai di basecamp kita bongkar muat dan melakukan rutinitas yang layaknya dilakukan oleh para pendaki di basecamp lah ya. Kalo saya jelasin disini bakalan panjang, sepanjang antrian toilet basecamp Selo. Nah, loh gue curhat!

(± 14.30) Basecamp – Pos I. Dok Malang
Planning berangkat ba’da zhuhur sedikit tertunda karena hujan lumayan deras. Sekitar jam setengah 3 sore, akhirnya hujan perlahan berhenti dan menyisakan kabut-kabut cinta disertai gerimis mengundang *tsaah*. Setelah merasa cukup kece [ ga ada hubungannya ], kita putuskan untuk berangkat detik itu juga karena takut nyampe camping ground tengah malam.

IMG_5472
Rame banget kaya acara study tour. Dua puluh satu orang.

Tim pendakian pun secara natural akhirnya terbentuk menjadi 3 grup berdasarkan kecepatan jalan. Grup depan ada 6 orang, grup tengah (saya, yesi, dan yeni) dan 2 orang lainnya (cowok), dan grup belakang ada 10 orang.

Trekking menuju Pos I kalo ga salah inget makan waktu ± 2 jam. Walaupun diiringi rintik hujan, tapi seinget saya treknya masih tergolong nyaman dan aman. Soalnya saya ga inget ada pengalaman pahit atau menyakitkan sepanjang trek yang dikelilingi hutan ini. [ Hutan ya, bukan mantan! ]

Sayangnya ga banyak yang bisa saya abadikan karena baterai handphone saya selalu drop di suhu yang terlalu rendah. [ minta dilempar dari kenteng songo deh ini handphone ]

(16.30) Pos I. Dok Malang – Pos II. Tikungan Macan
Setelah keluar dari hutan kita akan dipertemukan dengan jodoh kita. Bukan, kita bakal ketemu dengan view yang lebih luas. Lagi-lagi ga banyak yang bisa saya ingat dan saya ceritakan mengenai kejadian menuju Pos II [ tanda-tanda penuaan dini mulai tampak 😀 ]. Yang jelas penyiksaan itu belum dimulai disini. Nanti kita mulai ketemu trek jahanamnya waktu menuju Sabana I. [ Nangis-nangis dah lo ].

Seingat saya di Pos II ini emang agak datar, jadi bisa dijadiin area camping juga. Karena tanah datar dan lapang adalah favoritnya para pendaki, jadi kita break dulu sebentar di Pos II. Perlu waktu 30 menit untuk sampai ke Pos II.

(17.00) Pos II. Tikungan Macan – Pos III. Batu Tulis
Dari Pos II ke Pos III sekitar 1 jam dengan jalan yang mulai banyak nanjaknya. Tapi sepanjang jalur ini kita udah bisa lihat dia-yang-tak-pernah-ingkar-janji, Gunung Merapi. Beruntungnya masih sempat motret viewnya. Begini aja saya udah takjub banget, bikin tambah semangat dan ga sabar sampai puncak.

Pos III sendiri berupa dataran yang luas dan bisa dijadiin area camping juga. Tapi bahaya juga kalo lagi ada badai, sih. Dan kalau mau ngejar sunrise, mending camping di Sabana II [ kata guidenya loh ini ].

Matahari terbenam hari mulai malam. Untungnya ga ada suara burung hantu. Cuma perjalanan semakin sulit, sementara rombongan yang terpecah 3 grup ini terpisah jarak yang lumayan jauh. Grup saya hanya terpisah beberapa meter dari grup paling depan, tapi saya ga lihat grup belakang sejauh mata memandang.

IMG_5409
View merapi pas treking ke Pos III kalo ga salah 😀

(18.00) Pos III. Batu Tulis – Sabana I
Di Pos III kita rehat agak lama, sambil nungguin grup paling belakang. Rombongan anak Bandung menimbang-nimbang dimana lapak akan digelar malam itu. Mengingat kondisi beberapa orang udah mulai kedinginan (termasuk saya), belum lagi pakaian basah dan dingin, hari udah cukup malam dan trek menuju Sabana II terjal dan licin. Opsi pertama kita harus ngecamp di Pos III dengan konsekuensi makan waktu lama buat ngejar sunrise. Opsi kedua, kita lanjut sampai ke Sabana II dan camping disana.

Akhirnya diputuskan untuk lanjut sampai ke Sabana I. Kita jalan duluan, karena yang ditungguin ga datang juga. Kelamaan nunggu bikin badan menggigil.

Butuh waktu sekitar 1 jam untuk sampai ke Sabana I. Dari pos III treknya udah mulai menyiksa. Tanjakan terjal sehabis diguyur hujan bikin langkah terseok-seok karena licin jadi harus lebih hati-hati. Berkali-kali harus menepi cari pegangan akar pohon atau apalah yang bisa diraih.

Memang perjalanan semakin sulit. Beberapa kali kita harus pake bantuan uluran tangan rekan atau pendaki baik hati yang melintas turun. Karena semakin kesini semakin menanjak. Saya inget banget banyak cerukan yang dalam di hampir sepanjang trek ini, kepeleset dikit aja bisa masuk kesitu.

Dan pada etape inilah [ elah etape ] , saya mulai merasa kesal sama rekan satu grup. Haha. Itu cowok-cowok pada cuek ga jelas. Ada 2 cowok tapi ga ada yang peduli. FINE. Saya, Yesi, Yeni bener-bener harus berjuang bertiga. Kesel tapi mau gimana lagi, harus bisa tanggung jawab sama diri sendiri.

Yang membuat trekking semakin sulit adalah saya lupa bawa headlamp. Ketinggalan di basecamp waktu bongkar muatan. Saya udah minta ke Om Kumis, katanya minta ke Si A (cowok yang satu grup dengan saya). Tapi pas saya minta ke dia, dia bilang ga ada. -_-

Akhirnya saya harus jalan di antara Yesi dan Yeni. Yeni jalan di depan buat bantuin saya sama Yesi seandainya kesulitan nanjak. Sementara Yesi jalan di belakang buat nyenterin saya. [ Thanks alot buat dua wanita ini ].

(19.00) Sabana I – Sabana II
Kita trekking terus sampai ke Sabana II. Jalan masih terjal tapi agak mendingan. Perjalanan sekitar 1 jam menuju camping ground. Tujuan kita adalah untuk memperpendek jarak tempuh pas summit attack besoknya.

(20.00) Sabana II Camping Ground
Alhamdulillah akhirnya 2 grup sampai di camping ground jam 8 malem. Om Kumis nyari tempat yang nyaman buat diriin tenda. Yang cewek-cewek dari Bandung bikin teh biar anget, sementara cewek-cewek dari Palembang bantu recokin (baca: kasih lighting) cowok-cowok yang bikin tenda. Karena udah kedinginan banget dan pengen cepat-cepat kemulan (selimutan) di dalam sleeping bag.

Setelah tenda jadi, saya, Yesi, Yeni dan Rizka masuk buat bersih-bersih dan ganti baju yang basah. Sholat jama’ dilanjut dengan rapiin barang dan ngatur posisi tidur. Posisi kita melintang sejajar pintu tenda. Rizka di bagian dalam, dilanjut Yesi, Yeni, dan saya. Ceritanya sih sok-sok senior gitu deh saya, jadi jaga deket pintu tenda.

Terus gimana nasib Ayu, Adrie, Eka dan Ida??
bersambung 😀

Advertisements

2 thoughts on “PENDAKIAN MERBABU VIA SELO Bagian I

  1. Seru banget ini kayaknya, cuma baca aja berasa ikut pendakian, apalagi beneran pendakian. Hehehe
    Semoga dari tulisan tim tengah ini, para pembaca bisa membayangkan sedikit banyak pengalaman yang dihadapi pendaki. Siapa tahu kita bertemu di pendakian selanjutnya dan jadi teman baru. Aamiin
    Catet: Saya ada di tim paling belakang. Hahaha
    Buat saya, ini adalah nostalgia renyah bagi memori saya. Tulisan ini melengkapi ingatan saya yang sebagian terpisah di tim depan dan tengah. Karena tim belakang sibuk istirahat dan saling menyemangati daripada menikmati pemandangan. Tapi, untuk sampai ke puncak hanya langit malam yang meningkatkat semangat untuk mencapainya.
    Percayalah, stiap pendakian itu memiliki kisahnya sendiri. Seperti saya yang memilih kisah untuk menikmati setiap detik pendakian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s