Pengalaman Seleksi Beasiswa Bappenas 2018

Assalamu’alaikum readers!

How’s your day?

Tadinya saya mau post perjalanan saya ke Semeru akhir tahun lalu, tapi part terbaiknya belum selesai ditulis. Sibuk? Bukan karena sibuk ngerjain tugas kantor yang lagi bejibun (cuma tahun kemarin saya bisa ongkang kaki T-T). Bukan pula sibuk persiapan TPA. Tapi karena males ga ketolongan. Lagipula saya lagi fokus mencari pendamping hidup dalam angan-angan. Ga guna banget haha.

Tulisan saya kali ini celotehan dan share tentang pengalaman tes TPA dan persiapan seleksi beasiswa. Guys, ini fresh from the oven banget. Saya kelar tes 8 jam yang lalu, dan langsung saya ceritain di sini. Ga penting banget ya haha tapi semoga ada informasi yang berguna buat kalian yang sedang preapare buat TPA Bappenas.

Saya sedang membuat mimpi besar: kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Terlalu tinggi untuk digapai orang dengan kemampuan intelektual rata-rata seperti saya. Tapi, saya coba buat pasang target tinggi supaya ketahuan dimana batas maksimal saya. (Lain kali saya coba lebih realistis haha).

Beasiswa yang saya bidik adalah dari Pusbindiklatren Bappenas. Kriteria yang diminta untuk calon awardee beasiswa S2 adalah :

– PNS dengan masa kerja min. 1 tahun

– Usia max. 37 tahun

– Bekerja di unit perencanaan atau bagian perencanaan

– IPK min. 2,75

Udah itu aja!

Kriteria yang bisa dipenuhi oleh hampir semua PNS, kan? Makanya begitu kesempatan ini muncul, langsung saya ambil.

Persiapan berkas ga begitu banyak dan ga ribet. Yang bikin lama adalah pas nulis Rencana Studi. Mau kuliah dimana dan mau ngapain setelah dapat gelar Master? Jujur saya bingung mau ngapain. Karena jawaban saya sangat klise dan umum banget. Akhirnya saya konsultasi dengan atasan langsung, yang kebetulan apply Beasiswa S3 juga dan alhamdulillah salah satu alumni Linkage Program Beasiswa Bappenas ke Belanda. Minta saran lah saya ke beliau tentang essay saya dan koreksian di beberapa bagian yang menurutnya ga ada power. Hahaha. Saya bikin ini 2 minggu dengan akhirnya mengubah program studi pilihan di h-2 pengumpulan berkas. Untuk yang lolos seleksi administrasi, akan dipanggil untuk ikut tes TPA.

Jeda pemanggilan peserta TPA lumayan lama, hampir 1 bulan. Tapi waktu ini saya manfaatkan betul buat belajar soal-soal TPA versi Bappenas. TPA Bappenas biasa dipake untuk seleksi perguruan tinggi, assessment, dan beasiswa. Harus saya akui apa yang dikatakan banyak orang tentang kesulitan TPA Bappenas adalah benar. TPA Bappenas punya tingkat kesulitan yang cukup tinggi dan soal sangat variatif. Ga heran yah pulang dari tes langsung migrain dan ga nafsu makan.

Soal TPA sendiri dibagi 3 sub tes yaitu verbal, numerik dan penalaran. Jumlah soal 250 dan harus dikerjakan dalam waktu 180 menit. Jadi kita cuma punya waktu sekitar 40 detik per soal. Ya! 40 Detik Per Soal.

Ga usah teriak kaget begitu ya readers. Karena saya juga stres banget sama waktu yang dikasih. T-T.

Sub tes verbal mirip sama soal tes CPNS, ada sinonim, antonim, padanan kata, soal dengan paragraf. Tapi sekali lagi tingkat kesulitannya lebih tinggi. Butuh ketelitian disini.

Sub tes kedua adalah numerik. Ini kalo ibarat nyebrang jembatan gantung Pantai Timang (coba search di google yah), kita ada di tengah-tengah dengan terpaan angin kencang dan hempasan ombak tinggi banget. Lebay banget gue ya. Hahaha tapi buat saya ini beneran. Tendensinya meningkat berkali lipat. Kita dituntut untuk bisa memahami soal dan menjawab dengan cepat. Kebayang ga sih matematika dikerjain dalam waktu kurang dari 1 menit per soal. Jadi readers, kalian butuh tenaga ekstra disini. Tipe soalnya deret, persamaan x,y gitu, perbandingan apalah ga ngerti namanya, kecepatan, persen untung rugi, gitu-gitu tipenya. Buat lebih jelas bisa cari di google yang versi Bappenas.

Sub tes ketiga adalah penalaran. Tipe soal psikotes gambar dan premis kalimat. Tendensinya berkurang nih di sub tes ini. Saya yakin kalau teliti dan sering latihan soal pasti bisa. Yah walaupun kalau saya tetap banyak salah nalarnya. Hahaha.

Sebagai referensi, saya belajar dari beberapa buku, dimana cuma satu buku yang saya beli. Sisanya ngintip di google books. Tipe soalnya hampir sama dan nyaris sama. Yang dibutuhkan adalah pemahaman soal dan kecepatan.

Dari 3 buku yang saya pelajari, saya lebih merekomendasikan yang kedua : Panduan Resmi Tes TPA. Karena disini diajarin cara logika untuk menyelesaikan soal sub tes numerik.

Yang pertama bagus tapi pembahasannya formulatif banget, jadi lebih makan waktu. Tapi kalau untuk latihan, soal-soalnya bagus dan yaaah susah banget buat saya haha.

Yang ketiga ga terlalu rumit juga soalnya. Jadi kalo buat referensi boleh-boleh aja sih.

Pemanggilan tes TPA diumumkan via website pusbindiklatren, email dan sms. Saya sendiri dapat kabar dari seoarang teman dari dinas perikanan yang ga ikut apply tapi tetap ngabarin dan kasih selamat serta doa restu. Semoga doanya dikabulin Allah. Amin.

Tesnya sendiri untuk domisili Sumatera Selatan dan provinsi di sekitarnya, seperti Jambi dan Babel diadakan di Ruang Doktor PPS Universitas Sriwijaya. Persiapan saya sih tetep latihan kerjain soal numerik sampai H-1 saya STOP belajar. Tipsnya dari pendahulu TPA Bappenas begitu ya saya ikut aja.

Tibalah hari dimana kalian menghadapi kenyataan betapa waktu begitu cepat berlalu saat ujian berlangsung. Peserta diminta datang 30 menit lebih awal, dengan membawa pensil 2B, penghapus, rautan pensil (which is kurang berguna juga dibawa), papan ujian, dan KTP. Soal tes masih dalam koper bersandi. Eksklusif sekali yah. Kode dan kunci koper ada di dalam amplop terpisah yang bersegel. Oke, koper dibuka, lembar jawaban (LJK) dibagikan, diisi beberapa informasi disitu. Sebelum soal dibagikan, peserta diperkenankan untuk ke toilet. Karena selama ujian berlangsung akan sangat sangat sulit untuk ke toilet. Bukan ga boleh, tapi ga bakal sempet. Mending ngerjain soal ajaaa T_T

Seperti dijelaskan sebelumnya ya, soal dibagi 3 sub tes dan tiap sub tes dikasih waktu 1 jam. Begitu waktu habis, kita lanjut sub tes berikutnya dan engga diperbolehkan membuka sub tes sebelumnya. Disini kita diajarkan untuk move on dan ga menoleh ke belakang. Eh!

Sub tes pertama sesuai prediksi. Tapi yang mengejutkan adalah soal berdasarkan paragraf. Biasanya paragraf yang saya kerjain dari buku soal sekitar 4-5 paragraf. Hari ini saya dihadapkan dengan kutipan (dia bilang ini kutipan, yang menurut saya layak disebut cerpen) sepanjang 2 halaman. I can’t say a word. Tapi guys, inget ga perlu dibaca semua. Tipsnya: baca soal lalu cari jawaban dalam kutipan dengan cara screening.

Disini saya ga kesulitan membagi waktu mengerjakan, tapi kesulitan menjawab hahaha. Kalo kalian terbiasa mengerjakan soal pasti bisa hafal kata-kata yang ditanyain disini.

Sub tes numerik yang diluar prediksi saya. Sumpah saya langsung blank dan kehilangan akal sehat (i mean, hilang konsentrasi). Kebanyakan orang yang pernah ikut TPA Bappenas akan menyarankan mengerjakan soal dari belakang. Saya kerjain lah soal dari belakang. Tapi saya sadar strategi saya salah, setelah selesai menjawab yakin 10 soal tapi sisa waktu tinggal 30 menit. Damn! Ternyata soal yang lebih mudah di bagian tengah ke depan. Soal persamaan liniernya ga sulit dan ga perlu dicorat-coret, bisa dijawab dengan cepat.

Saya percepat ritme menjawab dan begitu masuk soal deret saya panik. Selama ini kebanyakan soal yang saya pelajari selalu menanyakan deret setelahnya, tapi TPA hari ini minta saya mencari suku ke-n. Saya ga inget gimana nyari suku ke-n. Readers, kalian harus pelajari juga soal ini. Hari ini kebanyakan nanya suku ke 2000 lah, suku ke 500 lah. Untuk sub tes ini saya pasrah. Ternyata otak cuma nyampe sini aja. Sisanya saya itemin aja, siapa tau mujur. Tips: screening soal, bisa jadi yang mudah di bagian depan. Soal yang perlu mikir ekstra bisa dilewatin dulu. Kalo ga keburu dan waktu habis, bisa diitemin pake feeling karena ga ada pengurangan nilai kalo salah jawab.

Sub tes ketiga saya lebih rileks. Tapi kepala udah keburu migrain hahahaha. Jadi untuk penalaran gambar, saya ga bisa yakin 100%. Soal premisnya diluar dugaan saya juga, sih. Kebanyakan soal selalu menanyakan kesimpulan premis, tapi hari ini dia nanyain analisa kita tentang ketepatan formula premisnya. Kalian perlu ngerti mana premis mayor dan mana premis minor. Kalo saya tadi pas ngerjain sih ga ngerti. Tapi semoga penalaran saya bener untuk mayor dan minornya. Nah, untuk soal pengelompokan nih, tadi ga serumit di buku soal. Tetap kerjain dengan teliti ya guys.

Overall soal TPA Bappenas hari ini sebenarnya ga begitu sulit sih. Tapi saya pecah konsentrasi jd ngeblank pas ngerjain numerik dan ga bisa maksimal di penalaran. Semoga doa saya dan doa teman2 saya dikabulin Allah. Amin.

Doakan semoga ada cerita tes toefl itp bappenas di next post saya ya.

Thank you for reading. Hope you pass the TPA test with high score.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s