THE WAIT IS OVER AND THE WAR HAS BEGUN

Semua berawal dari sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal yang masuk ke ponsel saya pada tanggal 11 Januari 2018. Well, saya adalah tipikal orang yang hanya menerima panggilan dari mereka yang nomornya sudah saya save di ponsel. Otomatis saya nggak tertarik untuk nerima telepon “asing” semacam itu. Terlebih kalo kode areanya 021 atau 022. Like I have such a sales marketing phobia. IYKWIM. Belagu banget anaknya, ya? Well, it’s me!

Di tengah deringan ponsel, saya galau. Saya searching di google buat nyari tahu wilayah mana yang punya kode area 0274. And google said it’s Jogja’s.  Dan detailnya, itu panggilan dari salah satu program studi pasca sarjana di UGM. Sayangnya sebelum saya angkat, teleponnya keburu mati, dan bikin saya sehari semalam nggak konsen. Apalagi setelah dengan pede saya berasumsi : Gue keterima di UGM. Sebuah pelajaran hidup buat saya yang belagu ini.

Dari beberapa teman yang ikut seleksi beasiswa bappenas bareng saya, hanya ada satu orang dari mereka yang ditelepon orang UGM. Saya kontak beliau (ciyee beliau) karena pengen tahu apa kata orang UGM di telepon. So, dia bilang : saya ditawarin program linkage UGM-Jepang, padahal itu prioritas terakhir saya. Menarik banget, kan? Padahal prioritas pertamanya adalah program dalam negeri UGM. Tadinya dia nggak tertarik untuk ambil, tapi biasanya nggak akan ada tawaran kedua dari Bappenas. Finally, he took that.

Pada akhirnya, saya telpon balik ke UGMnya. Persis kaya cerita teman saya, saya ditawari program yang sama. Padahal prioritas pertama saya reguler 2 tahun di Jepang. Tapi saya nggak ragu untuk ambil tawaran itu. Karena saya sadar nggak mampu memenuhi kualifikasi untuk bisa kuliah full di Jepang. Dan saya nggak punya alasan untuk menolak keberuntungan sebesar itu. Dosa kalo saya nolak rezeki yang sedemikian sempurnanya buat saya.

Bappenas ternyata masih pake cara lama dalam penempatan karyasiswanya (sebutan Bappenas buat peserta yang lolos seleksi beasiswa). As I mentioned before on my last post, setelah merangking peserta yang lulus, Bappenas akan menempatkan sesuai kuota dan melakukan penawaran. Jadi gini, loh. Karena kuota studi full 2 tahun Jepang sedikit banget, maka karyasiswa lainnya ditawarkan ikut program linkage, artinya satu tahun kuliah dalam negeri dan satu tahun di Jepang. Dan karena kuota program linkage juga nggak banyak, maka karyasiswa lainnya bakal ditawari kuliah di dalam negeri.

Untuk karyasiswa yang harus studi di Jepang, wajib buat ikut kelas English for Academic Purposes (EAP), semacam kursus selama 6 bulan di Pusat Pelatihan Bahasa yang ditunjuk oleh Bappenas. Tujuannya prepare mahasiswa untuk tes IELTS di akhir kursus. Karena beberapa universitas di Jepang hanya menerima sertifikat IELTS.

And now I’m here, in Jogja. Buat benerin bahasa inggris saya yang kacau. Jalan masih panjang banget, ini hanya langkah pertama. Doakan saya supaya bisa survived. Last but not least, I would like to thank to all of you who prayed for my luck in these tests.

xx

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s